Posted by : Muhammad Iqbhal Kamis, 19 November 2015


1. Apakah tujuan kita hidup di dunia ini?

A.  Beribadah                        

B.  Macarin Chelsea Islan       

C.  Mendapatkan perhatian dia

D.  Terserah gue lah, hidup-hidup gue ini



Pernah ngalamin nggak pertanyaan di atas ketika ujian sekolah dasar, yang gue inget sih itu pelajaran Agama. Udah pasti semua anak SD juga tau jawabannya, Beribadah. Yang nggak tau mungkin anak kucing. Entah berapa kali pertanyaan itu di ulang-ulang disetiap ujian. Ya, ketika ujian hidup juga. Kita dituntut untuk beribadah ketika mengalami cobaan dari Tuhan Yang Maha Esa. Apalagi ujian sekolah. Huft. Dasar manusia, ada maunya doang kalo lagi baik.

Mungkin kalo setiap gue salah ngejawab pertanyaan di atas, gue kurang pas ngitemin jawaban pake pensil 2B-nya, mungkin saat itu gue salah pake pensil, malah 36B. Hmmmm. Perlu diverifikasi.

Dan sekarang, gue pengin bahas tentang sukses.

“Ye, bang terus ngapain diatas bahas beribadah?”

Gapapa. – kalimat yang sama dikumandangkan cewek ketika ditanya,”kamu kenapa?”

Sebernarnya sukses dan beribadah itu saling berkaitan kok. Ketika kita ingin sukses, kabanyakan orang bilang kita harus beribadah juga. Dan kenapa masih banyak orang sukses disana yang bahkan nggak pernah beribadah dan nggak percaya adanya Tuhan bisa jadi sukses? Bahkan menjadi orang terkaya nomer satu di bumi. Beda lagi kalo di planet Jupiter, mungkin yang terkaya di sana adalah Yamaha. Hahaha. Lucu ya gue. Ketawa dong, please.

Jawabannya adalah relatif. Kita nggak bisa mengandalkan apapun ketika kita punya tujuan, mimpi, dan cita-cita. Bahkan diri sendiri. Kita cuma butuh inspirasi untuk menguatkan. Ketika lo berhasil memperoleh apapun di dunia, tapi apa lo bakal sukses di dunia yang lain? Sumpah ini bukan acara TV yang kayak ditinggalin sendiri di suatu ruangan gelap dan hanya dibekali sebatang lilin yang menyala serta helm berkamera. Kasian, orang mah pengen ditemenin sama manusia, dia pengen sama makhluk lain. Huft. Mungkin dia kurang tempat curhat. Ngomong sendiri gitu kan, “Aku disini nggak ngeganggu kalian kok. Sumpah. Enelan~” LAH ELU GANDENG GITU, GANGGU KALI! Mungkin dia butuh bahu untuk bersandar.

Balik lagi ke mantan. Eh itu mah balikan. Maksudnya balik lagi beribadah. Kata guru gue, tutupilah ibadahmu sebagaimana kamu menutupi dosa-dosamu. Gue setuju. Setiap orang itu bawaannya pengin diliat hebat. Makanya, lebih banyak orang sibuk dengan berkeyakinan dia itu hebat, ibadah rajin dan kerjanya ulet misalnya. Menurut mereka itu pacuan semangat mereka biar tambah giat. Giat biar dipuji-puji, mungkin. Padahal asal kalian tau, pujian adalah kritikan terpedas karena bisa membuat kita lupa diri dan menganggap sudah berhasil. Padahal, masih ada langit di atas langit.

Jadi, memang sulit buat kita menahan diri untuk tidak sombong, ri’ya, dan merasa paling benar. Gue sampai saat ini pun belajar untuk menghargai. Mudah? No, dimulai dari pendapat gue yang sering diacuhkan, peringatan gue sering dicuekan, dan pada saatnya semua kejadian. Mereka nggak introspeksi diri. Dan semua itu karena perbedaan usia. Gue sering mengalami kasus cuma karena lebih tua adalah lebih tau, berkuasa, dan paling benar adanya. Gue terkurung dalam sebuah negara, pulau, budaya, bahkan masyarakatnya sendiri tentang lebih muda haruslah dipandang sebelah mata.

Gue nulis ini bukan untuk curhat, sungguh. Gue nulis ini karena ingin sedikit mengutarakan pendapat. Bahwa ketika lebih banyak bicara belum tentu lebih baik daripada diam. Tuhan tidak pernah terdengar, tapi Dia melihat. Memperhatikan, mungkin juga mempelajari, lalu memperbaiki ciptaan-Nya dihari kedepannya. Bukan cuma mulut sebagai harimaumu. Tapi juga perlakuanmu.

In the end, mungkin kalau ada salah kata dan tulisan maupun pendapat dari gue, bisa diperbaiki. Gue tau, setiap orang memiliki isi kepala yang berbeda. Pemikiran, kepercayaan, dan ideologi. Gue sama sekali nggak menganggap pendapat orang atau perlakuan orang itu salah kecuali dia merugikan orang lain. Bukannya suatu hal yang salah itu adalah tentang merugikan dan merepotkan orang lain? So, buat gue itu adalah pengertian manusia baik yang sebenarnya. Tidak merugikan, merepotkan, dan memaksa orang lain. 

{ 16 Komentar... read them below or Comment }

  1. Semua ini kembali lagi ke pribadi masing2. Kan?Btw, kunjungin balik ya: www.mraneh.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asal pribadinya baik yes. Thank you for reading :)

      Hapus
  2. diam itu emas men.. kadang yang bisu lebih banyak aksi daripada yang kebanyakan omongan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan soal bisu, tapi dari niat juga sih yes.

      Hapus
  3. Tapi gue gak pernah mendapatkan pertanyaan seperti itu saat ujian. Btw, gue setuju bahwa pujian memang bikin kita lupa diri dan gak mau berusaha lebih.

    themelancholyofkaren.blogspot.com

    BalasHapus
  4. gue. ampe. sekarang. kagak. tau. apa. tujuan. idup. gue.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi blogger komedi traveling dong. Biar ciwi-ciwi meletoy~

      Hapus
  5. "tutupilah ibadahmu seperti kamu menutupi dosa - dosamu"
    aiiiih menohok, semoga nggak jadi orang sombong ya^^

    BalasHapus
  6. Gue kalo sholat diliatin orang malah ga bisa konsen,, bawaannya ketawa mulu...padahal orang yang ngeliatin gue (temen misalnya) belum tentu ketawa cuma ngeliatin doang... ya ya ya gue emang aneh..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kamu nggak aneh ko, Ran.
      Kamu cantik.

      Hapus
  7. 36 B itu gede nya seberapa yaaa ???? #penasaran

    BalasHapus

Mohon beri komentar yang baik dan sopan. Semua komentar kalian pasti gue baca dan balas. Terima kasih sudah menyisihkan waktu, tenaga, dan biaya kalian untuk membaca postingan ini. Semoga tulisan gue ini berguna.

- Copyright © Muhammad Iqbhal - masisibal - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -