Posted by : Muhammad Iqbhal Kamis, 20 November 2014





Nama dan wajahnya masih bisa gue inget sampai sekarang, seorang bidadari yang diturunkan oleh Tuhan dan sekarang dia telah kembali kepada-Nya. Bidadari yang tidak memiliki sayap tapi bisa terbang di setiap ruang hati gue. Yang membuat sempurna bukan wajah dan tubuhnya, tapi cerita kita yang membuat masa muda itu benar-benar masa yang indah karena dibumbui cinta.

***

Pagi yang sejuk sehabis hujan di malam hari itu, setelah membuka pintu rumah dan berdiri di teras, gue melihat pepohonan yang menempel di dinding pagar rumah di hinggapi embun pagi, suasana yang masih pagi itu belum terlihat orang-orang berlalu-lalang di jalan depan rumah gue, karena saat itu jam masih menunjukkan pukul 6 pagi. Saat itu gue masih tinggal di perumahan yang cukup elite di kota Bogor, Bukit Cimanggu City. Tepatnya di blok M415 dan bersebrangan dengan kolam renang umum Marcopolo.

“Bal, tolong kasih ini ke rumah sebelah ya.” Ucap nyokap dari dalam rumah.

“Iya, mah. Bentar.” Jawab gue sambill merenggangkan otot dan menguap karena masih mengantuk.

“Cepetan nanti keburu kuenya dingin!” Balas nyokap gue yang berusaha untuk memenuhi permintaanya.

“Iya, deh.” Jawab gue sembari malas-malasan melaksanakan permintaanya.

“Tolong kasih kue ini ke rumah sebelah ya. Mereka tetangga baru kita pindahan dari Jakarta, jadi tolong kamu kasih kue ini secepatnya soalnya nanti mereka keburu kerja, katanya mereka pergi kerja suka pagi-pagi karena kantornya di Jakarta.” Ucap nyokap gue yang panjang lebar sampai bisa membuat gue ngantuk dan pengen untuk tidur lagi, kalau bukan hari senin dan pergi kesekolah, mungkin gue bakal tidur di meja makan karena mendengar omongan nyokap yang selalu jadi nina bobo gue.

“Iya mah, iya.” Gue pun langsung mengambil kue buatan nyokap itu dan mengantarkan ke rumah sebelah gue, M416.

Gue lihat gerbang rumahnya masih tertutup rapat, tapi tidak digembok. Gue lihat rumahnya sepi tapi pintu depannya terbuka. Gue ucapkan salam juga tapi tidak ada jawaban. Akhirnya, gue mencoba masuk ke dalam rumahnya, setelah membuka gerbang gue mencoba mengucapkan salam lagi di depan  pintu rumahnya yang terbuka.

Hampir 3 menit, nggak ada balasan, mungkin penghuni rumahnya sedang siap-siap untuk pergi bekerja seperti apa yang dikatakan nyokap gue. Rumah yang cukup besar, dipadu dengan cat warna dominan putih itu seperti istana yang tidak berpenghuni, gue berusaha nekat memasuki rumahnya walaupun nanti sebenarnya ada orang di dalam rumah itu.

Setelah gue masuk ke dalam ruang tamu, gue mencoba untuk menaruh kue itu di meja. Tapi, saat gue mendekati meja itu, ada suara seseorang sedang menuruni tangga.

“Hay, maaf ya tadi lagi di kamar, jadi nggak denger kalau ada orang manggil didepan rumah.” Ucap seorang cewek berkulit putih yang memakai kaos hitam dan celana pendek yang membuat gue tengsin.

“Errr.. Anu.. Maaf juga aduh udah masuk kerumah kamu se’enaknya gini.” Jawab gue dengan muka malu karena tingkah gue yang semena-mena masuk rumah orang tanpa ijin.

“Iya, maaf juga yah lama. Ada apa yah?” jawab cewek itu sembari senyum memperlihatkan gigi putihnya yang rapi seperti tuts piano.

“Ini disuruh nyokap nganterin kue buat disini, rumah aku di sebelah.” Jawab gue sambil menunjuk ke arah luar rumah.

“Oh gitu, wah makasi banyak yah. Maaf papa dan mamaku udah berangkat kerja dari jam 5 pagi, jadi cuma ada aku doang disini.”

“Oh iya gapapa. Emm kalo gitu, aku pulang dulu yah, siap-siap mau sekolah. Oh iya, kue buatan mamaku enak loh, dihabisin yah.”

Setelah itu dia cuma menjawab dengan senyuman. Senyuman pertama yang nggak pernah buat gue lupa.

Setelah kejadian itu, gue langsung pergi kerumah dan siap-siap untuk berangkat sekolah, saat itu gue masih duduk di bangku SMP kelas satu, dan jarak tempuh ke sekolah gue cuma naik angkot sekali aja.

Tapi, pada hari itu juga, sepulang sekolah, hujan turun sangat lebat saat gue masih diangkot yang hanya berisi 4 penumpang saja. Hujan dan angin yang kencang membuat jendela angkot berembun dan jarak pandang keluar hanya beberapa meter saja.  

“Sial!” ucap gue didalam hati.

Gue emang nggak pernah bawa payung, tapi gue selalu bawa jaket setiap berangkat sekolah. Bukan karena gue lagi sakit sih. Cuma supaya seragam putih nggak kotor aja. Alesan.

Saat gue turun dari angkot, gue mencoba untuk berteduh disebuah halte didepan komplek rumah gue. Karena tempat duduk dihalte itu penuh sama orang yang ikut berteduh juga, akhirnya gue berdiri sambil memasukkan tangan dikantong jaket sampai menunggu hujan berhenti.

“Hei.” Ucap seseorang dari belakang sambil menyentuh pundak gue.

“Eh, kamu..” Jawab gue sambil membalikkan badan yang ternyata dia adalah cewek yang tinggal dirumah sebelah gue tadi.

Gue lihat dia sedikit kebasahan dengan seragam sekolahnya sambil memeluk tas sekolahnya yang berwarna hitam, mungkin dia kehujanan juga.

Bibir manisnya kini menciptakan senyuman itu lagi, akupun membalas senyumannya.

“Kamu sejak kapan disini? Kek punya jurus menghilang aja.” Tanya gue yang memulai pembicaraan.

“Baru kok, tadi kan aku turun dari angkot, emang gak liat?”

Gue pun menggelengkan kepala. Entah kenapa gue mulai terhanyut dengan obrolan kita.

“Oh iya, aku Iqbal. Salam kenal.” Sambil menjulurkan tangan yang daritadi hanya menyimpannya didalam kantong jaket.

“Citra. Salam kenal juga ya.” Kita pun berjabat tangan seraya orang yang memang baru pertama kali kenalan.

Gue baru kali ini kenal sama orang baru, memang sih dikomplek rumah gue itu jarang ada anak seumuran gue, kalau ada pun itu jauh, kalo di ukur mungkin 134.234.252 jengkal.

Nggak lama, hujan reda, orang-orang yang lagi neduh dihalte saat itu udah mulai pergi walaupun gerimis masih terasa di ubun-ubun. Gue dan Citra memutuskan untuk pulang kerumah dengan jalan kaki, memang sih rumah kita dari depan komplek itu jauh dan biasanya naik ojek, tapi kalo sambil ngobrol itu perjalanan jauh jadi nggak kerasa. Beneran.

Saat itu gue ngobrol banyak tentang Citra, ternyata kita seumuran dan dan dia juga baru pindah sekolah di SMP Negeri yang nggak jauh dari rumahnya. Dia pindah dari Jakarta, karena bokapnya dipindahkan tugas ke Bogor oleh kantornya.

Tapi ditengah-tengah jalan pulang kerumah, hujan turun lagi dengan lebat, gue dan Citra kebingungan mencari tempat teduh karena kita udah didalam perumahan. Akhirnya gue melepas jaket dan memakaikannya ke Citra. Tapi gak jauh dari situ ada tempat berteduh.

“Huh.. Bentar lagi kita nyampe rumah nih, ujannya ngejailin banget. Sementara kita istirahat disini dulu aja, Cit..” Ucap gue menyuruh dia yang ikut berlari dibelakang gue.

“Hem. Iya, Bal..” jawab Citra sambil membukakan kupluk jaket yang sedari tadi melindunginya dari air hujan. Walaupun pakaian dan wajahnya yang cukup basah, dia masih terlihat cantik. Apalagi ditambah senyumnya, mungkin langit pun akan ikut senyum.

***

Setelah kejadian itu kita pun jadi lebih dekat. Berangkat bareng, bahkan kita sering janjian pulang bareng dari halte depan komplek rumah kita. Citra yang sering main kerumah gue, dan juga sebaliknya. Setiap sore kita sering keliling komplek dengan naik sepeda, jogging bareng setiap Minggu pagi, dan juga main basket di lapangan dekat rumah.

“Bal, bangun!” ucap seorang cewek yang suaranya gue kenal. Ya, itu Citra.

“Bal, ih udah siang ini, semalem pasti begadang deh ya?” entah berkali kali pertanyaan itu diucapkan Citra yang menyuruh gue bangun.

Citra emang sering bangunin gue kalo emang kita ada janji, saat itu kita emang pengen pergi jogging tapi karena gue yang begadang nonton bola, gue pun malas-malasan buat bangun.

Setelah gue terbangun lagi, gue kaget dan langsung liat jam, dan ternyata saat itu jam menunjukkan pukul 10. “Anjrit. Mampus gue pasti si Citra bakal nyubit-nyubit gue lagi nih.”

Tapi setelah gue bangun dan menuju keruang tengah, gue lihat Citra kayak membuat sesuatu.

“Hey Bal, akhirnya bangun juga.” Ucap Citra sambil menaruh sebuah kue di meja makan.

“Lah, kamu ngapain?” tanya gue penasaran sambil mendekat dan menarik kursi meja makan.

“Ini kue bolu coklat buatan aku. Wanginya enak gak?” jawab Citra sambil sedikit tertawa.

“Hah? Kue? Buat sendiri?”

“Enggak sih, aku dibantuin mama kamu, Ya kan Tante?!” Jawab Citra sambil menoleh ke arah dapur yang terlihat nyokap gue lagi memasak sesuatu.

Gue melihat ke arah nyokap dan dia hanya menoleh dan tersenyum.

“Kamu daritadi aku bangunin, tapi gak bangun-bangun jadi sambil nunggu kamu akhirnya aku bikin kue deh.. hehehe.” Ucap Citra sambil memperlihatkan senyum manisnya itu lagi, dengan celemek yang dia pakai, kecantikannya pun tetap terlihat.

Selain cantik wajah, nggak gue sangka ternyata Citra juga jago masak dan baik hati. Gue mulai merasakan apa itu sebuah perhatian, kenyamanan, dan juga kebiasaan yang spesial bareng Citra.

Gue ngerasa Citra bisa jadi orang satu-satunya yang bisa memberikan semangat saat gue jatuh, dia yang bisa selalu ada saat gue cuma ngeganggu dia, nggak pernah sungkan untuk saling terbuka, dan jadi teman baik masa muda.

Gue emang nggak pernah nembak atau semacamnya, bukan gue takut kebiasaan kita bakal berubah setelah cinta itu diungkapkan.

Tapi, gue nggak bisa ngelakuinnya karena Citra harus berpulang duluan ke Yang Maha Kuasa karena penyakitnya, Leukimia. Dia nggak pernah sedikit pun cerita sama gue, orang terdekatnya pun nggak pernah. Gue dikasih tau, kalau selama dia yang nggak ada saat gue hubungin dia, ternyata Citra itu sedang berada dirumah sakit, tapi saat dia udah bisa dihubungin malah gue rasa dia memang menjawabnya seakan-akan nggak terjadi apa-apa. Dia bisa menyembunyikan rahasianya yang cukup dalam.

Gue nggak tau kalau ternyata dia mimisan itu bukan karena kebentur sesuatu, tapi emang penyakitnya itu kambuh. Gue nggak pernah tau kalau dia selalu ijin pulang saat kita lagi seru berdua, ternyata dia sembunyi dibalik tembok rumahnya sambil membersihkan darah yang keluar dari hidungnya.

Setelah dia udah pergi, gue sempet berada disampingnya saat dirumah sakit sebelum dia dikuburkan. Gue menyampaikan sebuah pesan, “Makasi ya, hari-hari yang kamu berikan buat aku, temenin aku dimana dan kapan aja, membuat hari ini memang penuh dengan kebahagiaan. Kenapa kamu nggak bilang? Kenapa kamu nggak kasih tau aku? Kalau memang kamu jujur, mungkin aku jauh lebih baik ngejaga kamu dan bakal buat lebih indah daripada hari kemarin. Citra, bahagia ya disana. Tolong kasih tau aku terus kalau aku bandel. Walaupun kita udah nggak bisa bersama lagi.”

Ya, kata-kata terakhir gue sampaikan ke Citra sambil mencium keningnya. Mungkin ini bukan soal usia gue saat itu. Bukan soal cinta yang hanya bisa dinikmatin oleh orang dewasa. Awalnya gue bakal menutup rapat cerita ini, tapi apalah.. semakin kita melupakan, semakin itu selalu teringat.


Memang cinta itu nggak harus memiliki. Tapi, setidaknya mengakui.

{ 2 Komentar... read them below or Comment }

Mohon beri komentar yang baik dan sopan. Semua komentar kalian pasti gue baca dan balas. Terima kasih sudah menyisihkan waktu, tenaga, dan biaya kalian untuk membaca postingan ini. Semoga tulisan gue ini berguna.

- Copyright © Muhammad Iqbhal - masisibal - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -