Posted by : Muhammad Iqbhal Senin, 02 Juni 2014


Suatu pagi yang cerah, Endoy terbangun dari tidurnya karna mendengar suara handphone dengan nada dering lagu Belah Duren yang dipopulerkan JuPe(Julia Pepes) pertanda ada telfon masuk, sambil berusaha untuk bangun dan mengangkat telfon, Endoy mengeluh.

“Aaaah! siapa sih pagi-pagi udah ganggu orang tidur aja, gak tau apa gue lagi mimpi ngopi bareng Raisa. Padahal dikit lagi gue mau nembak dia. Dasar BISUL KUDA!” sambil mengucek mata dan mengambil handphone yang terletak di meja dekat tempat tidur Endoy.

“Hallo, siapa sih ni? Gak tau apa ini hari libur? Hari para jomblo mati suri dikasur?” Endoy kesal dan tak sempat membaca siapa yang menelfon di layar handphonenya.

“Woy, katanya mau nganterin gue ke bengkel?” Suara cowok membalas di telfon.

“Ih siapa elo? Tiba-tiba nyuruh nganterin.” Endoy yang masih kesal mencoba terus menjawab dengan nada sompral, gak sopan, dan melanggar aturan lalu lintas.

Endoy yang hanya biasa disuruh oleh kedua orang tua sekaligus kakaknya itu, gak pernah mau disuruh selain mereka. Karna sekarang orang tua dan kakaknya sedang tidak ada dirumah, Endoy sudah merasa merdeka menjadi budak dari mereka. Terus kemana mereka pergi? Yap, Ayahnya seorang Pegawai Negeri sedang tugas dinas di Palestina untuk jualan Betadine. Ibunya yang sangat hobi bersosialisasi alias ngegosip, kali ini beliau sedang ikut arisan di Zimbabwe bareng ibu-ibu penduduk lokal disana. Dan juga kakaknya yang kuliah di Eropa yang sibuk ngurus skripsi tepatnya di kampus Oxford jurusan Kegantengan, Fakultas Korengan.

“Gue Ujang, Doy. Waktu kita masih balita kan lo udah janji kalo kita udah lulus SMA dan motor gue rusak, lo bakal nganterin gue ke bengkel.”

Ujang? Ya, Ujang yang ngakunya sahabat sejati Endoy padahal Endoy nggak pernah ngerasa punya sahabat, karna dari kecil dia cuma main septiptenk di rumahnya setiap hari. Sejak lahir.

“Kampret! Itu kan 90 tahun yang lalu. Kenapa harus sekarang? Gak mau ah.” Dengan terus memasang wajah kesal dan nada kurang sompral, Endoy menolak ajakan Ujang.

“Ayolah. Yang namanya janji kan harus ditepati. Walaupun itu sejak dahulu kala, sejak negara api menyerang.” Ujang terus berusaha membujuk Endoy supaya bisa mengantarkannya ke bengkel.

“Nggak.” Endoy tegas pada pilihannya.

“Oooooh jadi gini yang namanya sahabat? Oke!” Ujang membentak di telfon.

“Eh. Yauda deh, hayu. Tapi bentaran gue mandi dulu.” Entah kenapa Endoy tiba-tiba berubah pikiran.

“Oke. Jemput gue ya” balasan terakhir Ujang ditelfon.

Saat diperjalanan menuju rumah Ujang, Endoy terpikiran kata-kata Ujang tadi di telfon. Entah dia nggak mau nerima kalo Ujang nanti jadi marah atau Ujang bakal bukan jadi sahabatnya lagi. Padahalkan.... Ya sudahlah, lupakan.

Sesampainya Endoy di rumah Ujang dan memarkirkan motornya, saat itu Endoy melihat rumah Ujang yang sedang dibangun. Entahlah dibangun apanya, padahal rumah ujang udah termasuk rumah yang besar dan mewah. Terbukti dari rumahnya yang memiliki 1000 pintu, kamar mandi terbuka, 2 air terjun, dan 99 garasi tapi Ujang cuma punya 1 motor, doang.

Waktu itu Endoy cuma bisa nunggu di depan rumah Ujang dan duduk di atas pohon toge. Sesekali Endoy melihat handphonenya menunggu balasan BBM dari Ujang kalo dia sudah di depan rumahnya, atau hanya untuk sekedar diread saja oleh Ujang. Endoy yang hanya menunggu di atas pohon toge pun akhirnya merasakan kepanasan, keringetan, kehitaman, dehidrasi, mual, gatal-gatal, galau, dan gagal move on karna saat itu sinar matahari sangat terik.

Setahun kemudian, setelah lama menunggu. Akhirnya Endoy pergi dari rumahnya Ujang. Endoy merasa diberi harapan kosong oleh Ujang. Sejak dari rumahnya juga Endoy sebetulnya udah BBM Ujang kalo dia “udah otw”, mungkin menurut Ujang otw Endoy itu artinya “oh yunggu weh” maksudnya Endoy masih cebok dan belum berangkat, bukan lagi arti yang sebenarnya “on the way”.

Setelah Endoy sampai dirumahnya lagi, Ujang baru membalas BBM Endoy. Tapi saat itu Endoy cuma cuek, nggak peduli ada BBM dan telfon dari Ujang. Berkali-kali Ujang terus menelfon Endoy. Mungkin anggapan Ujang, Endoy marah padanya. Tapi saat Endoy mulai risih dengan suara handphonenya, saat itu juga dia mengangkat telfon dari Ujang.

“Halo, eh dimana lu?” Ujang menyapa pertama di telfon.

“Di rumah.” 

“Lah katanya lo didepan rumah gue. Mana? Bohong ya lo?”

“Bener.”

“Mana buktinya? Nggak ada?”

“Tadi. Setahun yang lalu, pas Fir’aun masih doyan make gelang power balance.”

“Ah lo mah gitu, padahal tunggu bentar aja. Gue lagi nguras jamban dulu tadi tuh.”

“.......” Endoy terdiam, duduk, garuk-garuk aspal.

“Woy!? Kok diem sih lo? Yauda gue ke rumah lo aja sekarang.”

“Lah? Pake apa? Kan motor lu rusak?"

“Pake motor bokep, eh bokap. Mumpung bokap lagi diluar negeri, jadi gue pake aja daripada nganggur.”

“Lah kalo gitu kenapa lo nggak sendiri aja ke bengkel? Atau lo main pake motor bokap lo aja?”

“Nggak ah, gue suka cepirit di celana kalo kelamaan make motor yang bukan motor gue.”

“KAMPRET! APA HUBUNGANNYA!” 

*tut tut tut*

Endoy pun langsung menutup telfonnya. Dan beberapa detik kemudian, ada terdengar suara sirine ambulance didepan rumahnya. Saat itu juga Endoy langsung bergegas membuka pintu, keluar rumah dan melihat siapa yang menyalakan sirine ambulance itu. Apa mungkin tetangga sebelah rumah Endoy ada yang meninggal karna kepleset di jamban atau mobil ambulance yang mogok didepan rumahnya.

Saat Endoy membukakan pintu depan rumahnya, yang terlihat malah ada sebuah motor dengan seorang lelaki seumuran Endoy sambil mengangkat tangannya pertanda dia kenal dan menyapa kepada Endoy. Saat cowok yang menurut Endoy kelainan itu membuka helmnya, ia adalah Ujang. 

Ujang dengan motor bokapnya yang dilengkapi sirine ambulance, menurut Ujang motor bokapnya itu adalah motor touring (motor yang dipake buat keliling daerah, kecamatan, provinsi, dunia, bahkan akhirat) yang wajib mengenakan sirine khusus untuk meminggirkan kendaraan-kendaraan di jalan supaya kendaraan dia bisa berjalan lancar dan serasa seperti Presiden Amerika yang masuk kampung. Oh iya, Ujang kan yang tadi nelfon Endoy beberapa detik yang lalu, terus kenapa udah ada didepan rumah Endoy lagi? Padahal rumah Ujang ada di Amsterdam dan rumah Endoy ada di Prancis (Prapatan Ciamis belok dikit). Mungkin karna ulah sirine tersebut juga. Mungkin. Mungkin hanya Ujang yang tau.

“Buset cepet banget lo nyampe rumah gue? Padahal kan baru aja gue telfonan sama lu -____-“ 
Endoy berjalan sambil mendekati Ujang yang sedang memarkirkan motornya

“Yaelah gue kan udah bilang, gue kan nggak bisa lama-lama pake motor orang.”

“Serah lu deh~”

“Eh yauda hayu anterin gue ke bengkel. Udah lo pake baju gitu-gituan aja.”

“Kampret, masa gue pake kaos dalem dan cuma pake sempak doang keluar sana?”

Endoy memang punya kebiasaan nggak pernah pake celana didalam rumah. Nggak pake sama sekali. Dan cuma pake sempak kalo di halaman rumahnya. Entahlah kebiasaan apa yang Endoy lakukan sejak kecil. 

“Yauda gapapa, lo gitu-gituan aja. Gue minjem jaket lo aja deh, gue di motor masih kerasa dingin, dan nggak pede cuma pake baju 6 lapis gini.”

“Dasar kentut koala! Yauda pake jaket gue yang paling jelek nih, gue kemaren beli di planet surfivor harganya 6juta. Pake aja.”

Tanpa berkata apa-apa lagi, Ujang langsung mengambil jaket yang dipinjamkan Endoy dan langsung memakainya. Tanpa berlama-lama juga, mereka langsung berangkat ke bengkel. Mereka pergi ke bengkel yang menurut Ujang paling lengkap dan paling murah. Di Jerman.

Setelah sampai ditempat tujuan, mereka melihat suasana bengkel yang sangat ramai pembeli. Memang bener, mungkin ini bengkel paling lengkap dan murah, sedunia. Saat itu Ujang langsung mengantri menunggu kesempatan membeli barang yang dibutuhkan untuk motornya. 

Sambil menunggu Ujang mengantri, Endoy memesan ketoprak didekat bengkel tersebut. Setelah ketopak Endoy habis 900 piring, Ujang masih belum beres membeli barang untuk motornya. Akhirnya Endoy memutuskan untuk membaca buku yang sengaja dia bawa dari rumah untuk dibaca sambil menunggu Ujang, yang tebalnya sampai 5000 halaman (Buset itu buku apa kamus bahasa hewan?).

1 windu kemudian, Ujang masih mengantri dan belum kebagian mendapat barang yang di inginkannya di bengkel. Endoy malah sudah tamat membaca buku(kamus bahasa hewan)nya lagi. 

“Eh, Ndoy. Lo aja deh yang ngantri, lutut gue udah kesemutan, ngantrinya lama banget, rame.” Ujang yang sambil menghampiri Endoy.

“Lah belom juga? Yauda gue aja yang ngatriin.”

“Gue minjem buku lo itu, Ndoy.”

Sambil memberikan bukunya ke Ujang, Endoy langsung mengantri di bengkel untuk mendapatkan barang yang diinginkan Ujang.

*2 detik kemudian*

“Nih, Jang. Total harganya 499.999 juta rupiah.”

“Wah murah banget kan. Pake duit lo dulu dong Ndoy, nanti gue ganti.”

“Kok duit gue? Kan ini punya lo, yang lo mau. Kok pake duit gue?”

“Plis, atuh Ndoy. Nanti gue ganti.”

“Woy mas, buru dong bayar, ini yang ngantri masih panjang. 36KM lagi.” Terdengar teriakan pemilik bengkel yang kesal menyuruh Endoy dan Ujang membayar barang yang telah dia beli di bengkel tersebut.

Akhirnya Endoy yang membayar semua belanjaan keperluan motor Ujang. Ujang yang nggak terlihat peduli telah banyak merepotkan Endoy seumur hidupnya itu malah serius membaca buku yang dia pinjam dari Endoy.

Setelah sampai di rumah Endoy lagi, Ujang masih terus fokus dengan buku yang dia baca.

“Eh udah nyampe nih, gue masuk dulu, udah kan gue anterin lo? Puas?”

“Ho’oh.” Ujang menjawab sambil matanya terus membaca buku.

“Yauda lo balik sana.”

Tanpa menjawab apa-apa lagi dan mengucapkan kalimat terima kasih, Ujang langsung bergegas menancap gas motor bokapnya dengan kencang sambil membaca buku. 

Akhirnya. Ujang masuk jurang didepan rumah Endoy sedalam 1 meter. Dia meninggal di tempat dengan keadaan kepala tertunduk mencium lututnya sendiri, dan jempol kakinya yang masukke lubang hidungnya. Seperti orang ngupil.

-The End-

Gue bener-bener nggak ngerti dan nggak kuat sama cerita diatas yang gue buat sendiri. Emang sengaja sih tokoh Ujang gue mati’in. Biar nggak terus-terus buat gue naik darah buat nulis kelakuannya. 

Sekarang gue bakal bahas tentang sahabat. Siapa sih yang nggak mau punya sahabat? Sahabat yang menurut kebanyakan orang adalah seorang teman sebaya yang selalu ada dan bersama setiap saat, tempat, dan keadaan apapun. Kecuali mandi dan boker.

Tapi ada sahabat menurut gue, dia selalu ada, kapan pun kita butuh, tapi dia cuma ada maunya. Kita berusaha buat baik sama dia, tapi dia ketagihan buat minta kebaikan kita terus dengan disaat dia nggak sadar udah merepotkan kita. Dan saat kita ngerasainnya itu sendiri.

Contoh sahabat yang merepotkan itu adalah sahabat palsu. Sahabat sejati itu selalu ikhlas dalam hal apapun, nemenin, ngebantu, bahkan ngedoain sahabatnya dalam keadaan apapun.(tambahan: nggak pernah berani ngeledek kekurangan yang dimiliki sahabatnya itu)

Kalo kalian masih ngerasa punya sahabat, tapi kelakuannya kayak point-point yang udah disimpulin gue dibawah ini, hati-hati aja. Mungkin dia sahabat kamu yang nggak bener. Sahabat palsu. 

Misal:


1. Suka Minjem Barang Tapi Nggak Pernah Dibalikin

Minjem barang sih wajar, sama temen juga sering, apalagi sama sahabat. Pasti dikasih lah. Tapi karna dianggap dia adalah sahabat, jadi ada aja orang yang se’enak jidat minjem barang yang dia pengenin, gak sedikit, kadang banyak juga minjemnya. Bahkan kolornya juga pasti mau dikasih pinjemin, dalam pikiran sahabat palsu ini.

Tapi yang namanya sahabat kan manusia juga, nggak berlaku juga sih sama orang yang sahabatan sama komodo. Manusia selalu punya kekurangan, bisa lupa, bisa kelupaan, bisa forget, bisa forgetan. Ya karna nggak pernah ditagih buat balikin barang yang udah dipinjem, kadang yang ngakunya si sahabat sejati forever ini sengaja aja disimpen padahal dia sendiri nyadar kalo itu barang ‘sahabatnya’, pura-pura nggak di ingetin aja biar si pemilik barang inget sendiri. 

Kadang gue juga pernah sekalinya inget, banyak barang yang dipinjem sahabat palsu gue yang saat gue butuh barang itu, malah nggak ada. Saat nagih buat balikin barangnya, dia kadang suka nggak bisa dihubungin. Sekalinya bisa dihubungin, eh malah dia bilang, “Duh gue lupa nyimpennya dimana, entar gue cari dulu ya.” Dan sekarang udah hampir 3 tahun dicari malah bilangnya belum ketemu. Kampret! Akhirnya gue beli barang baru. Dan saat dia ngeliat gue beli baru, barang yang udah dia pinjem dan ‘ilangin’ itu, malah dia ngetawain gue. Apa coba.

Kalo emang dia jujur dan bener-bener lupa kayak kita juga gimana?
Ya, kalo emang lupa dan saat orang yang minjem barang temennya itu inget. Gak usah nunggu buat si pemilik barang itu inget lagi. Langsung kasihin aja. Dan sebaliknya kalo si pemilik barang yang inget duluan. Ya walaupun kita udah beres atau belum make dan perlunya, ya balikin aja. Itu bukan hak kita.

Kalo hilang? 

Ya gantiin. 
Kalo nggak, itu namanya ngambil(mencuri). Minta maaf? semua penjahat bisa lakuin. Tapi memperbaiki dan mengganti hal yang udah dihilangkan itu masih jarang ditemukan. 

Kalo berani minjem barang. Harusnya juga berani buat balikin secara utuh. Bukan merusak apalagi menghilangkan barang tersebut.  

Sahabat yang berani bertanggung jawab, Itu baru namanya sahabat sejati.


2. Gampang Ngambek Kalo Nggak Bisa Ditemenin

Kita lagi sibuk, mandiin singa. Tiba-tiba ‘si sahabat’ minta anter ke Samudera Hindia cuma mau mandi disana. Udah bilang nggak bisa malah ngotot sampe ngancem-ngancem segala, nggak jauh dari kata-kata:

“Oh ini yang namanya sahabat?”,

 “Oh jadi sekarang lo udah nggak mau nemenin gue kemana-mana lagi?”,

 “Oh, sekarang lo udah berubah ya. Oke. Kita cerai!”

Yang jadi masalah sih, dia kan minta tolong, dan setiap pertolongan itu kan ada batas kemampuan buat bisa ditolong atau memang nggak bisa. Kalo emang 'harus' bisa sih itu namanya pemaksaan yang melanggar undang-undang tentang persahabatan.

Kalo emang nggak bisa buat minta tolong tiga kali bujukan, ya artinya kita nggak punya hak buat maksa dia. Dia udah punya pilihan kok. Dia nyebut 3 kali untuk nolak kenapa kita harus nggak terima? 

Mengertilah kawan. Setiap hubungan dan keputusan itu nggak bisa dilakuin dengan paksaan. Buat apa kita terus-terusan berharap dan memaksa tapi tanpa rasa ikhlas? Toh hasilnya juga nggak akan sempurna.

Percaya deh, saat kita nggak punya pilihan satu, masih banyak pilihan lain yang lebih baik didalam pikiran kita. Cuma itu semua bisa tertutup aja kalo kita masih terus terlalu yakin dengan pilihan pertama. 

3. Merebut Kebahagiaan Kita

Contoh kecilnya kita punya sesuatu yang bisa buat kita bahagia, barang kepunyaan, orang kesayangan, sampai kolor kesayangan. Tapi itu semua direbut sama orang lain. Otomatis hati bakal hancur. Bayangkan.

Yang namanya kebahagiaan itu emang nggak bisa ditahan, dipendem, dan dirasain diri sendiri. Kadang kita juga suka pengen orang lain tau bahwa itu adalah kebahagiaan kita. Harapan sumber penyemangat hidup.

Orang yang kita pikir dan percaya untuk paham semua tentang kita, kebahagiaan kita, tapi dia ternyata yang merebutnya sendiri. Dibelakang. 
Jauh lebih kejam dari penjahat, jauh lebih kejam dari pengecut yang hanya bisa mengambil hak kebahagiaan orang lain.

Setidaknya kita bisa sadar sedikit yang bisa kita liat dari orang lain bahagia karna apa. Melihat apa yang buat bahagia mereka (keluarga, teman, dan sahabat) 

Ingatlah kawan, orang yang mengambil kebahagiaan kita, kelak kebahagiaan dia juga bakal direbut orang lain. Hidup itu timbal balik. Seberapa besar kita mengambil kebahagiaan orang lain, maka orang lain juga bakal mengambil kebahagiaan kita sebesar yang telah kita ambil.

Kesimpulannya bisa nangkep kan? Ini semua tentang sahabat. Bukan sahabat sejati, karna sahabat sejati bisa selalu ngerti. Sahabat palsu bisa kapan pun hadirnya, atau daridulu dia udah memang ada dihidup kita. Kalo emang kalian sadar kalo sahabat kalian selalu ngerepotin, nggak pernah mau ngerti, apalagi ngekhianatin. Udah. itu namanya sahabat palsu.

Sahabat palsu = nggak jauh beda dari BENALU

Leave a Reply

Mohon beri komentar yang baik dan sopan. Semua komentar kalian pasti gue baca dan balas. Terima kasih sudah menyisihkan waktu, tenaga, dan biaya kalian untuk membaca postingan ini. Semoga tulisan gue ini berguna.

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Muhammad Iqbhal - masisibal - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -