Posted by : Muhammad Iqbhal Rabu, 19 Februari 2014


Ada cewek bernama Khansa. Dia berbeda kelas dengan Dio. Dio mengaku, sejak MOS Dio menganggap Khansa satu-satunya sosok yang berwarna, sedangkan yang lainnya hanya dilihat abu-abu (itu yang Dio bilang). Mungkin sejak pengakuannya kepadaku waktu itu, Dio tak lagi hanya mencintai diam-diam. Dia melakukan berbagai cara untuk menarik perhatian Khansa. Jadi orang pertama yang menyapa Khansa saat tiba di sekolah, memberi bunga cokelat, boneka, surat, dan apa pun. 

Mengirim SMS ke Khansa hampir tiap waktu luang, mengirim salam lewat radio yang salurannya jadi favorit Khansa. Bahkan, Dio rela berlama-lama menghabiskan jam kosong untuk duduk di depan kelas Khansa dan melihatnya, yang kemudian diusir guru, tapi Dio kembali hanya untuk melihat Khansa sekali lagi.


Akan tetapi, Khansa tak peduli. Saat Dio menyapa Khansa, tak sedikit pun Dio diliriknya. Bunga, cokelat, dan semua kado dari Dio yang biasanya dititipkan kepada teman-teman Khansa atau ditaruh di mejanya juga bernasib sama, diabaikan. Pernah Dio menaruh kotak kado di meja pada hari ulang tahun Khansa, pagi-pagi sekali. Khansa datang, melihat kado itu, lalu mencari tempat duduk lain. Kado itu bahkan tak disentuhnya. Waktu Dio duduk di depan kelas Khansa untuk melihatnya, Khansa seolah berleher batu, kepalanya kaku menatap papan tulis. Dio juga sebenarnya cukup dekat dengan teman-teman Khansa, tapi itu semua sama sekali nggak berpengaruh. Khansa tetap tak peduli. 

Aku pernah dengar, ada yang bilang Khansa nggak suka sama Dio karena Dio terlalu frontal. Ada juga yang bilang Khansa sebenarnya punya pacar, tapi hal itu disangkal mati-matian oleh Dio. Banyak yang penasaran kenapa Khansa begitu tidak suka kepada Dio, padahal yang aku tahu Dio dan Khansa bahkan tak pernah saling bicara. Bila Dio menganggap Khansa satu-satunya sosok berwarna dan yang lainnya hanya abu-abu. Sebaliknya, bagi Khansa, Dio transparan. Tidak kelihatan sama sekali.

Seminggu setelah UAN, aku, Dio dan anak kelas XII masuk sekolah cuma untuk bengong, ngerumpi, dan jajan. Saat aku, Dio dan teman-teman sekalas sedang ngumpul, tiba-tiba Jodhi sang ketua kelas membuat sebuah permainan.

"Woy.. sebentar lagi kita kan lulus dan pasti semua bakal pisah. Kita udah punya pilihan masing-masing, kuliah, dan lainnya. Jadi gini, aku tantang kalian semua. Kita semua punya mimpi kan? Cita-cita? Nah, gini peraturannya. Kita harus nulis apa pun impian sama cita-cita kita di selembar kertas dan kita lomba siapa yang bakal duluan menggapai cita-cita kita dialah pemenangnya." 

Aku pikir tak ada salahnya, sejauh nggak melakukan hal-hal konyol. "OKE.. aku setuju." Dan sepertinya kami semua setuju. Semenit kemudian, kami sibuk menulis impian-impian kami di kertas sobekan buku tulis. Dio, dia hanya menulis satu kata di kertas, satu nama: KHANSA
Dan kami saling tahu impian masing-masing. Kertas-kertas itu lalu digulung dan dimasukkan kedalam botol, berdesak-desakkan. Lalu botol itu dibawa oleh Jodhi, katanya mau dikubur atau apalah.

Seminggu setelah itu pengumuman kelulusan. Kami semua satu angkatan lulus dengan nilai memuaskan. Tiga hari setelah kelulusan, sekolah mengadakan pentas seni untuk merayakan kelulusan kami. Nggak ada prom night atau semacamnya. Dengan alasan irit dan nggak mau menghambur-hamburkan uang, sekolah hanya membuat panggung di lapangan sekolah yang diisi alat-alat band. Pengisi acara juga murid-murid dan beberapa guru. Nggak disediakan kursi untuk penonton, kami cuma duduk lesehan tanpa alas, tak ubahnya nonton panggung kampanye. 

Satu persatu band-band amatir sekolah kami tampil, aku sendiri nggak terlalu memperhatikan karena nggak tertarik. Saat jeda antara penampilan band, Dio tiba-tiba naik ke atas panggung dan memegang mik, "Jangan bilang kalau dia mau nyanyi, suara Dio kan pecah dan out of tune banget" suara orang sedang bergosip disebelahku. 

Dio berdeham sebentar saat semua orang penasaran apa yang mau dilakukan.

"Khansa, please kali ini aja tolong lihat aku!"

Suara Dio hampir tenggelam di antara riuhnya anak-anak yang menyorakinya. Bukan turun, Dio melanjutkannya, "Aku cuma mau bilang, AKU NGGAK AKAN NYERAH, aku bakal buktiin kalau aku bakal jadi laki-laki yang bisa kamu lihat dengan pantas. Aku.. aku.. akan jadi seseorang yang berwarna di mata kamu. SATU-SATUNYA."

Sorakan para murid semakin riuh dan heboh saat Dio selesai. Dio lantas turun panggung dan berjalan ke pinggir lapangan diiringi sorak dan teriakan yang belum surut. Ia berjalan tergesa. Setelah tahu Dio berjalan ke arah Khansa, sorakan makin ramai dan teriakan makin heboh.

Dio berdiri di depan Khansa yang sedang duduk menekuni buku yang dia baca sedari tadi, seolah tidak peduli apa yang terjadi. Saat sadar ada seseorang di depannya, Khansa mendongak, menatap Dio yang terngah-engah berdiri di depannya. Semua orang menunggu apa yang bakal terjadi. Sorak-sorai secara cepat berubah tenang, semua penasaran apa yang bakal dikatakan Khansa kepada cowok nekat itu.

Semua mata tertuju kepada Khansa. Dia menyibakkan rambut yang menutupi kupingnya, melepas earphone dari telinganya. Di tengah heningnya suasana saat itu, Khansa menatap mata Dio, sedikit tersenyum lalu berkata, "Kamu tadi ngomong sesuatu?"

Orang mengira Dio pasti akan jengkel, bahkan marah dengan sikap Khansa setelah tindakan nekat yang dilakukannya, tapi tidak. Dio tersenyum sambil memandang Khansa yang masih duduk, senyum yang hanya lima detik. Kemudian Dio berbalik arah dan berjalan pelan ke seberang lapangan, diiringi sorak-sorai dan tepuk tangan bercampur olok-olok dan rasa iba anak-anak lain. Tapi, masih terlihat senyum di wajah Dio. 

Peristiwa itu terjadi 5 tahun lalu. Aku kira tak ada yang ingat tentang impian yang kami simpan di botol. Sampai akhirnya aku bertemu Dio kembali saat dia sedang menikah dengan seorang wanita, wanita impiannya, Khansa. dan Khansa pun menceritakan semua kepadaku yang akhirnya bisa menerima cintanya Dio, 

"Selain itu, aku bisa disini juga karena dia, orang disampingku. Dia yang selalu memanggilku Khansa. Dan ketika permainan kalian yang mengaku suka kepadaku dan membuatku marah sekaligus malu. Dia yang membuatku, saking malunya, tak pernah sanggup membalas sapaannya tiap pagi. Dia yang bodoh menaruh kado ulang tahun bukan di tempat dudukku yang benar. Dan ya, dia yang dengan nekat menyabotase panggung pensi untuk mengatakan takkan menyerah kepadaku. Tapi, dia tak tahu, saat itu eaephone-ku tak mengeluarkan musik apa pun. Aku berpura-pura membaca buku hanya untuk menutupi mataku yang hampir berkaca-kaca mendengarnya. Dan, ketika dia menghampiriku, aku sangat gugup. Berhari-hari setelah itu aku menyesali kenapa yang aku berharap, sangat berharap, dia mengulangi kata-katanya, tepat di depanku, dan bukannya pergi begitu saja. Sekian lama aku hanya diam. Dio pun bilang dia hampir saja memutuskan tak mau menggangguku lagi. Akan tetapi, dia membuktikan perkataannya, bahwa dia tak pernah menyerah kepadaku. Dan, dia berhasil, karena sampai saat ini hanya dia satu-satunya sosok yang terlihat berwarna dimataku. Dia mendapatkan apa yang pernah dia tulis dulu. Aku." Itulah yang diceritakan Khansa kepadaku.

Kesimpulan:
Cerita cinta Dio dan Khansa membuatku percaya dengan satu hal, mencintai dengan pengorbanan, tulus, dan sabar bisa membuat semua indah pada waktunya. Walaupun jika pada akhirnya perjuangan kita sia-sia, Tuhan pasti punya award yang jauh lebih baik untuk kita.

Dikutip dari novel Turth or Dare.

{ 10 Komentar... read them below or Comment }

  1. nice post gan, bikin semangat lagi :D

    BalasHapus
  2. mengharukan sekali. cinta emang perlu diperjuangkan. Tapi poin paling jleb-nya ada di kalimat:

    "Aku cuma mau bilang, AKU NGGAK AKAN NYERAH, aku bakal buktiin kalau aku bakal jadi laki-laki yang bisa kamu lihat dengan pantas. Aku.. aku.. akan jadi seseorang yang berwarna di mata kamu. SATU-SATUNYA."

    Ini baru namanya PRIA>

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap, pria sejati selalu mau berusaha :)

      Hapus
  3. wah seru cerita nya dan benar , perjuangan yang tulus akan menghasilkan sesuatu yang baik .

    BalasHapus

Mohon beri komentar yang baik dan sopan. Semua komentar kalian pasti gue baca dan balas. Terima kasih sudah menyisihkan waktu, tenaga, dan biaya kalian untuk membaca postingan ini. Semoga tulisan gue ini berguna.

- Copyright © Muhammad Iqbhal - masisibal - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -