Posted by : Muhammad Iqbhal Senin, 09 Mei 2016


by masisibal




Aku Nabila Windy, bukan bidadari. Yang kata seseorang sengaja diturunkan Tuhan ke bumi.
Tahun 2009 cerita itu bermula. Yang selalu kukenang dengan bahagia dan bersyukur. Mengenalnya yang pernah mengatakan,"kalo kamu tau, sebenernya kecap itu cemburu sama kamu. Soalnya manisnya sama," dan masih banyak lagi.
Dia masa laluku, dan tetap menjadi masa laluku. Tahun itu. Saat dia masih selalu bersamaku. Menikmati seru, sendu, dan rindu.



***


Jakarta, Minggu, 29 Desember 2013.


Dengan berat hati, akhirnya aku memutuskan datang dari Bogor menuju Jakarta menepati janjiku kepada seseorang. Yang sangat aku cintai. Aku memakai pakaian terbaikku. Diantar oleh Jodi, pacarku, memakai mobilnya yang rela mengantarkanku pada sebuah acara.

“Kamu ko diem aja dari tadi, say? Emang seberapa lama kamu gak ketemu temen kamu ini?” tanya Jodi memecah kesunyian di mobil yang sepanjang perjalanan aku hanya terdiam seperti orang banyak pikiran.

“Lama banget, dari jaman Fir’aun suka minum air galon isi ulang kali.” Jawabku becanda. Aku sangat suka becanda dikala hati padahal sedang kacau. Sifat ini diajarkan oleh seseorang katanya kalau hati dan pikiranku murung dan mengekspresikannya lewat muka, dunia juga pasti ikut murung. Dunia bakal bener-bener kehilangan kalau aku nggak senyum. Katanya.

Jodi pun tertawa. Mungkin saat itu dia mengira aku baik-baik saja karena bisa membuat dia tertawa. Sampai pada akhirnya tak terasa kita pun sampai di tempat tujuan. Tempat tujuan kita ternyata sangat mudah dijangkau walaupun kita baru pertama kali tau gedung pernikahan itu.

“Ini pasti buatan kamu. Kamu nggak berubah ya. Setiap menjelaskan atau mendeskripsikan pasti selalu detail banget. Kayak di denah undangan ini.” Ucapku di dalam hati.

Aku jadi ingat, seseorang ini yang dulu pernah memberikan wejangan kepadaku soal pelajaran apa saja yang berguna di sekolah. Padahal aku selalu berpendapat bahwa nggak ada satu pelajaran pun disekolah yang berguna, contohnya adalah Fisika, untuk apa coba kita mengukur gaya dorong pintu. Nggak penting banget. Tapi, dia malah bilang,”sesuatu yang kamu kira nggak berguna sekarang, mungkin suatu saat nanti kamu akan ngerti, Bil.”

Ditambah lagi katanya pelajaran matematika tentang bab ‘Peluang’, dia bilang pelajaran itu bisa membuat kita nggak terlalu ngarep dan juga bisa safety-self tentang sesuatu hal atau kejadian di depan nanti. Lalu, pelajaran bahasa Indonesia yang berguna adalah tentang bab ‘Mendiskripsikan’, katanya aku itu bawel dan serba ingin tahu semuanya, jadi pelajaran ini berguna banget untuk mengobati kebawelanku. Ha ha.

Mungkin benar, kalau saja denah lokasinya tidak sesuai dan membuat diriku bingung dan akhirnya nyasar di kota orang lain, aku akan bawel-bawel sendiri.

Aku turun dari mobil, melihat orang-orang memakai baju kebaya dan jas yang rapi pada acara itu. Kebanyakan tamu undangan adalah orang-orang terdekat kedua mempelai dan mereka saling berpasangan, ada yang sudah berumur dan membawa anaknya, ada yang masih usia menikah muda, dan ada juga beberapa teman-temanku yang datang bersama pasangannya.

Saat itu aku terasa dekat dengan sebagian tamu undangan karena beberapa dari mereka sudah mengenalku. Ada om Jono dan Tante Una, Bang Jerry dan pacarnya kak Mariska, ada Bi Idah, dan masih banyak lagi.

Aku datang sebelum acara dimulai, sempat bersalaman berbagi kabar, dan juga berbincang sedikit dengan orang-orang yang aku kenal.

“Duh neng Nabila sekarang tambah cantik ya. Sehat kan?” Ucap om Jono sambil memegang lengan kiriku dan melihat-lihat dari ujung kaki sampai ujung kepala, dan di sampingnya didampingi oleh istrinya yang juga menatapku sambil tersenyum manis, Tante Una.

“Makasih, om. Baik, Alhamdulillah. Om sendiri gimana? Masih suka streaming Smack-Down?” tanyaku.

“Kabar om baik sekali, masih kuat gendong Tante Una keliling Monas kok. Oh iya, masih dong! Kemarin di Wastle Mania mencetak rekor penonton terbanyak sepanjang sejarah  gitu loh~” ucap Om Jono sambil memonyongkan bibirnya yang ditutupi oleh kumis tebalnya yang berwarna hitam pekat, beda jauh dibandingkan dibagian tengah rambut kepalanya yang menghilang. Kalo kata seseorang sih rambut tengah om Jono menghilang karena disedot oleh ufo.

Perlu diketahui, Wastle Mania adalah salah satu tempat atau stadion untuk bertanding Smack-Down. Walaupun aku seorang cewek, aku jadi tau semua pengetahuan tentang cowok, jangankan Smack-Down, sepak bola pun aku suka banget. Itu semua diajarkan lagi tetap oleh orang yang sama. Yang akan aku ceritakan semuanya saat ini.

Aku tertawa dengan jawaban om Jono, dulu aku sering mengobrol dengannya berbincang hal-hal seru sampai buat aku tertawa. Sekarang momen sebagian kerinduan bisa dibayar sedikit oleh kejadiaan itu.

Dekorasi pernikahan dominan dengan warna putih yang membuat suasana menjadi terang dan juga sebagai simbol kesucian dari sebuah momen mengikat janji setia. Aku melihat banyak hal-hal yang membuat aku semakin terkenang. Di bagian makanan dan minuman yang disajikan untuk tamu undangan misalnya, setiap wadah adalah makanan favorit dari seorang mempelai pria. Dan itu beda dari yang lainnya. Ada sayur sawi dengan ditambah catatan dipinggir wadah tempatnya,”Sayur itu sehat loh. Kalau sehat, biar bisa terus membahagiakan orang yang kita cintai.” Dan juga yang anehnya lagi disetiap meja makanan sudah disediakan berpuluh-puluh botol kecap berukuran kecil. Ya, dia sangat menyukai kecap. Dulu katanya, kecap kadang suka cemburu denganku, karena manisnya sama.

Aku pun tersenyum melihatnya.

“Mohon untuk para tamu undangan, dimohon perhatiannya, acara akan segera dimulai…” ucap MC yang saat itu memecah keriuhan tamu undangan yang mungkin saat itu sudah cukup semua yang dibutuhkan telah datang dan jam pun menunjukkan tepat waktu kalau acara itu akan segera dimulai.

***

Bogor, 2009.


       Ini adalah hari pertamaku duduk di bangku SMA. Tepatnya pada acara OSPEK atau sekarang lebih dikenal dengan MOPDB(Masa Orientasi Peserta Didik Baru). Aku merupakan angkatan pertama di Sekolah Menengah Atas Negeri 6 Bogor. Saat itu aku dituntut untuk mengikuti semua perintah yang diberikan oleh kakak kelas, lebih tepatnya panitia MOPDB.

       Entah kenapa acara MOPDB malah menjadi lebih mirip dengan acara mengerjai anak baru. Padahal tujuan MOPDB adalah untuk mengenal lebih jauh tentang sekolah yang nanti akan jadi tempat menuntut ilmu, bukan tempat menuntut balas dendam rutin mengerjai anak baru setiap tahunnya. Tidak penting masalah budaya atau turun-temurun. Yang terpenting adalah kebiasaan jelek yang harus dihapus atau sebaiknya diperbaiki agar lebih menunjang untuk membuat setiap hal bisa mendapatkan manfaat yang lebih baik. Bukan maksud untuk menghapus OSPEK/MOPDB ini, tapi tentang cara bagaimana kita harus belajar dari berbagai banyak kasus menjadi korban merenggut nyawa karena tata caranya yang salah.

Aku sangat menyukai sekolah baruku ini. Tempatnya yang asri dikelilingi oleh pohon yang rindang, tidak dekat dengan jalan raya yang akan membuat suara bising, polusi udara dan lain-lain. Sekolahku juga berada didalam komplek perumahan yang sudah ada dari belasan tahun yang lalu. Tepatnya sekolahku berada di Jalan Walet No. 13, memiliki luas yang cukup menampung beberapa kelas 1 sampai kelas 3 dan juga ditambah ruang guru, kepala sekolah, laboratorium dan lain-lain.

Saat itu, pada hari Senin, aku datang kesekolah pertama kali diantarkan oleh supirku, Pak Jajang. Beliau menurunkanku tepat didepan gerbang sekolah, aku langsung melihat anak-anak MOPDB semua sudah berkumpul di lapangan. Sebenarnya panitia memberitahu pada hari Sabtunya tentang jam yang akan dimulai acara MOPDB pada hari Senin pukul setengah 7 ditambah clue barang-barang apa saja yang kita bawa nanti. Dan aku pada saat itu datang tepat waktu. Tapi, ada kakak kelas yang menahanku dengan tangannya yang membentang agar aku tidak boleh lewat.

“Kamu telat. Tunggu disana bareng temen-temen kamu yang dibelakang.” Ucap seorang cowok dengan memakai topi SMA berwarna abu-abu dengan nameplate yang digantung oleh tali tipis berwarna putih bertuliskan nama dan jabatannya saat itu.

“Loh, kak. Ini jam 6:30, nggak telat dong?” jawabku sambil menunjukkan jam dilenganku.

“Telat tetap saja telat. Bediri dibelakang sekarang!” teriak cowok tadi dengan menunjukkan jarinya ke arah belakangku.

“Eh ada apa ini, kok lo kasar sama dia?” jawab seorang cowok berseragam SMA yang datang dari belakangku, dia tidak memakai nameplate seperti cowok yang membentakku barusan.

“Ini, Kuh. Dia telat, tapi ngomel mulu.” Jawab cowok yang membentakku tadi

“Mana telat? Ini setengah 7. Tuh liat jam gue. Makanya, masa jadi petugas buat orang yang telat tapi nggak pake jam.”

“Udah kamu langsung ke lapangan aja. Aku mau ngomong sama kutu kupret satu ini.” lanjut cowok tadi sambil menyuruhku pergi dan meninggalkannya yang langsung mengajak ngobrol cowok yang membentakku barusan.

Akhirnya aku sudah bisa berkumpul dilapangan bersama barisan cewek lainnya. Aku melihat semua peserta memakai pakaian yang diperintahkan panitia sebelumnya.  Dari cewek sendiri, kita disuruh memakai pita warna-warni sejumlah tanggal ulang tahun masing, saat itu aku beruntung tanggal ulang tahunku adalah tanggal 6, nggak kebayang yang ulang tahun tanggal 30 atau 31 deh. Tapi, memang ada sebagian yang memakai pita sebanyak itu sehingga penampilannya seperti orang diputusin pacarnya saat lagi sayang-sayangnya dan kehilangan kesadaran alias gila.

Disana kita di arahkan oleh ketua MOPDB tentang apa yang selanjutnya dilaksanakan pada acara MOPDB saat itu. Kita dibagi beberapa kelompok atau disebutnya saat itu adalah ‘gugus’. Setiap gugus memiliki jumlah peserta cewek dan cowok seperti pembagian kelas biasa. Aku masuk kedalam gugus 6. Disana aku mengenal Anjani, cewek yang menjadi sahabatku sampai aku lulus nanti.

Aku dan Anjani langsung terlihat dekat, kita cukup nyambung dengan obrolan apa saja yang kita bahas, dimulai dari menggosip kakak kelas, sampai orang-orang yang terlihat tampan untuk dijadikan pacar tak terkecuali sesama peserta MOPDB. Jujur, aku sih cuma tertarik dengan orang yang menolongku tadi terbebas dari hukuman jika telat. Aku harus berterima kasih padanya. Tapi, siapa dia? Kok hampir semua panitia MOPDB yang aku perhatikan, dia tidak pernah terlihat disana. Apa dia kepala sekolah yang menyamar menjadi siswa? Atau apakah dia tukang kebun yang diangkat jadi siswa karena sifat rajinnya memotong seribu rumput setiap hari? Entahlah.

“Halo semuanya, gugus 6! Kenalin, gue Didi, Reza, dan ini Dini.” Teriak seorang cowok didekat papan tulis menghadap kita yang sedang duduk disebuah kelas, sejak diumumkan pembagian gugus dilapangan, kita diajak masuk ke dalam kelas yang sudah disediakan untuk setiap gugus.

Semua yang berada dikelas pun menjawabnya dengan kencang. Mungkin karena hari pertama, saat itu kita begitu bersemangat dan belum tau musibah apa yang akan kita hadapi bersama di depan sana. Kita menghabiskan waktu dikelas itu dengan menghafal sebuah yel-yel khas gugus 6. Selama kita menghafal, Ketua panitia MOPDB pun tiba-tiba datang bersama wakil, sekretaris, bendaharanya dan lain-lain mengintip kinerja anak buahnya yang diberi tugas menangani kita.

“Eh, ada yang cantik ga, Di?” tanya seorang cowok terfokus melihat semua anak-anak yang ada dikelas.

“Liat aja sendiri, Gon!” Ya, nama cowok itu biasa disebut Gigon, katanya Gigon adalah kependekan dari ‘Gigi Gondrong’, yang bisa diyakini gigi cowok tersebut besar-besar dan berambut. Loh. Maksudnya, tonggos.

“Wah anjrit. Ada tuh satu! Kampret itu yang paling cantik. Mintain nomer hapenya ya?” suaranya yang cukup keras mungkin bisa terdengar ke semua orang yang ada dikelas, tapi saat itu dia seperti menunjuk ke arahku, tapi aku malah membalikkan badan yang aku kira adalah orang dibelakangku. Tapi, ternyata orang dibelakangku itu adalah cowok semua.

Seisi ruang kelas pun mengalihkan wajahnya padaku. Aku kesal, sebenarnya dia itu ingin jadi panitia atau hanya ingin memanfaatkan kesempatan untuk merayu adik kelas yang cewek sepertiku?

“Minta aja sendiri.” Jawab kak Didi yang saat itu menolak permintaan Gigon.

“Yowes!” akhirnya cowok itu pun masuk ke dalam kelas menghampiri tempat dudukku.

“Hai, namanya siapa?” tanya Gigon.

“Nabila.” Jawabku seadanya

“Wah namanya cantik kayak orangnya yah?” jawab Gigon yang saat itu memandangku dengan tatapan fuckboy. Kalau saja saat itu ada balok di depan mataku, aku akan memberi dia pelajaran. Menatap lawan jenis dengan tatapan seperti itu, wajah yang mendekat, sebelah tangannya menopang pinggang dan sebelahnya lagi di meja.

“Eh, Gon. Yok, lanjut! Gak ada waktu.” Ucap seorang ketua MOPDB, kak Sharif yang memanggil Gigon untuk menjauh dari wajahku. Terima kasih ka Sharif.

Akhirnya bel waktu istirahat berbunyi, aku ditemani Anjani untuk pergi ke kantin membeli makanan. Di kantin saat itu ramai dengan peserta MOPDB. Tapi, ada satu orang berseragam SMA duduk sendirian di salah satu meja kantin. Dia adalah orang yang menolongku tadi di gerbang sekolah yang hamper dihukum oleh kakak kelas dengan alasan telat.

“Halo, kak. Boleh duduk disini?” pintaku saat itu dengan Anjani yang berada disampingku yang masing-masing membawa gelas minuman.

“Oh, ya. Boleh. Duduk aja, bebas kok.”

“Makasih ya, kak.”

“Iya.”

“Makasih juga ya, kak. Soal tadi udah bantuin belain aku supaya gak dihukum.” Ucapku lanjut.

“Oh ya, sama-sama.”

“Sebenernya, kalau nggak ada kakak tadi aku bisa dihukum.” Ucapku basa-basi.

“Sebenernya  aku setting ulang waktu di jam tanganku jadi 6:30, padahal aslinya lewat 2 menit karena kamu udah ngobrol sama si Rangga itu.”

“Hah! Maksudnya, kak?” tanyaku lagi yang kaget.

“Iya, Sebenernya kamu nggak telat, cuma si Rangga cari cara buat kamu kebukti telat dengan ngajak kamu ngobrol.”

“Oh gitu, terima kasih ya, kak. Kenalin, aku Nabila.”

“Udah tau kok. “

“Hah! Tau dari mana?” lagi-lagi aku terkejut.

“Dari supir kamu.”

“Pa Jajang?” tanyaku yang saat itu penasaran sekaligus bingung.

“iya, Nabila Windy.”

Ya ampun, dia bener tau namaku.

“Kukuh.” Ucap cowok itu sambil memberikan tangannya untuk meminta berjabat tangan tanda perkenalan.

Saat itu Anjani juga ikut berkenalan dengan kak Kukuh. Kak Kukuh menjelaskan tentang sekolah, pelajaran, guru-guru, sampai anak-anak angkatan dia dan adik kelasnya. Saat itu kak Kukuh sudah duduk dibangku kelas 3, dan panitia MOPDB adalah semua dari anak kelas 2. Dia datang kesekolah karena ada urusan dengan anak-anak yang ekskul basket yang saat itu menjabat juga sebagai panitia MOPDB.

Acara MOPDB pun kembali dilanjutkan setelah jam istirahat selesai, semua gugus dikumpulkan dilapangan untuk diminta menunjukkan yel-yel masing-masing gugus. Saat itu dilapangan menjadi sangat seru. Aku melihat setiap peserta maju kedepan menceritakan berasal dari mana dan kenapa memilih sekolah di SMA 6.

“Coba, cewek yang baris ketiga gugus 6 maju dong!” ucap seorang cowok menunjuk ke arahku.

“Iya, yang itu tuh! Ayo dong buruan.” Sambil ditarik oleh kakak kelas yang ceweknya, aku pun menuruti permintaan cowok tersebut yang tidak lain adalah Gigon.

“Halo cantik.” Ucap Gigon yang seperti merayuku mengeluarkan modusnya. Semua orang pun menyaut dengan serempak,”Ciyeeee!”

“Aku bakal kasih kamu 3 pertanyaan, dan kalau kamu nggak bisa jawab satu, kamu harus kasih tau nomer telfonmu, kalau dua pertanyaan yang nggak bisa dijawab, kamu harus kasih tau alamat rumah kamu, dan kalo semuanya nggak bisa kamu jawab, aku mau ajak kamu makan berdua dikantin.” Ishhh.. Sumpah, saat itu aku kesal sekali dengan perlakuan Gigon terhadapku didepan teman-teman lainnya.

“Pertanyaan pertama, aku masuk ekskul apa?” lanjut Gigon yang bertanya disampingku memegang mic.

Pertanyaan atau jebakan? Susah sekali. Buatku Gigon sengaja membuat pertanyaan yang sulit agar aku tidak bisa menjawab. Tapi ketika aku diberi waktu menjawab, aku melihat ke bagian paling belakang celah antara gugus. Disana terlihat kak Kukuh sedang berdiri memperhatikanku. Tapi, tunggu, sepertinya dia sedang memberikan kode. Apa? Dia seperti menggerakkan tangannya membentuk bola atau bundar dan melemparkannya ke atas. Voli? Basket? Ah, apa ya? Oh Kukuh semakin jelas memperagakan gerakannya, tangan kanan seperti melempar bola dan tangan kiri seperti menahan bola. Ya, itu jawabannya.

“Basket.” Jawabku.

“Hmmm. Betul.” Jawab Gigon dengan nada sedikit kecewa. Semua peserta MOPDB pun masih mengira aku sekedar menebak dan beruntung serta tidak ada ekspresi apapun dari mereka maupun panitia lainnya.

“Mungkin kamu nggak bisa jawab yang ini, berapa nomer punggungku di tim basket?” tanya lagi Gigon dengan wajahnya yang mengira aku tidak bisa menebak pertanyaan kedua darinya.

Kak Kukuh lagi-lagi dari belakang barisan memberikan kode angka di jari tangannya. Tangan kirinyanya menunjukkan angka 1 dan tangannya angka 2. Mungkin jawabannya adalah..

“12.” Jawabku santai seperti sudah tau semuanya.

Gigon dan panitia lain terdiam. Mereka kaget aku bisa menjawab dua pertanyaan yang menurut Gigon sulit dipecahkan tapi dengan gampang aku tahu jawabannya.

“Pertanyaan terakhir, kali ini kamu pasti bener-bener nggak bisa jawab. Siapa orang disini mantan pacarku?”

What? Mantan pacar? Bagaimana bisa aku tau. Dan aku yakin juga 100% anak-anak MOPDB nggak ada yang tau sama sekali siapa mantan pacarnya Gigon. Aku menengok kembali ke arah kak Kukuh, dia memberikan kode tangannya memperagakan bentuk kacamata dan menunjuk diriku lalu menunjuk ke bagian sebelah kananku. Disitu ada kak Dinda, bendahara MOPDB cewek berkacamata dengan panjang rambutnya sebahu dan juga sepertinya dia terlihat sebagai salah satu siswi yang pintar dengan penampilannya.

“Kak Dinda.” Jawabku jelas sambil menatap ke arah kak Dinda yang berada di sebelah kananku. Saat itu semua terdiam. Gigon tak bisa berkata-kata lagi, mungkin para panitia sudah tau dan akhirnya mereka membenarkan jawabanku. Aku ingin berterima kasih lagi pada kak Kukuh, kali ini dia menyelamatkanku dari sesuatu yang membuatku tidak nyaman.

Tapi, sayangnya kak Kukuh sepertinya sudah pergi. Aku lihat dia sudah tidak ada ditempat yang barusan dia memberikanku bantuan di belakang barisan antar gugus.

Aku pulang dijemput oleh Pak Jajang, aku berpamitan dengan Anjani yang saat itu kita berpisah dia dijemput oleh Ayahnya naik motor. Ditengah perjalanan pulang, Pak Jajang memberitahu sesuatu.

Non, tadi pas Pak Jajang nganterin Non ke sekolah Pak Jajang distop sama anak sekolahan Non.” ucap Pak Jajang dengan logat Sundanya yang medok.

“Siapa tuh, pak? Kok bisa?” tanyaku penasaran.

“Nggak kenal. Dia pakai seragam SMA sekolahan Non aja. Terus kan Pak Jajang buka jendela mobil, eh dia ngomong sesuatu.”

“Sesuatu apa, pak Jajang?” saat itu aku semakin penasaran, pasti itu adalah kak Kukuh. Nggak salah lagi.

“Katanya gini, Pak, makasih ya udah nganterin putri cantik ke sekolah saya. Hati-hati dijalan, jangan nerobos lampu merah walaupun lampunya masih kuning. Bahaya. Nanti kalau bapak kenapa-kenapa, siapa yang nganterin putri cantik ke sekolah saya lagi?” ucap Pak Jajang sambil mengikuti suara kak Kukuh, disitu aku ingin ketawa.

“Terus?”

“Iya, terus Pak Jajang jawab sama-sama.”

“Pak Jajang ngasih tau nama aku ke dia?” tanyaku yang masih penasaran apa yang diucapkan kak Kukuh dikantin barusan.

“Oh iya Non, dia juga nanya nama Non, saya kasih tau aja. Terus dia juga nitip salam sama mamah Non.”

“Hah? Nitip salam gimana, pak?”

“Iya bilangin ke mamah Non kalau dia mau ngucapin terima kasih sudah melahirkan putri cantik, dia bilang juga katanya bakal jagain Non kalau disekolah nanti.”

“Terus terus?”

“Udah segitu aja, katanya nanti dia bakal neraktir Pak Jajang kopi yang enak di warung deket sekolah Non, kalau semua yang dia bilang sama Pak Jajang sampein.”

Duh, kak Kukuh. Ada-ada aja deh.


Bersambung...

Leave a Reply

Mohon beri komentar yang baik dan sopan. Semua komentar kalian pasti gue baca dan balas. Terima kasih sudah menyisihkan waktu, tenaga, dan biaya kalian untuk membaca postingan ini. Semoga tulisan gue ini berguna.

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Muhammad Iqbhal - masisibal - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -