Posted by : Muhammad Iqbhal Selasa, 30 Juni 2015


Suatu pagi yang cerah, tanpa masa lalu yang menyakitkan dan juga mantan yang menyebalkan, gue memandang pepohonan yang berada di teras rumah. Nggak ada hal yang lebih indah dari menghirup udara jam 6 pagi daripada stalking akun sosial media mantan yang baru putus dari pacarnya. Saat itu gue bersyukur, nggak akan pernah habis nikmat yang diberikan Tuhan kepada hamba-Nya yang terus menjalani hidup tanpa pernah putus asa.

Belum beres gue menguap, ada telfon yang berbunyi di saku celana gue.

*Terdengar nada dering dangdut koplo*

Saat gue cek, ternyata telfon dari temen gue, si Ujang. Entah ada angin apa, di bulan puasa ini Ujang yang biasanya tidur sehabis sahur sampai Maghrib tapi kali ini dia udah bangun.

Gue: Hallo?

Ujang: Hallo, Ih anjir, bau~ Lu belum mandi ya, Bal?

Gue: Lah kok tau? Gue nguap barusan, emang bisa kecium wanginya, Jang?

Ujang: Ng… Nggak sih. Oh maap, salah. Gue kan lagi pup nich~

Gue: KOPLAK! Ada apa nelfon pagi-pagi? Tumben lu nggak tidur sampai Maghrib lagi?

Ujang: Nggak, kali ini nggak. Ada sesuatu, dan sesuatu itu yang nggak bisa membuat tidurku nyenyak, Bal.

Gue: DASAR INDIA! Kenapa emang?

Ujang: Nanti gue ceritain, lu nggak sibuk kan? Gue mau curhat.

Gue: Nggak, yauda kita ketemuan jam 9 pagi di *******(konten ini di sensor, karena melanggar privasi kejombloan)…. Sedetik lu telat, lu nggak gentle. Bye!

Yah, setelah itu akhirnya gue dan Ujang ketemuan. Nggak ada hal yang bisa gue lakuin selain mendengar cerita Ujang dengan seksama. Dan dari cerita Ujang itu gue bisa mengambil pelajaran buat gue sendiri. Ujang menjadi korban penipuan berkedok token internet banking. Jadi bukan tentang Ujang yang teledor atau yang lainnya. Latar belakangnya, Ujang udah berusaha mencari uang dengan bekerja selama 2 tahun lebih setelah lulus SMA, uangnya dia kumpulkan untuk biaya dia kuliah. Tapi ada satu kasus dimana hacker menipu lalu mengambil tabungan Ujang. Kasusnya di internet.

Tabungan Ujang sudah terkumpul cukup untuk mendaftar kuliah dan biaya lain-lainnya. Saat Ujang ingin mendaftar kuliah, Ujang mencoba mengecek dan ingin transfer via internet banking salah satu bank swasta Indonesia ke nomer rekening calon kampusnya nanti.

Jaman sekarang memang lebih mudah, nggak seperti dulu yang harus pergi ke kampusnya untuk membayar pendaftaran, tes, dan berbagai macam. Cukup membayar dirumah saja dengan internet banking, mobile banking, atau paling ribet sedikit dengan atm terdekat. Ujang memilih kampus di Jakarta yang jauh dengan rumahnya yang di Bogor. Jadi, ditambah dengan pengetahuan Ujang yang cukup memadai, dia lebih memilih jalan dengan serba-internet(informasi, pendaftaran, tes, biaya, dll). Ujang mendapatkan calon kampusnya bukan dari dia merencanakannya jauh dari sebelumnya. Dia memang awalnya bingung memilih kampus dan jurusannya. Dan kampus yang dia inginkan sekarang pun dipilih baru tiga hari yang katanya dia tertarik akan kelebihannya, yang dijabarkan di internet.

Tapi kasusnya bukan tentang situs palsu atau nomer rekening palsu. Ujang terlalu pintar untuk ditipu seperti itu. Tapi, kasusnya adalah saat dimana Ujang mentransfer biaya kuliahnya yang cukup besar via internet banking, Ujang awalnya santai dan bersikap biasa, nomer rekening yang dituju sesuai dari situs resmi tempat calon kampusnya, mengecek jumlah biaya pun sudah sesuai, dan Ujang tinggal mengklik “Ya”. Tapi, saat dia klik, yang keluar adalah Ujang diminta membayar token listrik dahulu. Ujang paham saat itu, karena buat apa dia membayar token listrik. Saat itu Ujang men-cencel-nya. Tapi yang terjadi malah mengulang lagi. Ujang pun memasukkan dari awal, dan tetap muncul harus membayar biaya token lagi. Ujang pun kesal dan mungkin dia kira itu iklan. Saat dia setuju mengklik membayar token, layarnya pun muncul dengan transaksi sukses.

Saat dia cek saldo, jumlah yang dia bayar pun berkurang semestinya. Tapi, yang terjadi malah nama dia belum tercantum terdaftar di situs resmi calon kampusnya nanti. Dia pun mengecek dan terus mengecek dengan panik, dia menunggu keesokan harinya lagi karena mungkin memang belum update, tapi sampai batas terakhir pendaftaran golongan terakhir pun nama Ujang belum tercantum. Ujang langsung pergi ke bank pusat. Disana Ujang malah dipusingkan dengan penjelasan yang tidak dimengerti pihak bank kalau Ujang telah melakukan transaksi internet banking yang valid. Ujang mencoba menjelaskan semampunya dengan membawa riwayat pembayaran, screenshoot, dan lain-lain. Dan yang terjadi bank tersebut member Ujang selembar kertas yang isinya bahwa pihak bank tidak bertanggung jawab atas hal itu.

Gue bisa merasakan hal yang Ujang rasakan saat itu, Ujang yang tadinya ceria setelah dia menceritakan musibah yang dia alaminya membuat gue mematung dan bisu.

“Gue bingung, Bal. Mau gimana lagi yah, gue udah coba lapor ke kantor polisi, tapi mereka ya tetep minta biaya untuk mengintrogasinya juga. Gue nggak tau itu. Dan uang gue pun nggak cukup buat itu, lagian kalau hasilnya nihil, malah tambah parah. Gue nggak tau lagi harus gimana. Gue ikhlas, tapi gimana sih rasanya lo tau kan? Kesel bercampur sedih.” Ucap Ujang yang saat itu gue liat dia hampir pasrah dengan semuanya.

“Gue ngerti kok. Gue tau rasa gimana berjuang, bekerja, berusaha, berdoa agar tercapai, tapi pada akhirnya kayak gini. Tapi lu pikir lagi deh, selama lu berbuat baik untuk mendapatkan sesuatu, lu akan mendapatakan hasil yang baik juga. Mungkin ini yang terbaik, mungkin kalau lu diterima di kampus itu, lu bakal kenapa-kenapa nantinya, Tuhan sayang sama hamba-Nya yang baik. Makanya mungkin musibah ini jadi jalan buat lu makin mengerti, bahwa perjuangan yang sia-sia juga bukan berarti itu nggak ada hikmahnya.” Jawab gue sambil menatap Ujang yang masih murung menundukkan kepalanya.

“Tapi, Bal. 2 tahun nggak sebentar, seharusnya gue jadi mahasiswa yang berilmu, yang akan jadi orang pintar.” Bantah Ujang yang terus mengelak.

“Ilmu itu didapat bukan dari belajar di kampus doang. Lu belajar dari pengalaman orang lain juga, diluar sana, lu udah dapet ilmu. Dan ilmu itu bakal jadi pedoman di masa depan lu kelak. Kalau lu nggak akan pernah jatuh di lubang seperti itu. Ditambah lu bisa dapet ilmu dari buku kok. Bahkan internet. Semua bisa asal lu bisa baca dan mau mengerti. Itu aja.” Jawab gue dengan tegas.

Akhirnya Ujang mau mengerti. Dia pun percaya bahwa pada saatnya, usaha keras yang dia kerjakan sebelumnya akan ada hasilnya kelak. Gue pun paham satu hal yang terjadi pada manusia saat kehilangan semangat, materi, harapan, tujuan, bahkan orang yang dia sayang, semua pasti akan marah dan sedih. Tapi setelah kita tau atau merasakan kehilangan, kita juga harus belajar satu hal. Yaitu, menghargai.

Menghargai bukan hal mudah. Misal, saat orang lain ngomong dan menjelaskan, masih banyak orang yang tutup telinga, karena baginya penjelasan orang itu nggak berarti apa-apa dibandingkan pendapat dirinya. Itu salah. Nantinya kita akan kehilangan hak yang kita inginkan, jangan salahkan orang lain. Ngaca dulu.

Dan gue juga ngomong seperti ini, boleh aja kalian mengelak dan nggak setuju. Tapi harus diyakini juga, kalau pendapat kalian salah, bahwa kalian harus mengakui, pendapat yang baik itu siapa :)

Banyak orang yang baru menyesal setelah kehilangan. Banyak orang yang menyesal ketika menolak yang tulus setelah mendapatkan yang lebih buruk. Hidup itu mudah ketika semua sudah disiapkan. Apalagi hati dan perasaan.

Analoginya gini, ketika kita hidup di medan perang dan senjata yang dibutuhkan sudah disiapkan, mungkin takdir hidup kita semakin panjang. Dengan membela diri, dengan melindungi diri, dan siap untuk mati. Dan dibandingkan dengan orang yang nggak pernah menghargai yang dia punya, egois, arogan, dan sangat yakin dia nggak akan mati saat itu karena memiliki semuanya, itu akan menjadi bom bunuh diri buatnya. Bahwa hidupnya malah semakin tipis.

Tuhan mengambil sesuatu yang baik karena ada alasan. Ya, karena Dia sayang. Dan nggak mau orang yang disayang malah berubah menjadi tidak baik nantinya.

Gue disini pengen share tentang suatu hal. Bahwa hidup nggak selamanya hidup, maka dari itu kita harus siap kehilangan apapun. Sesuatu yang sangat kita sayang pun.


Kita Harus Siap Kehilangan Barang Yang Kita Sayang

Semahal, sebagus, secantik, sekeren apapun barang itu, nggak ada artinya kalau kita nggak pernah berusaha keras mendapatkannya. Bukan berusaha keras merengek mengemis meminta uang kepada orang tua untuk mendapatkannya. Coba bayangkan, senikmat mana antara berjuang mendapatkan barang yang kita suka dengan berkorban, bekerja, dan hasil keringat sendiri dibanding merengek meminta orang tua? Ya, pasti lebih nikmat dengan hasil keringat sendiri dan akan cepat bosan jika kita hanya meminta saja. Itu semua balik lagi soal apa itu menghargai.

Tapi, setelah mendapatkan, ingatlah kedepan apa yang harus dilakukan. Yaitu mengikhlaskan. Bayangkan barang itu akan hilang, bayangkan barang itu akan dicuri. Dari situ kita harus siap ikhlas agar penyesalan nggak membuat kita hancur.


Kita Harus Siap Kehilangan Orang yang Kita Sayang

Kadang, sesakit-sakitnya ditinggalkan. Lebih sakit lagi ketika kita ditinggalkan ketika sedang seyang-sayangnya.

Mau sahabat, mau pacar, mau keluarga kita, kalau tiba-tiba diambil Tuhan kita bisa apa? Bukan maksud melarang untuk membatasi dalam menyayangi. Tapi siaplah ketika pada saatnya dia akan pergi. Yang harus kita takutkan bukan kehilangan orang yang kita sayang, tapi kita harus takut kehilangan diri kita sendiri. Kita mungkin bisa hidup karena mereka, tapi harus siap juga tanpa mereka.


Kita Harus Siap Kehilangan Segalanya

Seperti kasus Ujang di atas tadi, kehilangan uang, tabungan, jabatan, dan lain-lain itu bukan akhir dari segalanya. Kehilangan sesuatu yang masih bisa kita cari nggak perlu semenyerah begitu saja ketika sudah kehilangan. Apapun yang kita anggap segalanya, semua harus kita pahami. Bahwa semua itu adalah TITIPAN.

In the end, setiap hidup pasti akan kehilangan, sama kayak mati, kita semua pasti mati. Cinta nggak pernah mati selama itu kita hargai, lakuin yang kita cinta agar bisa ikhlas apapun yang terjadi nanti. Siap kehilangan bukan berarti kita panik, tapi siap kehilangan mengajarkan kita kuat dan hebat.

Seberapa siapkah kita kehilangan, seperti seberapa siapkah kita mati.

{ 2 Komentar... read them below or Comment }

  1. Termasuk kehilangan kesempatan, ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ketika kehilangan kesempatan, sebenernya masih banyak lagi kesempatan lain yang lebih baik. Gitu.

      Hapus

Mohon beri komentar yang baik dan sopan. Semua komentar kalian pasti gue baca dan balas. Terima kasih sudah menyisihkan waktu, tenaga, dan biaya kalian untuk membaca postingan ini. Semoga tulisan gue ini berguna.

- Copyright © Muhammad Iqbhal - masisibal - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -