Posted by : Muhammad Iqbhal Jumat, 24 Juni 2016




   Katanya, jika mencintai seseorang itu harus sepaket dengan masa lalunya. Sekarang, gue mau cerita tentang kisah masa lalu hubungan gue pacaran dengan seseorang. Mungkin bisa disebut mantan gue yang terakhir, entah kapan itu berakhir, intinya dia adalah orang yang terakhir menjadi pacar gue setelah sekarang gue sendiri selama beberapa generasi.

   Namanya Rahayu Ratna. Berjenis kelamin cewek dan juga bernapas menggunakan paru-paru. Rambutnya hitam sebahu yang setiap serius dengan sesuatu, atau misalnya sedang membaca, dia selalu merapikan rambutnya ke belakang telinga, sehingga sesekali membuat gue tersenyum tanpa dia tau. Kita bertemu pertama kali saat gue makan di Mc Donald depan Masjid Agung Bogor setelah gue selesai membeli satu buku di Gramedia yang letaknya bersebelahan.  Saat itu nggak sengaja gue ketemu temen gue, sebut saja namanya Maria dos Santos.

   “Iqbal!” ucap seorang cewek yang duduk disebelah kiri dengan satu temannya setelah gue masuk pintu Mc Donald. Gue pun reflek menghampirinya setelah wajahnya gue kenal.

   “Ngapain lo kesini?” lanjut tanya Maria.

   “Biasa. Numpang pipis.” Jawab gue.

   “Ih. Disini kan nggak ada toiletnya!”

   “Oh ya?”

   “Iya.”

   “Yauda atuh gue mah pipis dipojokan juga bisa.”

   “Jorok lo ya.”

   “Ya, nggak lah, kaos parpol!”

   “ha ha ha.” Tawa seseorang yang daritadi bersama Maria.

   “Oh iya, kenalin Bal, Ini Rahayu.”

   “Oh. Halo. Iqbal.” Ucap gue bermaksud memberitahu nama sambil menjabat tangannya.

   “Ayu.” Jawabnya sambil tersenyum.

   “Eh bentar ya, gue mesen makan dulu. Haus. Lo mau mesen lagi ga? Sekalian jadinya.” Tanya gue.

   “Masa haus makan? Minum kali. Nggak deh. Nggak usah, Bal. Makasih.” Jawab Maria.

   “Ayu mau?” tanya gue.

   “Hah? Mau apa?” jawab Ayu yang sedari tadi sepertinya fokus dengan minumannya.

   “Mau mesen lagi ga? Sekalian gue juga mau beli makan.”

   “Oh nggak usah he he.” Jawabnya sambil senyum terpaksa. Entah canggung karena kita baru kenal beberapa detik yang lalu atau gue dimatanya bagaikan cowok jorok yang suka pipis sembarangan. Kadang, yang lebih teringat dari semua pertemuan pertama kali dengan seseorang itu bukan tentang bagaimana dia memakai baju warna apa, rambutnya diikat seperti apa, atau bahkan saat kita mendengar suara uniknya dia dalam berbicara, tapi yang berkesan dari dalam pertemuan pertama adalah saat kita melihat senyum pertama kalinya untuk kita.

   Ya, itulah pertama kalinya gue kenal dengan Rahayu, atau panggilan akrabnya adalah Ayu, berselaras dengan wajah, penampilan, dan juga perlakuannya. Mungkin juga karena Ayu ini adalah orang Jawa yang terkenal santun.

   Yang perlu diketahui, yang membuat gue kenal lebih jauh tentang Ayu ini adalah si Maria. Bukan maksud mencomblangkan gue sama Ayu juga. Tapi, dia yang selalu tiba-tiba membicarakan tentang Ayu ini tanpa gue tanya. Misalnya, saat gue nemenin Maria untuk beli kado buat pacarnya yang ulang tahun atau merayakan hari jadiannya setiap 7 hari sekali, nah Maria ini selalu ngebahas tentang Ayu. Mungkin karena Maria cewek, yang nggak bisa menyimpan keluh-kesahnya sendirian, dan secara gue juga sudah kenal Ayu.

   Pertemuan selanjutnya dengan Ayu adalah saat Maria meminta gue untuk membantu Ayu mencari buku (yang katanya) untuk tugas kuliah. Oh iya, Ayu ini kuliah jurusan manajemen keuangan di kampus swasta di daerah Jakarta. Gue pun mengiyakan untuk membantu Ayu sebisa gue. Kata Maria, dia udah kasih kontak gue ke Ayu. Dan nggak lama, ada notifikasi permintaan pertemanan. Bukan permintaan berpacaran. Bukan.

   “Halo.” Chat pertama kali dari Ayu setelah kita resmi menjadi salah satu friend list di kontak aplikasi chatting gue.

   “Hola.” Jawab gue.

   “Iqbal?”

   “Betul! Satu juta rupiah tapi bunganya 100%.”

   “Ha ha.”

   “Boleh minta bantu ga? Tadi Maria udah ngasih tau belum?” tanya Ayu.

   “Udah kok. Mau kapan?”

   “Terserah lu aja. Kalau nggak sibuk.”

   “Tiap hari mah sibuk kok.” Jawab gue bercanda, “sibuk bernapas tapi.” Lanjut gue.

   “Bercanda mulu nih. Gue mah terserah lu aja, beneran. Biar gak ngerepotin.”

   “Besok juga bisa. Atau hari Sabtu aja?” ucap gue memberi pilihan.

   “Beneran besok gapapa?” tanya Ayu

   “Iya gapapa. Emang nyari buku apa?”

   “Mengelola keuangan menurut kajian islam.” Jawab Ayu.

   “Oh, itu mah banyak di Gramed juga.”

   “Tapi tadi gue udah nyari di Gramed Botani Square nggak ada. Bukan nggak ada sih, nggak ada yang pas.”

   “Oh, gitu. Yauda besok sambil cari aja di toko buku lain yang gue tau.”

   “Oke, maaf ya jadi ngerepotin lu.”

   “Kalau disuruh bikin candi satu malem yang ngerepotin mah.”

   “ha ha ha. Ada ada aja.” Ucap Ayu.

   Itulah kurang-lebih isi pembicaraan gue dengan Ayu pertama kali sebelum pertemuan kita selanjutnya. Besoknya, gue janjian sama Ayu di Gramedia Pajajaran depan Masjid Agung Bogor jam 3 sore. Alhasil, disana juga ternyata nggak ada buku yang Ayu cari. Selanjutnya gue dan Ayu mencari ke Gramedia Ekalokasari yang sekarang Gramedia itu udah nggak ada, padahal isinya nggak kalah lengkap dan besar dari toko buku lain di Bogor. Dan disanalah Ayu menemukan bukunya yang dia cari. Dan gue nulis bagian ini karena berhubungan dengan bagaimana gue bisa intensif kenal lagi sama Ayu, pertemuan selanjutnya lagi dan lagi, sampai akhirnya kita cukup dekat karena sering ketemu dan ngobrol via chatting sampai ketahap saling peduli.

   Ayu dan gue juga saat itu sama-sama sedang sendiri. Kita jadi bebas untuk membicarakan apapun sampai hati gue luluh sama dia karena perhatiannya yang sederhana. Yaitu, ketika gue sedang makan bareng sama dia di salah satu tempat makan dan gue selalu memakan es batu di minuman yang gue pesan. Ayu tiba-tiba melarang gue dan mengambil cankir yang es batunya sedang gue lahap.

   “Ih nanti sakit!” katanya.

   Buat gue, itu adalah perhatian sederhana Ayu, yang dia tunjukkan ke gue sebagaimana gue merasakannya sebagai perhatian yang lebih. Entah lebay atau apa kata kalian. Sebetulnya cowok kadang suka luluh dengan perlakuan kecil dari seorang cewek.

   Dan sampai pada akhirnya gue benar-benar dibuat luluh oleh Ayu ketika dia tahu kalau gue waktu itu sedang sakit dan lagi diluar. Gue dimarahin dan disuruh nyamperin dia yang saat itu sedang reuni SMA nya yang nggak terlalu jauh dari tempat gue berada. Gue pun nyamperin dia, dan tau apa yang gue dapetin disana? Bukan omelan atau menyuruh gue balik. Tapi dia ngasih sesuatu,

   ”Boleh lanjutin mainnya, tapi diminum tuh obatnya.” Ucap Ayu sambil memberikan beberapa sachet obat yang sesuai dengan sakit yang gue lagi rasain. Padahal saat itu gue cuma sariawan.

   Dan setelah sembuh, gue nggak menunggu waktu lagi. Nggak menunggu buat nemuin alasan yang lain. Yang didalam benak gue adalah, nembak Ayu. Dan benar dugaan gue, kita pun akhirnya jadian.

   Pacaran selama 5 bulan dijalani nggak membuat kita beda dari pasangan lain diluar sana. Kadang kita kalau lagi mesra itu mesra banget, kalau lagi jijik ya jijik banget. Tapi nggak sampai drama yang berlebihan. Dan masalah pertama kali timbul itu ketika Ayu mengetahui semua masa lalu gue, dia mengkepoi semua akun sosial media, blog, dan gallery-galerry foto gue dahulu yang disimpan rapi di Facebook.

   Kadang, ketika kita mulai menyukai/mencintai seseorang, kita akan menggali masa lalunya sampai ke dasar-dasar.

   Dan Ayu ini orangnya minderan. Gue tau dia selalu ngambek tiba-tiba karena abis kepoin Twitter gue yang dulu mention-mentionan saat gue masih jadian sama mantan gue 1000 tahun yang lalu sebelum Masehi, dan dia jujur sama gue. Awalnya gue memaklumi dan coba buat dia ngerti, tapi yang namanya manusia kadang nggak bisa tahan dengan rasa penasaran.

   Bahkan ketika gue sibuk dan memang nggak bisa cepat balas chattingnya, Ayu ini selalu tiba-tiba ngambek, alasannya adalah dia ini sambil mengirim screenshot foto gue sama mantan gue dulu, tulisan tentang mantan gue, dan lain-lain. Mungkin ketika gue bales chatting yang lama, dia masih tetap mengkepoi semua tentang gue.

   Kita pun akhirnya berantem dan nggak komunikasi cukup lama. Gue udah coba jelaskan dan minta untuk ketemu, tapi dia selalu menolak dan ingin sendiri. Gue mencoba ngerti.

   Dipikiran gue, nggak pernah ada niat sedikit pun membalas yang sama seperti Ayu. Gue nggak pernah balik menyalahkan dia karena masa lalunya juga. Gue tau tentang masa lalunya Ayu, gue juga nggak menutup kejujuran kalau gue pun pernah mencoba mengkepoi semua akun Ayu di sosial medianya, yang masih menyimpan foto bersama mantan pacarnya yang dulu. Cemburu itu ada. Lantas nggak pernah gue lampiaskan jadi emosi.

   Hubungan gue dan Ayu akhirnya gagal karena kita udah ngerasa kalau hubungan kita udah nggak seperti biasanya yang indah karena diisi perhatian-perhatian sederhana, gerak jalan berdua di mall, ngobrolin hal sepele yang nggak pernah berhenti buat kita ketawa disetiap ketemu, dan juga semua hal yang kita obrolin sama sekali nggak diisi dengan membahas masa lalu.

   Nggak enak kan ketika kita asyik ngobrol dia malah tiba-tiba bahas masa lalu yang bikin mood berantakan.

   “Besok ada Shaun The Sheep The Movie tuh, kayaknya lucu deh.” ucap gue saat itu sedang makan berdua sama Ayu.

   “Tau darimana lucu? Dari mantan kamu yang kamu kasih boneka Shaun The Sheep itu ya?” jawab Ayu dengan santai yang membuat gue nggak nafsu lagi buat makan, padahal gue sadar saat itu baru makan sesuap nasi sehabis buka puasa.

   Sampai sekarang, nggak cuma Ayu. Ketika gue selalu dekat dengan orang baru, orang itu kadang pergi dengan alasan masa lalu gue. Setiap gue tulis cerita masa lalu gue disini pun pasti mereka mengira gue masih belum move on. Padahal gue nggak berpikir bahwa ada maksud dibalik tulisan gue tentang masa lalu. Gue cuma menulis karena setiap detail pengalaman yang gue alami bisa jadi pelajaran di masa depan nanti. Entah untuk gue nggak terjebak lagi dalam kesalahan yang sama, membuat orang lain belajar dari kisah gue dimasa lalu, atau sebagai hiburan pembaca.

   Gue menulis masa lalu bukan maksud gue ingin seseorang itu kembali. Sama sekali bukan. Gue ingin menghargai masa lalu gue itu. Karena gue sadar, gue nggak akan bisa jadi seperti ini tanpa masa lalu gue. Kalian pun.

   Seindah apapun masa lalu kalian, itu adalah milik kalian. Biarkan dia berada ditempat yang rapi di hati ataupun pikiran. Mustahil untuk menghapusnya, tapi tidak mustahil jika kita mengikhlaskannya.

   Sejujurnya, gue nggak pernah sama sekali marah dan menyesal kepada orang yang pergi setelah mereka tau masa lalu gue. Seindah atau seburuk apapun masa lalu, ya itu adalah masa lalu. Gue sadar, gue dulu adalah orang yang sering melewatkan yang terbaik, melewatkan orang-orang yang udah tulus, orang-orang yang udah baik, dan juga orang-orang yang setia. Tapi, yang sekarang yang gue lakuin adalah menjadi yang terbaik dari yang dulu, memperbaiki lagi, dan mencoba belajar sedikit-demi-sedikit untuk menghargai. Dan jika pada akhirnya memang memutuskan untuk pergi, mungkin pada saatnya nanti yang terbaik akan hadir. Gue percaya.

   “Biasanya Tuhan menyimpan yang baik-baik untuk diberikan kepada kita belakangan, ketika lengah dan mulai lelah.” – Annisa N. Nugraha

   Intinya, gue juga nggak pernah lelah untuk menjadi yang terbaik. Menjadi yang terbaik untuk semua yang nanti akan gue miliki. Tanpa harus menilai masa lalunya.

   Ya, intinya hari ini segitu dulu curhatan gue. Banyak dari kalian juga gue yakin ada yang masih nggak terima dengan masa lalu pasangan kalian, tapi ingatlah memang ketika kita mencintai seseorang, kita juga harus SEPAKET dengan masa lalunya. Dan untuk masa lalu, yakin bahwa saling SEPAKAT untuk udah nggak lagi bersama.

{ 4 Komentar... read them below or Comment }

  1. Waduh, ngeri juga, bang, kalo seandainya suatu saat nanti gue punya pacar. Kalo ternyata dia suka kepoin blog gue, dan dia tau gue sering ngabisin air mineral bekas orang, nanti dia malah minta putus.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gapapa. Masih mending. Tandanya dia bukan yang terbaik. Masa sama masa lalu aja kalah.
      Asal jangan kebiasaan masa lalu yang suka boker di jendela masih terus dilakuin aja. Itu mah memang harus periksa ke psikiater.

      Hapus
  2. Bang kalo tementemennya pacar gue masi suka ngungkit" masalalunya doi sama mantannya gimana bang?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaelah, becanda aja dibaperin. Kayak gitu aja kamu lemah, apalagi nanti digosipin kalo pacar kamu selingkuh sama om kamu sendiri?
      Udah deh. Mencintai juga jangan sepenuhnya, layaknya pasir dalam genggaman, semakin erat kamu genggam, semakin dia keluar lewat celah-celah jari kamu.
      Jangan kayak abg lagi, ada masalah dikit malah diperbesar. Suka kasian jadinya.

      Hapus

Mohon beri komentar yang baik dan sopan. Semua komentar kalian pasti gue baca dan balas. Terima kasih sudah menyisihkan waktu, tenaga, dan biaya kalian untuk membaca postingan ini. Semoga tulisan gue ini berguna.

- Copyright © Muhammad Iqbhal - masisibal - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -