Posted by : Muhammad Iqbhal Rabu, 25 Juni 2014

Setahun yang lalu, gue, Rangga, Christian,dan Nabila pergi main ke “Kota Kembang”, Bandung. Nabila ini adalah pacarnya Rangga. Dan untungnya gue bukan pacarnya Christian. Kita memang sering main bareng, karena kita semua satu sekolah. Saat itu kita duduk di bangku kelas 3, walaupun kita semua beda kelas tapi kita dekat karna kita sekelas saat kelas 1. Kita punya kebiasaan bersama. Yaitu, setelah pulang sekolah, kita selalu pergi ke tempat-tempat baru dengan mobilnya Christian, bahkan kita selalu keluar kota setiap hari sepulang sekolah. Waktu itu adalah giliran kota Bandung yang ingin kita datangi dan mengabadikan kebersamaan kita disana. Tapi ternyata sampai sekarang keabadian yang tercipta hanyalah pengalaman dan cerita buruk yang pernah kita miliki.


Setiap hari, sebelum berangkat sekolah, gue selalu menyiapkan barang-barang dan bekal yang lebih daripada teman-teman sekolah gue lainnya, itupun sama juga dengan apa yang dilakuin Christian, Rangga, dan Nabila. Gue selalu membawa baju ganti, kamera, dan juga harga diri. Christian hanya membawa mobil Avanzanya ke sekolah sebagai kendaraan kita buat berpetualang. Rangga dan Nabila seperti biasa, mereka hanya membawa kemesraannya aja, tanpa merasa sudah membawa bencana bagi gue yang jomblo saat itu.

Berawal dari sepulang sekolah, jam 2 siang, kelas gue adalah kelas yang paling pertama keluar dari kelas Christian, Nabila, dan juga Rangga. Saat itu gue pergi ke kantin buat nunggu teman-teman gue lainnya keluar kelas, kita sering ngumpul dikantin sambil mengisi perut sebelum berangkat ke tempat tujuan kita. Saat itu gue liat kantin gak seperti biasanya, sepi. Gue nggak liat anak-anak sekolah gue ada di kantin sama sekali, teman seangkatan maupun adik kelas. Gue bingung, apa mungkin saat itu kantin dipindahkan ke depan gerbang sekolah, atau semua orang disekolah diculik alien.  Entahlah.

Gue duduk dikursi kantin sambil melihat sekeliling suasana disana yang memang membingungkan buat gue, gue pikir mungkin saat itu emang kelas gue yang kecepetan keluar atau kelas lain memang pada kompak sibuk dengan gurunya masing-masing. Sambil menunggu, gue mencoba buka handphone dan mengecek apa ada kabar dari temen-temen gue atau gebetan gue, operator telfon. 

Sambil memainkan handphone, ada sebuah gelas pecah di depan meja kantin tempat gue duduk, gelas kosong bekas siswa yang selesai dipakai dan ditinggalkan begitu saja di meja setelah selesai meminumnya. Gue bingung saat itu gak ada siswa sama sekali di kantin, akhirnya gue mencoba untuk berdiri dan membereskan gelas yang pecah tadi tanpa peduli siapa yang mecahin walaupun itu bukan gue.

Saat gue membereskan gelas pecah itu, tiba-tiba dari kejauhan gue liat seorang wanita paruh baya memakai kerudung melihat kearah gue dengan tatapan kosong, dia berdiri di pojok kantin dan memberikan gue senyuman. Awalnya gue kira dia adalah penjaga kios baru di kantin sekolah gue, tapi baru sebentar gue dan wanita itu bertatapan, dari belakang pundak gue ada yang mukul.

“Dooooor!” suara seseorang sambil sambil memukul pundak gue dari belakang

“Ayam eh ayam.. Kampret! Gue kaget, dasar sempak Fir’aun!” spontan gue kaget sambil melontarkan kata-kata makian ke orang yang memukul punggung gue tadi.

“Ngapain lo, Bal? Mecahin gelas ya? Wah parah lo, gue bilang Mang Udin nih, itukan gelas Mang Udin.” Ternyata yang mencolek gue barusan adalah Rangga. Mungkin dia orang kedua keluar kelas dari gue.

“Sok tau lo, tadi gelasnya jatoh sendiri, gak ada yang nyentuh, ini juga bukan gelas bekas gue minum kok. Tanya aja gelasnya.” Gue menjelaskan ke Rangga dengan sedikit mencoba mencari tahu penyebabnya.

“Masa sih? Nggak mungkin. Yang duduk dikantin kan cuma ada lo doang. Btw, kok tumben kantin sepi yah, anak-anak yang lain pada kemana nih?” Sambil mengelus-ngelus jenggotnya sepanjang satu meter, Rangga ikut bertanya-tanya.

“Iya bener. Tau nih, tumben sepi yah nih kantin, biasanya pulang sekolah gini rame banget kayak di dalem kereta pas jam berangkat kerja.” Gue mencoba menanya balik ke Rangga sambil membuang puing-puing gelas pecah tadi ke tong sampah.

“Yah padahal hari ini kita bakal pergi jauh dan banyak kios kantin yang tutup, kecuali kios Es Mang Ujang yang di pojok itu. Terpaksa mungkin kita makan diluar aja nanti.” Rangga mengeluh sambil menunjuk ke arah kios Es Mang Ujang.

“Iya yah, eh tadi gue liat.........” belum selesai gue ngomong, gue heran dan kaget kalo wanita yang berdiri di pojok kantin itu udah nggak ada.

“Apa? Ngeliat apa lu?” Rangga mencoba memaksa gue melanjutkan cerita gue barusan.

“Em... Tadi gue liat cewek berdiri dipojok situ sambil ngeliatin gue.” Secara singkat gue menjelaskannya ke Rangga.

“Lah, siapa? Adik kelas? Lo makin lama jomblo, makin Ge’er banget cuma karna cewek ngeliatin lo doang.” Senyum kecut Rangga keluar sambil meledek gue.

“Bukan, bukan adik kelas, dia gak pake seragam kok. Cewek itu berkerudung dan lumayan tinggi.” Gue mencoba menjelaskannya lagi ke Rangga

“Coba yuk kita samperin kesana dan sekalian kita tanya aja Mang Ujang, siapa tau itu pegawai barunya dia.” Rangga menyuruh gue ke kios Mang Ujang yang berada di pojok kantin itu, sambil berjalan tiba-tiba dari belakang Christian datang dan disusul oleh Nabila. Sambil menghampiri gue dan Rangga, Christian tiba-tiba curcol.

“Eh sorry ya lo pada nunggu lama, soalnya tadi dikelas guru gue curhat dulu sebelum balik, dia curhat tentang kenaikan harga BBM yang hubungannya dengan inflasi harga cabe-cabean dan pembangunan perbaikan jalan fly-over.” Tanpa Christian sadari bahwa dia sendiri juga sedang curhat.

“Iya nih gue juga sama, guru gue malah ngasih tugas dulu sebelum balik.” Lanjut Nabila menjelaskan alasan dia keluar kelas paling telat.

“Kamu abis belajar agama yah? Pasti tugasnya disuruh nulis surat Al-Baqoroh di buku tulis, iya kan?” Rangga mencoba sok tau kembali ke Nabila, pacarnya.

“Sok tau! Aku memang abis belajar agama sih. Tapi bukan tugas nulis surat Al-Baqoroh juga kali. Aku cuma disuruh ngafalin Yasin aja kok.” Nabila mengeluh sambil memainkan kerudung yang dipakainya.

Gue heran kenapa Nabila memakai kerudung walaupun sudah selesai pelajaran agama islam, padahal dia orang yang tidak betah pakai kerudung dengan alasan gerah. Saat pelajaran agama islam di sekolah gue itu diwajibkan siswa perempuan untuk memakai kerudung, mungkin supaya menghargai guru yang mengajar dan supaya lebih sopan. Tapi tak biasanya Nabila terus memakai kerudungnya setelah jam pelajaran agama islam selesai. Mungkin saat itu gue pikir Nabila karna terburu-buru jadinya tak sempat melepas kerudungnya. Tapi pikiran gue saat itu nggak seperti Rangga dan Christian yang memaklumi ataupun tidak merasa apa yang saat itu tidak seperti biasanya.

“Oh iya, tadi kita mau ke Mang Ujang beli es sekaligus mau nanya sesuatu.” Rangga menjelaskan ke Nabila dan Christian

“Nanya apa tuh? Gue tunggu disini aja ah, tolong pesenin Nutrisari rasa rendang aja.” Christian menjawab sambil duduk di kursi kantin.

“Aku juga deh, aku mesen Pop Ice rasa iga penyet.” Dilanjut dengan Nabila yang sama-sama tidak ikut gue dan Rangga ke kios Mang Ujang.

Setelah itu gue dan Rangga menuju kios Mang Ujang memesan minuman masing-masing yang kita mau, saat itu juga gue selalu melihat ke arah tempat cewek berkerudung tadi berdiri. Sambil menunggu Mang Ujang membuatkan minuman, gue sambil mencoba nanya tentang siapa cewek tadi yang berdiri di depan kiosnya.

“Mang, tadi saya liat cewek yang berdiri disitu, itu siapa ya mang?” sambil menggaruk-garuk kepala disusul ketombe gue yang berjatuhan.

“Yang mana? Daritadi disini cuma ada saya aja kok, gak ada siapa-siapa.” Mang Ujang menjawab  sambil mengaduk-ngaduk minuman dengan telunjuknya.

“Lah masa sih? Tapi tadi saya liat ada cewek yang berkerudung di sini, di pojokan, deket kios Mang Ujang, apa Mang Ujang punya pegawai baru?” Gue terus meyakinkan apa yang gue liat tadi.

“Nggak ada kok, saya juga gak punya pegawai baru. Terakhir cuma siswi kelas 2 yang memesan minuman dan duduk di meja sana.” Sambil menunjuk ke arah meja dimana tadi ada gelas yang tumpah.

“Cantik gak Mang? Dia masih jomblo?” tiba-tiba gue mengalihkan pembicaraan.

“Yeee! Kupret. Maaf mang, dia emang udah jomblo akut. Diemin aja, susah kena penyakit kurang kasih sayang mah.” Tiba-tiba Rangga memotong pembicaraan gue. Lalu gue dan Rangga pergi ke tempat duduk Christian dan Nabila karna memang minumannya sudah selesai dibuat.

“Tuhkan, Bal. Gue bilang apa, mungkin lu salah liat, sugesti lo aja kali tentang cewek yang ngeliatin lo.” Rangga melanjutkan bicaranya sambil memberikan minuman ke Christian dan Nabila.

“Eh apaan sih? Cerita dong.” Christian penasaran apa maksud yang dibicarakan Rangga ke gue.

“Itu loh katanya si Iqbal liat cewek yang ngeliatin dia di pojokkan situ.” Rangga menjawab sambil menunjuk ke arah pojokkan dekat kios Mang Ujang.

“Terus? Bener emang bal?” Christian mencoba menanyakannya langsung ke gue.

“Iye. Cuma mungkin bener kata Rangga, sugesti gue aja kali, daritadi dikantin kan gak ada siapa-siapa, terus gue tanya Mang Ujangnya kalo mungkin cewek itu tadi pegawai barunya tapi ternyata bukan.” Gue menjawab sambil mengaduk-ngaduk minuman di depan gue.

“Kalo emang bener itu sugesti lo, yauda mending kita bahas tentang Bandung!” Nabila tiba-tiba membahas hal lain sambil joget di atas meja kantin karna mungkin dia lagi senang saat itu kalo kita akan berangkat ke Bandung.

Sejam kemudian, kita selesai dan bergegas pergi dari kantin dan berangkat menuju ke Bandung, tapi saat meninggalkan kantin dan berjalan sambil mengobrol, tiba-tiba gue lihat tali sepatu gue lepas dan langsung gue iket lagi, Christian, Rangga, dan Nabila tetap terus berjalan. Saat selesai gue mengikat sepatu gue spontan melihat ke arah kantin, dan wanita berkerudung itu ada di tempat yang tadi gue lihat sebelumnya, dia berdiri tapi nggak melihat ke arah gue lagi, dia tertunduk kaku seperti sedang sedih.  

Saat itu gue nggak peduli dan lari menyusul Christian, Rangga, dan Nabila. Kita pun tetap melanjutkan pergi ke Bandung dari Bogor jam 3 sore. Kita melewati Tol Cipularang, jalan yang menjadi favorit setiap orang yang ingin pergi ke Bandung dari Jakarta, Bogor, dan lainnya. Saat diperjalanan kita menceritakan hal yang terjadi di sekolah tadi masing-masing. Rangga yang menceritakan tentang kejadiannya dikelas tertidur dan dihukum pancung oleh guru sejarahnya. Nabila yang menceritakan tentang guru agamanya yang berceramah panjang saat jam pelajarannya. Dan sambil menyetir, Christian menceritakan tentang teman sekelasnya yang ulang tahun dan dikerjain habis-habisan. 

“Eh, Bal. Lo udah pernah ke Bandung belom?” selesai bercerita, Christian menanyakan sesuatu ke gue. 

“Udah. Nyokap gue kan kerja di Bandung.” Gue menjawab dengan santai

“Oh iya yah. Berarti udah pernah lewat sini dong?” Christian terus bertanya.

“Iya kan ini jalan baru selesai dibuat tahun 2005, dan gue ke Bandungnya 2005 ke atas, bukan tahun 1900an.” Gue menjawab kembali tapi dengan sabar.

“Oh gitu, lo tau banyak yah, hebat. Tapi aneh ya lo gak pernah tau isi hati wanita.” Christian lanjut dengan meledek gue.
 
“Bisul Kuda!” gue kesal dan loncat keluar mobil.

“Tapi lo tau gak tentang kenapa namanya Cipularang? Kenapa gak Cipuboleh?” Rangga mencoba ikut bertanya ke gue.

“Cipularang itu singkatan CIkampek – PUrwakarta-PadaLARANG. Dulu sebenernya ini itu pegunungan, tapi akhirnya dibangun proyek jalan tol, kayak sekarang ini.” Gue menjelaskannya sambil mereka serius memperhatikan.

“Oh gitu, terus itu pegunungan apa bal?” Nabila coba menunjuk ke arah satu gunung di luar mobil.

“Itu namanya Gunung Hejo. Lo tau gak kalo gunung itu adalah gunung yang nggak bisa ditembus?” gue mencoba menanyakan ke mereka sebelum gue lanjut menceritakannya lagi. Tapi mereka malah diam dan gue anggap mereka mnyuruh gue untuk melanjutkan ceritanya lagi.

 Penampakan Gunung Hejo

“Jadi gini, liat kan jalan ini dibuat melingkar dan gak langsung tembus menerobos Gunung Hejo itu? Karena memang gunung Itu gak bisa ditembus sama peralatan canggih saat itu. Nggak sedikit buruh bangunan tewas saat proyek itu berjalan. Cara kematiannya juga bermacam-macam, ada yang terjatuh dari kendaraan crane dan tiba-tiba kendaraan strum berjalan sendiri melindas satu buruh yang lagi tiduran. Ada juga pada suatu malam, seorang kuli sempat melihat sosok dua bocah gundul berlari-lari dia atas pancang crane. Kuli itu pun spontan terbirit-birit dan terjatuh. Warga sekitar banyak percaya kalo Gunung Hejo itu adalah tempat persugihan warga luar Purwakarta meminta agar menjadi kaya.” Gue menjelaskannya sambil tak ada yang menjawab dan berani menanyakan lebih lanjut lagi.

Saat itu gue lihat mereka terdiam, Rangga yang hanya melihat-lihat ke arah luar mobil, Nabila yang langsung menggandeng tangan Rangga, dan Christian tetap fokus menyetir mobilnya dengan kecepatan 60 km/jam dan melewati KM 70.
Tiba-tiba Christian menyetir mobil seperti tidak sadarkan diri. Dia memacu kendaraannya semakin kencang sehingga mobilnya tidak stabil. Gue, Rangga, dan Nabila sudah memperingatkan Christian untuk mengurangi kecepatan, tapi Christian seperti tidak perduli dan terus menaikkan kecepatannya hampir 90 km/jam.

Ciiiiiiiiiit!

Bunyi body mobil Christian yang menyerempet pembatas jalan tol sampai kita semua kaget sampai mobil Chirsitian pun berhenti mendadak. Untungnya gak ada yang terluka parah walaupun mobil lecet dibagian samping kiri karena tergores pembatas jalan. Untungnya kendaraan di belakang mobil Christian bisa mengerem sebelum menabrak bagian belakang mobilnya. Kita semua keluar mobil karna shock atas kejadian itu, pengemudi dibelakang kita pun ikut turun dan anehnya dia tak memarahi Christian.

“Selamat dek, Untung tidak apa-apa. Saya juga sempat hilang sebentar, namun saat saya melihat kendaraan kamu, saya langsung mengerem. Untung kamu di KM 70. Kalau di KM 68 pasti kamu sudah ‘lewat’ kali. Sebelumnya banyak kejadian kecelakaan terjadi di KM 68. Sebaiknya di KM ini kamu berhati-hati dan jangan sampai pikiran kosong.” Sambil memegang pundak Christian sampai akhirnya orang itu langsung berpamitan untuk melanjutkan perjalanannya.

Setelah kejadian itu kita mencoba untuk melupakannya, mungkin itu musibah yang bisa kita lewati bersama dengan selamat. Tak lama kemudian kita melanjutkan dan beristirahat sebentar di rest area KM 97. KM 97 itu dibuat sengaja sebagai tempat peristirahatan pengguna jalan tol Cipularang, dengan maksud sebagai melepas lelah dan mengusir  ’arwah penunggu’ jalan tol di KM 97 dengan dibangun masjid besar di rest area itu.

Kita berempat beristirahat di mobil sejenak, ke toilet bergantian, dan tentunya gue, Rangga dan, Nabila sholat Ashar terlebih dahulu sebelum melanjutkan kembali perjalanan ke Bandung. Setelah selesai beristirahat sejenak, kita langsung keluar rest area melewati KM 97 dan sampailah di Bandung dengan selamat sentosa.

Di Bandung kita sampai jam 6 sore. Kita menyusuri Gedung Sate sebagai pembukaan background berfoto kita disana. Selanjutnya kita menyusuri jalan Asia-Afrika dengan gedung-gedung tua sebagai lokasi kita berfoto selanjutnya. Setelah itu kita makan dipinggir jalan, bukan di tengah jalan, kalo ditengah jalan mungkin kita bisa meninggal ditabrak angkot disana.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 8 malam, lalu kita memutuskan pulang lebih cepat, karna mungkin sampai rumah bisa jam 11 atau jam 12 malam jika ditambah macet. Saat itu kita sangat menghargai waktu, walaupun waktu tak terasa berlalu jika kita bersama, kita harus memperlakukan waktu agar esok hari kita masih bisa bersama.

Jam setengah 9 malam kita keluar gerbang tol Pasteur, Bandung. Kita masih mengobrol seperti biasa lagi di dalam mobil. Canda ceria menghiasi suasana di dalam mobil, sampai tak terasa kita sudah berjalan jauh dan berhenti mengobrol karna suasana sudah semakin larut. Nabila terlihat tertidur di bangku tengah mobil dan bersandar dipundak Rangga. Rangga yang selalu melihat pemandangan di luar mobil. Dan Christian yang fokus menyetir mobilnya. 

Saat melintas di KM 97, gue dibuat terkejut oleh penampakan sesuatu. Dikejauhan sana, gue seperti melihat sosok wanita berkerudung hendak menyeberang jalan. Gue merasa heran dan aneh, di tengah malam, dan di jalan tol yang sepi, ada wanita sendirian di pinggir jalan. Saat itu gue langsung memberitahu Christian apa yang gue liat tadi.

“Eh, Tian. Itu liat di depan kita, ada cewek berkerudung dipinggir jalan. Lo liat gak?” gue coba berbicara sambil menunjuk ke arah depan dimana wanita berkerudung itu berdiri.

 “Mana? Cewek yang lo liat di kantin tadi?” Christian malah nanya balik ke gue.

“Tapi mana mungkin itu cewek sekarang ada disitu, sendirian pula, ngapain dia disitu coba. Liat kan?” Sambil kebingungan gue menjelaskannya.

“ Iya coy. Lo liat gak Rang?” sambil menengokkan kepala nya, Christian bertanya ke rangga yang duduk di tengah mobil.

“Eh.. eh.. eh itu liat cewek kerudung itu nyebrang. Awas Christian.. Awas!” sambil teriak gue memegang bahu Christian agar dia bisa membelokkan stir mobilnya supaya tidak menabrak wanita berkerudung menyebrang tadi. 

Saat itu Christian membelokkan mobilnya untuk pindah jalur ke sebelah kiri. Gue melihat wanita itu menyebrang dengan cepat. Gue bingung, gue shock. Gue pun langsung menyuruh Christian berhenti sebentar di bahu jalan. Karna saat kita panik dan melihat sesuatu di jalan. Kita harus berhenti sejenak dan mengucapkan istigfar agar kita bisa mengendalikan pikiran untuk fokus kembali. Christian pun menurutinya. 

“Lo kenapa Bal? Kenapa sih? Apa yang lo liat tadi?” Rangga menanyakan tentang apa penyebab kenapa kita harus berhenti sejenak di bahu jalan.

Belum sempat gue menjawab dan mencoba menengok ke Rangga, Nabila sudah duduk tegap memakai kerudungnya, padahal gue gak liat sejak kapan dia bangun dari tidurnya. Gue semakin aneh dengan keadaan saat itu, gue menjelaskan sambil melhat ke arah Nabila yang melihat dengan tatapan kosong ke arah jendela depan mobil. 

Setelah menjelaskan semuanya, tiba-tiba Nabila menyuruh kita untuk melanjutkan perjalanan dan berkata.
Kita jangan terlalu lama diam disini, ada yang semakin mendekat, kita harus cepat pergi sebelum dia sampai kesini.” Nabila berbicara sambil tetap dengan tatapan kosong.
 
Gue panik, gue heran, bukan karna nggak ngerti atas ucapannya, tapi cara pakai kerudung Nabila sama dengan wanita yang tadi gue liat. Gue nggak tau apa itu kebetulan atau ada kejadian yang nggak masuk akal di dalam pikiran gue.
Akhirnya kita melanjutkan perjalanan pulang, di perjalanan gue selalu melihat ke arah Nabila. Dia tetap dalam keadaan berdiri tegap dan dengan tatapan kosong ke arah jendela depan mobil. Sampai saat gue lihat dia tiba-tiba tersenyum. Mobil Christian berhenti mendadak dan membuat kita semua kaget dan badan terbawa ke depan.

Saat gue tanya mengapa, muka mereka tiba-tiba pucat dan menjawab kalau mereka melihat ada wanita berkerudung menyebrang di jalan tol yang sepi saat itu, tengah malam. Gue terdiam.

Setelah kita melewati KM 97, kita memutuskan untuk beristirahat lagi di rest area. Gue lihat Nabila tertidur lagi dengan lelap. Rangga tetap memberi pundaknya sebagai sandaran Nabila yang tertidur. Gue pun turun mobil dan pergi ke toilet untuk cuci muka, setelah itu gue sempat menanyakan ke Nabila apa yang terjadi tadi.

“Bil, lo tadi liat kan apa yang kita liat?” Gue menanyakan Nabila dengan empat mata di depan toilet menuju mobil.

“Liat apa? Gue dari tadi tidur kok sejak nggak jauh dari gerbang Tol Pasteur itu. Emang kalian liat apa?” Nabila menjelaskannya sambil bingung seperti tidak tahu apa-apa.

“Lah, lo kan tadi bangun di KM 97 pas kita berhenti dulu gara-gara gue ngeliat ada cewek yang nyebrang di jalan tol.” Gue coba terus menjelaskannya agar Nabila teringat.

“Gue kebangun? Enggak ah, gue baru bangun disini kan. Gue ngantuk banget dari pas kita dari Bandung, makanya gue tidur duluan paling awal. Cewek nyebrang di jalan tol? Nggak mungkin kali. Apalagi ini udah tengah malam.” Nabila tetap pada penjelasannya bahwa dia tidak sadar apa yang tadi gue jelasin.

Gue pergi ke mobil dan mencoba menanyakan ke Christian dan Rangga tentang apa yang gue obrolin sama Nabila tadi. Namun mereka hanya memberitahu gue kalau Nabila mungkin memang sedang tertidur dari awal, dan saat dia bangun itu adalah bukan Nabila, tapi arwah wanita berkerudung tadi yang memasuki tubuh Nabila. 

Sejak kita sampai dirumah, gue nggak pernah lupa atas kejadian itu, gue terus membayangkannya sampai sekarang, nggak terkecuali Christian dan juga Rangga. Sampai akhirnya gue nggak kuat atas pertanyaan di dalam kepala gue atas kejadian itu, gue menjelaskannya ke guru sejarah di sekolah gue. 

Guru gue pun menjawab dan menjelaskannya, “Hantu wanita berkerudung di KM 97 itu memang suka menampakkan diri dan memang ada sampai sekarang, nggak cuma kamu dan teman-teman kamu yang lihat sa ja. Masih banyak orang suka melihatnya. Itu adalah penunggu yang bernama ‘Kamilin’, dia merupakan wanita berkerudung yang tewas atas kecelakaan di Tol Cipularang. Kamu mungkin hanya melihat sesosok hantu itu saja, sebenarnya masih banyak hal ganjil  lain di Tol Cipularang. Seharusnya saat kalian hendak melewati jalan itu, sebelum berangkat kalian harus membaca doa terlebih dahulu agar berangkat dan pulang dilindungi oleh Allah swt.”

Sejak itu gue sadar, bahwa seharusnya untuk kita pergi ke suatu tempat  atau melewati tempat apapun kita diharuskan berdoa terlebih dahulu. Mungkin nggak akan terlihat apa dampaknya secara langsung, tapi sebenarnya hal yang kita lakukan dengan berdoa akan terasa berbeda saat kita melakukan sesuatu tanpa berdoa. Itu akan terlihat saat kita menyadarinya.

 Sosok hantu wanita berkerudung KM97

{ 10 Komentar... read them below or Comment }

Mohon beri komentar yang baik dan sopan. Semua komentar kalian pasti gue baca dan balas. Terima kasih sudah menyisihkan waktu, tenaga, dan biaya kalian untuk membaca postingan ini. Semoga tulisan gue ini berguna.

- Copyright © Muhammad Iqbhal - masisibal - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -