Posted by : Muhammad Iqbhal Rabu, 29 April 2015




 “Cita-cita itu bukan saja tentang harapan, tapi perjuangan.”


Tahun 2012, saat itu gue masih berseragam SMA datang ke sebuah toko buku. Saat itu gue belum pernah mengenal buku. Disana gue hanya iseng membaca tanpa membeli. Saat itu gue berjalan mengelilingi setiap rak buku. Awalnya gue mencari sebuah buku tentang jurusan sekolah gue dulu, Sains. Buat gue, ilmu pengetahuan alam itu luar biasa. Kita sekarang pun kalau menganggap sepele pasti bakal skak mat kalau ditanya:

Kenapa sapi putingnya banyak?

Kenapa musim hujan tingkat kehamilan itu tinggi?

Duluan manakah antara telur, ayam, dan kandangnya?

Ya, dengan itu gue dulu lebih suka membaca hal tentang ilmu pasti. Tapi, saat gue berjalan ke sebuah rak buku bertema “Novel” gue menoleh ke kanan dan ke kiri yang banyak judul unik, menarik, dan penasaran, nggak tau kenapa gue tiba-tiba mengambil hampir semua buku disitu dan membaca sinopsisnya.

Damn!

Ternyata banyak buku itu yang memang sama dengan kisah perjalanan hidup dan asmara gue. Gue semakin tertarik setelah gue baca tentang isinya yang beberapa hal sama dengan yang gue alami. Dulu. Dan saat itu.

Gue dulu nggak paham tentang hubungan, tentang kepercayaan, apalagi kesetiaan. Tapi buku yang merubah gue untuk lebih baik. Entah beberapa mantan pacar gue sebelumnya selalu gue sakitin. Dan gue baru sadar setelah lulus sekolah(saat itu). Dengan buku, gue bisa memperbaiki dan harus melakukan apa. Gue semakin tertarik soal buku, dan punya penulis favorit sendiri.

Awalnya gue selalu membaca buku, sering dan semakin sering. Uang jajan pun selalu gue tabung untuk membeli buku. Sampai saat gue bener-bener kehabisan uang, gue nggak makan apalagi jajan. Dulu, setiap buku yang gue beli setiap halamannya selalu gue buka dan raba dengan halus karena gue tau, membelinya butuh waktu, pengorbanan, dan uang.

Semakin tertarik dengan buku dan membaca, semakin tertarik gue untuk menulis. Ya, nggak lama dan masih di tahun itu, gue mencoba menulis. Awalnya emang kaku, nggak heran kalau gue nulis tentang asmara tapi endingnya malah jadi cerita Shinchan -____-“

Gue dimulai menulis cerita pribadi, sampai akhirnya itu terbiasa. Bisa karena terbiasa. Menulis cerita pribadi bukan seperti diary, tapi menceritakan tentang hidup sendiri dengan maksud memberikan pelajaran kepada orang lain bahwa kisah kita itu memang nyata dan di akhiri solusi.

Sebelum mulai menulis gue memang bukan pribadi yang cukup baik dan jarang menghargai yang pada akhirnya sering kehilangan dan menyesal. Tapi setelah menulis, gue bisa introspeksi diri dan juga bisa memperbaiki.

Orang mau bilang gue jahat. It’s oke. Tapi itu dulu, itu semua pelajaran, kenangan, dan juga masa lalu. Gue sekarang sadar, dan nggak mau seperti dulu lagi. Karena kesalahan nggak bisa diperbaiki dimasa lalu, dengan menulis, gue bisa memperbaikinya.

Kenapa gue yang tadinya suka membaca jadi ingin menulis? Ya, setiap kita membaca pasti ada keinginan  untuk menulis. Tulisan setiap orang itu berbeda, kadang kita sendiri ada yang setuju, dan membantah, maka semua itu dituangkan lagi ke sebuah tulisan baru. Tulisan kita.

Kembali lagi soal gue udah lulus sekolah. Alhamdulillah bukan cuma lulus, tapi gue juga jadi peringkat pertama dan terbaik. Gue jadi raja saat acara perpisahan. Bangga kah? No. Tujuan hidup gue bukan untuk jadi nomer satu. Tapi jadi inspirasi orang lain dan membuat orang terhibur akan karya gue. Maka dari itu, gue nggak kuliah.

Banyak orang menyayangkan kecerdasan gue yang nggak dilanjutkan ke jenjang kuliah. Untungnya orang tua gue ngerti, mereka mengikuti kemauan gue. Dan disana gue kenal Blog. Blog adalah cara gue menyalurkan tulisan gue ke publik. Disana gue bisa baca sendiri tulisan gue, orang lain pun.

Awal-awal gue memang belum punya pembaca. Tulisan gue cuma dibaca satu orang, gue doang. Tapi gue tetep terus nulis sampai nggak kerasa udah setahun. Menghasilkan kah? Emang nggak, tapi gue bisa lega karena hampir semua pengalaman hidup dan asmara gue yang nggak pernah bisa dilupain bisa dikenang dalam bentuk tulisan.

Lewat setahun, gue udah berani share tulisan gue di media sosial dan ikut komunitas blogger. Dan gak gue sangka traffic blog gue naik drastis dan ada yang komen di blog gue, Wow! Sederhana tapi bahagia.

Disana gue semakin mengembangkan tulisan gue lagi, sampai akhirnya gue kehabisan uang. Gue setiap hari nulis, beli buku, baca, nulis lagi, gitu terus. Titik terendah gue pun datang. Kuota internet abis, gak punya duit, dan bahan bacaan pun habis. Saat itu gue sampai suka nulis di warnet, sekedar nulis di Ms. Word nya. Nggak cuma sekali gue ke Gramed jalan kaki dari rumah, bulak-balik karena nggak ada ongkos maupun bensin, betis pun berubah kayak gas elpiji 3 Kg. Buku bacaan yang udah lebih dari 3 lusin pun gue jual demi uang makan. Gue nggak mau merepotkan orang tua karena memilih jalan sendiri. Saat gue inget lagi dulu, dan nulis ini. Gue senyum-senyum sendiri. Karena saat gue inget. Betapa besar perjuangan gue buat jadi seorang penulis.

Selanjutnya ada temen blogger gue yang nawarin gue untuk menuangkan tulisan gue menjadi sebuah buku. Buku? Yes, dia serius. Ada sebuah penerbit yang lagi seleksi penulis novel. Disana gue baca spesifikasinya, ternyata sama dengan genre yang gue anut. Komedi. Ya, gue lebih suka cerita gue yang serius bisa menjadi menarik jika dibumbui komedi.

Disana gue daftar dengan memasukkan alamat blog, sosial media, dan lain-lain. Penerbit ngasih waktu 3 bulan buat kita nulis di blog dengan tulisan terbaru, mereka bakal diam-diam visit dan baca.

Bersaing dengan penulis lain se-nusantara, melawan malas maupun pesimis, dan juga materi. Itu semua gue lakuin demi membuahkan cita-cita gue. Menjadi penulis buku. Lu tau musuh dari penulis itu apa? Mood? Bukan. Tapi writer-block, saat nggak ada inspirasi, bosan, atau pesimis. Disitu, kunci gue cuma satu melawannya, Pejamkan mata, ingat nama ayah dan ibu kita, berdoa, lalu ingat wajah orang yang menjadi sumber inspirasi kita menulis. Dan juga senyumnya.

Jadi, tentukanlah dulu menulis itu untuk apa dan untuk siapa :)

Masih berkutik dengan menulis, hari pengumuman seleksi pun sudah tiba. Gue menerima sebuah e-mail tentang tulisan gue cocok untuk penerbit itu. Dan gue dapat kontrak menulis dan menerbitkan buku. Ya, gue jadi bener-bener seorang penulis.

Sekarang buku gue pun udah terbit. Judulnya Aku, Kau, dan Siraru. Isinya tentang pengalaman gue pribadi dikemas secara komedi. Dan editor gue menambahkan cerita itu sedikit, supaya lebih menarik. Karena itu demi ketertarikan pembaca. Gue pun nggak bisa menolak. Maaf, jika ada sedikit yang tidak sama percis. Dan sedikit ditambahkan.

Bukan lagi menerbitkan buku, gue pun sekarang bisa mendapat royalti dari penjualan buku gue yang sedikit lagi menjadi peringkat pertama. Terima kasih pembaca, 79% pembeli buku gue adalah followers twitter gue, sisanya saudara, sohib dan teman-teman gue.

Bahagiakah gue sekarang bisa menjadi penulis dengan penghasilan yang cukup?

Nggak. Karena ada satu lagi harapan gue yang belum tercapai.  Dulu, gue untuk mendapatkan orang yang gue sayang, gue sadar kalau gue bukan siapa-siapa. Gue belum berani mendekat. Gue pun pergi untuk berjuang menggapai cita-cita lalu gue baru berani ketemu dia lagi. Dan saat waktunya, gue ketemu dia, sungguh gue ngerasa lebih pede karena gue bisa bahagiain dia dari hasil keringet sendiri, royalti karya sendiri, dan harapan itu.

Maka dari itu, gue terus memilih untuk menulis. Sampai kapan gue menulis? Ya, sampai gue nggak bisa menulis lagi.

Gue percaya setiap orang punya kisah perjuangannya masing-masing. Tapi, satu hal yang bisa membuat mereka bisa mencapai kesuksesannya adalah ketekunan. Kalau belum sukses juga? Tandanya belum cukup tekun. 

{ 6 Komentar... read them below or Comment }

  1. Wah.. Selamat ya uda punya buku.. Enaknya jadi penulis tuh pas nerima royalti.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo pengin jadi penulis, jangan pernah ngincer royalti. Tapi, enaknya jadi penulis saat tulisan kita bisa diterima orang banyak. Ya itu namanya prestasi.

      Hapus
  2. Keren banget nih tulisan. Sederhana tapi bikin senyum2 sendiri. Kisah yg menginspirasi saya dalam menulis. Doakan saya bisa mengikuti jejak ente jd penulis buku bro..

    BalasHapus

Mohon beri komentar yang baik dan sopan. Semua komentar kalian pasti gue baca dan balas. Terima kasih sudah menyisihkan waktu, tenaga, dan biaya kalian untuk membaca postingan ini. Semoga tulisan gue ini berguna.

- Copyright © Muhammad Iqbhal - masisibal - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -