Posted by : Muhammad Iqbhal Senin, 20 Januari 2014

 
Endoy adalah anak yang sholeh, sabar, dan patuh dengan orang tua. Setiap kali sepulang sekolah, dia berjualan kue hasil buatan ibunya. Dari rumahnya Endoy berkeliling desa untuk berjualan kue tersebut. Setiap hari dia berjalan sekitar 10KM dan hanya mendapat uang yang tidak seberapa atas hasil kue yang dia jual.

Pada suatu hari Endoy berjualan kue, ada seorang ibu paruh baya yang selalu memperhatikan Endoy berjualan, dia bingung dengan keadaan Endoy yang setiap hari memiliki luka di daerah muka, tangan, dan kaki yang berbeda-beda. Ibu tersebut berpikiran apakah Endoy saat berjualan selalu terjatuh padahal jalanan yang dilewati Endoy tidak menanjak, menurun, dan dengan medan yang terjang. Dan ibu paruh baya itu pun memberanikan bertanya. 

"Nak, kalau setiap kali ibu perhatikan, kenapa selalu ada luka lecet dan lebam di tubuh kamu?" Ibu tersebut bertanya.

"Em.. ini.. em.. anu, bu. Saya tersandung batu dan terserempet motor di jalan sebelah situ." Endoy mengeles.

"Tapi kalau terjatuh tidak mungkin seperti itu, dan setiap hari masa selalu terjatuh?" Dengan memasang wajah yang heran.

"Sebenarnya ini adalah ulah ayah saya, setiap kali saya pulang berjualan dan tiba dirumah dengan membawa hasil jualan yang kurang memuaskan ayah saya, maka saya akan dipukuli, ayah memaksa saya berjualan kue setiap hari walaupun ibu saya tidak pernah mengijinkan. Dan uang tersebut malah dipakai ayah saya untuk berjudi dan membeli minuman keras. Dari kecil saya selalu dididik seperti ini. Tapi mungkin ini nasib saya, saya tak bisa menolaknya." Sambil meneteskan air mata, Endoy menangis menceritakan semua yang benar-benar terjadi di dalam dirinya.

"Nak, Tuhan memberi didikan terbaik kepada kita lewat orang tua. Setiap orang tua pasti memiliki caranya tersendiri dalam mendidik kita. Tapi orang tua pasti akan merasa bangga kalau anaknya mau berusaha, jangan pernah membencinya walaupun mereka tidak pernah mensyukuri kita sebagai anaknya, bagaimana pun ada yang namanya mantan istri/suami tapi nggak ada namanya mantan anak. Percayalah Tuhan itu sayang dengan kita selagi kita mempercayai-Nya. Dan suatu saat pasti orang tua mu mendapat hidayah, merubah sifatnya dan merasa beruntung memiliki kita." Ibu tersebut mencoba menenangkan Endoy.

Setelah itu Endoy pergi sambil mengusap air mata yang masih tersisa di pipinya dengan lengannya. Dan kembali berjualan dan semangat atas ibu paruh baya tersebut.

"Doooooar!!!!" Tiba-tiba terdengar suara kencang setelah ibu paruh baya membalikkan badan. 

Suara tersebut tidak jauh dari jalan raya di depan rumahnya. Dan ternyata terjadi tabrak lari. Orang-orang banyak menghampiri sumber bunyi tersebut. Dan terlihat korbannya adalah seorang anak yang ternyata yang barusan mengobrol dengan ibu paruh baya tersebut. Endoy.

Endoy tergeletak tak sadar sambil berkucuran darah dari kepalanya. Semua orang yang berkumpul di situ panik, dan mencoba menolong Endoy.

Tapi syukur Alhamdulillah, Endoy tersadar saat dia tiba-tiba berada di rumah sakit bahwa dia juga tidak tahu bahwa dia koma sampai 2 tahun. Saat dia tersadar dia melihat seorang perempuan yang tertidur sambil memegang tangannya. Dan ternyata itu adalah ibunya. Ibu Endoy setia menemani Endoy selama dia koma di rumah sakit. Keluarga Endoy merupakan keluarga tidak mampu tapi atas bantuan ibu paruh baya itu biaya rumah sakit sudah tidak dipikirkannya. Yang membuat Endoy selalu berfikir adalah ayahnya, dimanakah ayahnya? Apa ayahnya tahu kalau Endoy sedang di rumah sakit? 

Ibu Endoy memberikan sebuah surat, yaitu dari ayah Endoy sendiri, yang isinya:
"Untuk anakku tersayang, terkuat, dan terhebat. Kalau kamu sudah tersadar mungkin sekarang ayah sedang berada di dalam jeruji besi yang beralaskan lantai kasar dan dinding polos tanpa bingkai foto keluarga kita. Maafkan ayah selama ini yang telah salah mendidik kamu. Yang selalu membuatmu menderita dan tersakiti. Sebetulnya ayah tidak tega melihatmu selalu menderita, tapi atas nafsu dan ego ayah yang tak terkontrol malah membuat kamu dan ibumu menjadi korbannya. Sekarang mungkin adalah balasan dari perbuatan ayah selama ini. Ayah ingin memperbaiki semua yang telah ayah lakukan. Tolong berikan ayah kesempatan. Tolong terima ayah sebagai ayah mu yang lebih baik dan sebagai contoh yang benar untukmu. Jika kamu tidak pernah mau lagi, ayah mengerti ayah memang salah dan gagal menjadi ayah. Dengan berakhirnya surat ini maafkan ayah, ayah selalu sayang kamu."
Endoy meneteskan air mata kembali. Entah dia pun tak bisa menahan kesedihannya yang mendalam saat ayahnya yang berubah yang tak di bayangkannya.

Itu merupakan contoh cerita yang akan gue bahas kali ini, didikan dan bimbingan orang tua yang 'kurang benar'. Mungkin ada diantaranya yang pasti pernah lo alamin. Diantaranya:

1. Suka Banding-Bandingin

Ortu: "Liat deh tuh Si Raru, walaupun dia pendek tapu dia pintar, selalu ranking, juara kelas, hebat gak kaya kamu."

Ortu: "Kamu liat deh tuh si Reum, dia udah lulus sekolah yang seumuran sama kamu udah dapet kerja, dia tuh suka ngirim lamaran kemana-mana, sendiri lagi, ikutin tuh kaya dia."

Ortu: " dasar kamu tuh selalu aja minta uang jajan mulu setiap berangkat sekolah, ayah dulu aja sekolah cuma jajan 5 rupiah setiap hari, kesekolah cuma naik sepeda."

Gue: *dalem hati* bukannya jamannya ayah itu 50 tahun yg lalu kalau 5 rupiah tuh gede ya? Kaya 50ribu di jaman sekarang. Terus naik sepeda itu udah dikira mewah kan jaman dulu, kalau jaman sekarang ke sekolah udah kaya bawa motor Harley Davidson? :-|

Bete gak sih kalau dibanding-bandingin kaya gitu? Ngerti inflasi gak sih? Kenapa mereka gak pernah banggain aja sedikit anaknya.
Tapi menurut mereka cara ini malah bagus buat membuat kita lebih semangat, termotivasi, terinspirasi, bla.. bla.. bla.. hasil sebenernya? NGEDOWN. 

TERUS APA DENGAN CARA ITU KITA BISA JADI SAMA PERCIS SAMA ORANG MEREKA BANDING-BANDINGIN SAMA KITA? (Duh maap capslocknya jebol)

"Liat tuh si Justin, idungnya bagus, kamu harus kaya dia tuh biar ganteng. Lebar idungnya 5 cm, mancungnya 1 meter.. uh bagus banget gak sih. Mamah suka tau. Terus rambutnya itu loh lurus banget, bersih, warna rambutnya tipe RGB 13908, jumlahnya 180 milyar helai rambut. Pokonya kamu harus sama percis kaya dia, mamah gak mau tau!"
Gue: "PISO MANA PISO WOY!!!!!" *sambil lari-lari telanjang mondar-mandir di jebra cross*

Orang tua itu sebenernya bukan mendidik anak dengan berbicara kepadanya tentang kelebihan orang lain. Tapi melihat kelebihan orang lain dengan berbicara di dalam hatinya sendiri dan melakukan kepada anaknya dengan "perbuatan", supaya bisa menjadi orang yang orang tua inginkan. Dan bukan cuma sekedar "Omongan".

2. Selalu Membuat Anak Serba Salah

Story 1:

Ibu: "kamu itu bisa gak sih nurut sama ibu, belajar dong belajar. Kalau nilai kamu jelek yang rugi siapa? Kamu dan ibu kan. Ibu jadi gagal mendidik kamu kalau kaya gini. Belajar aja apa susahnya sih? Apa perlu ibu nemenin kamu belajar tiap hari?"

Gue: "perlu, bu.."

Ibu: "kamu ini yah. JANGAN DIJAWAB! jangan jadi anak kurang ajar yah..!"

Gue: *diem* *nurut*

Story 2:

Ibu: "Kamu itu sekolah ngapain aja sih bisa nilai merah semua kaya gini? Nilai perosotan aja kamu di remed. Memang kamu disekolah ngapain aja? Hah?

Gue: *diem*

Ibu: "Heh! Kamu itu yah ditanya bukannya dijawab. Kalau orang tua nanya tuh jawab! Jangan diem aja, apa kamu budeg? Ato kamu tuli?

Gue: "Mah bunuh aku aja mah, please!" Sambil nangis dibawah shower

Gak punya pacar aja di serba salahin, gimana ditambah kalau punya pacar? Mungkin dunia bakal hujan terus tiap hari. (Oh iya, emang lagi musim ujan ya)

3. Kasar

Ini adalah metode didikan orang tua yang di luar batas normal, sering mengeluarkan kata-kata kasar, sering mukul, membentak, sampai menganiaya. Anak itu ibarat 'benda pelampiasan' emosi dan ego orang tua. Gue paling benci sama kekerasan di dalam rumah tangga. Kenapa? Karna manusia itu punya perasaan.

Kalau mau ngelampiasin emosi sih saran gue mah mending ke benda mati aja, mereka kan gak punya perasaan tuh. Kalau perasaan anaknya terus-terusan disakitin apa nggak kasian mereka yang udah sabar? Kalau endingnya anaknya (amit-amit) udah meninggal, terus rasa nyesel bisa ngehidupin anaknya lagi? Mustahil. 

Banyak anak yang menjadi trauma akut atas didikan orang tua yang seperti ini karena mempengaruhi pertumbuhan dan psikologi anak di masa depan. Akibatnya untuk tumbuh dengan baik dan wajar akan terhambat, yang tak jarang bakal mempengaruhi kehidupannya ketika dewasa nanti. Seperti gambar satu ini..
Jika anak di ajarkan kasar sejak dini, maka saat dia dewasa akan menjadi pribadi yang kasar juga.

5. Terlalu Manja

Nah ini dia nih sifat yang menurut orang baik padahal salah. Manja menurut mereka(orang tua) merupakan pembuktian dari sifat sayang mereka terhadap anaknya. 

Sifat manja yang diberikan dari kecil yang terlalu berlebihan membuat anak menjadi 'lembek' bahkan bisa bermetamorfosis menjadi sifat sombong. Manja sebenernya lebih baik diberikan kepada anak saat masih bayi dan balita aja sih. Kalau sampai remaja dan dewasa masih diperlakukan yang sama? Hati-hati aja. 

Hidup ini kata orang itu 'keras'. Kalau si anak 'dilembekin', saat udah besar dan ngehadapin dunia sendiri, dijamin dia jadi pribadi yang egois, mudah ngeluh dan putus asa. Camkan.

6. Posesif

Kemana-mana harus ngasih kabar, pergi keluar rumah harus ijin 100 x 24 jam, pergi kerumah temen eh telfon rumah temen kita di telfonin mulu saking harus bukti, lagi di sekolah ditemenin nyampe pulang, dianterin mulu, jauh dikit di smsin, jalan di mall di iket pake tali anjing, di kamar mandi di kasih CCTV supaya anaknya gak kenapa-kenapa di dalam kamar mandi, harus lapor tiap narik-buang napas.

Lebay gak ?
Pasti orang alay sama cabe-cabean juga setuju kalau ini lebay.

Anak itu sebenernya punya 'dunia' tersendiri, dan tanpa harus selalu di awasi. Mereka pengen bergaul, punya banyak temen, mengenal dunia luar tanpa orang tua harus was-was dan percaya kalau anaknya bisa menjaga diri sendiri. Dan anak juga bisa belajar di luar tanpa harus orang tua aja yang ngajarin, menentukan masa depan sendiri, dan nyari pasangan hidup sendiri tanpa dijodohin.

Yup, itu aja yang bisa gue sharing kepada kalian. Sebenernya apa pun didikan orang tua kita, harus kita syukuri kalau itu udah baik, jangan pernah selalu minta lebih kalau belum bersyukur. Kalau orang tua ngeselin, ya nikmatin aja karna suatu saat mereka udah nggak ada, kita kangen, dan supaya jangan jadi nyesel. Habisin waktu kita sama orang tua. Kelak kita jadi orang yang berguna.

"Gue nggak bisa memilih dengan siapa gue dilahirkan, tapi gue bisa memilih kelak gue bakal jadi apa kedepan." - 9 Summer 10 Autumns

{ 10 Komentar... read them below or Comment }

  1. setuju banget sama artikel ini. apalagi yg bagian manja. dimanjain sama materi, bukan kasih sayang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. dimanjain sih boleh, asal jangan terlalu berlebihan.

      Hapus
  2. jujur saja gue terharu pas baca ceritanya endoy :')

    BalasHapus
  3. ngerasa banget yang dibanding-bandingin itu. Udah belajar keras dan lumayan dapet juara 2 tapi tetep aja "harusnya kan bisa juara 1. kamu sih belajarnya gitu" Kok kayaknya setiap apa yg dilakuan kuran dapet apresiasi dan pujian gitu dari orang tua. Tapi kembali lagi pada masing2 pribadi anaknya. Ada yg menganggap motivasi, tapi sebagian besar mengganggap "banding-bandingin" itu malah semakin memperburuk keadaan. Terima kasih postingannya mas :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Motivasi sama banding-bandingin emang beda tipis. Justru motivasi yg positif itu memberikan pujian atas usaha kita, bukan membanding-bandingkannya dengan orang lain.

      Hapus
  4. sini jadi orang tua buat anak2ku :D haha becanda doang.. bagus ni postingannya, aku setuju banget :) semoga kita gak nerusin didikan2 orang tua yg (mungkin) salah..

    BalasHapus
  5. Terharu baca cerita Endoynya...

    Postingan ini benar bgt, point2 di atas itu sbnrnya gabaik, walau ortu gada mksd udh banding2in, atau ngemanjain gitu.

    Gue ngerasain bgt yg posesif gt, soalnya gue cewe sendiri, takut knp2 lah. Kdg kesal sih, kdg jg senang, mrk peduli sm gue, mrk syg sm gue, mrk pgn yg terbaik utk gue. Gitu ajasih. ._.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terlalu posesif sih yang salah, itu penyebab anak jadi pribadi pemberontak, kurang kebebasan, dan selalu dikekang sama peraturannya. Nggak baik, walaupun itu maksud mereka yang terbaik.

      Hapus

Mohon beri komentar yang baik dan sopan. Semua komentar kalian pasti gue baca dan balas. Terima kasih sudah menyisihkan waktu, tenaga, dan biaya kalian untuk membaca postingan ini. Semoga tulisan gue ini berguna.

- Copyright © Muhammad Iqbhal - masisibal - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -