Posted by : Muhammad Iqbhal Kamis, 17 Maret 2016


“Aku mau ngomong sama kamu.” Sebuah pesan masuk dihandphone Endoy yang berasal dari pacarnya, Tukiyem.

“Mau ngomong apa? Ngomong aja sekarang.” Jawab Endoy. Padahal didalam hatinya penuh dengan rasa penasaran, kalimat yang diucapkan Tukiyem itu adalah sebuah kalimat yang lebih seram daripada dinyanyiin sama banci pas makan dipinggir jalan.

“Kita ketemuan ditempat biasa aja. Aku tunggu disana pas Jum’at Kliwon jam 12 malam.”

Dengan jantung yang berdebar cukup kencang, Endoy memikirkan apa yang akan terjadi nanti. Tanpa bisa berkata apa-apa, akhirnya Endoy membalas,”Oke, baiklah sayang.”

Mereka akhirnya bertemu ditempat yang mereka udah disepakati sebelumnya, kuburan China. Setiap ngedate mereka memang selalu ditempat itu, karena flyover sudah penuh diisi oleh cabe-cabean, akhirnya mereka mencari tempat yang strategis untuk memamerkan rasa cinta mereka kepada semesta. Yaitu, kuburan China.

Ketika Endoy sudah sampai, dia seperti melilhat seseorang wanita berdiri disebelah batu nisan berwarna abu-abu yang bertuliskan bahasa China yang jika dibaca,”King Kang Kung”

Endoy langsung menghampiri apa yang dia lihat dan memegang bahu sebelah kiri wanita misterius itu. Endoy juga mengecek bagian punggung dari wanita itu, entah apa yang dia cari, mungkin dia sedang mencari Tukiyem disana. Sedih. Masa pacarnya dihina gitu, dikira kuman kali ya… Nyarinya dibaju orang gitu.

“Hai!” Endoy menyapa duluan sambil memegang bahu cewek misterius itu dari belakang.

“Hai.. Eh.. Hai.. Eh.. Hai..” cewek itu menjawab sambil membalikkan badan dan matanya berkedip-kedip seakan dia kaget. Oh, ternyata dia latah.

“Tukiyem, ini aku Endoy. Kamu tadi mau ngomong apa? Kayaknya penting banget.” Tanya Endoy yang dipenuhi oleh rasa penasaran.

“A… Aaaa… A..” sambil terbata-bata Tukiyem menjawab,

“Ayam? Ayam kamu kenapa? Epilepsi?” potong Endoy/

“Bu.. Bukan itu.. A.. Aaa.. Aaa.” Ucap Tukiyem lagi sambil terus terbata-bata.

Satu jam kemudian.

“Apa Tukiyem?” Tanya lagi Endoy yang masih dengan penasaran sambil memegang kedua bahu Tukiyem sambil menatap matanya.

“A.. Aku ma.. mau.. Ki.. kita putus.” Ucap Tukiyem dengan pelan. Mungkin ucapannya itu memang nggak ingin dia lakuin, tapi apalah daya keputusan yang dia ambil haruslah dia terima dan ungkapkan. Selama ini Tukiyem sebenarnya ingin memutuskan hubungannya dengan Endoy sejak dari dulu, tapi Endoy nggak pernah ada waktu untuk Tukiyem. Ngebales chattingan Tukiyem aja 12 jam sekali.

“Aku serius. Aku sebenernya capek sama semua ini. Kamu itu kerjanya gak jelas, aku mau yang pasti-pasti aja.”

Tanpa sepatah kata pun Tukiyem pergi meninggalkan Endoy. Endoy mencoba mengejar Tukiyem, tapi Tukiyem sudah pergi duluan dan dijemput oleh helikopter yang didalamnya terdapat seorang cowok. Entah dia siapanya Tukiyem, Endoy menganggap mungkin itu adalah pacar baru Tukiyem.

Endoy teringat kata-kata Tukiyem tentang,”Kamu itu kerjanya gak jelas, aku mau yang pasti-pasti aja.” Kalimat itu selalu menghantui Endoy dimanapun dia berada. Tak terkecuali saat Endoy makan, makanannya selalu berubah menjadi wajah Tukiyem. Ketika Endoy buang air, dia selalu ingat benda yang dia  buang dengan wajah Tukiyem.
Dulu ketika mereka awal berhubungan, Tukiyem mengucap janji,”Aku nerima kamu apa adanya kok. Aku mau nemenin kamu sampai sukses. Aku janji.”  Itulah yang menyebabkan Endoy galau sampai berbulan-bulan. Entah kenapa Tukiyem bisa mengingkari janjinya itu.

Endoy dulu bermimpi ingin menjadi pengusaha, dia nggak melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya hanya karena ingin membangun bisnis yang dia cita-citakan. Orang tuanya padahal sudah meminta Endoy untuk kuliah di Jerman. Tapi Endoy menolak dan berunding dengan orang tuanya untuk memutuskan ingin membangun bisnis toilet goyang dari nol. Endoy menolak untuk meminta modal dan segala bantuan dari orang tuanya, karena dia ingin merasakan bagaimana menikmati proses. Endoy ingin berusaha sendiri tanpa bantuan orang lain sampai dia sukses menjadikan bisnis toilet goyangnya itu go international.

Sejak dari masa sekolah, dia punya seorang pacar namanya Tukiyem. Pada awalnya Tukiyem mengerti dan mendukung keputusan pacarnya itu. Tapi, lama kelamaan Endoy benar-benar sibuk memikirkan bisnis daripada Tukiyem. Endoy sering kali tidak membalas pesan Tukiyem, mungkin setiap Tukiyem mengucapkan ‘selamat pagi’ baru dibalas oleh Endoy ‘selamat malam, selamat istirahat sayang. Maaf, tadi aku sibuk banget. Mimpi yang indah ya.”

Sejak Endoy membangun bisnisnya itu dengan pengorbanan dan mati-matian, berbagi proses gagal, rugi, sampai hampir menyerah dia lakuin tanpa kenal lelah. Kita memang harus sadari hidup itu nggak segampang buka bungkus kopi yang disampingnya robek sedikit dan bertuliskan “sobek disini”.

Kesuksesan sesuatu itu nggak terjadi dengan sekali tembak.

3 tahun berlalu, setelah Endoy putus dari Tukiyem, Endoy akhirnya bisa memperbesar bisni toilet goyangnya itu sampai keluar kota. Omset perusahaannya pun bertambah pesat, banyak investor berebut ingin bekerja sama dengan bisni yang Endoy geluti.

Ketika Endoy dipertemukan oleh masa lalunya kembali. Tukiyem. Pilihan hidup dia pun kini kembali dimulai. Tukiyem menyesal dulu pernah memutuskan hubungan dengan Endoy dan lebih memilih cowok lain, yaitu cowok yang menjemput dia di kuburan China waktu itu dengan helikopternya. Tukikyem lebih memilih cowok yang jauh lebih mapan, tampan, dan setiap menyebrang jalan di zebra-cross selalu sambil kayang.

Tukiyem menceritakan semua kisah yang dilalui dia dengan cowok tersebut. Tukiyem bilang bahwa cowok barunya itu ternyata memang tajir dan tampan, Tukiyem selalu punya prinsip ingin memiliki cowok yang kaya raya dan tampan tanpa dia peduli bahwa harta cowok itu didapetin dari mana dan pola hidup si cowok tampan itu seperti apa.

Tukiyem tersiksa dengan hubungannya yang baru. Selama 3 tahun dia tersiksa di dalam hubungan yang membuat dia selalu dikasari oleh pacarnya yang baru, nggak sesekali pacarnya itu membentak dan memukulnya sampai membuat kulitnya lebam. Tukiyem tidak pernah tau akhirnya akan jadi seperti itu, dia hanya menikmati kenikmatan harta cowoknya itu tanpa tau sifat aslinya. Dan yang lebih parah dari itu semua adalah harta yang dimiliki oleh pacar barunya bukan dari usaha keras dari pacarnya sendiri, melainkan milik orang tuanya. Gaya hidupnya pacar barunya Tukiyem pun sangat buruk, dia selalu merokok tanpa memikirkan asapnya yang mengganggu orang lain terutama kesehatannya sendiri, sering mabuk-mabukan dengan teman-temannya, sering taruhan, dan pernah terlihat bermain dengan wanita lain. Tukiyem sadar bahwa itu semua sudah keterlaluan dan menyiksa batinnya.

Kini, Tukiyem memohon untuk kembali kepada Endoy. Tukiyem tau bahwa Endoy sekarang sudah sukses karena dia pernah mencoba produk toilet goyang milik Endoy. Namun Endoy menolak itu semua. Bukan karena Endoy sudah punya orang lain. Tapi, sekarang Tukiyem bukan lagi seleranya. Endoy selalu yakin bahwa dia akan mendapatkan yang jauh lebih baik dari Tukiyem. Kata Endoy, bayang masa lalu itu akan muncul setiap saat seperti orang yang berada disamping kita. Tapi, dengan kita bisa terbiasa mencuekkan itu semua, kita bisa jauh lebih baik lagi.

***

Cerita Endoy dan Tukiyem tadi menyampaikan pesan bahwa ketika kita ditolak atau ditinggalkan oleh seseorang. Tapi, pada saat kita sukses nanti, dia bukanlah selera kita lagi. Setiap orang pasti punya potensi masing-masing untuk mewujudkan apa yang dia mau dan cita-citakan. Dan, gue yakin bahwa disetiap diri cewek pasti tau mana cowok “yang belum kaya” dan “nggak bisa kaya.”

Jangan pernah nolak seseorang cuma karena jarak. Jarak itu bukan suatu hal yang nggak pernah bisa disatukan dan dipertemukan. Jangan pake alesan,”Gue mah nggak mau LDRan ah.” Jangan jadi khalayan yang nggak enak sebagai patokannya, cuma karena jarang ketemu dan cuma bisa pacaran via chatting aja lalu ngerasa itu adalah hubungan yang sia-sia.

Kita harus tau dulu, dia sibuk karena hal apa. Kalo sibuk karena kuliah, pendidikan, atau pekerjaannya, lalu kenapa harus dipermasalahin, itu juga berpengaruh sama hubungan kalian juga. Dia meningkatkan potensi dan kelasnya, kamu mendapatkan dia yang semakin berkualitas.

Biarin dia sibuk, yang penting kita jadi prioritas utamanya. Nggak ngebales bukan berarti dia nggak sayang, bales lama bukan berarti dia lebih mentingin orang lain. Biarin aja dia menjalani hidupnya, jangan pernah punya pemikiran kayak bocah. Kenapa kayak bocah? Bocah itu selalu pengen diperhatikan terus, dimanja terus, diturutin terus. Cewek atau cowok yang menuntut terus diperhatikan itu adalah sifat mereka yang sebenarnya belum dewasa dan ‘anak mama’. Tinggalin aja.

Jangan pernah juga menilai cowok dari sebatas pekerjaan dan apa yang dia miliki. Tapi nilai dari apa dia bisa mengurus diri sendiri, mandiri, disiplin, tekun dan bertanggung jawab. Percuma dia mengandalkan warisannya aja, carilah cowok yang benar-benar ngerasain dari tangga terdasar sampai dia sukses. Ketika dia berada di bawah lagi, dia akan tau bagaimana cara untuk survive.

Gue nggak pernah menganggap matre semua cewek. Buat gue, matre itu adalah dia yang menuntut dibelikan apa-apa bukan buat kepentingan hubungan tapi tentang kepentingan diri sendiri. Nggak salah ketika cewek menuntut cowoknya untuk punya tempat tinggal, kendaraan, dan tabungan. Toh, bukan buat kepentingan si ceweknya sendiri kok. Itu juga buat kebaikan si cowok, bahkan untuk kebaikan berdua. Kalo si cewek selalu menuntut untuk dibelikan kepentingan dirinya sendiri kayak make-up, bajunya, dan lain-lain, barulah itu dinamakan matre. Ngerti ya, guys. Jangan pernah menganggap semua cewek matre cuma karena minta dibayarin makan, nonton, dan jalan. Itu juga nanti tanggung jawabmu sebagai cowok.

Ketika ada cowok yang selalu menganggap cewek matre. Sebenernya dia itu minder sama masa depannya.

Nggak munafik ya, kebutuhan hidup sekarang tuh udah mahal. Gedung pernikahan makin lama, makin mahal. Gue nggak setuju tentang susah-seneng kita akan terus bersama. Buat gue, ada batasan finansial tersendiri untuk membina sebuah hubungan dan pernikahan. Bukannya gue melarang anak sekolah untuk pacaran. Yang tentunya masih minta uang dari orang tuanya. Gue juga dulu pernah gitu kok. Tapi, lama kelamaan kita memang harus denger kata orang, bahwa kita harus punya penghasilan sendiri dan membiayai hubungan dari uang yang kita dapetin sendiri dengan bekerja.  Nikmat loh kalo ngebayarin gebetan hasil dari keringat sendiri. Kaya nahan kebelet pipis ditempat umum terus pergi ketoilet goyang milik si Endoy buat buang air. Surga –dunia, men.

Nanti ada masanya ketika biaya makan sehari-hari menjadi tanggung jawab yang harus kamu cari,

Ketika ada masanya tunggakan rumah harus kamu bayar setepat waktunya mungkin,

Ketika biaya listrik, air, telpon, pulsa, kuota, menjadi kebutuhan yang menjadi beban tanggung jawabmu,

Ketika ongkos, bensin, kredit motor/mobil dan juga biaya servicenya menjadi keluhan beban tambahan tanggung jawabmu,

Belum lagi setiap kota yang kita tinggalin nanti biaya hidupnya berbeda-beda, bisa juga semakin mahal.

Buat cewek, ketika kalian yakin dengan hubungan kalian dan pengin ke jenjang pernikahan dengan alasan basi supaya halal doang dan juga supaya nggak akan putus atau berpisah. Mending pikir lagi deh, yang pacaran aja bisa udahan, kata siapa nikah nggak akan bisa cerai? Survei dimentri agama Indonesia juga udah membuktikan kok kalau perceraian dari berbagi banyak alasan lebih banyak karena kebutuhan ekonomi.

Mau menikah tanpa status pendidikan dan finansial yang nggak jelas? Cuma karena tuntutan umur, keluarga, gengsi pertemenan dan lain-lain? Paling males deh. Diluar negeri sana yang sudah maju, masyarakatnya lebih memilih menunda pernikahan yang memang mereka sadar bahwa kebutuhan mental dan finansial yang belum mencukupi. Bodo amat deh mau dikatain orang perawan atau perjaka tua.

Gue sendiri, didalam keluarga besar gue pun nggak peduli dengan mereka yang ngomongin pacar mereka masing-masing. Memamerkan kepunyaan dari pacarnya masing-masing. Tapi, untungnya bokap gue orangnya cuek soal pasangan gue, jadi nggak apa-apalah jomblo lama juga, nggak akan ditusuk besi panas ini. Huehehehe!

“Tenang aja, kalo sudah menikah itu rezeki bakal dateng sendiri ini kok.”

Mungkin itu cuma sekedar kalimat motivasi dan sugesti orang aja supaya cepat menikah. Dan lebih menyampingkan kesiapan mental itu sendiri. Nikah mudah itu siapa yang nggak mau sih, gue juga mau, tapi apalah daya nggak ada yang mau. Kampret. Malah curcol.

Gue juga punya kriteria dan rencana sendiri kok. Bukan nggak jelas kedepannya nanti. Nggak perlu mikirin kapan sih punya pacar. Gue malah nggak suka mikirin gituan, setiap orang dipertemukan jodoh itu nggak diatur jadwalnya, ada yang sedari proses dia menuju kesuksesan. Ada juga ketika mereka udah sukses. Jodoh itu dinikmati bukan untuk ditunggu. Tapi, ketika kita udah bahagia sama diri sendiri.

Gue nggak perlu menuntut buat diperhatikan dan ditanya-tanya,”lagi apa?” “udah makan belum?” “Udah minum belum?” “Udah boker belum?” “Bokernya keras apa cair?”

Hih.

Please, men. Pacaran itu bukan membuat kita jadi bocah lagi, tapi harus yang membuat kita lebih berkualitas lagi. Ketika dia udah bahagia sama diri sendiri, jadi kita juga nggak menuntut dia untuk dibahagiakan.

Lebih baik pacaran obrolin hal-hal yang nggak penting, tapi nyambung. Daripada gombalan, harapan, dan janji tai ucing. Dan nggak menuntut juga cari yang harus ngerti dengan apa hobi kita, apa yang kita mau dan apa yang kita suka. Cukup yang kalem dan mengerti apa yang kita mau dan yang terbaik buat kita. Salah milih pasangan ketika kita malah yang membuat hobi kita nggak pernah dilakuin lagi, jauh dari teman-teman kita, dan juga malah membuang umur untuk mengabulkan semua keinginannya.

Kayaknya segitu dulu deh tulisan gue kali ini. Mudah-mudahan bisa ambil yang positifnya. Bukan maksud gue untuk menuntut kalian buat ngikutin presepsi gue. Semua hal tadi adalah pendapat gue pribadi. Nggak ada maksud juga untuk menyinggung siapa pun. Kalo memang kalian punya pendapat sendiri atau memperbaiki dan menambahkan pendapat gue di atas, boleh share di kolom komen yes!

“Sampai kapan pun, kalau cuma milih yang ganteng doang. Ganteng itu nggak bikin kenyang.”

{ 2 Komentar... read them below or Comment }

  1. hahaha setuju bang, ganteng doang ga kenyang. cinta doang juga ga kenyang.
    kalo cowo yg suka minta pulsa dia matre dong :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, gue sering denger kasus minta pulsa gitu. Hati-hati penipuan! Hahaha.

      Hapus

Mohon beri komentar yang baik dan sopan. Semua komentar kalian pasti gue baca dan balas. Terima kasih sudah menyisihkan waktu, tenaga, dan biaya kalian untuk membaca postingan ini. Semoga tulisan gue ini berguna.

- Copyright © Muhammad Iqbhal - masisibal - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -