Posted by : Muhammad Iqbhal Senin, 02 Juni 2014


Waktu gue masih duduk di bangku SMA, ada satu cerita dari guru gue yang masih gue inget. Dia adalah wali kelas gue sekaligus guru matematika yang paling beda dalam cara mengajar. Setiap baru dimulai pelajaran, beliau selalu menyelipkan cerita-cerita motivasi yang bisa buat anak-anak kelas dapet manfaat dari cerita yang dia kasih. 

Mungkin guru lain juga banyak yang sama dari itu, tapi coba apa ada guru lain yang ngajar tanpa pakai buku pegangan(buku paket)? Apa ada guru lain yang nggak pernah ngasih PR selama kurun waktu dia mengajar? Apa ada guru ngajar di waktu jam sholat, sebelum mulai pelajaran diharuskan sholat berjamaah dulu? Apa ada guru saat mengajar boleh bawa makanan kedalam kelas pada saat dia mengajar? 

Semua jawaban itu ADA, saat kenal guru matematika gue di kelas 12. Awalnya gue nggak pernah tau ada guru sehebat beliau, karna gue cuma yakin setiap guru ngajar itu cuma didasarkan anak didiknya pintar dalam hal teori dan praktek. Dalam hal mendewasakan pikiran anak itu di zaman sekarang ini sulit ditemukan lagi. 

Nggak salah lagi bahwa guru yang paling di ingat seumur hidup adalah guru yang mengajarkan kita kedewasaan diri.
 
Sekarang gue pengen sharing tentang salah satu cerita yang pernah dikasih sama guru matematika gue dulu. Saat itu suasana kelas dipagi hari jam pelajaran matematika masih sangat sepi, banyak temen-temen gue yang belum pada dateng, alias telat. Atau mungkin sedang dihukum didepan gerbang oleh guru kesiswaan. Sambil menunggu, guru matematika gue bercerita sambil memegang sebuah kertas soal matematika di tangannya.

Dia bercerita tentang jaman dahulu kala ada 2 kerajaan yang dipimpin oleh raja yang berbeda, dalam cara memimpin maupun sifatnya. Sebut saja nama rajanya adalah Endoy dan satunya lagi Ujang. Raja Endoy memimpin rakyatnya dengan bijaksana, baik, dan dermawan sehingga rakyatnya sangat mengagumi sosok sang raja. Tapi berbeda dengan raja Ujang, dia memimpin rakyatnya dengan kejam, keras, tidak berperi-kemanusiaan dan peri-keadilan. Dalam membuat sebuah keputusannya pun raja Ujang selalu membebani rakyatnya. 

Dalam segi kehidupan rakyat dari kedua kerajaan mereka sangat terlihat jauh berbeda. Suasana sosial di dalam kerajaan Endoy sangatlah jauh lebih baik daripada kerajaan Ujang. Di dalam kerajaan Ujang, rakyatnya selalu dipekerjakan berat dalam segala hal untuk memajukan kerajaan Ujang. Sedangkan di dalam kerajaan Endoy, rakyat bisa merdeka, mempersilahkan kerja dan usaha apa saja kepada rakyatnya demi membuat kehidupan rakyat sejahtera dan juga kerajaannya. 

Pada suatu ketika, raja Endoy dan Ujang itu diberi cobaan oleh Tuhan. Mereka diberi sebuah penyakit yang sama. Yang sulit sembuh dengan obat apapun. Bertahun-tahun mereka melawan penyakitnya masing-masing dengan cara yang berbeda. Raja Endoy selalu di doakan oleh rakyatnya dan diperlakukan sangat baik dalam hal batin dengan hati yang ikhlas. Sedangkan raja Endoy melawan penyakitnya dengan tetap terus membebani kerajaan dan rakyatnya, dalam kondisi yang sedang sakit pun raja Ujang tak pernah berhenti menguras sumber daya kerajaan untuk menyembuhkan penyakitnya. 

Bertahun-tahun mereka melawan penyakit yang tidak pernah dikenal saat itu. Dan karna Maha Besar Tuhan, mereka diberi tau cara menyembuhkan penyakit mereka. Jadi ada seorang musafir yang entah datang darimana, memberitahu kalau penyakit raja Ujang dan Endoy ini bisa disembuhkan dengan memakan ikan yang hidup di laut yang cukup jauh dari kerjaan mereka.

Raja Endoy dan raja Ujang memerintahkan prajuritnya untuk mengambil ikan di laut yang diberitahu oleh musafir itu. Akhirnya para prajurit pun patuh dan melaksanakan perintah dari rajanya masing-masing. Setelah sampai di laut tujuan, prajurit dari raja Endoy tak melihat sama sekali ikan di sekitar laut itu, bahkan mereka sudah memancing dan menyelam mencari ikan tersebut, tapi hasilnya nihil. Sedangkan prajurit rakyat Ujang saat sampai dilaut tersebut langsung kaget melihat ikan yang datang menghampiri dengan sendiri ke perahu dari prajurit raja Ujang. Setelah ikan tersebut berhasil dibawa ke raja Ujang, raja Ujang pun langsung sembuh. Sedangkan karna prajurit raja Endoy tak mendapakan ikan tersebut, maka raja Endoy pun meninggal karna sakitnya.

Dari cerita tadi, Tuhan sengaja membuat ikan di laut tersebut tidak muncul saat prajurit Endoy mencari ikannya. Dan Tuhan juga membuat ikan itu muncul ke permukaan dan menghampiri sendiri ke prajurit raja Ujang.
Lalu kenapa itu semua bisa terjadi?

Kenapa Tuhan malah memberikan ikan yang bisa mengobati penyakit kedua raja tersebut hanya ke raja Ujang? Padahal dalam sifat dan kepemimpinan raja Ujang itu sangat kejam, keji, dan keras?

Karna Tuhan memanggil lebih cepat orang yang berbuat baik daripada yang jahat? Agar yang baik tidak menjadi jahat suatu ketika?

Saat itu gue yakin 100% dengan jawaban itu.

Tapi ternyata bukan.

Orang baik ternyata nggak selamanya hidup dengan cepat. Justru banyak orang yang baik punya umur yang panjang. Tapi disini malah raja Endoy yang meninggal, padahal dia dikenal sebagai raja yang baik hati, bijaksana, bahkan dermawan.

Jawabannya adalah karna memang dari kedua raja tersebut. Raja Endoy ternyata dahulu pernah berbuat kekerasan, dia dulu adalah seorang psikopat, bahkan dalam menjadi raja juga dia terpilih karna kecurangan dan kelicikannya. Dan raja Ujang, walaupun dia terkenal jahat dan kejam tapi dia dahulu pernah berbuat baik, dia pernah menyelamatkan nyawa seseorang dari maut.

Hidup itu timbal balik bukan? Apa yang kita perbuat sekarang, akan balik lagi suatu saat datang. 

Nggak mengenal apa yang kita lakuin sekarang ini baik atau buruk, semua akan sama saat dimulai. Dan dalam hidup,
permulaan itu nggak harus dimulai sejak lahir atau kecil. Permulaan hidup itu adalah sekarang. Jadi saat kita lakuin sekarang ini baik,PASTI kedepannya akan baik. Nggak peduli kemarin kita buat jahat, PASTI jahat itu kembali ke kita suatu saat.
Perbuatan baik dengan hati yang nggak ikhlas itu percuma. Tuhan mungkin aja nggak akan ngebalas perbuatan baik kita kalau kita ngelakuinnya tanpa rasa ikhlas, dan gak rela. Ngelakuinnya emang susah, ya ngelakuin perbuatan baik dengan ikhlas itu nggak gampang buka pintu kamar sendiri. Rasa ikhlas bisa muncul saat kita nggak pernah ngeresa terganggu akan aktifitas kita. 

Kalau kita sengaja berbuat baik dan mengharapkan yang baik untuk kita itu menurut gue sulit buat diwujudkan. Kenapa? Karna sulit saat kita memaksa buat berbuat baik otomatis akan sulit dengan hati ikhlas. Perbuatan baik itu bisa datang sendiri dalam diri kita. Kejadiannya Tuhan yang ngatur.

Contoh singkat pengalaman:

Dulu pernah ada temen gue yang belum paham cara registrasi tentang masuk perguruan tinggi negeri di kota gue, awalnya dia minta bantuan gue karna nggak tau nama tempat dan daerah di kota gue. Dia adalah perantau dari pulau sebrang yang sekolah di kota gue. 

Dia minta gue untuk nyampaiin formulir pendaftaran masuk kampus yang dia inginkan, awalnya gue antar dia ke kelurahan terdekat buat minta buat KTP daerah kota gue dulu, selanjutnya gue yang ngebantu dia buat formulir persyaratan lain. Sendiri. Karna temen gue itu sibuk kerja. Gue pergi kesana-kemari, bolak-balik, bayarin biaya pendaftarannya sementara, sampai duit gue abis hampir 800ribu.

Saat hasilnya memuaskan, dan temen gue itu dapet apa aja yang dia inginkan. Dia Cuma bilang ‘terima kasih’ aja. Dan sekarang sampai gue dan dia nggak pernah kontekan, atau berhubungan lagi, dengan menurut gue dia itu sibuk. 

Entah kenapa gue mikir kalau gue udah banyak menghabiskan banyak hal soal ngebantu temen gue tadi, dari hal waktu, tenaga, uang, dan lain-lain. Tapi gue putusin itu semua dengan rasa ikhlas. Dan lanjutin hidup gue dengan biasa lagi tanpa mikirin kejadian itu.

Dan suatu hari gue lagi naik motor buat pulang kerumah, motor gue ditabrak sama mobil dengan tulisan “Latihan Mengemudi Mobil”, gue ditabrak dari belakang dengan kencang sampai gue jatoh dan lampu motor belakang gue hancur. Tapi untung gue nggak luka parah dan pengemudi mobilnya mau bertanggung jawab. 

Gue saat itu emang nggak apa-apa dan masih bisa berdiri dan ngendarain motor lagi. Tapi saat gue mau pergi, gue dikasih uang sebagai biaya ganti rugi motor gue yang rusak. Orang yang nabrak motor gue itu ngasih satu juta. Padahal buat benerin lampu motor gue yang belakang itu cuma sekitar 200ribu aja.

Bisa disimpulkan kan cerita pengalaman gue di atas?

Selama kita ikhlas, Tuhan pasti bakal kasih balasannya suatu saat nanti. Saat kita udah berbuat baik, menolong atau bersedekah, kita wajib move on  setelah itu, kita lupain semua hal baik yang kita lakuin.  Kalo kita terus mikirin dan berharap balasan dari hal yang kita lakuin itu namanya pamrih. Berbuatlah tanpa pamrih. Ikhlas bakal datang sendiri saat kita benar-benar percaya Tuhan itu Maha Baik :)

{ 8 Komentar... read them below or Comment }

  1. Setuju sama kalimat yang ini ; "Nggak salah lagi bahwa guru yang paling di ingat seumur hidup adalah guru yang mengajarkan kita kedewasaan diri."

    Persis banget kayak yang diucapin guru favorit gue waktu SD.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo guru yang cuma ngasih ilmu pelajaran teori doang sih cuma numpang lewat aja dihidup kita. Soalnya nggak akan merubah kepribadian kita :)

      Hapus
  2. Hidup itu timbal balik, ya benar, tapi terkadang kita udh baik ttp aja dikasih yg jahat. ._.
    Btw, mau dong punya guru kyk gitu. (?)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tuhan nggak pernah buat kebaikan dibalas kejahatan. Mungkin orang yang jahat itulah yang namanya cobaan. Coba pikirin, apa hidup cuma ada kebaikan doang? Setiap kita berbuat jahat, pasti ada kebaikan juga kan balasannya :)

      Pengen punya guru kayak gitu? Gampang, minta alamatnya aja. Nanti dikirim lewat JNE :))

      Hapus
  3. Yes akhirnya uang 800ribu kembali :))

    BalasHapus

Mohon beri komentar yang baik dan sopan. Semua komentar kalian pasti gue baca dan balas. Terima kasih sudah menyisihkan waktu, tenaga, dan biaya kalian untuk membaca postingan ini. Semoga tulisan gue ini berguna.

- Copyright © Muhammad Iqbhal - masisibal - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -