Posted by : Muhammad Iqbhal Selasa, 26 Agustus 2014



“Menulislah, abadikan dirimu didalam tulisan.”

Menulis bisa di ibaratkan mesin waktu, selama kita menulis, kita seperti membuat mesin waktu. Selama kita hidup, kita bisa melihat, mengenang, dan merasakan momen bahagia, sedih, senang, galau dan lainnya setelah kita membaca tulisan kita terdahulu. Maka dengan itu, keajaiban tulisan bisa kita lihat.

Menulis itu cara kita mengekspresikan dan berbagi tentang banyak hal untuk menjadi teladan kepada para pembaca. Saat kita mengalami pengalaman buruk, kita bisa menulis dan berbagi kepada orang lain agar mereka tidak akan mengalami hal yang sama dengan pengalam buruk dan bisa mencari solusi yang terbaik. Dan dengan seperti itu, kita bisa membuat diri kita lebih baik dan tidak jatuh ke lubang yang sama setelah kita membaca tulisan kita kembali. Sedangkan saat kita menulis tentang kebahagiaan, maka rasa bahagia itu bisa dirasakan juga kepada pembaca.


“Menulislah untuk mengabadikan, maka dirimu akan abadi meski raga telah tiada.”

Pada kesempatan ini, dan memenuhi janji di twitter gue kemarin dengan memberikan tips menulis yang gue miliki. Maka dari itu, kita akan langsung mulai dengan tips pertama, yaitu:

1. Tulis Apa Saja Yang Ada Di dalam Pikiran


Selama kita punya banyak pikiran, kita akan semakin ingin mengeluarkannya. Kadang, kita sendiri suka untuk males ngomong selama banyak pikiran. Dengan menulis, kita bisa mengeluarkan dan melampiaskan isi pikiran sampai membuat kita lega. Menulis hanya butuh tangan yang bekerja, jadi dekatkan tangan kita sama otak.

Didukung dengan perkembangan jaman yang semakin maju ini, banyak media yang mendukung kita untuk menulis, dimulai dari Twitter, Facebook, Blog, dan lain-lain. Dengan seperti itu, tidak alasan lagi bagi kita untuk tidak menulis karena tidak ada media dan alatnya.

Ketika kita menulis, sesungguhnya otak kita itu sedang merekam dengan baik setiap pikiran dan gagasan sehingga kita bisa menemukan suatu solusi dan pendapat secara sendiri. Jika ingin menguasai ilmu atau pelajaran apapun, menulislah agar otak kita bisa terasah, dan tidak akan kehilangan jejak apapun yang kita sedang dan sudah dipelajari.

2. Action Dan Sering Menulis


Masih banyak orang yang mengeluh karena mereka yang berkeinginan untuk jadi penulis, tapi tidak pernah menerbitkan satu buku pun. Semua itu hanya ada satu jawaban, action. Mereka yang mengeluh seperti itu adalah orang yang hanya mempunyai keinginan saja tanpa ada praktek.

Ada juga yang sudah sering menulis tapi tetap mengeluh karna keinginannya masih belum tercapai menjadi seorang penulis terkenal. Ya, selama keinginan itu belum terwujud tandanya kita kurang tekun, walaupun kita merasa sudah tekun, maka harus lebih ditekunkan lagi. Percayalah, usaha tak akan pernah mengkhianati.

3. Menulis Dalam Keadaan Suasana Hati Apa Pun


Kadang, orang yang sedang jatuh cinta itu bisa menjadi puitis, tak terkecuali sedang patah hati. Nah itulah masalahnya, jika suasana hati kita berbeda-beda maka haruslah kita untuk tetap terus menulis. Lupakan kualitas tulisan kita dalam kondisi apa pun, yang penting kita punya bukti tulisan. Dengan terbiasanya kita menulis dalam keadaan sedih, gembira, gelisah, maupun mumet, kita akan menemukan sebuah ‘nyawa’ tulisan kita sendiri.
Cara menemukan ‘nyawa’ untuk tulisan kita sendiri adalah dengan tetap terus menulis walaupun tidak punya ide. Ide itu bukan sebuah alasan untuk menulis, ide itu juga bisa muncul jika kita mencari, tidak hanya datang sendiri.

Tapi, jika kita langsung menemukan ide secara tiba-tiba, maka kita harus mencatat ide tersebut di buku catatan, handphone, atau apapun. Karena secepat ide itu datang, maka secepat juga ide itu menghilang.

4. Menulislah Yang Buruk


Menurut gue, ini adalah point paling penting. Kenapa? Dengan kita melakukan menulis dengan buruk, maka pikiran kita tidak akan terbebani. Jika dibandingkan kita dituntut untuk menulis bagus, maka akan membuat banyak orang sulit untuk memulai tulisan mereka, terbebani, ruwet dengan diri sendiri, dan tidak pernah sungguh-sungguh dalam menulis.

Dengan menulis yang buruk, kita bisa terbebas dari beban yang menyumbat di benak kita. Jadi, rileks dan buat diri kita menjadi tenang dan enteng untuk menggerakkan pena atau menekan tombol tuts di keyboard komputer.
Sebenarnya gue selalu menulis buruk, buruk dalam arti topik, alur cerita, paragraf yang tidak nyambung, bahkan pernah gue menulis dalam satu paragraf tanpa baris langkah dan tanda baca, tapi dengan itu gue bisa melihat dan memilah mana yang harus gue potong dan perbaiki sehingga menjadi tulisan yang baik, menurut gue

5. Menulis Cepat




Menulis cepat itu penting bagi kebanyakan penulis, karena dengan semakin cepat dia menulis maka tidak akan menunda tulisannya dan harus dilanjutkan lagi yang belum tentu cerita lanjutannya akan seberapa nyambung selama dia menulis dari awal.

Tapi, dengan menulis dengan buruk, menulis cepat bisa kita kuasai dengan singkat. Selama kita menulis walaupun banyak kata yang salah atau typo, selama itulah kita bisa membuat kita lebih cepat menulis.

6. Jangan Menulis Sekaligus Mengedit


Mengapa kita lama menulis? Ya, kita lama menulis karena sekaligus mengedit. Masih kebanyakan orang ingin mempunyai tulisan yang bagus salama dia menulis saat itu juga. Selama menulis dan menuangkan isi pikiran, akan membuat otak bekerja lambat karena sedang melakukan dua pekerjaan secara bersamaan tanpa sadar.

Dengan mengerjakan kedua hal itu(menuangkan isi pikiran dan mengedit) membuat anda tersendat-sendat dalam menulis. Kadang kita sering menghapus banyak tulisan selama kita menulis. Itulah tanda kita menulis sekaligus mengedit. Alhasil, kita hanya akan menghasilkan sedikit tulisan saja.

Menulis itu seperti membuat patung. Tidak perlu langsung jadi, tapi buatlah dulu replikanya, setelah itu pahat lagi, sehingga membentuk bagian yang di inginkan secara sempurna.

7. Dialog


Dialog kadang dianggap sebagai alat untuk memperbanyak atau memperpanjang cerita. Tapi dengan dialog, memnuat pembaca lebih tertarik kepada ceritanya. Gue sendiri adalah orang yang lebih suka membaca dialog daripada narasi, dengan dialog, kita bisa membaca percakapan sehari-hari tanpa harus menggunakan kata-kata yang ‘berat’.

Menurut gue, dialog yang bagus adalah dialog yang tidak mengulang kata yang ada di narasi, selain itu juga dialog yang baik adalah dialog yang menggunakan bahasa tubuh.

Misal,

Pagi itu, Endoy malas-malasan untuk bangun. Semalam ia baru tidur pukul 3 dini hari. Dia menulis naskah untuk buku terbarunya yang harus rampung esok hari. Akibatnya Endoy bangun kesiangan untuk pergi ke kampus. Ketika baru mengucek-ngucek matanya, Tiba-tiba telepon selulernya berbunyi,

“Halo!”katanya suara serak orang bangun tidur

“Halo, Doy! Ya ampun, lo baru bangun ya?” tanya suara di seberang

“Iya, tadi malam gue tidur jam 3.”

“Ngapain tidur jam 3? Ronda ya?”

“Naskah buku terbaruku harus keselesaikan karena deadline nya besok.”

“Sekarang udah selesai?”

“Belum juga sih.”

“Terus”

“Nggak tahu deh, pasrah aja kali.”

Dialog di atas sunggu berlebih-lebihan. Kita sudah diberitahu oleh narasi bahwa Endoy malas-malasan karena baru bangun tidur, tapi kenapa dia masih meladeni pembicaraan ngalur-ngidul yang isinya semua hal yang sudah diketahui pembaca? Buat apa orang diseberang menanyakan “Ya, ampun, lo baru bangun ya?” Bukankah pembaca sudah diberitahu melalui narasi, bhawa Endoy baru bangun tidur? Kenapa harus diulang dalam dialog?

Dialog di atas akan lebih beres jika ditulis seperti ini:

Pagi itu, Endoy malas-malasan untuk bangun. Semalam ia baru tidur pukul 3 dini hari. Dia menulis naskah untuk buku terbarunya yang harus rampung esok hari. Akibatnya Endoy bangun kesiangan untuk pergi ke kampus. Ketika baru mengucek-ngucek matanya, Tiba-tiba telepon selulernya berbunyi,

“Halo!”katanya suara serak orang bangun tidur

“Eh Bangun! Udah siang masih tidur!” Kata suara dari seberang.

 =======

Tambahkan bahasa tubuh

“Brengsek kau!” katanya, alis matanya bertemu, matanya menantang mataku, dan aku merasa sedikit gentar.

“Brengsek kau!” Ia memukul-mukul lututnya dan tertawa tak henti-henti sampai aku takut bahwa ia akan pingsan karena kehabisan napas.

“Brengsek kau!” katanya, kerlip di matanya menyampaikan rasa kagum terhadap apa yang telah kulakukan.

Bisa kita lihat kan, dengan menambahkan bahasa tubuh, ucapan yang sama memiliki arti yang berbeda :)

8. Deskripsikan 5 Indera dan Buat Kalimat Pembuka yang Memikat



Dalam tips ini, gue memeberikan saran untuk membuat kalimat pertama yang memikat dan paragraf yang memaksa pembaca untuk meneruskan cerita. Jika kalimat pertama kita tidak menarik, paragraf kita akan menyedihkan, maka tulisan kita akan ditinggalkan oleh pembaca. Maka jangan heran, orang malas membaca, ya karena kalimat awalnya tidak menarik dan membuat penasaran pembaca.

Para penulis yang baik selalu memikirkan kalimat pertama yang kuat untuk membaca cerita mereka. Sebab, dengan kalimat pertamanya itulah, mereka mencoba menyihir para pembacanya agar terus melahap halaman demi halaman sampai cerita berakhir.

Contoh:

- Hari itu, setelah tidur siang selama hampir tiga jam, Endoy bangun dan merasakan bahwa segala sesuatunya berbeda dari biasanya; ia tiba-tiba bisa membaca pikiran orang-orang yang ada di dekatnya.

- Endoy bukanlah orang yang ganteng, terutama ketika ia sedang selfie.

- Suatu pagi, gue masuk ke kamar Endoy dan kaget melihat ia berubah menjadi tapir.

Ya, dengan memikirkan kalimat pertama yang baik, maka kita bisa membuat cerita yang berbeda dan diluar pikiran. Buatlah sebanyak-banyaknya daftar kalimat pertama, dan pilihlah salah satu yang paling menarik menurut kita.

=======

Selain itu, mendeskripsikan sesuatu yang baik akan membuat cerita lebih ‘hidup’ di benak pembaca. Dengan memikat seluruh indera pembaca, maka akan membangkitkan rangsangan emosi, dan membuat karakter-karakter yang dilukiskan dalam cerita menjadi leih nyata dan bisa dipercaya.

Langkah pertama adalah dengan membuat paragraf dengan melukiskan hanya ditail visual, alias semua yang bisa dilihat oleh mata. Setelah selesai, edit lagi paragraf yang kita tulis dengan menambah indera penciuman, dan edit lagi seterusnya. Mungkin dengan 3 indera saja sudah cukup, kita tidak usah memaksakan diri untuk membuat paragraf dengan 5 indera.

9. Bacalah


Kemarin ada orang yang nanya ke gue,”Aku menulis karena aku menulis, aku tidak suka dan tidak mau membaca karena aku ingin membuat tulisan dan karya yang orisinil.” Dengan pengungkapan alasan dia malas membaca itu, gue jadi gatel buat jawab. Apa dengan karya yang orisini bisa mengerti kemauan pembaca? Apa dengan tidak mau melihat karya orang lain, dia bisa tahu perkembangan jaman dan yang lagi ngetrend? Semua itu percuma, karena buat gue, jika kita ingin membuat karya yang best-seller, maka bacalah buku yang sedang best-seller. Jika karya kita ingin diperlakukan orang lain dengan baik dan bijak, maka kita harus memperlakukan karya orang lain dulu secara baik dan bijak.

10. Buka Kamus


Ini adalah point terakhir untuk membuat tulisan kita menjadi lebih bernilai. Dengan membuka kamus, kita bisa mempergunakan kata-kata yang dimengerti oleh pembaca. Semakin kita banyak mengetahui kata-kata melalui kamus, maka kita bisa menulis dengan cepat, tanpa tersendat, dan hasilnya pun akan baik, tanpa banyak mengedit.

In the end, semoga 10 tips di atas, bisa membuat bermanfaat buat kalian yang ingin menulis lebih baik bahkan menjadi penulis yang berbakat. Kalau mau ditambahkan lagi tips menulis menurut kalian, silahkan share di comment box ya! Jangan sungkan selama kita memeberi, tak akan pernah rugi.

{ 10 Komentar... read them below or Comment }

  1. nah itu dia bang, aku sering kelamaan mikirin kalimat pembuka ujung-ujungnya gak jadi nulis :3 gimana dong?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tulis kalimat pembuka yang bisa membuat pembaca penasaran dan terhanyut. Kalau bisa tambahin komedi biar kalau orang lagi gak mood, bisa terhibur.

      Hapus
  2. Bener nih saraannya. Kadang nulis sambil ngedit ehh terus lupa maunlanjutin tulisannya kayak apa... Nice pos

    BalasHapus
  3. Itu memang tips yang sering di utarakan penulis best seller. 'Menulis cepat dan buruk'. Tapi bang, sampe sekarang saya masih bingung kalo buat sinopsis. Apalagi sinopsis Personal Literature.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sinopsis itu cerita yang di ambil dalam pembuka cerita/buku yang bisa membuat pembaca tertarik ingin membaca sampai habis atau membeli bukunya. Cari kalimat yang menurutmu cocok membuat pembaca penasaran. Gampang kan.

      Hapus
  4. Sampai sekarang yang belum bisa ku tulis adalah menulis cerpen . yang susahnya adalah menulis kaliamat awal atau pembukanya padahal kalimat awal lah yang sangt menetukan enak apa tulisan kita :( .. makasih ya bang tips nya oya mau nambahi bang mungkin orang patah hati pun lebih puitis bang dari yang jatuh cinta #ehhhh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap. sama2. Hahaha pengalaman patah hati nih ye :p

      Hapus
  5. pernah gue baca di bukunya Bapak A.S Laksana
    btw nice artikel !

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hanya menambahkan sedikit. But, tapi percuma juga, kalo tanpa praktek :)

      Hapus

Mohon beri komentar yang baik dan sopan. Semua komentar kalian pasti gue baca dan balas. Terima kasih sudah menyisihkan waktu, tenaga, dan biaya kalian untuk membaca postingan ini. Semoga tulisan gue ini berguna.

- Copyright © Muhammad Iqbhal - masisibal - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -