Posted by : Muhammad Iqbhal Jumat, 09 Oktober 2015


-“Dateng sama siapa, Bal? Sendiri aja? Pacarnya mana?”

-“Kapan nyusul nih?”

-“Udah, nikah aja! Nanti tititnya keburu peot loh~”

Pler tapir.
Itu adalah daftar pertanyaan ketika gue pergi ke kondangan. Sendiri pula. Hampir tiap weekend ini banyak undangan pernikahan datang ke gue. Gue ngerti ini adalah bulan haji nan suci. Gue ngerti kenapa banyak yang nikah, gue ngerti. Oke sip.

Ini mah gue udah baik hati datang dengan segala pengorbanan. Sampe gue ditilang polisi di jalan karena terlalu tampan. Eh malah ditanya,”Kapan nikah juga?” Aduh. Pacar aja nggak ada, gimana mau nikahnya? Kawin aja ama jenglot gitu? Astagfirullah. Dosa, jom. Dosa.

Gue turut senang kok, ketika melihat temen-temen gue, saudara-saudara gue pada nikah. Mau mereka yang udah cukup umur, seumuran, kemudaan, atau baru jadi zigot udah nikah juga gue tetep turut berbahagia kok. Mereka yang bisa bersatu secara agama bisa hidup bersama selamanya.

Gue nggak pernah sedikitpun juga marah dan kesel dengan orang yang nanya kayak di atas tadi. Justru dengan itu, tandanya gue sedang di uji dalam hal mental, dalam niat, dan juga komitmen. Dimulai dari saudara-saudara gue ada yang mamerin pacarnya yang cantik, kaya, dan napak ke tanah pun gue nggak terdorong pengin punya pacar secepat mungkin dan bisa ngalahin cantik atau tajirnya pacar saudara-saudara gue.

Mungkin memang udah waktunya atau saatnya gue belajar buat berhubungan dengan cewek. Tapi, sebenernya gue udah cukup buat belajar. Cukup tau tentang hubungan itu sendiri. Saat belum waktunya gue pacaran tapi gue malah pacaran, gue malah dibilang “main cewek” di sebarin ke saudara-saudara gue yang lainnya sampai ke telinga gue lagi. Kampret memang. Gue dulu pacaran bukan berarti gue main-main, seandainya gue dulu belum pernah pacaran dan so cool jomblo tai ucing, mungkin sekarang gue jadi pribadi yang bobrok, brengsek, dan sama kayak cowok-cowok kurang perhatian dan gonta-ganti pasangan diluar sana.

Gue sadar, menjadi dewasa itu sulit dan lama. Dan memang butuh bantuan seseorang. Mungkin di keluarga gue, menikah cepat itu lebih baik bahkan dilihat lebih hebat. Tapi, gue selalu keluar dari kebiasaan itu. Buat gue menikah adalah suatu momen yang nggak boleh untuk disesali, menikah itu ibarat kita mempunyai tubuh yang lebih dari satu, ketika kita nggak pernah mengurus salah satunya, sama saja kita kehilangan bagian organ tubuh kita sendiri.

Nyokap juga cukup banyak memberi tahu gue soal menikah dan menjalin rumah tangga itu berat. Sangat berat. “Siap menikah” itu bukan hanya soal punya rumah dan gaji besar setiap bulannya. Yang harus lo punya juga adalah kemampuan menafkahi lahir sebuah keluarga. Tapi pernikahan jauh lebih besar dan kompleks dari sekedar menyediakan rumah dan uang belanja.

Bagaimana kesiapan mental dan emosi lo? Seperti apa kalau lo marah? Sudah pernah berantem hebat dengan pacar dan memaafin? Bagaimana lo mentolerir perbedaan kultur dan budaya seseorang?(ini buat lo yang mau menikah tapi beda suku/budaya) Bisakah lo menerima dan mendukung wanita yang ingin punya cita-cita dan karir sendiri? Apa pendapat lo soal peran suami dan istri? Siapa yang akan mengatur keuangan nanti? Siapakah yang akan mengurus uang? Apakah lo pernah teruji menghadapi godaan wanita lain?

Yang hanya bisa menjawab ini hanya lo sendiri. Selama lo masih muda. Kalau belum banyak menjalin relationship serius dengan seseorang, lo belum cukup banyak berlatih untuk menikah. Suami yang mapan tapi tidak siap mental dan emosi hanya menciptakan pernikahan yang memiliki rumah dan mobil tapi isinya neraka. Jadi sekarang mulai saja mencari pasangan dulu dan berlatih punya relationship. Jangan tergesa-gesa menikah. Ngerasain dulu bahwa pacaran serius aja banyak gak enaknya. Apalagi kalo menikah buru-buru. :)

Mending hidup sendiri daripada memaksakan hubungan yang dari awal kita nggak ada rasa sama sekali sama pasangan dan berharap rasa itu akan muncul ketika udah bersama dulu. Kalo nggak? Masih besar peluang nggak akan terjadinya juga, mz, mb.
Gue sadar, ketika kita mempunyai pasangan yang salah, pola hidup kita juga bakal salah. Coba bayangin kalo saat punya pasangan yang salah tapi dalam udah status menikah. Mau seumur hidup bakal terus kayak gitu?

Dalam mencari pasangan pun kita juga harus punya kriteria sendiri, kalo kita sendiri aja nggak tau pengen pasangan yang kayak gimana, Tuhan mau ngabulinnya juga gimana. Nomer satu itu nggak perlu soal fisik, kriteria utama itu harus yang bisa buat kita nyaman, yaitu sifat. Baik tutur katanya dan nyambung terus sama obrolan kita juga udah cukup. Cantik dan ganteng itu bonus. Sama kayak olahraga, tujuan olahraga kan itu buat sehat, kekar itu bonus. Kok jadi ngomongin olahraga gini? Ya, gapapa. Daripada ngomongin gebetan yang udah dapet orang baru. #Kampret #IniMahCurcol

“Bang, misalnya mental kita udah siap banget, tapi materi dan tabungan yang nggak siap, itu gimana?”

Mental dan materi itu harus seimbang. Salah satu nggak bisa lengkap, ya bakal pincang juga. Banyak yang anak muda sekarang yakin akan mental mereka siap dengan menerima pasangan dan menikahinya karena memang mereka saling sayang dan cinta. Tapi, bukan berarti biaya hidup mereka itu dilupakan. Pekerjaan bukan jaminan loh, tabungan juga bukan hanya cukup untuk resepsi juga, tapi untuk kedepannya nanti. Nggak mau kan bahagia di awal dan rintih di belakang? Gue juga nggak ngerti sama temen yang biaya melahirkan anaknya aja minjem duit ke gue, karena biaya melahirkan nggak murah, dan mendadak banget, nggak mungkin kan kelahiran bayinya di pending ampe duit melahirkannya cukup? Nah kalo cukupnya 15 tahun lagi, itu bayi udah bisa break-dance di dalem perut ibunya.

Nggak perlu muluk-muluk udah dapet pasangan yang pas. Tapi nggak bisa saling melihat masa depan hubungan yang terjamin. Bukan matre kalo udah berumah tangga, tapi realistis. Bukan tanggung jawab siapa-siapa lagi kalo udah jadi suami, itu 100% tanggung jawab kita, boys. Boleh lah dalam pacaran bayar sendiri-sendiri dulu, cebok sendiri-sendiri dulu, tapi istri gak bisa disepelekan. Ada juga temennya temen gue yang gue lihat seperti nggak care sama istrinya, mentang-mentang dia istrinya dan miliknya, jadi semena-mena memperlakukannya. Gue tau banget perasaan istrinya itu saat dibohongi suaminya nggak balik karena ngantor padahal nginep dan main game semalaman di rumah temen gue. Gue juga pernah liat saat istrinya nyamperin tapi malah dicuekin, nggak di anggep, disuruh-suruh, dan lain-lain lagi. Coba selamanya mau kayak gitu, neng?

Itu yang gue maksud salah pilih pasangan, salah juga cara dan pola hidupnya. Jangan menikah karena ikut-ikutan, pada saat gagal nanti, kita tau bahwa sebenarnya kita belum siap. 3 bulan nggak dinafkahi, istri bisa menggugat cerai, main fisik kepada istri bisa juga lo digugat cerai olehnya, dan masih banyak lagi.

Tujuan hidup bukan cuma menikah. Tapi menikah dengan orang yang tepat adalah tujuan hidup yang sebenarnya. Dan orang tepat itu datang nggak dengan cepat. Contohnya saudara gue, dia suka sama seseorang, tapi orang itu nggak suka sama saudara gue tapi malah memilih orang yang beda agama daripada saudara gue yang seiman. Itu contoh simpelnya. Orang yang pas menurut kita untuk bersatu atau bahkan dinikahi, belum tentu pas pilihan Tuhan. Orang yang kita suka belum tentu Tuhan suka(jika dia bersatu dengan kita). Menurut logika bisa bersatu, tapi belum tentu menurut hati dan perasaan bisa dipaksa.




“Jangan pernah menganggap pernikahan itu segampang dan selamanya bakal bahagia. Masih banyak peluang yang nggak pernah diciptakan alam terhadap dunia ini. Siang masih bisa menjadi malam, basah masih menjadi kering, terikat masih bisa lepas, cinta mati masih bisa selingkuh, dan mustahil bisa menjadi biasa.”

{ 6 Komentar... read them below or Comment }

  1. Setuju bro,, harus seimbangin mental n materi dulu.. Postingannya gue banget hahaha

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. Iya, nikah juga gak mikirin kamu soalnya :'(

      Hapus
  3. Kepikiran nikah ada sih. Tpi sebelum kepikiran nikah, sekarang masih kepikiran mencari seseorang yg mau mengajak nikah :D

    BalasHapus

Mohon beri komentar yang baik dan sopan. Semua komentar kalian pasti gue baca dan balas. Terima kasih sudah menyisihkan waktu, tenaga, dan biaya kalian untuk membaca postingan ini. Semoga tulisan gue ini berguna.

- Copyright © Muhammad Iqbhal - masisibal - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -