Posted by : Muhammad Iqbhal Jumat, 15 Mei 2015



Hallo semua!

Maaf seminggu ini gue nggak ngeblog. Bahkan sekedar nulis aja nggak, gue sakit dan mungkin karena gue kecapean kerja. Gue maksain kerja selama seminggu ini dalam keadaan badan drop. Non stop. Sehabis kerja gue langsung tidur, yang biasanya nulis. Bangun tidur langsung kerja lagi. Tapi hari ini gue mutusin buat pulang, diem dirumah dan istirahat seharian. Dan meninggalkan sekejap pekerjaan.


Kenapa gue maksain kerja? Karna buat gue, pekerjaan itu nomer satu karena itu tanggung jawab. Iya, cowok itu bisa dinilai dari tanggung jawabnya, sehari aja dia lepas tanggung jawab dia belum tentu cowok terbaik. Sedangkan cewek terbaik itu adalah cewek yang nggak pernah lepas ngasih perhatian dan bodo amat dalam sehari pun ke cowok yang dia cinta.

Banyak juga hal yang gue lakuin selain kerja, gue harus promo buku. Dan minggu depan mungkin Bandung kota pertama buat jadi tempat promo buku gue. Nggak kerasa udah dua bulan buku gue terbit. Dan Alhamdulillah udah ratusan eksempelar terjual. Gue nggak bisa pastiin siapa aja yang beli, dan gue nggak lebih peduli tentang itu. Gue cuma pengen karya gue jadi konsumsi positif dikalangan pembaca. Dan kemarin gue dapet e-mail yang isinya begini.



Gue terharu dan ngerasa akhirnya inilah pendapat yang gue tunggu-tunggu.

Udah cukup ngobrol tentang buku gue. Gue nggak mau dikira sombong atas pencapaian gue. Gue ngomong enak bukan berarti dulu gue nggak pernah ngerasain roda hidup berputar dan tepat berada ‘dibawah’. Hanya segelintir manusia yang tau dan diri sendiri yang mengerti bahkan merasakannya.

***

Kali ini gue bakal bahas tentang asmara. Kemarin banyak banget yang minta gue bahas ini di blog. Bukan gue nggak mau nulis, tapi hasil tulisan atas tuntutan orang lain dan nulis atas kemauan diri sendiri itu hasilnya bakal beda. Sekarang gue ada waktu buat nulis. Walaupun gue nulis ini sambil minum obat.





Mungkin sekarang musim sakit. Baik hati maupun fisik. Tapi buat gue itu sama aja, saat kita sakit fisik, kita masih punya orang yang cinta kita untuk menyembuhkan. Sedangkan saat kita sakit hati, kita masih punya fisik untuk melawan dan ada yang lebih pantas memilikinya dengan penuh ketulusan.

Ada orang bilang ke gue, “So tau lo bang soal cinta. Kayak pernah ngerasain cinta aja yang sekarang udah jomblo lama juga. Lo ngomong seenak mulut lo, tapi buat kita ngelakuinnya nggak semudah itu. Lo enak ngasih solusi itu, kita nolak tapi lo malah jadi nggak peduli gitu lagi. Urusin aja diri lo yang miskin soal cinta. Paling ketika lo jatuh cinta juga orang itu nggak akan nerima lo karena ke-so-tau-an lo itu.”

Itu salah satu e-mail dari ratusan yang gue baca. Gue marah? No. Gue cuma balas “:)”.

Yang ngirim e-mail itu adalah cewek. Dan bukan pembaca setia tulisan gue, dia cuma sekedar curhat yang mungkin tau dari temennya kalau gue suka jadi pendengar curhatan orang. Langsung maupun nggak. Gue nulis ini buat jawab tentang itu, nggak berharap orang yang nulis itu juga baca.

Semua yang dia tulis itu semuanya... That’s true.

Why? Jujur aja, orang pasti bakal mengira pendengar yang baik pasti adalah orang dengan so’ tau yang tinggi. Padahal mereka yang meminta kita untuk memberi solusinya, tapi saat udah dikasih, dia nolak habis-habisan padahal gue nggak pernah maksa untuk ngelakuin itu. Gue selalu jawab “Tinggalin aja dia~” dan bla.. bla.. bla..

So, itu bukan seenak mulut gue kok. Gue baca atau denger keluh kesah kalian dan menyaring masalah apa aja yang kalian alami. Kalau memang menurut gue harus selesai dan nggak mungkin dilanjutin lagi, ya kenapa nggak gue kasih solusi untuk kalian meninggalkan dan ikhlas melupakan. Gue juga mikir kedepannya kok, kalau kalian mikirnya dan yakin akan berubah menjadi lebih baik. Gue nggak marah kalau solusi gue nggak di dengar. Yang menjalankan kalian sendiri, yang merasakan kan hati kecil kalian sendiri :)

Gue emang nggak pernah mengumbar saat jatuh cinta di sosial media, saat pacaran, atau tentang mantan-mantan gue. Tolong jangan pernah nilai gue yang sebenernya kayak apa dan seolah tau semua tentang gue, masa lalu atau apapun. Gue udah pernah ngejalanin apa itu rasa menyayangi, berjuang buat seseorang yang gue sayang, mengabaikan orang yang sayang banget sama gue, bahkan dikhianati dengan mendua oleh yang gue percaya dan gue sayang. Tuhan meminjamkan mata-Nya buat gue supaya apa aja kelakuan orang yang gue sayang di belakang gue.

Nggak munafik. Dan kata-kata lo yang terakhir itu benar. (“Paling ketika lo jatuh cinta juga orang itu nggak akan nerima lo karena ke-so-tau-an lo itu.”) Ya, gue jatuh cinta kepada seseorang tapi dia nggak bisa menerima gue. Sakit? Terus apa yang gue rasain sekarang sampai gue ngerasain badan drop kayak gini yang sebelumnya sehat dan selalu bahagia karena orang sekitar? Mungkin ini pelajaran buat gue, gue nggak pernah menyesal buat jatuh cinta. Nggak pernah benci sama seorang yang nolak cinta gue. Tadinya cerita ini mau gue buat lagi jadi bahan tulisan gue, tapi..

“Sometimes, you just have to close your eyes to see what is real. Jatuh cinta itu untuk dirasakan, bukan diceritakan.” Bokap

Tadi sehubung gue ada dirumah, baru kali ini bokap respon obrolan gue tentang cinta. Gue tau, kita nggak bisa memaksa orang buat mencintai kita. Itulah kenapa, gue udah berubah dari yang dulu. Gue nggak seperi anak kecil lagi yang ingin sesuatu dan itu harus dimilikinya nggak peduli harus bagaimana. Sekarang gue harus bisa jadi orang yang memang mengerti dan dewasa memilih pilihan hidup. Dan menyelesaikan masalah dengan baik.

Banyak orang yang bilang,”Jika kamu mencari yang sempurna, maka kamu akan kehilangan yang terbaik.” Tapi itu semua berubah ketika,”Bagaimana ketika kita mencari yang terbaik, kita malah akan mendapatkan yang sempurna?”

Gue sadar ini mungkin memang balasan (bukan soal karma) atas masa lalu gue. Gue pernah mematahkan hati wanita. Dan ini mungkin balasannya yang sekarang hati gue dipatahkan oleh wanita. Padahal, gue udah ingin serius dan nggak mau sedetik pun main-main lagi. Gue mau pendamping gue nanti sekaligus pendamping hidup gue kelak. Gue nggak mau berlama-lama dalam harapan (saja). Kadang lelaki hebat adalah dia yang siap kapanpun dan apapun yang terjadi. Ketika gue jatuh cinta, gue sekaligus tanggung jawab bukan lagi belajar untuk di jenjang yang lebih serius atau saat gue dan dia sudah melingkarkan komitmen di jari manis kita masing-masing. Gue mau orang yang gue sayang dan spesial nanti adalah nyata dan selamanya. Gue nggak gampang jatuh cinta,  apalagi untuk bangun. Masa lalu udah banyak mengajarkan tentang hidup dan cinta. Sekarang gue harus hidup untuk cinta dan cinta untuk hidup.

Sekarang kalian boleh pilih seseorang yang kalian inginkan dan harapkan. Atau kalian memilih orang yang mencintai kalian yang siap apapun masalah hidup kedepan.

“Because, love is real” – The Hobbit 3.


Mungkin ini akhir dari tulisan kali ini. Seperti biasa, bisa kalian ambil pelajaran atau kata-kata gue. Tapi gue nggak memaksa kalian mengikutinya. Terima kasih telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk baca tulisan busuk ini. So, gue mau nyulik cewek dulu di hutan Amazon buat gue pacarin. Bye! :)))

Leave a Reply

Mohon beri komentar yang baik dan sopan. Semua komentar kalian pasti gue baca dan balas. Terima kasih sudah menyisihkan waktu, tenaga, dan biaya kalian untuk membaca postingan ini. Semoga tulisan gue ini berguna.

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Muhammad Iqbhal - masisibal - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -