Posted by : Muhammad Iqbhal Selasa, 20 Oktober 2015

Nama gue Iqbhal, gue tinggal di kota Bogor yang setiap jalan rayanya padat dengan kendaraan bermotor. Hampir setiap hari gue pulang-pergi menggunakan motor ke kantor. Jarak antara kantor ke rumah sekitar 18KM.


Dengan perjalan yang cukup jauh dan belum lagi ditambah macet dijalan, gue mengendarai sepeda motor hampir satu setengah jam perjalanan. Buat gue, mengendari sepeda motor itu menyenangkan dan aman, dengan catatan kita harus safety riding juga. Bukan cuma helm SNI yang penting dalam perjalanan gue tiap hari pulang-pergi ke kantor, tapi memang kudu banyak hal lagi yang harus gue pakai. Karena jam kerja gue dimulai dari jam 2 siang sampai jam 10 malam, gue harus memakai perlengkapan berkendara seperti jaket yang tebal agar tidak masuk angin dan melindungi badan dari kepanasan dan kedinginan, sarung tangan yang menutup dan melindungi punggung tangan gue dari terik sinar matahari dan udara dinginnya malam, celana panjang yang sama fungsinya melindungi dari panas dan dingin serta gesekan langsung dari permukaan jalan saat jatuh, sepatu yang melindungi mata kaki dan menahan motor dengan kuat ketika berhenti, dan harus memakai helm SNI yang melindungi kepala dari benturan ketika terjatuh serta kaca helm yang bening fungsinya melindungi dari angin, debu, ataupun benda asing seperti kerikil ataupun batu meteor.


Selain kita yang sudah safety riding, sekarang giliran keadaan motornya itu sendiri. Gue sebelum berangkat pasti selalu mengecek semua hal yang ada di motor, karena dengan kita teliti, kita akan selamat dari bahaya yang akan terjadi. Yang pertama gue selalu mengecek rem motor, karena rem itu paling penting dari kendaraan, gue paling sering terjadi masalah ketika rem motor gue salah satunya nggak berfungsi, entah karena oli rem depan yang bocor lalu habis jadi nggak bisa berfungsi, atau rem belakang yang kanfasnya habis. Gue merasakan sendiri, ketika mengendara motor memang selalu berhasrat ingin cepat atau ngebut, tapi kita juga harus mempunyai rem motor yang baik. Apalagi untuk rem depan, itu sangat penting buat gue, rem depan motor paling berpengaruh kita dalam mengerem, karena saraf paling dekat dari otak adalah rem depan yaitu dengan tangan kanan, dan karena motor gue adalah motor bebek, jadi rem belakangnya masih menggunakan kaki kanan, tapi tetap respon yang paling cepat dan rem yang paling pakem adalah rem depan.

Selain rem, lampu depan motor, lampu sein, dan lampu rem belakang motor juga sangat penting. Gue selalu ngecek semua keadaan lampu, ketika salah satunya mati, gue harus segera ganti, karena semua lampu tersebut itu penting. Kecuali lampu variasi yang warna-warni. Lampu depan berfungsi sebagai penerang jalan didepan kita ketika gelap saat berkendara. Lalu banyak yang masih bingung, kenapa siang hari juga harus dinyalakan lampu depan? Padahal kita nggak membutuhkan penerangan. Ternyata, lampu depan dinyalakan pada siang hari itu menurut studi di Jepang  berfungsi sebagai ‘perhatian’ pengendara lain ketika ada kendaraan yang tiba-tiba muncul. Selanjutnya adalah lampu sein yang berfungsi sebagai pemberi tahu kendaraan yang ada dibelakang maupun depan bahwa kita ingin belok ke kiri atau kanan. Serta lampu tanda berhenti berwarna merah(lampu rem belakang) sebagai pemberitahu kalau kita sedang mengerem atau ingin berhenti. Setelah semua itu terpenuhi, gue baru tenang dan AMAN untuk pergi berkendara menggunakan motor.

Ketika dijalan, rambu-rambu selalu gue perhatikan agar menambah kehati-hatian gue dalam berkendara, bukan cuma lampu lalu-lintas saja yang harus gue perhatikan, dijalan kecil yang bukan jalan raya yang ramai dan padat oleh kendaraan atau bisa juga di jalan komplek rumah pun selalu gue perhatikan dan nggak menganggap sepele, misal rambu lalu lintas seperti “Hati-hati banyak anak kecil”, “10km/jam”, “Zona selamat sekolah”, dan masih banyak lagi. Buat gue, itu adalah peringatan kecil untuk kita dalam membantu memberitahu jalan mana yang memang menuntut kita untuk pelan, dan lebih fokus lagi berhati-hati. Justru jalan kecil atau jalan komplek perumahan bukan berarti kita bebas mengebut, dan berkendara sesuka hati, justru jalan itu yang paling berbahaya kecelakaan.

Setelah melewati jalan kecil atau jalan komplek perumahan, gue baru masuk ke jalan raya. Dalam hal ini, kita juga pasti selalu harus dihadapkan dalam jalan pertigaan ataupun perempatan, disana kita dibantu oleh lampu lalu lintas, polisi ataupun polisi cepek/tukang parkir. Banyak yang mengabaikan lampu lalu lintas, padahal lampu lalu-lintas kini bisa disebut juga sebagai lampu keselamatan. Karena tidak ada polisi, pengendara kendaraan motor sekarang suka melanggar lampu lalu-lintas. Entah beralasan karena jalan sedang kosong atau sedang buru-buru, sehingga lampu merah dilihat sebagai lampu hijau. Di Indonesia beda dengan luar negeri, dalam jumlah kendaraan maupun keadaan jalan, dan gue protes dalam membandingkan di Indonesia dan di luar negeri, luar negeri memang teratur karena sumber daya manusianya yang baik, fasilitas jalan yang bagus, dan tentunya jumlah kendaraan yang lebih sedikit, itu semua bisa membuat lalu-lintas dinegara lain lebih tertib. Tapi, bukan juga di Indonesia tidak bisa tertib, sebenarnya kita bisa juga tertib, yaitu dimulai dari kita sendiri. Nggak peduli dengan orang lain dulu yang tertib, justru ketika kita tertib, orang lain akan ikut TERTIB. Di lampu lalu lintas sering kita melihat pengendara motor yang berhenti sembarangan melewati garis putih, atau berhenti di sebelah kiri yang bertuliskan ditiang lampu lalu-lintas “Belok kiri langsung”, itu adalah hal salah yang harus diperbaiki.

Nggak perlu buru-buru ketika lampu hijau menyala, nggak perlu berhasrat ingin terlihat kendaraan motor kita lebih cepat dengan melaju paling pertama. Tertiblah yang utama.

Selain lampu merah, kita juga dihadapkan ketika ada pengendara lain yang memotong jalan, entah keluar dari gang atau keluar dari jalan kecil. Buat gue, nggak ada salahnya kita untuk berhenti dulu dan mengalah, masih banyak orang yang nggak sabaran dalam berkendara. Buat mereka jalan yang mereka lalui adalah jalan yang harus mereka lalui terlebih dahulu dulu, baru orang lain yang berbelok ke jalurnya. Ketika itu terjadi, maka terjadilah macet. Ya, macet terjadi bukan hanya karena jumlah kendaraan yang banyak juga. Tapi, tentang kita yang tidak mau mengalah ketika ada kendaraan lain yang ingin berbelok ke jalur kita, tapi bisa juga dari kita tidak pernah mau mengalah. Dan anehnya, ketika kita yang memotong jalan, tapi orang lain yang tidak memberikannya, malah kita yang marah-marah. Cerdaslah dalam berkendara.

Selain itu, dijalan juga gue sering melewati jalur perlintasan kereta api. Gue sering melihat kendaraan didekat gue malah berhenti di jalur lawan perlintasan kereta ketika kereta api sedang lewat. Dijalur seberang pun sama, jalur kanan dan kiri  dipenuhi kendaraan. Gue bingung, apa yang terjadi ketika palang perlintasan kereta setelah dibuka? Apa nanti akan saling tubruk-tubrukan? Buat gue, itu yang menjadi PR setiap pengendara motor untuk sadar ketika tertib itu bukan cuma membuat diri kita selamat, tapi orang lain juga selamat dan tidak merepotkan serta meresahkan siapa pun.

Problem gue ketika berkendara adalah saat terjebak macet dijalan raya. Bukan sabar mengikuti kendaraan motor yang lain di depannya, tapi ini malah menggunakan trotoar yang berfungsi untuk pejalan kaki. Pelanggaran ini bukan hal sepele, tapi sudah berdampak parah terhadap pejalan kaki. Dulu, gue pernah melihat orang ketika berjalan ditrotoar jembatan yang ditengahnya sedang macet parah sehingga kendaraan motor pun tak bisa bergerak, akhirnya ada pengendara motor yang nekat menaiki trotar dan mengklakson pejalan kaki yang sedang berjalan, karena sebagai pajalan kaki yang menggunakan haknya dan tidak memperdulikan klakson motor tersebut, si pemotor pun langsung menabrak dari belakang si pejalan kaki, karena si pejalan kaki dianggap menghalangi si pengendara motor yang menabraknya, dia pun langsung memotret pengendara motor tersebut dan mengancam ingin menuntut ke pihak yang berwajib akan hal itu. Dan si pengendara motor pun meminta maaf dan memohon untuk tidak dilaporkan.

Buat gue, atas kejadian diatas memberikan banyak pelajaran. 

Terjebak macet bukan menjadi alasan kita melanggar peraturan, ibarat kita terkena sebuah masalah, kita nggak perlu merebut hak orang lain agar kita terhindar dari masalah. Justru itu yang akan memperparah masalah. Tertiblah ketika berkendara, sabarlah ketika macet melanda.

Dan hal lain lagi untuk para pengendara motor adalah menyusul kendaraan didepannya dari kiri yang sudah terlihat bahwa si pengendara didepannya ingin berbelok ke kiri dengan menyalakan lampu sein sebelah kirinya. Sebenarnya kita sudah diberitahu bahwa menyusul kendaraan lain dari sebelah kiri itu tidak diperbolehkan karena banyak resiko yang akan dihadapinya, misal seperti cerita gue di atas, bisa terjadi tabrakan ketika menyusul dari sebelah kiri dari kendaraan yang ingin berbelok ke kiri atau mungkin ketika ingin menyusul disebelah kiri siapa tau kendaraan di depannya sedang berhenti karena ada orang yang ingin menyeberang jalan.

Selanjutnya ketika berkendara motor saat hujan deras, buat gue nggak masalah dalam melanjutkan mengendarai motor ketika hujan deras telah menggunakan jas hujan. Tapi ada hal lain yang harus diperhatikan agar hati-hati. Ketika hujan deras beda lagi ketika kira berkendara ketika di cuaca yang cerah. Ketika hujan deras, kita harus memperhatikan jalan raya yang licin yang berakibat kita terpleset dijalan, banjir atau air yang menggenang dijalan juga berbahaya ketika kita menyepelekannya mungkin disitu bisa membuat mesin kita mogok karena air hujan yang masuk ke dalam mesin motor, menerjang banjir, atau ada lubang besar yang tertutup oleh air yang menggenang tersebut sehingga membuat kita terplosok masuk kedalamnya. Ketika hujan deras dan jarak pandang kita terbatas sebaiknya kita lebih  baik berhenti terlebih dahulu atau berteduh dipinggir jalan daripada melanjutkan tapi resikonya besar. Jangan pernah memaksakan berkendara sepeda motor ketika hujan deras. 

Lebih baik SELAMAT dengan menunggu reda, daripada basah kuyup dan hal lain yang membuat kita celaka.

Selanjutnya adalah ketika gue pulang kerja di malam hari, jam 10 malam bukan waktu yang ramai dijalan raya apalagi dijalan kecil yang sepi dari kendaraan yang lewat. Gue selalu waspada akan masalah itu, jalan sepi memang rawan terjadinya tindak kriminal maupun kecelakaan. Gue selalu siap sedia untuk tidak boleh mengantuk dalam berkendara sepeda motor, karena jika terjadi ngantuk, resiko kecelakaan pun akan menjadi besar. Nggak salah untuk kita berhenti dulu ketika mengantuk melanda kita dalam berkendara. Menghirup udara sejenak, minum, atau makan sesuatu agar kantuk kita bisa hilang.

Dalam jalan yang sepi kita pun was-was akan tindakan kriminal yang akan mengancam kita. Karena gue juga melewati jalan yang sepi dan pencahayaan jalan yang kurang, gue selalu membarengi dengan kendaraan lain, seperti mobil ataupun pengendara motor yang lain, maka gue bisa lebih tenang dalam berkendara di tempat yang sepi dan sudah larut malam tersebut.

Dalam berkendara motor juga masih banyak hal yang harus diperbaiki dan tidak boleh diulangi lagi, misalnya ketika kita ingin pergi walaupun tujuan kita dekat, kita harus tetap memakai helm, apalagi jika melewati jalan raya. Bukan alasan karena tidak ada polisi ataupun ada. Ini tentang keselamatan pribadi, gue walaupun pergi ke warung yang berjarak puluhan meter pun masih tetap menggunakan helm. Buat gue, kecelakaan bukan terjadi karen jarak yang jauh dan lalu lintas yang ramai, tetapi juga dijalan sepi yang kita kira akan baik-baik saja. Banyak pelanggar kendaraan motor yang tidak memakai helm beralaskan tujuan mereka cuma dekat, padahal dia tidak tau bahwa resiko kecelakaan pun semakin dekat dengan dirinya. Nggak ribet kok memakai helm, nggak lama kok memakai helm, lima menit pun nggak ada, terus kenapa kita malah menyepelekannya? Bukannya ketika kita menyesal adalah saat kita tidak menghargai hal kecil? Seperti memakai helm saat berkendara sepeda motor. Helm bukan sekedar accesories, ia juga sebagai alat keselamatan yang paling penting dalam melindungi kepala.

Selanjutnya adalah hal yang paling menyebalkan ketika kita berkendara dibelakang orang yang sedang mengobrol berdua di sepeda motor yang berbeda. Kenapa nggak ngobrolnya ketika sudah sampai saja? Atau jika memang penting mereka harus berhenti dulu kepinggir jalan. Bukan tentang udah jago dalam berkendara sepeda motor jadi bisa seenaknya dalam berkendara. Padahal sebenarnya kita berkendara tapi merepotkan orang lain.

Yang terakhir adalah memainkan handphone ketika berkendara sepeda motor. Apalagi menggunakan handphone yang layar sentuh, mungkin dia level mengemudinya udah dewa. Apa salahnya untuk berhenti dulu membalas pesan atau chat, menerima telfon dan lain-lain. Sebenarnya konsentrasi kita berkurang ketika bermain handphone saat berkendara, yang menelfon juga, dan adalagi sambil mendengarkan musik dengan keras. Selain konsentrasi yang berkurang, mungkin dia juga nggak akan bisa mendengar suara klakson kendaraan lain.

In the end, berkendara sepeda motor dengan tertib, aman dan selamat dijalan bukan hanya menjadikan kita taat peraturan. Tapi bisa membuat nyawa kita dan orang lain juga selamat. Satu nyawa itu sangat berarti, dan gue tutup tulisan ini dengan sebuah kalimat favorit gue, mungkin kalian juga pernah dengar kalimat ini,

“Lebih baik pelan yang penting selamat. Ingatlah. sebenarnya ada orang yang sedang menunggu anda dirumah.” #SAFETYFIRST



(Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Hoda Motor dan Nulisbuku.com)

{ 4 Komentar... read them below or Comment }

  1. kalau bukan kita sendiri yang memulai untuk tmenjadi pengendara yang baik, siapa lagi deh? :D

    BalasHapus
  2. "Berkendara Sepeda Motor yang Baik itu Dimulai dari Diri Kita Sendiri" naaaaah bener tuh...bukan cuma sepeda motor aja sih...harapan gue semua pengendara bisa lebih sopan..menghormati pejalan kaki, jangan pejalan kaki yang jalan di atas trotoar memang tempatnya bagi pejalan kaki malah diklakson-klakson kan bikin emosi tingkat dewa...trus ntar kalo ditilang polisi, belagak pilon...huaaaayinggg....

    BalasHapus
    Balasan
    1. (((huaaaayinggg)))
      Iya sih berharapnya semua pengendara lain juga. Tapi, tau gak kalau motor yang nyerempet mobil tapi yang disalahin malah yang bawa mobilnya? Masih banyak loh yang kayak gini harus dibenerin. Bukan alasan yang bawa mobil itu orang kayak aja.
      Maka dari itu ada istilah,"Kepribadian orang dinilai dari cara dia berkendara"

      Hapus

Mohon beri komentar yang baik dan sopan. Semua komentar kalian pasti gue baca dan balas. Terima kasih sudah menyisihkan waktu, tenaga, dan biaya kalian untuk membaca postingan ini. Semoga tulisan gue ini berguna.

- Copyright © Muhammad Iqbhal - masisibal - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -