Posted by : Muhammad Iqbhal Sabtu, 09 Agustus 2014

“Saat aku membidik musuhku, kulihat seorang wanita yang bisa membuatku mematung, dia adalah seperti sesosok bidadari yang berada di permukaan bumi. Saat diriku sedang berada di atas langit, tempat tinggal dirinya.“

Mei 2008, Di larut malam sebelum kejadian itu, Rick sebagai prajurit perang tentara Israel sedang membersihkan dengan kain  senjata miliknya di atas kasur. Di hari itu Rick tidak bisa tidur seperti teman-teman lainnya. Daripada tidak ada kerjaan, Rick memilih untuk iseng membersihkan AK-47 miliknya. Rick yang masih belum berkeluarga sudah diberi petanggungjawaban untuk membela tanah kelahirannya. Itu sudah menjadi peraturan di dalam undang-undang yang telah dibuat oleh negaranya.

Setelah menurut Rick cukup untuk membersihkan senjatanya, lalu dia menaruh AK-47 nya ke tempat senjata yang tidak jauh dari tempat tidurnya dan dia memutuskan untuk pergi keluar ruangan untuk menghirup udara malam. 

Saat itu waktu menunjukkan pukul 00.30, tidak ada orang yang mengobrol atau sekedar lalu-lalang mengurus urusan masing-masing. Pos pertahanan militer yang hanya di batasi oleh diding kawat dan 2 tower di samping gerbang untuk menjaga keamanan itu sangat sunyi. Hanya ada satu penjaga di setiap tower sambil memegang senjata otomatis berwarna hitam di tangannya dan berjaga jika ada sesuatu yang datang dari luar gerbang. Daerah Palestina.

Rick yang hanya memakai kaos oblong hitam dan celana militer saja itu tidak ragu untuk berkeliling di luar tempat dia beristirahat. Saat seorang penjaga melihat Rick yang sendiri keluar ruangan tempatnya beristirahat itu mencoba memanggilnya,

“Hey Rick! Sedang apa kau dibawah situ!?” Suara penjaga dengan nada teriak agar Rick bisa mendengarnya dengan menggunakan logat dan bahasa Israel.

“Seperti biasa, malam ini saya nggak bisa tidur. Jadi, coba untuk jalan-jalan keluar seperti ini. Apa tadi kamu dengar bahwa besok Jendral akan kesini?” Rick berbicara sambil kepalanya menghadap ke atas karena lawan bicaranya ada di atas tower didepannya itu.

“Iya saya tahu. Besok pagi kita akan menambah pasukan untuk menjaga kawasan di daerah barat daya.”

Namun tidak lama kemudian terdengar suara rudal yang mendekat..
DOOOOOOOAAAAARRR!!! 

Tiba-tiba ada sebuah ledakan, ledakan tersebut terjadi di depan mata Rick, tepatnya di tower yang dijaga oleh satu orang yang sedang mengobrol dengannya. Suasana mulai tegang saat itu, alarm pun bunyi tanda peringatan bahaya. Tapi terlambat, tembakan kedua mengenai tepat di ruang para prajurit Israel yang sedang beristirahat. Rick tetap terus berusaha melindungi dirinya dengan cara merangkak mencari tempat perlindungan.

DOOOOOOOOOAAAARR!!! 

Tower kedua meledak terkena rudal yang berasal dari luar gerbang, daerah Palestina. Rick terus merangkak sambil mencari sumber tembakan yang menghancurkan markas pertahanan militer Israel, dengan badan yang kotor karena puing-puing ledakan yang bertebaran, Rick terus berusaha menyelamatkan diri dan memilih untuk berlindung di belakang mobil tua dan bersandar di ban mobil tersebut yang sudah sangat berkarat. Sedikit-demi-sedikit Rick selalu mengintip ke arah sumber tembakan. Semua yang berada di daerah pertahanan militer Israel itu hampir rata dengan tanah karena tembakan yang bertubi-tubi menyerang di daerah pertahanan militer Israel itu.

Rick melihat ada sekumpulan orang yang mendekati gerbang dengan berbagai kendaraan dan senjata yang dibawanya. Sekumpulan orang yang memakai kain sorban yang menutupi wajah mereka, kecuali matanya. Saat sekumpulan orang itu telah sampai di depan gerbang, Rick langsung mencoba bersembunyi di bawah mobil tua yang sudah karatan itu. Suasana saat itu yang berawal sangat dingin, berubah menjadi panas sekali karena kebakaran terjadi dimana-mana menghanguskan berbagai bangunan di sana. Suara ledakan sudah tidak terdengar lagi, saat itu hanya suara api yang berkobar melahap benda yang telah ditembaki oleh sekumpulan orang yang tidak dikenal.

“Teroris? Apa yang sebenarnya yang mereka inginkan?” Ucap Rick pelan sambil merasa heran dengan apa yang dia lihat.

Rick melihat sekumpulan teroris itu berhenti di depan gerbang dan tidak memutuskan untuk masuk ke daerah pertahanan militer Israel yang sudah dihancurkannya. Mereka menganggap semua pasukan Israel sudah mereka habisi. Mereka yang tidak tahu bahwa masih ada yang tersisa di antara pasukan Israel tersebut, yaitu Rick.

Saat sebuah mobil Jeep coklat yang datang dan turun seorang lelaki yang tidak bersorban layaknya anak buah yang lainnya dan memakai kacamata hitam mencoba untuk mengecek apa masih ada yang tersisa dari puing-puing bangunan tempat beristirahatnya pasukan Israel sambil mengobrol dengan anak buahnya. Dengan memalingkan mata ke arah kesana-kemari, bos dari teroris itu melihat ke arah mobil tua yang tepat dibawahnya terdapat Rick. Dengan membuka kaca mata hitamnya untuk memperjelas penglihatan, bos teroris itu merasa ada yang aneh mengapa mobil tua itu tidak ikut hancur. Tapi karena menurutnya semua yang ada di hadapannya hancur, bos teroris itu pun masuk ke dalam Jeep coklatnya dan pergi dengan menyusul anak buah di belakangannya.

Rick yang berhasil bersembunyi di bawah mobil tua itu pun bisa menghafal wajah dari bos teroris itu saat dia membuka kacamata hitamnya. Karena para teroris itu pun telah pergi jauh, Rick  keluar dari tempat persembunyiannya di bawah mobil tua itu dan berdiri sambil melihat di sekitarnya yang hancur lebur, tak ada sisa. Rick mencoba mencari sesuatu yang masih bisa digunakan untuk bisa menghubungi pusat militer Israel yang lain bahwa daerah pertahanannya telah hancur di serang oleh teroris.

Sambil mencari-cari, tiba-tiba datang sebuah helikopter dengan lampu sorot di depannya. Ternyata itu helikopter milik Israel, dengan logo bendera di samping body helikopternya merupakan bantuan sekaligus sedang mencari informasi langsung ke tempat kejadian. Dengan melambaikan kedua tangannya bermaksud memberi tanda bahwa ada seseorang di bawah sana, untungnya pilot helikopter itu bisa melihat Rick dan langsung menyorotkan lampu ke arahnya sambil mendarat untuk menjemputnya.

Setelah Rick berhasil masuk ke dalam helikopter, seorang pilot bertanya kepadanya,

“Apa masih ada lagi yang selamat?” Sambil menengok ke arah yang dia ajak bicara

“Sepertinya tidak.” Rick menjawab sambil teriak karna suara mesin helikopter yang cukup keras.

“Siapa yang melakukan ini semua?” sang Pilot bertanya lagi kepada Rick.

“Sekelompok orang dari sebrang sana.” Sambil menunjuk ke luar gerbang pertahanan Israel, tepatnya daerah Palestina.

“Baiklah kalo memang tidak ada yang tersisa, kita menuju ke markas pusat dan menjelaskannya lebih detail lagi.” Kata terakhir pilot sebelum menerbangkan helikopternya.

Setelah kejadian itu Rick dibawa ke markas pusat dan menceritakan semua kejadiannya. Rick pun di utus atasan jendralnya untuk menyerang balik siapa pelaku yang menghancurkan markas pertahanan milik Israel itu.

Hampir tiga bulan selama pencarian, Rick ikut dalam pesawat pencarian teroris untuk di tangkap dan dibunuh atas perlakuannya yang telah menghancurkan markasnya Israel itu. Selama tiga bulan juga pesawat Israel menjatuhkan bom ke daerah Palestina yang diduga tempat bersembunyi para teroris itu. Tapi, hasilnya adalah nihil. Malah terjadi banyak warga sipil Palestina yang terkena serangan bom yang di jatuhkan pesawat Israel.

Banyak anak-anak tak berdosa dan bersalah yang menjadi korban serangan Israel. Hampir seluruh negara mengecam Israel untuk menghentikan serang terhadap Palestina, sampai PBB pun mengancam Israel agar bisa melakukan “gencatan senjata” karena sudah terjadi banyak korban akibat serangnya yang salah sasaran itu.

Tapi saat keberadaan teroris itu diketahui pasti oleh bagian ahli komunikasi Israel yang berasal dari Amerika. Ya, Amerika termasuk negara yang banyak mendukung Israel, tidak sedikit pajak Amerika di donasikan untuk Israel, untuk kerja sama satu sama lain. Dengan diketahuinya keberadaan teroris tersebut, pemerintah Israel memerintahkan pasukannya untuk menyerang ke tempat yang dimaksud. Rick pun ikut.

Saat dekat dengan posisi tempat teroris bersembunyi, Rick mencoba membidik sasaran dari jauh, ternyata memang benar, Rick melihat para teroris yang menyerangnya saat di markas pertahanan itu, sekaligus bos dari teroris itu yang sedang berjalan di trotoar bersama orang banyak. Dengan yakin apa yang dilihat Rick dan mencoba membicarakannya kepada sang pilot, tapi tiba-tiba Rick tidak menjawab saat sang pilot meyakinkannya dua kali untuk menyetujui sasaran serta menembaknya. 

Rick yang hanya terdiam dan tak bisa lepas dari alat bidiknya melihat seorang wanita yang sedang mengenakan kain sorban hitam, tetapi tidak menutupi bagian wajahnya anggun, putih, layak bidadari yang sedang berada di permukaan bumi. Pandangan itu sontak membuatnya baru pertama kali dia melihat wanita yang bisa membuatnya mematung. Saat melepaskan alat bidikannya dan melihat dengan jelas oleh matanya langsung, karna saat itu juga pesawat mulai mendekati sasaran. Sial, teroris itu sedang dekat dengan wanita yang membuat Rick terpesona.

“Baik! Sasaran terkunci, kita bisa menembak!” Sang pilot di sebelah Rick yang menganggap yakin bidikannya itu benar dan langsung memutuskan untuk menembak, tanpa mengambil resiko banyak akan membunuh warga sipil disana dan wanita yang menjadi sasaran hati Rick.

“TUNGGU!!!” Rick mencoba mencegahnya, namun terlambat, tombol untuk membuka senjata di pesawatnya sudah terbuka. 

“Aaaaaaak!” seorang pejalan kaki mengetahui akan kehadiran pesawat Israel yang akan menembak, seluruh orang berhamburan pergi tanpa terkecuali wanita itu. Rick yang dari tadi hanya melihat wanita itu seorang diri, satu arah, tapi saat itu dia melihat wanita itu melihatnya. 

“Stop! Jangan tembak!” Rick mencoba menahan tangan pilot untuk tidak memencet tombol merah, yang berarti menembak ke arah sasaran.

Dengan keadaan yang panik, para teroris itu pun langsung mengeluarkan seluruh senjatanya yang berada di dalam tas hitam yang di bawanya masing-masing. 

Bunyi tembakan mengarah ke pesawat Israel itu pun mengenai bagian sayap kanannya sampai rusak, karna tembakan bertubi-tubi yang dilakukan teroris itu. Pesawat yang ditumpangi Rick dan pilotnya pun kehilangan keseimbangan dan terjatuh menyamping ke bangunan kosong yang tidak jauh dari tempat para teroris itu menembak. 

Pesawat hancur, Pilot yang bersama Rick pun sudah meninggal karna hantaman yang keras saat pesawat itu jatuh. Rick? Dia tak sadarkan diri.
Sejam berlalu, Rick masih berada di dalam pesawat dan belum sadar.

========

Rick selamat. Namun saat itu dia berada didalam sebuah rumah dengan terbaring tak sadarkan diri di sebuah kamar tidur seseorang. 
 
Saat membuka mata, Rick melihat punggung wanita yang sedang membuatkan sesuatu seperti minuman. 

“Dimana saya?” Rick yang baru sadarkan diri dan memaksakan untuk berbicara, namun masih sangat lemah dan kesakitan sambil memegang dahinya.

Saat wanita itu membalikkan badan, ternyata dia seorang wanita yang Rick lihat dari pesawat itu. Rick terkejut saat melihatnya lagi, tapi kali ini berbeda, dia melihatnya saat sama-sama di permukaan bumi. 

“Kamu jangan terlalu bergerak dulu, lukamu masih terlalu parah.” Ucap seorang wanita itu sambil menghampiri Rick dan membawa secangkir minuman di tangannya

“Dimana saya sekarang ini?” Ucap Rick yang masih heran.

“Kamu berada di rumah saya sementara ini.” ucap wanita itu sambil duduk di sebelah tempat tidur tempat Rick

“Lalu kenapa saya bisa ada disini?” Rick terus bertanya sambil melihat-lihat yang disekitarnya

“Kamu tejatuh dari pesawat, kamu tentara Israel kan?” sambil mengaduk dengan sendok sebuah minuman yang sedang dipegangnya.

“Iya.” Rick menjawab dengan nada yang gagap.

“Tenang saja, kamu ini sekarang berada di Palestina, negaraku. Semua baju seragam militermu aku sengaja sembunyikan, supaya orang lain tidak menganggap kamu itu adalah tentara Israel, kalau mereka tahu, mereka akan mencari dan mungkin membunuhmu.”

“Tapi saya harus pergi sekarang.” Sambil mencoba berdiri, namun Rick kesakitan dengan lukanya yang masih terlihat parah di seluruh tubuhnya.

“Tidak, kamu boleh pergi dari sini, kalau kamu sudah benar-benar sembuh. Kamu minum dulu ini.” Sambil memberikan minuman yang daritadi wanita itu pegang.

Berhari-hari Rick berada di rumah wanita misterius itu. Selama beberapa hari itu juga sang wanita selalu mengurus Rick. Memberi Rick makan, mengurus lukanya sampai sembuh. Tapi, saat wanita itu sedang mengganti perban untuk tangan Rick yang terluka, Rick mencoba menanyakan sesuatu kepadanya,

“Selama berhari-hari saya disini, saya belum tahu nama anda.” ucap Rick sambil melihat ke arah tengannya yang sedang dibuka perbannya oleh wanita itu.

“Memang saat kamu sembuh dan pergi nanti kita bakal ketemu lagi? Kalau tidak, buat apa aku memberitahu kepada kamu.” Ucap cewek sambil terus membuka perban Rick dan menggantinya dengan yang baru.

“Seandainya saat saya tidak bisa bertemu kembali, saya bisa tidak mati penasaran, dan selalu mengucapkan terimakasih kepada anonim.” Rick mencoba terus membujuk supaya wanita itu untuk menyebutkan dan memberitahu namanya.

“Tuhan itu serba tahu untuk siapa kamu memohon walaupun tanpa alamat maupun nama yang kamu maksud. Tuhan selalu ada dihatimu, dipikiranmu, tanpa harus kamu merasa tidak yakin bahwa harus menyebutkan orang yang dimaksud harus dengan namanya. Nama orang di dunia ini itu banyak sekali yang sama, tak terkecuali nama kepanjangannya.” 

“Setidaknya saya bisa menyebut namamu tiga kali disetiap saya ingat dan mengenang saat ini.” Sambil memegang tangan wanita itu dan dengan tatapan yang penuh harapan.

“Fida. Namaku Fida.” Balas wanita setelah suasana hening saat Rick mengucapkan kalimat itu.

Setelah itu mereka saling berkenalan, setiap hari mereka lebih sering mengobrol, sampai luka Rick sembuh dan normal kembali. Mereka kadang-kadang pergi keluar sambil melihat suasana di sekitar daerah dekat rumah Fida. Tak sedikit mereka saling tertawa bahagia saat bersama, sampai pada suatu saat Rick benar-benar lupa untuk janjinya yang akan pergi setelah dia sembuh. Rick benar-benar merasa nyaman saat dia bersama Fida, Rick yang akhirnya bisa berbaur dengan masyarakat sekitar sampai bisa beradaptasi dengan cepat.

Saat itu, sore hari di suatu tempat dan mereka sedang duduk berdua,

“Fida, kamu tahu, saya adalah tentara Israel, lalu kenapa saat itu kamu menolong saya?” Tanya Rick sambil menatap mata Fida

“Menolong itu merupakan hal yang aku imipikan sejak kecil.” jawab Fida dengan nada yang datar serta matanya yang melihat lurus kedepan.

“Sejak kecil? Apa itu cita-cita kamu? Menjadi dokter? Lantas mengapa kamu malah menolong musuh dari negaramu sendiri?” tanya Rick lagi dengan terus melihat ke arah wajah Fida.

“Bagiku menolong itu tidak mengenal musuh, lagipula aku sebelumnya melihatmu di atas pesawat itu aku yakin kamu orang yang baik. Jadi saat kamu tejatuh dari pesawat, aku langsung kaget dan mengejar dimana pesawat kamu itu mendarat, terdengar suara gemuruh dari kejauhan dan ada asap hitam, jadi aku langsung bergegas menghampirinya. Untungnya saat itu belum banyak masyarakat yang menyadari tempat jatuhnya pesawatmu.” jawab Fida lagi sambil memainkan tangannya di atas paha.

“Bagaimana kamu bisa yakin aku ini orang yang baik?”

“Dengan kamu yang mentapku sambil tersenyum saja, semua wanita juga menyukai hal itu.” Fida menunduk seperti orang yang sedang malu akan apa yang dia ucapkannya.

“Apa kamu pernah naik pesawat?” Rick bertanya kembali namun saat itu dia memalingkan matanya dan melihat ke arah langit.

“Belum. Kalau sudah, mungkin aku sekarang ada diluar negaraku ini, yang setiap hari masyarakatnya mempunyai rasa takut untuk mati.” jawab Fida yang masih terus menunduk malu.

“Seandainya saya bisa mengucapkan terima kasih, mungkin seorang pengecut juga akan melakukan hal itu, saya ingin mengajakmu pulang.”

“Pulang?” ucap Fida dengan wajah kebingungan.

Setelah pembicaraan itu selesai, dengan mengherankan yang diperlihatkan wajah Fida. Rick mengajak Fida ke sebuah bangunan yang paling tinggi didekat situ. Karna suasana saat itu adalah sore, dan sang fajar mulai tenggelam. Rick dan Fida berdiri disebuah atap bangunan yang berbentuk seperti lapangan kecil dengan dibatasi tembok yang pendek disampingnya.

“Itu... Disanalah tempat tinggalmu, bukan?” Rick memulai pembicaraan dengan menunjuk ke arah langit di depannya.

“Dimana? Maksudmu adalah langit.” Jawab Fida yang masih diselimuti kebingungan.

“Benar, setidaknya jika kamu ingin tinggal dipermukaan bumi selamanya, kamu harus pulang dulu ke rumahmu. Bidadari.”

Dengan wajah yang tiba-tiba memerah, Fida tidak bisa menahan senang sekaligus malu atas apa yang telah dijelaskan oleh Rick.

“Aku akan menjadi orang pertama yang akan membawa dirimu pulang ke rumah.” Dengan wajah tersenyum melanjutkan pembicaraannya dengan Fida yang saat itu hening sebentar.

Setelah itu, mereka berbicara sangat panjang dan dari hati-ke-hati. Dan saat sampai fajar sudah tenggelam dan langit berubah menjadi gelap tapi di hiasi bintang-bintang yang cukup membuat mata terus menenggak.

Keesokan harinya Rick berpamitan untuk pergi ke negaranya, Israel. Namun, Fida memberikan sebuah informasi kepada Rick tentang hal yang tidak bisa di duga olehnya. Saat sampai di perbatasan, Rick yang memakai pakaian biasa di periksa secara keseluruhan, identitas dan barang bawaannya. Tapi dengan seragam tentaranya yang kotor setelah kecelakaan itu, dia bisa masuk dan kembali ke negara Israel.

Rick datang dan langsung ke markas pertahanan pusat Israel untuk membuat pernyataan bahwa dirinya selamat atas kejadian kemarin yang dikabarkan bahwa Rick telah tewas dalam penyerangan teroris di Palestina.

Rick berjalan dengan santai, menuju ruang dimana Jendral yang sedang berkumpul bersama senat dan kementrian Israel lainnya. Saat membuka pintu, semua orang berada di ruang itu pun tiba-tiba terdiam dan semua mata tertuju kepada Rick. 

“Rick?” Ucap Jendral militer Israel yang memecah keheningan saat itu.

“Saya tahu dimana Zen Abu Rashid itu berada!” Rick menjawabnya yang membuat semua diruang itu bingung sekaligus kaget.

Setelah memberi tahu kepada semuanya, Rick dan lainnya juga telah membuat sebuah rencana untuk mencari para gembong teroris itu.

Setelah kesepakatan kapan dan bagaimana secara khusus telah diputuskan. Rick tetap di ruangan itu sampai senat dan para anggota kementrian Israel khususnya juga para pemimpin angkatan perang darat, laut, dan udara pergi, dan hanya Jendral John yang tersisa, mereka saling berhadapan dan berbincang bagaimana Rick bisa selamat atas penyerangan itu.

“Seandainya saat itu kita menembak, mungkin saya akan ikut tewas juga.” Ucap Rick dengan nada rendah.

“Sebenarnya siapa yang memberitahu keberadaan Zen Abu Rashid itu kepadamu?” Sang jendral mencoba terus mengintrogasi Rick.

“Seorang yang bisa membuat saya jatuh cinta.” Rick berkata dengan datar.

PRRRAAAAAKKKK! 

Suara hantaman tangan Jendral John yang memukul meja di hadapannya yang membuat keget apa yang berada di ruangan itu.

“APA KAMU BODOH?! KAMU INGIN MENGKHIANATI NEGARAMU SENDIRI?” Dengan nada tinggi Jendral John berbicara.

“Bukan masalah saya untuk mengkhianati negara ini, tapi seberapa besar dia menyelamatkan nyawa saya dan membuat cinta kita tidak berpihak kepada siapa pun.” Rick menjawab dengan tenang walaupun saat itu wajah Jendral John yang menyeramkan yang matanya melotot ingin keluar.

“Seandainya kau terus mengejarnya, kau tidak akan mendapatkan wanita itu.” Ucap kata terakhir Jendral John sambil berjalan keluar meninggalkan ruangan itu.

Rick pun terdiam tanpa sepatah kata untuk menjawab kalimat terakhir Jendral John yang bermaksud untuk menjauhi wanita yang dicintainya itu, Fida.

Hari penyerangan ke tempat teroris itu pun tiba, Rick yang bersiap memakai pakaian yang sama saat dia menyerang teroris itu pun ikut dengan 5 pesawat tempur lainnya.

Di pesawat, Rick duduk berdua dengan sang pilot disampingnya memimpin di depan ke tempat sasaran yang berada di wilayah Palestina. Setelah 30 menit perjalanan dan dekat dengan markas sang Teroris, Rick memberi kode agar siap untuk menembak. 

Markas teroris saat itu adalah sebuah rumah dan halaman yang luas dengan pagar dan titik pertahanan seperti ruang tembak tersembunyi di depan gerbang rumahnya serta lapangan yang luas, mungkin terdapat ranjau yang banyak disitu. 

Tembakan pertama tepat mengenai pintu gerbang markas teroris itu. Serangan balasan datang dari teroris itu namun datanglah bantuan darat, yaitu tank-baja dan truk besar menyerang para penjaga di markas teroris itu. Tak sedikit tentara Israel yang tewas karna ranjau darat yang dibuat oleh para teroris, dan yang mati tertembak oleh para sniper, serta dua pesawat yang jatuh oleh rudal yang menembakinya.

Setelah markas teroris itu sudah hancur, dan memasuki bagian rumah, yang mencari pemimpin dari teroris itu, Zen Abu Rashid. Rick yang turun dari pesawat mencoba memasuki dan mencari dimana Zen Abu Rashid itu berada. Ruangan-demi-ruangan digeledah oleh Rick dan pasukan tentara Israel lainnya namun tak ada satupun tanda-tanda Zen Abu Rashid itu berada. Saat Rick mencari di lantai dua dan membuka sebuah pintu yang belum digeledahnya, Rick melihat sebuah ruang tempat kerja seperti bos yang terdapat meja dan kursi dengan senderan panjang di depan matanya itu menghadap ke belakang, dan dia tahu ada orang di balik kursi itu. Saat Rick mendekati kursi itu, tiba-tiba kursi itu berputar dan benar ada seseorang yang duduk.

Dengan terkejutnya, seseorang itu adalah sandera dengan wajah yang ditutupi kain, diikat tali dan ditempelkan bom di perutnya. Terdengar suara pintu terbuka dari samping kiri tembok dan keluarlah seorang lelaki yang membawa tombol pemicu bom tersebut. Ternyata dia adalah Zen Abu Rashid, pemimpin teroris.

“HAHAHAHA! Seberapa pun kalian menyerang kami, tak ada yang lebih hancur jika saya menghancurkan badannya. Anak muda.” Bos teroris itu bermaksud bicara kepada Rick. Sambil jalan mendekati tempat duduk itu, Zen Abu Rashid membuka kain yang menutupi wajah sandera itu. Dia adalah seorang wanita, dan ternyata yang lebih mengejutkan lagi yang disandera itu adalah Fida, kekasih pujaan hatinya Rick.

“FIDA?!!” ucap Rick yang kaget dan tak percaya.

“HAHAHAHAHA!?” tertawa terbahak-bahak sang bos teroris itu.

“Apa maumu?” Rick menawarkan permintaan agar Fida dibebaskan oleh Zen Abu Rashid bagaimanapun syaratnya.

“Yang saya inginkan adalah bisa mengembalikan daerah saya yang berada di timur laut markas kalian yang baru saja kalian kuasai.” Permintaan Zen Abu Rashid yang membuat Rick mengelengkan kepala.

Sambil menjatuhkan senjatanya ke lantai. Rick mengangkat tangan diikutin pasukan yang lainnya. Tapi saat mengangkat tangan, Rick mengepal tangannya dan mengacungkan telunjuknya ke atas yang bermaksud menyerupai angka satu itu pun membuat Zen Abu Rashid itu kebingungan.

CREEEEENGGG! 

Tiba-tiba terdengar suara kaca pecah disusul teriakan bos teroris itu yang tertembak. Yap maksud dari Rick mengacukan telunjuknya di atas adalah memberi kode kepada penembak jitu di luar ruangan untuk melepas tembakannya ke arah sasaran.

Setelah bos teroris itu terbunuh, Rick mencoba melepas tali yang mengikat tubuh Fida namun saat tinggal melepaskan tempelan bom di badannya Fida itu ternyata tidak bisa dilepas. Yang mengikat bomnya adalah kabel dari bom itu, jika salah memotong kabel itu, mungkin Fida pun akan tewas terkena ledakan bom yang menempel di badannya itu.

Fida yang daritadi menangis ketakutan semakin membuatnya merasa putus asa, namu Rick terus berusaha memikirkan bagaimana cara melepas bom yang menempel pada badan Fida itu.

“Rick, jika saat nanti aku tewas, aku ingin mengenangmu sebagai lelaki yang paling bisa membuatku nyaman dan bahagia jika bersamamu.” Ucap Fida terbata-bata karena sambil menangis.

“Apa kamu percaya saat kita bertemu dan pertama kita melihat dan saat aku hampir tewas namun diselamatkan olehmu?” jawab Rick sambil mengusap air mata yang mengalir di pipi seorang wanita itu.

“Hitam, aku melihat asap hitam itu Rick, dia yang menuntun jalanku menemukanmu.” Sambil terus menangis Fida memaksakan untuk berbicara. Sedangkan waktu mundur bom meledeka hanya 20 detik lagi.

“Hitam? Oke, aku tahu. Aku akan melakukannya.” Dengan nada yang begitu semangat Rick mengambil pisau di belakang celananya untuk memotong salah satu kabel yang mengikat bom ke badan Fida.

KRAAAK!! 

Bunyi kabel putus yang Rick potong dengan pisaunya. Diantara warna merah, biru, hijau, kuning, dan hitam. Rick memotong kabel berwarna hitam. Entah kenapa suasana itu menjadi tegang. Tidak ada tanda ledakan dan waktu mundur di bom itu pun berhenti tinggal 2 detik lagi. Rick yang menghela nafas panjang akhirnya bisa menyelamatkan nyawa Fida saat itu. Fida yang mengis pun spontan mengeluarkan air matanya yang lebih deras lagi sambil menutup mulutnya dengan tangan.

Fida yang berhasil diselamatkan lalu di ajak oleh Rick menaiki pesawatnya dan pergi ke tempat yang lebih aman. Di dalam pesawat itu hanya Rick dan Fida saja. Saat di perjalanan, Rick menjelaskan sesuatu.

“Akhirnya aku membawamu pulang ke rumah. Di sini, di atas awan.” Rick menjelaskan sambil fokus mengendalikan pesawat itu.

“Kamu memang lelaki yang baik, lalu kenapa kamu ingin menyelamatkanku?” jawab Fida sambil melihat wajah Rick yang sedang tersenyum.

“Karena kamulah yang membiarkanku hidup saat aku harus tewas.” Ucap Rick tetapi saat itu dia sambil menengok ke arah Fida yang sedang duduk di sebelahnya.

“Lalu kenap kamu memutuskan kabel hitam itu?” sambil mengerutkan dahi, Fida terus menanyakan yang membuatnya penasaran.

“Jika tidak ada asap hitam itu, mungkin bom yang menempel dibadanmu membuat badan kita terpisah-pisah sekarang. Seandainya asap hitam itu tidak kebetulan, dan seandainya rasa ini tidak tumbuh saat tatapan matamu yang indah itu menatapku juga. Kamu tahu kelemahan lelaki yang sedang jatuh cinta padamu itu apa?” Rick mencoba bertanya balik kepada Fida, kala itu dia memfokuskan kembali matanya ke depan untuk mengendalikan pesawatnya agar tetep seimbang.

“Apa itu?” sambil merubah posisi badannya yang mengarah ke tempat duduk Rick yang disebelahnya.

“Lelaki itu akan merasa sedikit percaya diri, saat dia sedang melihat wanita yang dicintainya, ternyata wanita itu pun melihat balik ke arahnya. Apalagi saat sang lelaki berbicara dengan wanita yang dicintainya lalu wanita itu fokus mendengarkan sambil melihat wajah lelaki itu dengan wajah yang sedikit miring yang menandakan bahwa wanita itu tertarik atas pembicaraan lelaki itu, dan saat lelaki selesai bicara dan melihat ke arah wajah wanita yang dicintainya serta mata mereka saling bertemu, itu akan membuat mereka melihat hatinya masing-masing.” Jawab Rick yang jelas namun setelah itu dia menengok ke arah Fida dan mata mereka pun saling bertemu.

Rick yang sedang mengendalikan pesawat pun tidak menghadap ke depan pesawat. 3 menit mereka saling bertatapan. Sampai mata Fida terlepas dan dia menundukkan kepala karena malu wajahnya yang mulai memerah itu pun hanya tersenyum manis.

Setengah mereka di dalam pesawat, akhirnya Rick mendaratkan pesawatnya di daerah lapang sepi yang tidak jauh dari tempat tinggal Fida. Mereka berpisah saat itu juga, dan saling mengucapkan terimakasih satu sama lain, tak terkecuali Rick yang ternyata mengucapkan kalimat terakhir bahwa saat itu adalah pertemuan mereka saling berbicara dari hati ke hati.

“Fida, aku harus pergi. Kita tak mungkin bisa bertemu lagi. Jika kita bersama, kamu akan terus dalam bahaya. Aku tidak ingin itu terjadi.  Sejujurnya aku tak peduli dengan perbedaan yang cukup banyak di antara kita ini adalah sebuah alasan untuk kita berpisah. Kembalilah kerumahmu, aku sudah menepati janjiku untuk mengantarkanmu “pulang”. Sekarang waktunya juga untuk diriku melepas semua tentangmu yang sangat aku cintai.” Rick berbicara sambil berhadapan dengan Fida di samping pesawat yang barusan mereka naiki.

“Kenapa kamu melepasku saat aku benar-benar merasa nyaman saat kita bersama? Kenapa mencintaimu itu sulit saat kita tidak bisa saling bersama lagi? Kenapa...” tiba-tiba Fida menangis dan tidak bisa meneruskan perkataannya.

“Ssssst...” Rick mencoba menenangkan Fida dengan memegang bahunya.

“Tidak ada wanita di dunia ini yang bisa menggantimu dihidupku. Sebesar aku meyakininya, aku sangat menyesal harus meninggalkan bidadari yang Tuhan kirimkan untukku. Tapi, aku terus mencintaimu di setiap hening nafasku.” Rick melanjutkan perkataannya sambil menghapus air mata Fida yang menunduk tak kuasa menahan kesedihannya.

Kedua kalinya Fida mengalami keadaan seperti ini, saat orang tuanya tewas terkena serangan rudal Israel saat dia masih berusia 17 tahun. Fida merasa terpukul karena harus meninggalkan orang yang paling di cintainya untuk kedua kalinya.

Mereka saling berpelukan dan setelah itu Rick memberikan sebuah kalung berbentuk seperti layang-layang dan ada berlian di tengahnya. 

5 tahun kemudian, selama itu Fida menjalani hidupnya seperti semula, dia sekarang menjadi perawat di Palestina yang membantu setiap ada korban dari rudal Israel. Yap, perang Israel dengan  Palestina terus berlangsung. Perang berkepanjangan itu ternyata belum bisa teredam entah masalah apalagi penyebab kedua negara yang masyarakatnya berbeda keyakinan dan ideologi itu. 

Sedangkan Rick yang memutuskan pensiun dan pindah keluar negeri karena ingin hidup tenang menikmati usianya yang sudah berkepala tiga, namun dia belum memiliki pasangan. Mungkin dihatinya memang masih dimiliki oleh satu orang wanita saja, Fida.

Rick yang memutuskan untuk tinggal di Eropa, tepatnya di Inggris. Pada suatu hari dia berjalan keluar rumah dan pergi berbelanja ke supermarket terdekat dengan menggunakan mobilnya tiba-tiba mengalami hal yang tidak dibayangkan. Mobilnnya menabrak lampu jalan dan menyebabkan bagian depannya rusak parah dan Rick tidak sadarkan diri di dalam mobilnya dengan darah di pelipisnya yang mengucur terkena benturan yang kencang.

Rick baru bisa melihat dan merasakan saat itu dia sedang di sebuah rumah sakit dengan tempat tidur dorong, terlihat 2 suster sedang mendorong dan satu susternya lagi sedang sibuk menempelkan oksigen dimulutku. Namun Rick bisa melihatnya saat itu, walaupun penglihatnnya buram, Rick melihat salah satu susternya memakai kalung, tepatnya suster yang sedang menempelkan oksigen itu kepadanya. Kalung yang bermotif seperti layang-layang dan terdapat berlian di tengahnya itu membuat Rick mengingat tentang wanita yang dulu pernah ada di hatinya. 

Saat wanita itu melihat Rick sadarkan diri, dia langsung membisikkan kata ke telinga Rick,

“Rick, bertahanlah.. Aku akan berusaha menyelamatkanmu lagi.” Sambil berbicara dengan mendekatkan mulutnya ke kuping Rick, Rick pun langsung memejamkan matanya.

Ya, suster itu adalah Fida, wanita asal Palestina yang sedang bertugas di luar negeri, sekaligus untuk tinggal menetap di sana. Dan ajaibnya lagi, di negara yang sama dengan Rick tinggal. Sebetulnya mereka sudah lama tinggal di Inggris, namun mereka bisa bertemu saat kejadian itu. Rick yang kecelakaan akibat dia banting stir karena melihat orang yang memakai baju hitam yang tiba-tiba melintas di depannya. Sehingga Rick masuk rumah sakit dan bertemu lagi dengan Fida. 

Keadaan mereka seperti dulu lagi, saat Fida merawat Rick akibat mengalami kecelakaan pesawat tapi kali ini berbeda, mereka yang masih saling mencintai bisa kembali bertemu. Setelah Rick sembuh, mereka hidup bersama walaupun di luar negara kelahirannya masing-masing. Mereka membuktikannya dengan mencintai dengan tulus akan mempertemukan kembali ketulusan itu saat keadaan yang menjadi “orang ketiga” di antara mereka.

Perbedaan bukan sebuah masalah saat kebersamaan bisa menyatukannya. 

 -THE END-

{ 2 Komentar... read them below or Comment }

Mohon beri komentar yang baik dan sopan. Semua komentar kalian pasti gue baca dan balas. Terima kasih sudah menyisihkan waktu, tenaga, dan biaya kalian untuk membaca postingan ini. Semoga tulisan gue ini berguna.

- Copyright © Muhammad Iqbhal - masisibal - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -