Posted by : Muhammad Iqbhal Sabtu, 27 September 2014



Ceritanya, waktu itu gue lagi nulis di rumah temen gue, sebut saja Endoy. Jadi memang kebiasaan gue dan temen-temen SMA ngumpul setiap liburan kuliah dan main PES bareng dirumah Endoy. Kegiatan rutin itu nggak bisa kita lewatin kalau Endoy pulang ke rumahnya saat dia liburan kuliah, maklum Endoy kuliah di Kutub Selatan jadi cuma setiap liburan semester aja kita baru bisa jadiin rumahnya rental PES.

Saat itu, dirumah Endoy sedang dijajah oleh 6 orang, Gue, Entis, Ujang, Harno, Supri, dan Madun. Saat gue lagi nggak kebagian main PES, gue memutuskan untuk nulis, dan temen-temen gue lainnya sibuk dengan urusan mereka masing-masing, ada yang macul, nembok, cuci piring, ngejemur, dan motongin rumput. Kenapa kita jadi pembantu rumah Endoy gini..

Nah saat gue lagi nulis itu, tiba-tiba Entis yang tadinya macul mencoba menghampiri gue dengan membaca pacul di pundaknya. 

“Eh lagi ngapain? Kok lo enak-enakan main Laptop bukan bantuin kita?” Ucap Entis sambil ngupil dengan menggunakan paculnya.

“Gue lagi nulis nih. Buat posting baru di blog nanti.” Jawab gue dengan santai sambil terus focus mengetik keyboard.

“Oh, gitu. Eh ini mousenya kecil amat? Buat dipegang, tangan gue aja nggak cukup. Nih masuk idung gue aja bisa~” ucap Entis sambil memasukkan mouse gue ke dalam hidungnya yang masih tercolok ke laptop gue.

“Eh Sempak Anoa! Jorok lo. Kampret.” Ucap gue sambil mengambil paksa mouse gue yang telah masuk ke dalam hidungnya sedalam 2 meter.

“Ah mouse lo aneh noh, kecil. Pasti murah, jelek, cepet rusak.. Beli dong kayak gue, mouse mahal, keren lagi!” ucap Entis sambil mengeluarkan mouse nya yang berada di saku celana.

“Emang lo beli pake apa?” Tanya gue basa-basi

“Pake duit lah, masa pake cinta.” Jawab Endoy sambil memainkan mousenya seperti yoyo.

“Duit siapa? Emang lo beli sendiri? Lo masih kuliah kan? Masih numpang di rumah ortu kan? Masih disuapin makan sama ortu kan? Masih rengek-rengek minta duit kayak pengemis juga kan? Itu yang lo banggain?” ucap gue yang menyudutkan Entis.

“Ya biarin lah, kan ortu gue juga ikhlas.” Jawab Entis sambil matanya melihat ke atas.

“Oke kalo ortu lo ikhlas, apa dampaknya ortu yang selalu manjain anaknya? Jadi deh kayak gini. Lo sadar gak lo itu sombong? Pamer? Dan nggak pernah menghargai orang lain?”

“Gue gak ngerasa sombong tuh. Gue cuma ngasih tau lo aja.”

“Oke, mungkin niat lo kayak gitu. Yang penting gue punya presepsi sendiri, barang gue adalah gue yang beli sendiri, walaupun murah dan gue belum mampu beli barang yang bagus kayak lo, gue masih bersyukur karena ini semua hasil keringat gue sendiri dan ini  juga mungkin merupakan tamparan gue untuk lebih keras lagi jadi yang lebih baik. Sebelumnya terima kasih, gue mau mandiin singa dulu dirumah. Bye!”

Setelah itu, gue pun balik kerumah dan lanjut nulis. Sejak kejadian itu juga gue lebih sering nyibukin diri dan fokus dengan apa yang gue tekuni dan alhasil dalam 6 bulan gue bisa menghasilkan uang dari kebiasaan nulis yang lebih banyak. Gue udah bisa membeli barang-barang lebih banyak dan masih bisa ditabung untuk masa depan gue kelak.

Saat itu, gue dan temen-temen gue lainnya pun ngumpul lagi di rumah Endoy seperti biasa, dan tentunya Entis juga hadir seperti biasa. Tapi, saat itu ada yang berbeda, Entis terlihat murung dan saat kita mencoba buat memesan makanan dan pergi jalan, dia malah menyendiri dan tidak seperti biasanya.
“Lo kenapa gak ikut pesan makanan? Tadi juga kenapa gak ikut kita jalan ke mall?” Tanya gue ke Entis yang saat itu dia sedang berada di pojokan sambil ngeden.

“Gue.. Gue.. Nggak laper aja.” Jawab Entis dengan muka yang terlihat murung.

“Bener lo gak apa-apa?”

“Engga kok.”

Setelah itu terdengar suara perut Entis, jika di terjemahkan oleh Google-Translate menjadi: “Woy! Dia bohong, gue laper nih. Lemes.”

“Lah tu perut lo bunyi, udah nggak usah bohong sama gue.” Ucap gue yang terus memaksa Entis berkata jujur.

“Ng… Iya gue gak mesen makanan dan pergi jalan bareng kalian gue gak punya duit. Gue berantem sama ortu gue, jadi udah seminggu ini gue gak balik kerumah.” Ucap Entis menjelaskan semuanya.

“Emang gara-gara apa lo bisa berantem gitu?”

“Iya, jadi waktu itu gue minta beliin HP baru kayak lo itu, yang mahal. Tapi ortu gue nggak bisa karena mereka bilang udah nggak punya uang lagi. Saat gue paksa mereka juga, tapi tetep mereka nggak mau beliin, padahal saat itu gue lihat mereka punya uang yang banyak.” Ucap Entis yang tidak kuat lagi untuk menjelaskannya.

“Yauda, kalo gitu lo harus minta maaf sama mereka, lo yang salah kan? Nyesel sendiri kan gimana lo sekarang hidup tanpa mereka? Enak? Nggak kan? Hidup itu tentang berusaha. Dan harga diri laki-laki itu adalah bekerja keras. Yauda, lo makan aja, gue bayarin kok.”

“Iya, gue salah. Gue minta maaf sebelumnya ke lo ya, Bal.”

“Iya gak apa-apa nyesel itu manusiawi kok, tapi orang hebat adalah yang bisa membuat penyesalan itu menjadi pelajaran.”

Ya, itu tadi contoh gue dan temen gue tentang tema posting malam ini. Gue bingung, kenapa masih ada orang yang terlalu membangga-banggakan sesuatu atau dirinya sampai diluar batas tanpa mengintrospeksi diri. Gue mungkin bakal bahas beberapa orang yang gue tau dan alami tentang mereka yang berkata tanpa mengaca pada diri mereka dahulu.

Tentang Sepak Bola

Sifat mengagumi sesuatu itu hal yang wajar, tapi jika berlebihan itu bisa mengakibatkan kita diluar batas. Sepak bola memang olahraga yang paling digemari orang banyak, dan nggak sedikit orang terlalu mengagumi sampai besifat fanatik dan lupa diri.

Misal, Endoy ini suka tim Persikosa. Saking kagumnya, dia selalu memakai jersey tim sepak bola tersebut, atribut dan accesoriesnya pun tak luput dia koleksi. Dimulai dari seprei tempat tidurnya, bantal, guling, poster, syal, gelas, bahkan gambar celana dalamnya pun logo dari tim sepak bola favoritnya juga.

Endoy juga hapal pemain, tim sukses, jadwal tanding, dan isu transfer pemain baru yang berhubungan dengan tim Persikosa itu sampai dia juga tak jarang beradu argumen dengan supoter tim sepak bola lain dengan merendahkan mereka.

“Eh dasar tim sepak bola itu mah buang-buang duit. Tapi gak pernah juara, liat dong tim gue gak pernah buang-buang duit tapi sering juara.”

Nyatanya, sekarang malah tim sepak bola favorit dia yang terpuruk, kalah terus, dan malah sering membeli pemain dan membuang-buang uang. Hih!

“Sorry ya, Persidep gak butuh pemain itu~”

Nah kemarin gue denger fans fanatic salah satu tim sepak bola ngomong kayak gitu. Sontak buat gue kesel aja. Kenapa? Jelas nyatanya tim Persidep terang-terangan nawar pemain itu buat dibeli. Kenapa dia bilang gak butuh? Tuh orang udah kayak jadi anak yang punya tim sepak bola itu. Mendingan deh apa tuh orang sering jogging di stadion tuh tim sepak bola? Sok tau banget. Endingnya? Tim nya kalah mulu, malah kalahnya sama pemain yang ditawar buat dibeli sama tim sepak bola favoritnya lagi. Emh, Jleb!

Suruh Orang Introspeksi Tapi Sendirinya Gak Pernah Introspeksi

“Gak punya temen yang ngomong tanpa introspeksi dulu. Ah E’ek!”

Kemarin gue lagi stalk TL twitter dan nemu tweet salah satu temen gue kayak di atas. Gue pun langsung mengusap dada.

Emang dia udah introspeksi dulu? Kebanyakan orang bilang tanpa bercermin pada diri sendiri apa dia udah sempurna? Sebaik-baiknya orang yang berintrospeksi diri adalah orang yang melakukannya tanpa mengeluh apalagi menganggap dirinya sudah sempurna. Manusia itu nggak ada yang sempurna, mau punya temen yang sempurna nyari dimana pun nggak akan pernah ketemu. Justru saat kita mencoba menjadi lebih baik, temen pun akan lebih baik. Jadi fokus aja ke diri kita sendiri. Tanpa harus,”Nggak ada orang yang ngomong tanpa introspeksi diri dulu.” Meh~

Membandingkan Tanpa Mengintrospeksi

Sebagian orang tua masih memiliki sifat seperti ini. Jarang ada yang membanggakan anaknya. Ada orang tua yang bilang anaknya bodoh, tapi mereka tidak pernah mau mengajarkan sendiri kepada anaknya dengan car a mereka. Mereka malah hanya diam, menonton, dan membantu dari segi finansial bukannya perlakuan atau praktek.

Sesungguhnya orang tua yang baik itu yang mau mengajarkan anaknya bukan dari dia masih bayi, lucu, dan menggemaskan saja. Tapi apa masih bisa mengajarkan anaknya yang sudah remaja dengan sifat yang labil mereka? Jika bisa, baru mereka adalah orang tua yang hebat.

Nggak perlu deh membandingkan anak dengan orang lain, toh didikan mereka juga beda dengan kita, sifat dan emosi mereka juga jauh berbeda. Sedikit membanggakan itu lebih baik daripada membandingkan tanpa mengintrospeksi. 


Yap, segitu dulu aja yang bisa gue tulis. Memang masih banyak lagi hal yang dilakuin tanpa introspkesi terlebih dahulu. Intinya, buatlah diri kita menjadi lebih baik dan menghilangkan prasangka buruk dalam diri agar hidup damai dan indah. Kalo ada hal lain yang bisa ditambahin, kalian boleh share di comment box ya!

Selamat bermalam minggu. *clink*

{ 4 Komentar... read them below or Comment }

  1. Gue cuma pengen nanya. Katanya lo bisa dapet duit, tp hanya karena nulis Blog. Itu gimana sih caranya ?!

    azizkerenbanget.blogspot.com

    BalasHapus
  2. Kayaknya kenal ceritanya bal hahaha

    BalasHapus

Mohon beri komentar yang baik dan sopan. Semua komentar kalian pasti gue baca dan balas. Terima kasih sudah menyisihkan waktu, tenaga, dan biaya kalian untuk membaca postingan ini. Semoga tulisan gue ini berguna.

- Copyright © Muhammad Iqbhal - masisibal - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -