Posted by : Muhammad Iqbhal Sabtu, 16 Agustus 2014



“Bal ih!” Ucap lembut seorang cewek sambil memukul pundak gue dengan manja.

“Tuhkan kamu itu kalau udah ujan pasti jadi pelangi.” Bales gue sambil tersenyum melihat wajahnya.

***

Namanya Velis, dia dulu adalah seseorang yang spesial di mata gue. Ya, selain wajahnya yang sangat cantik, dia juga lucu dan bisa membuat dunia gue lebih baik sampai sekarang. Sejak gue memutuskan hubungan sama mantan pacar gue yang udah berjalan 1 tahun lebih. Dia datang membawa harapan yang sejak itu nggak pernah gue percaya lagi.

Kita ketemu pertama kali di toko buku Gramedia Botani. Saat itu gue lagi nyari satu novel yang bisa mengisi waktu kosong gue. Akhir-akhir itu gue emang lebih sering banyak waktu kosong, gue nggak punya kegiatan setelah lulus SMA. Orang-orang seumuran gue yang saat itu sedang sibuk untuk nyari dan ngurusin kampus buat lanjut kuliah, gue malah tergolong nggak peduli akan hal itu.

Bukan gue yang belum nentuin kuliah apa dan dimana. Tapi gue lebih mikirin passion gue yang nggak pernah gue tau sendiri. Gue sebetulnya suka sama hal-hal yang berbau komputer, karna gue ngerasain sendiri saat gue masih sekolah dasar, gue itu mahir dan lihai dalam urusan pelajaran itu. Berhubung keadaan dan seseorang, semua itu jadi tersendat.

Akhirnya gue memutuskan untuk pikir-pikir dulu. Gue mau nikmatin aktivitas gue yang belum menemukan titik ‘kenyamanan’. Ya, saat kita bisa beraktivitas sesuai keinginan dan bisa membuat kita nyaman itu bisa lebih baik, daripada menjalankan rutinitas yang mengekang hak kita dan membuat stress.

Gue bukan tipe orang yang gemar baca, tapi gue suka baca karena kebetulan. Saat itu ada orang yang membuat gue jatuh cinta kepada buku, sekaligus penulisnya. Gue yang sedang sibuk jalan-jalan dan mencari sebuah buku yang bisa membuat tertarik, mencoba mencari buku yang bertemakan “cinta”. Gue pun langsung menuju rak buku bagian romance remaja. Awalnya gue tertarik dengan buku yang berjudul “Love Distance Heart”, sekilas gue baca judulnya itu adalah buku yang menceritakan sebuah kisah hubungan jarak jauh. Tapi sehubung gue nggak pernah ngalamin hubungan jarak jauh, akhirnya gue memutuskan untuk mencari buku menarik lainnya.

Akhirnya gue menemukan sebuah buku dengan cover berwarna putih dan background bergambar ‘hati’ yang berwarna pink.

ENTAH SEBAGAI AWAL ATAU AKHIR
AKU TETAP INGINKAN-MU
SEBAGAI TOKOH UTAMA DI SETIAP
INCI BAHAGIA DAN SEDIHKU

Gue membaca sambil tersenyum saat melihat bagian belakang bukunya, tepatnya bagian sinopsis buku itu.

Belum selesai gue memperhatikan buku itu, tiba-tiba ada orang yang menepuk bahu gue.

“Mas!” suara seorang cewek dibelakang badan gue.

“Iya? Mau ngambil buku ini yah? Maaf ngalangin.” Gue jawab sambil menggeser ke sebelah kiri karena mungkin gue menghalangi cewek itu yang ingin mengambil buku dibagian rak buku depan gue.

“Emm.. Enggak kok, mau nanya aja.” Ucap cewek itu yang masih terdiam di tempatnya.

“Boleh. Mau nanya apa?” Gue menjawab penasaran.

“Buku yang di pegang kamu itu, ceritain tentang apa?” tanya cewek itu sambil menunjuk ke arah buku yang gue pegang.

“Oh ini?! Ini buku yang isinya tentang puisi-puisi buat ditunjukkan ke seseorang, itu sih menurut aku. Kalau pendapat penulisnya sih mungkin beda, dan bakal bilang kalau aku itu so’ tau abis.”  Gue menjawab dengan sopan dan sedikit bercanda. Bukan karena awalnya dia yang sopan sama gue, tapi karena dia cantik, dan buat gue salah tingkah. Saat itu dia memakai kaos dan kardigan merah dipadu dengan celana panjang hitam. Nggak cuma itu, dia juga memakai sepatu cats merah yang membuat penampilannya bertambah cantik, rambut hitam terurai rapi, dan lipstik tipis di bibirnya.

“Kepada pacarnya?” tanya cewek itu yang masih penasaran.

“Bukan ke pacar juga sih, bisa juga orang spesial di hidupnya. Lagian orang spesial itu bukan cuma pacar kan?” Gue jawab sekaligus bertanya balik ke cewek itu dengan mengangkat alis dan tersenyum.

“Orang spesial selain pacar itu kayak gimana?” sambil menyilangkan kedua tangan di depan dadanya, cewek itu terus bertanya ke gue.

“Orang spesial adalah orang yang berguna dan tulus buat kita, semakin tulus perbuatannya semakin tak terlihat oleh mata. Misal, cinta orang tua kamu. Kamu bisa menjadi sekarang ini adalah berkat perlakuan mereka. Teman kamu, kamu nggak akan punya pengalaman dan kenangan itu kalau kamu nggak punya teman, termasuk teman-teman kamu sekarang ini. Begitu juga pacar, dan mantan pacar. Iya kan?” gue mencoba menjelaskan sambil menatap matanya yang indah itu.

“Mantan pacar? Kenapa dia harus juga jadi orang yang spesial buat kita?” ucap cewek itu, tapi dia terlihat lebih serius dari sebelumnya.

“Nggak ada mantan pacar, kita nggak akan seperti ini. Nggak ada dia, nggak ada kenangan dan kedewasaan seperti ini. Kita emang nggak mau sakit hati, tapi apa kita bisa memilih orang saat kita diperkenalkan sakit hati itu? dan kenapa hanya sedikit orang yang menjadikan itu pelajaran dan kenangan? Apa tanda terimakasih kita kepada seseorang yang membuat kita lebih berhati-hati sekaligus tahu sebuah rasa dan pengalaman itu?” gue menjawab dengan panjang sampai saatnya dia tersenyum dan memberi tangannya yang bermaksud untuk berjabat tangan. Gue bingung saat itu, gue kira dia pengen berterimakasih. Tapi,

“Namaku Velis, tapi kalau mau lebih panjang lagi boleh panggil aku Velista, tapi kalau mau lebih lengkap lagi kamu boleh kenal aku dengan nama Novelista Putri.”

Saat itu gue cuma bisa merespon perkenalannya. Kita berjabat tangan dan saling bertatapan satu sama lain. Tapi berhubung gue belum tahu selengkapnya tentang buku yang gue pegang itu, gue mencoba melihat profil penulisnya, karena gue takut kalau nanti cewek itu bakal nanya lagi ke gue.

Tapi, gue kaget! Bukan, bukan ada buku yang jatuh tiba-tiba karna gue salah tingkah abis ketemu Velis, bukan juga ada orang yang bunuh diri dari lantai atas di Mall yang saat itu gue kunjungi. Kebanyakan toko buku Gramedia itu ada di dalam Mall. Dan kebetulan dengan keuntungan itu, siapa tau setelah selesai ngobrol di Gramedia sama Velis, gue bisa jalan keliling mall sambil melanjutkan obrolan gue.

Eh gue jadi lupa kalau gue lagi kaget. Gue kaget karna gue abis baca buku yang gue pegang itu dibuat oleh penulis dengan nama.....

Gue pun senyum tiba-tiba, Velis kebingungan.

“Kamu kenapa bal?” Velis bertanya sambil mengangkat sebelah alisnya karena penasaran.

Gue masih tersenyum sambil menyipitkan mata ke arah Velis.

“Cie, kok nggak bilang buku ini tuh buku kamu?”

“Masa sih? Coba aku lihat?” Velis mendekati gue sambil jingjit melihat apa yang gue baca. Velis emang lebih pendek dari gue, kalau kita deketan, tinggi badan dia itu sepundak gue.

“Nah loh ketahuan~”

“Wah kayaknya salah ketik deh tuh penerbitnya. Aku pulang duluan yah, Bal.” Velis menjawab dan mencoba untuk pergi meninggalkan gue.

“Eh tunggu, kalau nggak mau aku teriak buat kasih tau kalau ada penulis salah satu buku disini, aku mau kamu kasih tau dulu tentang buku ini.” Ucap gue sambil menarik tangannya yang mencoba untuk pergi.

“Duh kamu mah. Jangan dong Bal. Yauda deh aku bakal kasih tau, tapi di lain tempat yak. Mana tangan kamu?!” Velis menjawab sambil mengeluarkan sebuah pulpen di dalam tasnya.

“Buat apa? Mau ditusuk pakai pulpen kamu itu?” sambil memberikan tangan gue dengan raut wajah kebingungan.

Velis pun menulis sesuatu di tangan gue.

“Nah, nanti disitu aja aku jelasinnya. Aku pergi dulu ya.. Dadah!”

Velis akhirnya benar-benar pergi dari gue. Gue lihat tangan gue penuh dengan coretan pulpen sehabis Velis menulis sesuatu di tangan gue.

“76D8***
Kalau kamu gak punya BBM, nanti aku jelasin di e-mail: novelistaputri@gmail.com
Kalau kamu gak punya e-mail juga, sms aja ke nomer: 08*******
Kalau kamu nggak punya HP? Kayaknya emang aku gak bisa jelasin tentang buku itu, sesuai permintaan kamu :p”

Setelah baca tulisan yang panjang di tangan gue itu, gue spontan mengepalkan tangan dan bilang “YESS!!!” dengan kencang. Hampir sebagian orang di toko buku itu melihat gue. Demi harga diri, akhirnya gue balik kerumah.

BUUKK!!!

Gue mencoba membantingkan badang ke kasur. Sambil tiduran, gue mencoba melihat tangan gue yang masih penuh dengan coretan. Tanpa berlama-lama lagi, gue langsung memindahkan pin BBM, nomer HP, dan alamat e-mail Velis ke dalam HP gue.

Sejak saat itu gue mulai lebih sering chattingan sama Velis. Awalnya gue nggak bermaksud untuk deket sama dia. Gue udah janji sama diri sendiri kalau gue nggak akan pernah mau deket lagi sama cewek sejak gue putus sama mantan pacar gue. Bukan gue yang nggak bisa move on, tapi gue udah pernah nyoba buat jadian sama cewek lain setelah putus sama mantan pacar gue, tapi akhirnya gue malah nyakitin cewek itu. Gue sadar kalau gue cuma pamer cewek baru itu aja ke mantan pacar gue.

Gue nggak mau jadian sama Velis karna emang gue nggak mau Velis bakal jadi cewek yang gue sakitin juga nanti. Velis selalu ada di saat gue butuh dia, tepatnya dia mau memberi telinganya untuk sekedar mendengar curhatan gue dalam segala hal. Selain Velis bisa selalu ada saat gue butuh, dia itu adalah tipe cewek yang nyambung kalau di ajak ngobrol tentang apa pun.

“Messi itu di bakat, Ronaldo itu di work-hard.” Ucap Velista yang saat itu tiba-tiba ada di samping gue yang sedang membaca buku dengan cover bergambar Christiano Ronaldo vs Lionel Messi.

“Lah, kamu udah nemu bukunya?” jawab gue yang masih kaget akan kehadiran Velis yang tiba-tiba.

“Iya, udah.. Nih bukunya~”sambil menunjukkan plastik yang berisi buku dan struk yang ditempelnya.

“Kamu kok so’ tau sih soal Ronaldo sama Messi? Emang kamu mantannya? Wee..” Gue mencoba bertanya sambil menjulurkan lidah.

“Yee dasar. Tau aja dong, dari cara mainnya keliatan kok. Kalau dilihat dari tulisan kan itu pendapat orang lain. Kalau kita bisa lihat langsung, kita punya pendapat sendiri.” Jawab Velis dengan santai.

“Iya ya, kalah deh sama penulis kalau lagi ngomongin buku mah.” sambil tertawa dan menaruh buku yang gue pegang tadi ke tempat semula.

“Bal ih..” Velis ikut tertawa sambil memukul bahu gue dengan pelan.

Awalnya gue cuma tau kalau cewek yang suka bola itu cuma kakak sepupu gue, tapi ternyata gue gak nyangka Velis bisa suka juga sama bola. Dilihat dari penampilannya yang feminim dan modis, mustahil Velis itu dikatakan suka sama bola. Tapi kenyataannya malah dia pecinta salah satu tim sepak bola, Arsenal.

Gue semakin kagum sama sosok Velis, selain dia jago merangkai kata dalam sebuah tulisan, wawasannya luas, dan penampilannya menarik, ternyata dia juga suka bola. Kalau ada survei tentang cewek idaman sedunia, mungkin Velis ini ada di peringkat satu. Satu-satunya.

Kadang saat kita kehabisan bahan obrolan, gue dan Velis lebih memilih buat ngomongin bola, kadang kita suka ngomongin pemain bola favorit, pacarnya pemain bola, ukuran kaos pemain bola favorit, sampai kita nonton bola bareng. Di bioskop.

Velis ini sebenernya lagi kuliah di Bandung, tapi dia bilang kalau dia lagi sibuk sama bukunya, jadi dia memutuskan untuk cuti kuliah dan pulang kerumah  kedua orang tuanya yang berada di Bogor, sekaligus melanjutkan tulisan-tulisannya untuk buku dia selanjutnya. Karena setiap hari dia menulis dirumahnya dan kadang kesepian, gue jadi sering temenin dia.

Setiap hari gue lihat dia menulis, gue hapal sebelum dia menulis, dia selalu mengikat rambutnya. Dia yang selalu bisa menulis di satu tempat saja, meja kesayangannya. Ketika sedang stuck nulis, dia selalu bernyanyi sendiri, nggak sesekali sejak gue deket sama dia, gue yang nemenin dia nyanyi sambil main gitar, suling, rebana, dan bass betot.

Sampai suatu saat gue menemukan dimana gue nggak bisa nahan janji gue, janji untuk jatuh cinta lagi. Saat itu, diperjalanan menuju rumah Velis gue menyempatkan dulu untuk membeli sebuah bunga, bunga yang pengen gue kasih ke Velis sekaligus tanda gue mengungkapkan seluruh perasaan gue ke dia. Rasa nyaman, rasa dimana gue bisa menemukan sebuah tempat untuk berbagi, rasa dimana gue melihat seseorang yang memberikan sebuah harapan gue untuk menjadi dewasa.

Semua cowok terkadang seperti itu, mereka mulai bisa jatuh hati akan kebiasaan mereka dengan seorang wanita yang bisa membuatnya dewasa. Nggak ada laki-laki yang sudah tidak memiliki sifat ke kanak-kanakkan, laki-laki membutuhkan seseorang seperti ibunya untuk pulang setelah lelah ‘bermain’.

Begitupula yang gue alami sama Velis, seteleh gue sampai rumah dia dan membawa sebuah bunga di dalam tas, gue bersikap seperti biasa saja. Sampai saat gue duduk di teras rumah Velis,

“Vel, ada sesuatu di dalam tas aku, buat kamu.” Gue mencoba sambil memberikan tas ke Velis yang sedang duduk di sebelah gue.

“Apa, Bal?” Velis menjawab sambil mengambil tas yang gue berikan.

“Buka aja coba.” Jawab gue sambil tersenyum.

Velis tersenyum  dan langsung membuka sleting tas gue.

“Ini melambangkan apa?” Velis bertanya sambil mengeluarkan bunga dan sebuah surat di dalam tas gue.

“Lambang dari isi surat itu.” Gue menjawab sambil menunjuk ke sebuah surat yang dipegangnya.

Velis pun langsung membuka isi surat itu.

“Sejak saat aku bertemu kamu, aku bisa lihat ada cinta di situ. Namun aku mencoba meyakininya, tapi nggak terasa aku malah terhanyut dalam merasakan itu. Aku coba berusaha, dan aku baru mengerti sekarang. Ya, menurut aku MENCINTAI itu adalah MEYAKINI, MERASAKAN, BERUSAHA, dan MENGERTI. Dan, Cinta itu, kamu.” Ucap gue saat Velis masih membaca isi surat itu.

“Aku juga nggak yakin dan nyangka kita bakal sejauh ini, sekarang.  Aku seneng. Aku seneng karena kamu juga punya perasaan yang sama dengan apa yang aku rasain” Balas Velis yang saat itu gue lihat wajahnya memerah sambil tersenyum. Cantik sekali.

Sejak saat itu gue dan Velis resmi berpacaran. Nggak ada yang berubah selama kita deket sampai jadian saat itu, kita lewati hampir setiap hari berdua. Cuma ada sedikit yang berubah, dari dia yang mulai menggandeng tangan gue setiap kita jalan berdua, gue yang selalu nemenin dia selama talk show di toko buku sekitar Jabodetabek, dia yang sering tertidur di paha gue setelah dia cape sehabis nulis.

“Kamu pernah jatuh cinta sama seseorang yang membuat kamu nyaman juga?” Ucap gue sambil duduk dikursi berwarrna biru di taman rumah Velis.

“Saat itu kenyamanan yang belum membuat aku yakin.” Jawab Velis yang sedang duduk lesehan di lantai teras rumahnya.

“Apa kamu tau, aku juga dulu menyayangi cewek tapi malah membuat dia belum yakin. Tapi akhirnya aku yang ninggalin. Tapi dia bisa bahagia sekarang. Kamu?” Gue terus menjelaskan sambil menghadap ke arah Velis

“Aku nggak nyangka dia selingkuh sama seseorang yang aku kenal pertama kali, seseorang yang pertama aku temui di kota yang menjadi jalan menuju masa depan aku.” Jawab Velis dengan wajahnya yang sedih menunduk.

“Apa yang buat kamu jauh lebih sakit dan ninggalin kota yang menjadi jalan masa depan kamu?” gue terus mencari tahu apa yang membuat gue masih penasaran.

“Saat aku samperin Jo, aku lihat dia berpelukan sama seorang cewek, aku langsung balikin badan dan melihat Jo di balik tembok, saat mereka melepaskan pelukan ternyata cewek itu Cindy, orang yang paling aku percaya. Saat aku membalikkan badan lagi dan mencoba melihat mereka.......” Velis berhenti bicara dan tak kuasa menahan air mata yang keluar deras.

Gue langsung menghampiri dia yang hanya 3 langkah, gue mencoba menghapus air matanya sambil memiringkan kepala,

“Ssssst. Udah cukup, maafin aku ya. Aku gak bermaksud. Jangan nangis lagi ah, nanti matanya kayak Mesut Ozil loh~” Gue mencoba menghibur Velis.

“Bal ih..” Velis tiba-tiba tersenyum sambil memukul pundak gue dengan manja.

“Kamu itu kayak mendung, hujan, dan pelangi. Dari yang awalnya kamu itu cemberut, terus nangis, dan sekarang kamu tersenyum.”

Kita pun berpelukan.

Nggak terasa 2 bulan kita pacaran. Akhirnya kita ngerasain namanya berantem. Saat itu gue janjian sama dia buat pergi jalan.

“Jemput aku jam 2 yah didepan rumah aku.” Velis ngechat gue jam 8 pagi.

“Oke, nanti aku kabarin lagi ya.”

Setelah itu Velis nggak ngebales chat gue. Gue berfikir kalau dia mungkin sedang menulis jadi nggak sempet buat bales chat gue Waktu pun udah menunjukkan pukul 1 siang, gue langsung bergegas jemput Velis di depan rumahnya.

Gue sampai di TKP jam setengah dua, gue lihat Velis udah berdiri nunggu di depan gerbang rumahnya. Gue disambut Velis dengan muka sesangar yang abis duel sama singa, muka bete.

“Hai, kok tumben nunggu lebih awal?” Ucap gue sambil mematikan mesin motor.

“.....”

“Kamu kenapa? Lagi dapet ya? Udah berantemnya? Biasanya kan kamu kalau lagi dapet ngajak berantem singa.” sambil menstandarkan motor dan membuka helm, gue mencoba untuk menghibur Velis.

“Nggak lucu, Bal.” Jawab Velis sambil membuang muka.

“Ya, terus kenapa? Marah? Salah aku apa?” Entah pertanyaan ini gue ucapkan berapa ratus kali karena dia cuma diam dengan muka cemberutnya.

“Salah kamu apa? Salah kamu itu ngaret! Kamu bisa liat jam nggak sih?” ucap Velis sambil menyilangkan tangan di dadanya.

“Bisa kok. Lagian aku juga on-time kan, ini masih 30 menit lagi kita janjian buat jalannya kan.” Jawab gue sambil melihat jam tangan.

“30 menit dari mana?”

Gue ngerogoh kantong celana buat ngambil HP gue. Terus gue buka kolom chat terakhir kita dan menunjukkannya ke Velis. Disitu tertulis bahwa Velis bilang jam 2 untuk gue jemput.

“Nih tadi pagi kamu sendiri yang nulis jam 2. Kok aku yang disalahin sih?”

“Ih... Itu kan typo! Harusnya aku nulis jam 12. JADI COWOK PEKA DIKIT KEK!”

Velis mengakhiri perdebatan kami siang itu, akhirnya kita malah duduk di depan teras rumahnya. Kita diem-dieman hampir 15 menit, gue ngeliat muka Velis yang masih cemberut sambil membaca surat Al-Baqarah di dalam hati.

“Kamu kenapa?” tanya gue saat Velis terus terdiam dan tiba-tiba mengeluarkan air mata. Gue takut kalau dia masih memikirkan perdebatan yang tadi itu.

“Nggak apa-apa kok?” jawab Velis sambil menghapus air mata di pipinya.

“Nggak apa-apa gimana, kamu nangis gitu.” Gue mencoba mendekati Velis sambil membantu menghapus air mata yang masih tersisa dipipinya.

“Jo tau kalau aku ada disini. Dia nyoba ngajak aku balikan terus sama dia. Tapi aku nggak mau.”

“Dia tau dari mana?”

“Sewaktu kita lagi di Gramedia, ada temen aku yang ngeliat kita berdua. Dia langsung ngasih tau Jo.”

“Terus kenapa kamu harus nangis? Mungkin Jo cuma ngerasa khawatir aja sama kamu, dia takut kamu kenapa-kenapa karena kesalahan dia, jadi coba buat mastiin keadaan kamu.”

“Tapi kamu tau maksud arti kata ‘tidak’ kan, Bal. Aku nggak suka dipaksa. Dia bukan cuma nanyain keadaan aku, tapi dia bilang kalau dia mau ngulang lagi hubungan aku sama dia. Aku nggak mau.”

Sejak saat itu gue cuma bisa meluk dia yang sedang duduk menahan sedih yang dia rasakan.

Keesokan harinya saat gue dateng ke rumah Velis, gue lihat ada mobil sedan hitam yang terparkir di depan rumah Velis. Dan setelah itu juga gue lihat ada dua orang yang berdebat di depan rumah Velis yang gue lihat dari luar gerbang.

Gue adalah orang yang paling nggak kuat ngeliat cowok yang kasar kecewek dari perkataan maupun perbuatannya, seolah-olah mereka itu terlahir dari batu. Nggak punya ibu.

“Sorry, tolong jangan kasar. Dia cewek. Omongin baik-baik bisa kan?” ucap gue yang datang menghampiri perdebatan mereka. Disitu melihat Velis sedang berdebat dengan seorang cowok, dan gue pikir juga itu adalah Jo, mantan pacar Velis.

“Lo siapa?” jawab Jo yang membalikkan badan dan menatap dengan tajam.

“Nggak peduli gue siapa. Tapi dengan perlakuan lu kayak gitu ke cewek. Gue nggak bisa tinggal diem.”

“Ini urusan gue sama dia yah! LO NGGAK USAH IKUT CAMPUR!”

“Oke. Emang ini urusan kalian. Tapi gue nggak akan biarin orang yang gue sayang nangis karena cowok kayak lu.”

“BANYAK BACOT LO!”

BUUUUUK!

Suara hantaman tangan cowok itu yang menghajar gue. Gue jatuh ke lantai sambil memegang pipi gue yang kesakitan. Gue bangkit, dan langsung membalas pukulannya itu. Tepat di perutnya, gue berhasil membuat dia kesakitan juga. Tapi saat itu Velis mencoba melerai perkelahian gue sama cowok itu. Dia mencoba menahan gue sambil memegang pipi gue yang berwarna biru yang Velis lihat.

“Udah, cukup! Kalian ini apa-apaan sih. Kalau ada orang yang lihat gimana? Kamu keterlaluan Jo. Kamu itu kayak anak kecil, selalu menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Dia ini pacar aku.” Velis mencoba menjelaskan kepada cowok itu yang ternyata benar yang gue kira, dia adalah Jo.

“Dengerin aku Vel, aku udah putus sama Cindy. Aku sadar kalau kamu yang paling aku sayang. Aku nggak mau kita pisah, aku nggak terima kamu putusin aku gitu aja. Kita mulai dari awal lagi. Aku kesini cuma mau jemput kamu.” Ucap Jo sambil mengulurkan tangannya ke arah Velis.

Velis terdiam, dia seperti memikirkan sesuatu. Kepalanya menunduk, tak ada kata yang terucapkan dari mulutnya. Gue yang hanya terdiam dan menyerahkan keputusan semuanya kepada Velis, gue pasrah saat itu.

“Aku milih dia, Jo. Iqbal adalah orang yang benar-benar aku sayang. Bukan saat hati aku hancur karena kamu. Bukan juga dia datang saat hati ini merasa kesepian. Aku milih dia karena kebiasaan kita.”

Jo terdiam setelah Velis berbicara seperti itu.

Gue coba menghampiri Jo, dan mengatakan ke dia sesuatu.

“Apa lu lihat? Menyelesaikan masalah tanpa kasar terhadap cewek bakal menemukan hasil yang terbaik kan? Apa dengan cara kasar, lu dianggap cowok gentle?”

Untuk kedua kalinya, Jo kembali terdiam. Sekarang dia mengulurkan tangannya ke gue.

“Selamat ya, Bal. Sorry gue udah mukul lo. Dan apa yang lo bilang itu bener. Sekarang tolong jaga Velis ya, dia itu cewek yang baik.”

“Baik. Sorry juga gue udah mukul lu.”

Gue dan Jo pun berjabat tangan dan saling meminta maaf. Gue lihat Velis tersenyum.

Setelah itu Jo pamit meninggalkan gue dan Velis. Dia menuju mobilnya dan langsung pergi dari rumah Velis.

Hari-hari kedepannya setelah kejadian itu, gue dan Velis seperti biasa, nggak pernah ada yang berubah dan menganggap kejadian kemarin itu nggak pernah ada. Jo udah nggak pernah mengganggu Velis lagi. Gue tau, Velis mungkin punya alasan selama ini belum bisa kembali lagi kuliah karena benci untuk ketemu Jo. Tapi setelah gue selesaikan masalah itu dan meminta Jo untuk menerima Velis sebagaimana hubungan mereka yang sekarang sebagai teman, bukan mantan pacar. Akhirnya semua kembali seperti awal lagi secara utuh setelah Cindy meminta maaf langsung ke Velis dan mereka sudah saling berkomunikasi lagi, walaupun Velis sekarang memilih tinggal di Bogor.

Gue dan Velis yang merasa bosen dengan tujuan kita jalan cuma hanya nonton, makan, dan ke toko buku yang nggak pernah berubah. Akhirnya hubungan kita menjadi lebih sempurna ketika gue salalu ngjadwalin liburan bareng biar bisa menghapus bosen selama kita bareng. Nggak perlu liburan yang jauh-jauh, karena yang deket-deket juga udah ada. Soalnya, kualitas liburan itu bukan ditentuin tujuannya kemana, tapi dengan siapa kita menikmatinya.

Nggak cuma sesekali kita liburan bareng. Kita udah punya banyak momen indah buat dikenang. Dan momen indah itu nantinya akan susah tergantikan meskipun orangnya yang udah nyoba buat berpindah ke lain hati. Dengan kata lain, semakin banyak momen indah yang kita miliki, bakal makin susah juga buat kita buat berpisah nanti.

========

“Kamu nulis apa sih” tanya gue sambil mengintip di belakang pundak Velis yang saat itu sedang serius menulis di meja kesayangannya ditemani kopi mocca yang aromanya mengelus hidung.

“Aku nulis apa aja nih, yang ada dipikiran aja.” Jawab Velis sambil terus mengetik di laptopnya.

“Kamu kenapa sih suka menulis?”

“Aku menulis karena aku ingin tetap bisa berbicara meski raga sudah tak bernyawa.”

“Apa kamu yakin dengan menulis bisa membuat kamu dikenang?”

“Tentu. Cara mudah untuk dikenang oleh orang lain adalah dengan menulis.”

“Apa sih keajaiban menulis menurut kamu, Vel?”

“Menulis itu sama dengan merangkai mesin waktu. Coba kamu menulis, ciptakan sejarah kamu sendiri dengan menulis.”

“Kamu udah sering menulis tentang masa lalu kamu?”

“Calon orang besar menurut aku itu adalah orang-orang yang mau menghargai masa lalunya dengan menulis setiap prosesnya untuk diteladani orang lain.”

“Aku sebenernya pengen menulis sejak aku baca tulisan kamu, apalagi saat lihat kamu sedang menulis. Tapi aku nggak jago dalam menjahit kata-kata menjadi sebuah cerita seindah kamu.”

“Menulis itu kayak naik sepeda, gampang. Asal sering dicoba. Nggak perlu bakat, yang penting kamu sering latihan.” Jawab Velis yang saat itu berhenti mengetik sebentar dan berpaling ke arah gue.

Jawaban Velis itu membuat gue nggak bisa melanjutkan pertanyaan lagi, karena emang nggak ada yang bisa gue tanyain setelah gue tau semua jawaban Velis tentang alasan dia menulis. Sampai sekarang ini gue masih terus menulis, dan gue juga nggak akan pernah berhenti menulis sebelum gue emang udah nggak bisa menulis lagi.

Semua pelajaran yang Velis kasih ke gue membuat hidup gue lebih baik setelah gue yang nggak punya semangat untuk mencapai harapan dan cita-cita. Tapi walaupun sekarang kita udah nggak berpacaran lagi, karena sesuatu hal yang nggak bisa dilanjutkan bersama. Bukan karena Velis yang menjadi terlalu sibuk atau pergi melanjutkan kuliahnya dan meningalkan gue sendiri. Tapi kita memutuskan melanjutkan hidup sendiri-sendiri seperti dua tokoh utama di dalam sebuah novel yang membuat cerita masing-masing.

Gue sama Velis sampai sekarang masih berhubungan baik dan saling berkomunikasi satu sama lain. Nggak sesekali gue masih suka jalan berdua sama Velis walaupun tanpa sebuah ikatan status berpacaran. Sejak dulu gue kenal Velis dan sampai sekarang gue mempunyai tujuan yang sama dengan dia untuk terus menulis. Gue selalu yakin, kisah gue sama Velis adalah hal terindah yang gue miliki dan gue alami. Setiap tulisan gue, selalu ada hal tentang dia. Setiap gue menulis, selalu ada alasan tentang dia.
 
When I Read Novel, I Love Novel. Novelista Putri.

{ 14 Komentar... read them below or Comment }

  1. wahhhhhhhh keren ceritanya....
    Kak Novelis juga cantik banget ..
    cantik dari hati juga.

    Ceritanya meskipun panjang, tapi tetap enjoy bacanya, KEREN!

    Vina jadi sadar CINTA itu mesti mengerti dan ya gitu.
    Bener, kalau abis pputus itu jalin hubungan lagi pasti nggak aman.
    karena masih ada embel embel mantan sebelumnya.

    Penjelasan CINTA itu juga kayaknya emang bener deh mesti gitu. hmmmmm
    keren pokoknya :)

    salam kenal ya :D bw pertama disini.. Follow blognya ah biar dapat updatenya..

    Setuju banget sama Kak Velis, menulis cara kita berbicara meskipun udah nggak ada.
    meskipun kita udah nggak ada, orang-orang masih tetap bisa menikmati karya kita,
    jadi semangat nulis lagi.
    Nulis awalnya emang sulit sih, tapi bisa karena biasa. seperti cintanya Bang Iqbal ke Kak Velis, bisa karena kebiasaan bersamanya itu :)
    Salut deh..
    nggak suka ih adegan sama Jo, eh itu Joe Taslim bukan :|

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih Vina, Komentarmu lebih panjang dari postingnya ternyata. Thanks banget :)

      Itu hanya berbagi pengalaman aja, semoga cerita itu bisa bermanfaat bukan buat gue aja, tapi buat yang lainnya juga.

      Oh iya, kalo itu bukan Joe Taslim juga hahaha

      Hapus
  2. jadi semangat buat nulis kunjungi juga atuh http://t.co/VFDnAAXwQ6

    BalasHapus
  3. Ternyata mantanmu cantik juga bang :D

    BalasHapus
  4. lanjutkan bal, sukses buat lu..

    BalasHapus
  5. nice post. meskipun panjang, ngga ngebosenin bacanya. jadi semangat buat nulis lagi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, Putri. Yap, tetep terus nulis yak :D

      Hapus

Mohon beri komentar yang baik dan sopan. Semua komentar kalian pasti gue baca dan balas. Terima kasih sudah menyisihkan waktu, tenaga, dan biaya kalian untuk membaca postingan ini. Semoga tulisan gue ini berguna.

- Copyright © Muhammad Iqbhal - masisibal - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -