Posted by : Muhammad Iqbhal Minggu, 23 November 2014




Ketika mentari datang, kulihat dirimu berjalan menuju kelas yang menjadi tempat berteduhmu seharian dan mendapatkan ilmu setelahnya. Tak ada yang bisa kulakukan selain melihat keindahanmu dari jauh.

Namanya Shifa, dia mempunyai senyum yang manis ditambah behel yang menghiasi di mulutnya. Aku sangat menyukai cara dia berjalan, seperti ratu di kerajaan mimpi. Rambut yang ter-urai panjang hitam sepunggungnya itu menambah daya tariknya yang membuatku semakin terhipnotis akan semua radiasi kecantikannya.

Tidak ada hal yang istimewa yang sering kulakukan selain hanya menatapnya dari jauh, lalu menebarkan senyuman tanpa pamrih. Awal aku melihatnya saat kelas 1, sekarang aku duduk dibangku kelas 3 SMA. Sesekali aku ingin mengenalnya lebih jauh, lalu berbagi obrolan dengannya walaupun sekedar menyapa.

Cinta tanpa bertuan ini selalu saja membuatku bahagia sekaligus bingung. Karena aku menyayanginya lebih dari sekedar tidak ingin kehilangan kebiasaanku mentap dia berjalan.

“Woy! Bengong aja lo, pagi-pagi entar kesambet loh~” Ucap Endoy yang memukul pundakku yang sedang memergoki sedang melihat Shifa.

“Errr.. bikin gue kaget aja lo.” Jawab gue sedikit kesal.

“Ngeliatin siapa sih lo?” sambil mencari-cari sesuatu yang sedang aku tatap.

“Ciyee.. Kalo suka, tembak!” ucap Endoy meledek gue.

“Ngok! Lagian apaan sih lo, sok tau.” Gue ngeles dan langsung pergi tanpa peduli apa yang dikatakan Endoy.

“Eh mau kemana? Tungguin gue dong.” Ucap Endoy yang berlari mengejar gue.

***

Ketika jam menunjukkan pukul dua siang, bel pulang sekolah berdering menandakan aktivitas belajar-mengajar dihari ini berakhir. Seperti biasanya, kaki melangkah dengan sendirinya ke arah tempat dimana aku memperhatikannya. Saat itu kulihat dia belum keluar dari kelasnya, kubersedia menunggu sendiri seperti seorang lelaki yang bersedia mengantarnya pulang dengan selamat. Tapi aku bisa apa, nyatanya aku hanya bisa mengucapkan “hati-hati di jalan ya” dari jauh setiap dia keluar kelasnya dan pergi keluar gerbang sekolah.

Itu dia.. ucapku dalam hati ketika melihat dirinya yang sudah keluar kelas. Sungguh saat itu aku spontan mengeluarkan handphone dan ingin mengabadikannya. Jika nanti kita lulus nanti dan nggak pernah bisa ngeliat dia, aku bisa melihatnya di gallery foto handphoneku. Tapi, saat ingin mengklik dan mengambil fotonya,

“Woy! Lo lagi foto apaan?” ucap Endoy yang tiba-tiba ada di punggungku sambil melihat ke arah handphone yang siap mengambil objek untuk difoto.

“Sikampret! Eng.. ini.. Eng.. gue mau foto taman sekolah kita aja kok, bentar lagi kan kita mau lulus, ya jadi kita nggak bisa duduk-duduk disini lagi kan? Iya gitu.” Ucapku dengan gugub lalu menaruh dengan cepat handphoneku ke dalam saku seragam yang ada di dada kiri.

“Em masa? Kok tadi di-zoom gitu, fokus ke si....”

“Eh udah ah, ke kantin yuk, gue lagi ngidam sup kaki meja nih~” sebelum Endoy melanjutkan pembicaraannya gue potong lalu buru-buru kabur dan lari ke kantin dengan gaya Mr. Bean.

“Eh kemana lo? Kebiasaan ninggalin gue mulu. Eh.. Eh.. “

GUBRAK!

Suara seperti orang terjatuh terdengar dari belakangku, dan ternyata benar, yang jatuh adalah Endoy, dia sepertinya kesandung akar pohon yang besar yang berada di taman sekolah dengan kepala jatuh ke tanah dengan posisi kayang.

“Bhahak! Lo kenapa, Ndoy? Sini buru berdiri, gue bantu.”

“Anjir sakit banget, coy.” Jawab Endoy sambil merapikan seragamnya yang kusut karena terjatuh tadi.

Saat Endoy terjatuh tadi, semua orang melihat kita. Nggak sedikit yang mentertawakan. Oh, no. Shifa juga melihat kearahku dan Endoy.

Entah ada yang aneh saat hari itu, baru pertama kalinya Shifa melihatku, yang biasanya aku itu abu-abu yang tidak pernah sedikit pun di dunia dia, selama hampir 3 tahun, dan kini dia melihatku. Mungkin ini sepele, tapi bagiku ini kemajuan saat aku mulai menyukainya.

Esoknya, seperti biasa dipagi dan pulang sekolah aku melakukan hal yang sama, tapi ada hal yang tak terduga setelah pulang sekolah, mungkin saat itu kelasku terlambat keluar kelas setelah bel pulang sekolah telah dibunyikan. Sehingga saat itu aku tidak bisa melihat Shifa, dia sepertinya sudah pulang. Kelasnya kosong tak ada orang, tapi saat aku menengok ke arah belakang. Kulihat dia sedang berjalan sendiri menuju ke arahku. Keringat dingin keluar seperti sedang ditodong sebuah pistol di kepalaku.

Detak jantung yang berirama cepat, membuat mukaku pucat dan tak bisa menggerakkan badan ini untuk berpindah tempat. Semakin dekat dia mendekat, semakin diri ini membeku. Akhirnya dia berada di belakangku sekarang. Itu adalah jarak terdekat aku dengannya. Tiada yang mengira pengecut sepertiku ini pantas untuk mendapatkan momen seperti ini. Tapi saat kuberanikan menengok ke belakang, dia ternyata melihatku. Oh my god. Matanya indah sekali.

Tak kusangka ini kedua kalinya mata kita bertemu, setelah kejadian kemarin. Sekarang aku dan dia bisa saling bertatapan dengan jarak dekat. Jika waktu bisa berhenti sekarang juga, aku tidak ingin lepas dari tatapannya. Tapi apalah kuberkhayal terlalu lebay.

“Woy, Bal! Gue cariin lo ternyata disini.” Ucap seorang cowok yang sepertinya gue kenal. Ya, siapa lagi kalo bukan Endoy. Dia emang orang yang suka ganggu, paling nggak bisa ngerti orang bahagia sedikit.

“Eh nonton DBL yuk gue udah beliin tiket nih kita balik dulu kerumah  ganti baju mandi biar wangi Nggak usah pikirin deh wangi buat siapa.” Lanjut Endoy tanpa titik dan koma. Entahlah aku nggak bisa nolak ajakannya saat itu. Tapi, Shifa? dia sudah pergi.

DBL itu kompetisi basket antar SMA se-Nasional dan setiap tahun memang diselenggarakan di kotaku, Bogor. Hari itu adalah tim sekolahku main. Aku memang suka basket sejak SMP, sejak saat SMA, aku memang sempat ikut ekskul basket, tapi hanya sebentar karena tidak ada teman lagi karena teman-teman SMP bersekolah di SMA lain.

Akhirnya aku dan Endoy pergi nonton basket di GOR Padjajaran yang tidak jauh dari sekolah dan rumah, jaraknya cukup dekat jika naik motor. Pertandingan SMA 7 Bogor dimulai jam 5 sore melawan SMA 1 Bekasi. Tapi, bukan Indonesia namanya kalo nggak telat. Ya, dijadwal ditulis pertandingan jam 5 sore tapi nyatanya dimulai jam 7 malam dan berakhir jam 8 malam dengan kemenangan SMA 7.

Baru setengah pertandingan tadi Endoy terpaksa pulang duluan karena ditelfon oleh mamanya. Akhirnya aku pulang sendiri. Walaupun pertandingan sekolahku sudah beres, aku masih menonton pertandingan setelahnya. Pertandingan terakhir hari itu dimana SMA 9 Bogor melawan SMA Regina Pacis Bogor.

Akhirnya pertandingan DBL dihari itu berakhir, semua penonton pun mulai meninggalkan stadion basket di GOR Padjajaran itu. Saat diriku menuju ke parkiran, kulihat seorang cewek yang tak asing dimata ini. Shifa?

Ya, benar. Itu Shifa? Tidak seperti biasanya dia sendiri, biasanya dia selalu bersama teman-temannya. Dia berdiri memegang handphone seraya orang yang sedang menunggu. Kumelihatnya dari jauh sambil berdiri ditempat lain, melihatnya (dibaca:menjaga) agar dia tidak kenapa-kenapa.

Setengah jam dia masih berdiri dan menunggu, sepertinya dia mulai bosan dan kesal. Tak lama setelah itu, aku pun beranjak mengambil motorku yang terparkir tidak jauh dari situ. Kuberanikan untuk mendekati Shifa,

“Hey.. Ng.. Shifa ya? gue Iqbal satu sekolah sama lo. Kok belom balik?”

“Iya. Ini lagi nunggu dijemput.” Jawabnya dengan dengan santai. Baru kali ini kudengar suaranya. Sungguh merdu, cocok dengan wajahnya yang cantik.

“yakin dijemput? Daritadi gue liatin, yang ngejemputnya gak dateng-dateng. Kalo nggak keberatan, gue anter lo balik yuk. Tenang aja, gue bukan cowok jahat yang suka nyulik cewek cantik buat dijadiin pacar kok.. hehehe..”

“Em.. Gapapa nih beneran?”

“Iya gapapa kok.”

Akhirnya malam itu aku pulang bareng Shifa, cewek yang dari dulu kukenal tapi tak berani untuk berkenalan.

“Cewek cantik, malem-malem gini nggak baik loh sendirian.” Ucapku membuka pembicaraan dimotor denga n Shifa.

Kulihat dari kaca spion, Shifa hanya tersenyum. Entah apa yang mungkin yang dia jawab atau dia tidak ingin diriku tau. Sepanjang perjalanan kita hanya terdiam tak ada obrolan atau sepatah kata pun. Dan tibalah didepan rumah Shifa, dia turun lalu mengucapkan terima kasih, hanya itu saja. Aku tak tau lagi harus apa. Aku pun langsung pulang kerumah, dengan membayangkan momen yang terjadi seharian tadi.

Setelah kejadian itu aku pun tidak pernah diam-diam lagi memperhatikan Shifa. Bukan, bukan maksudnya menjauh. Tapi kali ini kita lebih sering ngobrol bahkan pulang bareng. Awalnya sih karna Endoy yang bisa dapet nomer handphonenya Shifa dari si Kevin, tukang pulsa disekolah. Jadi hampir semua nomer handphone anak sekolah ada di daftar riwayat pembelian pulsanya si Kevin. Sungguh ide Endoy memang cemerlang, selain suka mengganggu kebahagiaan orang, dia juga ternyata bisa diandalkan dalam masalah membahagiakan.

Pernah ada suatu momen yang memang terkenang buat kita berdua. Tepatnya di hari ulang tahun Shifa, saat itu aku sengaja memilih satu cafe buat kita makan bareng setelah pulang sekolah. Aku sengaja pura-pura tidak tahu tentang ulang tahunnya pada hari itu. Sampai tiba saatnya memesan makananan, aku sudah merencanakan bahwa nanti pelayan cafe membawa makanannya yang ternyata kue ulang tahun. Dan nggak cuma itu juga, ada alunan musik dari band cafe yang ikut menyanyikan ulang tahun kepada Shifa.

Wajahnya kulihat sangat gembira dan bahagia saat itu, dia pun mengucapkan terimakasih kepadaku seraya orang yang paling membuatnya bahagia dihari itu.

Tak terasa juga waktu kelulusan sudah tiba, dan saat acara prom-night tiba, aku ingin mencoba mengutarakan semua perasaan ini. Tak mengira saat dia datang, semua mata tertuju padanya, memakai dress merah dan rambut yang terurai panjang. Cantik.

Aku terpesona melihatnya. Seperti melihat bidadari yang dari dulu kulihat, tanpa berubah sedikit rasa ini mengaguminya. Shifa memilihku sebagai pasangannya saat itu, kita berdua seperti kekasih yang paling romantis pada acara malam itu.

“Shif, ada yang pengen aku sampein.” Ucap gue kepada Shifa yang sedang duduk bersama diriku di meja bundar yang saling berhadapan.

“Iya, apa Bal? Aku juga mau ngomong sama kamu.” Jawab Shifa yang membuat diriku semakin penasaran.

“Eng.. kamu duluan deh.”

“Loh kok? Yauda, aku cuma bilang kalo aku diterima di IPB. Dan nggak jadi buat kuliah di Bandung, aku lebih milih kuliah di Bogor aja. Makasih ya, selama ini udah ngedukung dan ngebantu aku selama belajar. Mungkin kalo nggak ketemu kamu malem itu, di Gor. Nggak tau deh nasibku gimana. Sejak kenal kamu, aku berubah, gara-gara kamu sering ngajak aku ke toko buku sih dan ngajarin aku tiap ada tugas.” Penjelasan yang panjang tadi, membuatku semakin percaya diri untuk mengungkapkan perasaan ini kepadanya.

“Iya, sama-sama, seneng kok bisa  bantu kamu.” Jawab gue yang ikut senang.

“Nggak cuma itu, kamu sering ajak aku jalan, nonton, dan main ke tempat-tempat yang buat aku seneng. Makasih ya.” Jawab dia masih dengan wajah yang gembira, tapi saat itu dia menggenggam tanganku.

“I.. Iya..” jawab gue dengan gugub.

“Ka.. kalo gitu, aku juga mau ngomong, kalo itu semua karena aku sayang sama kamu, Fa. Apa kamu mau jadi pacarku?”

Tiba-tiba Shifa melepaskan tangannya yang dari tadi menggenggam tanganku.

“Maaf, Bal.. Aku udah ada yang punya.”

Entah kenapa dada ini pun sesak setelah mendengar respon dari Shifa. Entah aku yang patah hati karena Shifa udah ada yang punya atau.. ah sudahlah. Padahal diriku tak pernah tau kalau Shifa itu sudah punya pacar, selama kita dekat, dia tidak pernah memberitahu bahkan tidak pernah seperti cewek yang sudah punya pacar.

“Aku sama dia udah pacaran 3 tahun. Sebenernya kita LDR, tapi saat ini dia pulang ke Bogor, dan aku ingin menikmati setelah kesabaranku selama 3 tahun ini nunggu dia. Maaf ya, Bal.” Ucap Shifa dengan nada pelan, mencoba menjelaskan semuanya.

***

Sesuatu yang kita inginkan kadang tidak semua jadi kenyataan. Berdasarkan cerita di atas, mungkin rasa mengagumi bukan menjadi penyesalan. Tapi belajarlah dari keputusan itu sendiri. Karena yang terbaik dimata kita, belum tentu terbaik di mata Tuhan.

Kalau kita udah berusaha membahagiakan seseorang, yakinlah Tuhan pasti akan memberikan kebahagiaan itu kembali kepada kita dalam bentuk tidak harus pada orang yang sama. Membahagiakan pasangan itu kebutuhan, bukan kewajiban.
Nggak ada kata menyesal saat mencintainya. Selama kita menjadi yang terbaik, Tuhan akan memberikan yang terbaik.

Leave a Reply

Mohon beri komentar yang baik dan sopan. Semua komentar kalian pasti gue baca dan balas. Terima kasih sudah menyisihkan waktu, tenaga, dan biaya kalian untuk membaca postingan ini. Semoga tulisan gue ini berguna.

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Muhammad Iqbhal - masisibal - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -