Posted by : Muhammad Iqbhal Sabtu, 23 Agustus 2014


Akhir-akhir ini banyak orang yang curhat sama gue tentang perasaan kepada pasangannya yang sudah memudar. Mereka yang menjadi korban kejenuhan hubungan dengan pacar menjadi bimbang akan perasaannya masing-masing.

Pacaran udah lama, tapi dengan keadaan tertentu kadar kemesraan hubungan semakin memudar. Tapi, sebagian juga ada yang semakin mesra dengan hubungan mereka yang semakin terlihat dekat. Share foto berdua di social media saat mereka pergi jalan-jalan berdua adalah tanda mereka sedang membagikan momen bahagia mereka kepada dunia. Padahal, justru dengan sering melakukan ritual tersebut malah bisa membuat orang lain menjadi iri, suudzon, dan bahkan mungkin ada yang mengutuk mereka berpisah. 

Bukannya gue nggak menganggap mereka yang pacaran di social media itu kampungan, gue sebetulnya mengerti akan perasaan mereka masing-masing. Kadang cinta bisa menutupi rasa sungkan dan malu dengan memerkan percintaan mereka ke dunia. Cinta bisa membuat buta, tidak bisa melihat apa yang sebenarnya yang dia perbuat atau perasaan orang disekitar yang melihatnya.

Mencintai dan dicintai adalah sesuatu yang diinginkan setiap orang. Nggak sedikit dari mereka yang rela berkorban agar orang yang dicintainya melihat dan merasakan hal yang sama. Seribu cara mungkin ada yang memilih untuk terdiam menutupi perasaannya karena takut sesuatu hal yang buruk akan terjadi setelah dia mengutarakan perasaannya. Dan ada juga seribu satu cara agar orang dicintainya merasa bahagia, karenanya.

Kebanyakan orang mencintai dengan pandangan dan perbuatan. Setiap pandangan yang dilihatnya, dia bisa merasa bahagia, sejak jatuh cinta pada pandangan pertama. Ada yang jatuh cinta karena perbuatan baik seseorang kepada dirinya.

“Aku suka sama kamu sejak pertama kali kita ketemu.” 

Kata yang sering kita dengar saat seseorang bisa mengungkapkan perasaannya yang berawal dari pandangan. Pandangan pertama. Mungkin perasaan mendalam yang dia miliki itu bukan sekedar suka, tapi kagum. Alasan orang jatuh cinta pada pandangan pertama adalah penasaran. Kenapa? Karena dari luar yang dia ‘lihat’ itu indah, tapi dia berusaha mencari tahu apa di dalam(kebiasaan) nya itu juga indah. Setelah dia rasa penasaran dan pertanyaannya terjawab, rasa hambar pun datang menyelinap.

Kenapa setiap hubungan seseorang bisa berubah karena waktu?

Dari awal mereka terlihat saling menyayangi, tapi lama-kelamaan mereka seperti tidak saling mengisi. Buat gue, wajar kok dalam hubungan ada tahap dimana mereka berubah. Misal, di usia hubungan mereka yang baru 6 bulan atau 1 tahun tiba-tiba berubah, perhatian yang semakin jarang, perlakuan yang semakin hari-semakin berubah dengan tidak seperti menjadikan pasangannya itu spesial seperti dulu.

Dan hal seperti itu, banyak dari mereka jatuh cinta dan menaruh perasaan kepada orang lain. Mereka mencintai saat mereka sedang dicintai, dan dimiliki. Membuat perasaan yang baru itu seperti membuka pintu rumah, mudah. Walaupun saat seseorang masih memiliki komitmen dengan orang yang mencintainya, membuka hati itu adalah hal yang paling membahagiakan yang akan dilakukan, menurutnya.

Tapi dengan semudah dia membuka pintu, tapi tidak semudah juga dia membuka pintu yang terkunci. Ya, pintu yang terkunci itu adalah hati orang lain yang tidak semudah kita taklukkan. Banyak orang baru yang memberikan hatinya setelah dia benar-benar dan tahu semua tentang orang yang berusaha mendapatkannya. Ada diantara mereka yang memang langsung memberikan ‘kunci rumahnya’ secara gampang kepada orang asing. Ada juga diantara mereka yang memberikan ‘banyak kunci’ berharap agar orang yang ingin masuk itu menemukan kunci yang cocok untuk pintunya.

Semakin berubah perasaan seseorang kepada pasangannya itu nggak jauh juga dari jarak dan intensitas pertemuan mereka. Dari yang terbiasa bersama tiba-tiba mereka harus berhubunga jarak jauh karena urusan sekolah, kuliah, tempat kerja, ataupun rumah. 

Hubungan jarak itu bisa membuat kepercayaan dan mengubah tingkat perhatian. Dimulai berubah jadi yang posesif kepada pasangannya sehingga membuat pasangannya menjadi tertekan. Membuat rasa rindu yang semakin menggebu dan lain-lain.

Cinta memang seperti itu, kadang kita harus membuatnya jatuh cinta berkali-kali sehingga bisa membuat orang yang kita cintai selalu terlihat spesial.

In the end, rasa bosan itu wajar saat kita memang benar tidak bisa membuat rasa bosan itu menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan. Masih sedikit orang yang melihat perjuanganya terdahulu, kurang rasa bersyukur adalah penyebab hubungan menjadi hancur. Rasa menyesal itu selalu datang sebelum kita merasakan kecewa terlebih dahulu. Momen kenangan itu tidak akan pernah balik lagi setelah kita membuat pilihan tanpa berpikir kembali.

THINK BEFORE YOU SPEAK.

{ 2 Komentar... read them below or Comment }

  1. gue korban cinta karena rasa kagum :3 pedih woy! wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan sampai kagum berubah menjadi sayang, terus cinta dan akhirnya malah takut kehilangan. *nangis di bawah dispenser*

      Hapus

Mohon beri komentar yang baik dan sopan. Semua komentar kalian pasti gue baca dan balas. Terima kasih sudah menyisihkan waktu, tenaga, dan biaya kalian untuk membaca postingan ini. Semoga tulisan gue ini berguna.

- Copyright © Muhammad Iqbhal - masisibal - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -