Posted by : Muhammad Iqbhal Minggu, 26 April 2015

-@tikahn


Jatuh cinta memang nggak kenal siapa pun. Kepada siapa pun. Pernah berpikirkah kita jatuh cinta kerana apa? Entah itu jatuh cinta karena pesona dia, penampilan, tutur, atau juga kebaikannya. Tapi ada satu lagi yang nggak bisa kita ngerti. Yaitu kebiasaan.

Sebagian orang lebih banyak jatuh cinta karena pesona dan juga penampilan. Mungkin awal kali memandangnya seperti itu. Karena apa yang kita lihat adalah penampilannya dulu. Selanjutnya tutur dan juga kebaikannya, tapi jarang yang singkron antara penampilan dan tutur. Kata Souljah,”Tak selalu, yang berkilau itu indah~”

Zaman sekarang susah mencari orang dengan penampilan yang menarik, sekaligus tutur yang baik. Karena nggak selamanya wajah mencerminkan sifat bawaan. Gue udah sering jatuh cinta kerana penampilan, disana gue bisa simpulin satu hal, “Cantik itu relatif.  Tapi, cantik juga belum tentu rapi, tapi rapi udah pasti cantik.“

Dulu, gue juga pernah melepas orang terbaik demi orang yang sempurna. Endingnya gue kehilangan yang terbaik dan pasti yang sempurna juga nggak menjamin kita bisa memilikinya. Ya gue juga kehilangan dia.

Terus, wajar nggak kita jatuh cinta lalu jatuh lagi? Gue sendiri jawab iya. Seberapa pun besar cinta kita pada seseorang, di depan nanti kita pasti diberi ujian untuk mencintai orang lain(lagi). Entah nanti kita sudah memilikinya atau masih sekedar mencintai. Mendua juga bukan salah, mendua itu pelajaran. Yang salah adalah menyakiti(lewat kata/ucapan) dan berbohong. Jika hati mendua juga bukan karena sebab kan? Sifat yang berubah, nggak tahan karena kekerasannya, dan juga sudah terjawab rasa penasarannya(memiliki kita). Ini juga bukan cuma berlaku buat cowok aja. *Disini juga bukan gue menyetujui orang yang mendua. Cinta itu satu, setia pada komitmen. Kecuali kesetiaan itu dirusak, cinta hilang, lalu cinta mencari hati yang lain.

Disini gue bahas tentang mencintai orang yang salah atau nggak. Orang Jawa dulu bilang, ”kalau ingin mencari pasangan, carilah yang sesuai bibit, bobot, dan bebetnya”. Asal dari keluarga kalangan mana, kedudukan atau jabatan, dan juga harta sekaligus penampilannya. Yang kita kira sudah sesuai dengan kita. Tapi selama kita sesama manusia, apa cinta memandang itu semua?

Ada temen yang curhat sama gue, intinya dia di kasarin sama cowoknya, dia cerita tentang semua perlakuan cowoknya yang suka mukulin dia, dan lebih parah lagi dia suka disundut rokok sama cowoknya. Gue bisa liat dari mata dia kalau dia sayang sama cowoknya, terbukti dia nggak pernah ngelawan dan ninggalin cowoknya saat itu juga. Dia nangis dalam diam.

Gue yakin juga kok dia itu emang cinta. Dia terlalu bodoh untuk nggak berani meninggalkan. Dia bilang udah pernah mencoba pergi, tapi cowoknya selalu maksa ketemu dan berjuang bahkan sampai nangis-nangis. Cewek pasti punya perasaan yang jauh lembut dibanding cowok, dan dia pun memaafkannya.

Gue kasih solusi buat dia sekarang tegas untuk meninggalkan cowoknya itu. Dia tanya kenapa, gue jawab selama dia pacaran aja suka dipukulin apalagi saat mereka udah nikah nanti dan dilihat sama anak-anaknya. Dia pun masih mengelak, “Tapi kita kan udah pacaran 3 tahun, nggak semudah itu melepasnya, Bal.” Oke, gue ngerti. Dan saat itu dia langsung diam saat gue bilang, “Hubungan kalian udah terlalu jauh. Itu yang buat dia kasar sama kamu. Karena dia udah dapet tubuh kamu. Bener kan?”

Dia pun langsung pamit meninggalkan gue.

Gue paham cewek memang nggak bisa lepas dari cowok yang dia percaya. Tapi apa mau terus mempertahankan orang yang salah? Mau sampai kapan untuk maju? Hidup itu ke atas bukan datar ataupun malah kebawah, buat kamu jadi hancur. Cari pasangan yang bisa buat kamu bertambah dewasa karena dia, berambah pintar, dan juga bahagia. Kadang meninggalkan dan merelakan adalah kebahagiaan yang tertunda.

Jujur, kemarin gue jatuh cinta sama seorang cewek, bukan karena pandangan pertama, apalagi kebiasaan. Saat itu kita lagi sama-sama sendiri. Dia merespon gue selayaknya teman yang hanya sekedar bertanya dan bercanda. Sekarang gue baru bisa nyimpulin kenapa gue bisa jatuh cinta sama dia, dia cantik, dia baik, dia mandiri, dan tentu dia dewasa. Saat gue ngobrol sama dia entah kenapa gue bisa terbuka sama dia tentang dunia gue, sebelumnya gue nggak pernah terbuka sama orang lain apalagi orang yang baru kenal. Disana dia juga merespon dengan ngasih masukan-masukan yang buat gue kagum.
Tapi kadang kita suka menjauh, lalu mendekat lagi, dan menjauh lagi. Entah sampai kapan kita terus kayak gitu. Sampai sekarang gue juga bertanya, apa gue mencintai orang yang salah?

Semakin gue mencoba dekat dengan dia, semakin dia cuek. Semakin gue berusaha mendapatkannya, semakin sulit untuk gue raih. Pernah kita ngobrol berdua saat ketemu, itu momen sederhana dan bahagia buat gue. Tapi saat kita nggak ketemu, entah dia seperti orang yang bukan gue temui tadi. Apa ada orang lain dihatinya? Tapi apa arti terbukanya dia saat kita mengobrol langsung, menceritakan semua yang terjadi tentang lingkungannya.

Terakhir ketemu, saat itu gue jemput dia dan gue anterin ke kantornya. Dia bawel sama dunianya, dia nggak bisa diem sama lingkungannya, dia manis saat senyum. Itu dulu. Gue sadar sekarang mungkin mencintai orang yang salah. Selama kita dekat aja, gue terus merasa sakit hati. Jatuh cinta memang sepaket sama sakit hati, tapi apa dia orang yang gue cinta ketika belum yakin mencintainya pun sudah merasakan sakit? Bukan gue maksud berhenti berjuang. Tapi gue cuma mau berhenti sakit hati. Bukan gue juga menyerah. Tapi mungkin gue terlalu payah buat dia di banding cowok lain yang mendekatinya.

Gue nggak rela hatinya direbut orang lain, yang tentunya juga salah. Gue nggak mau dia mencintai orang yang salah. Mungkin bahagia dia bisa melupakan gue. Mungkin perjuangan dan doa ini udah sampai disini untuk dia. Dan saat gue nulis ini, jujur gue sakit hati mengingatnya. Merelakan senyumnya untuk dilupakan. Dan membiarkan perhatian dia diberikan ke cowok lain.  Walaupun dulu gue cuma pengen perhatian itu.


Mengabaikan cinta orang itu gampang. Tapi perasaan nggak semunafik itu.


Terima kasih telah mengijinkan gue untuk mencintaimu. Terima kasih juga telah mengenalkan lagi apa itu rasa cinta. Sekarang semoga kita bahagia di kehidupan masing-masing. Tanpa ada penyesalan dikedepannya.

{ 4 Komentar... read them below or Comment }

  1. Gue udah 6 bulan pacaran, dan udah mulai banyak konflik. Dia sering bikin kecewa, udah janji mau ketemu pun dia suka lupa. Kalo lagi sibuk dia ga pernah ngabarin dan gue kadang cape harus selalu ngertiin dia, tiap gue mau ngomong serius dia selalu ngalihin pembicaraan dan malah bercanda. Sorry curcol hahaha. Cuma pengen tau menurut kamu sbg seorg cowok, gue harus gmana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekarang kabar kamu sama dia gimana? Mungkin sekarang dia bahagia, entah sendiri atau sama yang lain. Atau malahan kamu udah bersama dia sekarang? Dan kamu bahagia?

      Maaf komen ini dibalas 6 bulan kemudian, sama seperti hubungan kalian dulu saat kamu nulis komen di atas. Cowok mungkin bisa bosen saat masanya 6 bulan pacaran. Itu wajar kok. Intinya mungkin dia ada maksud atau memandam sesuatu. Kalau memang lagi bosen, ya coba jalanin sendiri dulu, jalan sendiri, hang out sama temen2, bukan putus. Inget.

      Gue sering bilang ke orang-orang. Dalam pacaran pasti ada konflik, kalo konfliknya terus-terusan itu adalah tanda kamu harus introspeksi diri, mungkin kamu yang salah. Nggak salamanya dia juga salah. Kalo kamu udah ngelakuin hal baik tapi dia tetep mengecewakan kamu juga, itu terserah kamu. Dia bakal nyesel kok nyia-nyian kamu, dia pasti nyesel kalo kamu ambil keputusan ninggalin dia pada saatnya nanti.

      Cowok itu kadang suka gak bisa ditebak maunya apa, makanya cewek selalu bilang cowok gak peka. Selama hubungan masih berjalan apa salahnya untuk saling mengerti satu sama lain. Daripada udah gak bersama atau belum bersama tapi bingung untuk kembali.

      Hapus
  2. Aku udah pacaran 5 thn tapi gak pernh ad perubhan gitu" aja kadanh jenuh sama keadaan sampai tiba satnya dia selingkuh saat hun qta baik" saja dan saat itu pula aku membuka hati untuk oranh lain (mantan) sempet balikan sama mantan juga tapi cuman sesaat akhirnya kita menjalin hub yang udah ruksak, tpi entah kenapa perasan itu sampai saat ini masih tapi aku tak berniat untuk memilikinya kembali (mantan)
    Karena hub yang terlalu lama ini jika berakhir akan banyak orang yang tersakiti terutama orang tua, meskipun orang tua lelaki aku belum ada keseriusan tapi orang tua ku berharap lebih sama hub ini karena dia terlalu baik sehingga aku pun sulit untuk begitu saja melepasnya
    Apa perasaan aku sma dia karena kasian ? Apa perasaan aku sama mantan itu bener* nyata atu hanya sekedar penasaran

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih sayang sama mantan itu wajar. Karena memang dulu dia pernah jadi yang spesial di hati kita. Balikan juga bukan jadi masalah, karena manusia itu bisa berubah jadi lebih baik.
      Faktor luar, kayak teman atau orang tua itu wajar dan akan memang selalu ada untuk mendukung atau tidak mendukung. Pilihan selalu ada di tangan kamu. Hubungan kamu ya milik kamu, kamu bukannya robot yang patuh disuruh-suruh.
      Intinya, yakinin hati kamu untuk milih siapa dan harus apa. Kalau cuma rasa kasian, ya kedepannya kamu bakal ngejalanin setengah hati, bisa dia yang mencintai tapi kamu akhirnya hambar/biasa aja. Bisa juga itu cuma akal-akalan dia dengan ngelibatin faktor luar.
      Mau hubungan banyak yang nggak setuju, banyak yang tersakiti itu namanya perjuangan. Seberapa besar perjuangan kamu, hasilnya gak pernah mengkhianati. Insya Allah bahagia :)

      Hapus

Mohon beri komentar yang baik dan sopan. Semua komentar kalian pasti gue baca dan balas. Terima kasih sudah menyisihkan waktu, tenaga, dan biaya kalian untuk membaca postingan ini. Semoga tulisan gue ini berguna.

- Copyright © Muhammad Iqbhal - masisibal - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -