Posted by : Muhammad Iqbhal Jumat, 30 September 2016



Suatu pagi yang cerah gue dibangunkan dengan suara bokap mengetuk pintu kamar gue, bunyinya gini: tak-tak-dug-dug-ces~

“Bal, udah pagi. Bangun! Nanti jodohnya dipatok ayam.” Teriak bokap gue di balik pintu kamar.

“Biarin aja pak, nanti ayamnya Iqbal goreng.” Jawab gue sambil merubah posisi tidur.

“Yee.. Ada Raline Shah nyariin kamu tuh.”

“Hah? Serius?” dengan semangat gue pun langsung lompat dari tempat tidur membuka pintu kamar tak peduli dengan muka bantal.

“Mana pak?”

“Noh di langit~”

“Ah dasar. Ngantuk nih semalem abis nonton bola.”

“Udah jangan tidur lagi, beliin sarapan sana di Bu Tara.”

Perlu diketahui, Bu Tara ini adalah tetangga gue. Di depan rumahnya dia berjualan makanan, gorengan, dan cemilan manis setiap pagi. Biasanya ibu-ibu banyak yang beli buat sarapan di rumah, bekal sekolah atau kantor. Dan kelebihan produknya Bu Tara ini adalah cepat habis. Buka jam 6 pagi dengan makanan setumpuk gunung. Terserah gunungnya siapa. 15 menit berlalu, itu semua makanan ludes terjual. Gokil. Tapi, memang enak sih, mungkin dibuatnya pake cinta. Cie gitu.

Saat itu waktu yang menunjukkan pukul 6 pagi lewat 5 menit gue berjalan menuju rumah Bu Tara dengan membawa piring dari rumah sendiri ditambah uang 20ribuan digenggaman tangan dan hati yang masih berharap untuk dimiliki seseorang. Untungnya rumah Bu Tara nggak jauh dan nggak perlu pesen Go-Je*k, letaknya dibelakang rumah gue tapi agak sonoan dikit. (((sonoan dikit)))

“Bu, saya pesen nasi uduk. Tapi nggak pake nasi ya bu.”

“Oh bisa, bawangnya doang ya.”

“Ha ha becanda bu. Masa bawangnya aja. Kerupuknya aja bu.”

“Ok.”

-Tamat-

Ya nggak gitu juga lah, pokoknya beli aja biasa. Pesen nasi uduk, gorengan, cemilan manis kayak donat dan senyuman kamu. Udah.

Tapi saat itu gue nyeletuk nanya gini,”Bu, pak Tara udah pulang kerja?”

“Belum. Emang kenapa?”

“Dikirain udah pulang, kan biasanya kalau Sabtu Pak Tara suka ngajak futsal lawan blok G.”

“Belum tuh, mungkin siang atau sore.”

“Ibu ngurus Rado, Rina, sama Epan sendirian dong di rumah sekarang?”

“ha ha. Iya, ibu malah udah biasa hampir tiap hari ngurus mereka mah, Bal.”

“Oh gitu. Nggak cape, bu?” tanya gue yang sambil melihat-lihat Bu Tara membungkuskan pisang goreng yang gue pesan ke dalam plastik.

“Ya, cape mah pasti. Namanya juga tanggung jawab seorang ibu.”

“Tapi, nggak pernah ngeluh ke Pak Tara?” tanya gue lagi yang malah jadi penasaran.

“Setiap hubungan rumah tangga kan pasti di dalamnya ada masalahnya. Jadi tergantung gimana kita nyikapinnya aja. Ada yang bisa setiap hari ketemu suami tapi istri ngeluh karena selalu menuntut biaya lebih. Ada juga yang biaya tercukupi tapi nggak bisa punya waktu buat yang lain.”

“Duh, jadi ngobrol lebar gini kan, bu. He he.”

“Nggak apa-apa lah, Bal. Kamu juga harus belajar. Udah duduk dulu disini. Kita cerita-cerita. Nanti kamu cerita tentang pacar kamu juga ya.”

Damn!

Pacar?

Oh my God!

Gue tiba-tiba amnesia. Pacar gue siapa ya?

Seteleh itu, gue pun menuruti Bu Tara untuk duduk ngobrol di warungnya sambil mengemil makanan manis dan lanjut mengobrol.

“Berarti pak Tara selama ini kerjanya cuma pulang weekend aja?” tanya gue.

“Iya. Senin sampai Sabtu Pak Tara nggak pulang. Kan kantornya di luar kota.” Jawab Bu Tara sambil melayani pelanggan lain.

“Oh gitu. Selama ini ibu nggak pernah mikir yang negatif suatu hal gitu?”

“Oalah.. Nggak lah. Saya percaya suami saya karena mereka.” Kata Bu Tara dengan logat Jawa yang cukup kental sambil matanya mengarah pada ketiga anaknya sedang bermain di teras rumahnya.

“Hebat, bu. Kadang saya aja dulu atau pasangan yang lain jaraknya jauh suka curiga gitu.”

“Dulu waktu ibu belum nikah sama pak Tara itu lebih parah. Kita ketemu jarang sekali. Telfonan jarang juga. Kenyataannya hubungan kita bisa jalan 7 tahun dan akhirnya nikah.”

“Awesome.” Kata gue dengan pisang goreng yang penuh di dalam mulut. Jangan dibayangin suaranya kayak apa. Dan Bu Tara saat itu tersenyum, gue yakin dia pasti membayangkan masa lalunya lagi.

“Rahasianya apa sih, Bu?” lanjut gue.

“Ada deh. Kan rahasia mah nggak boleh dikasih tau.”

“Ah Bu Tara bisa aja ngelawaknya. Sama kayak Pak Tara.”

“Ha ha. Iya karena kebiasaan Pak Tara yang suka ngelawak, mungkin saya bisa ikutan juga, Bal.”

“Oh gitu ya. Menyatukan perbedaan jadi satu yang akhirnya kebiasaan pasangan malah jadi kebiasaan kita juga ya?”

“Iya, betul. Contoh lain juga kayak saya itu orangnya yang rapi. Kamar tidur harus rapi, ruang tamu harus rapi, pokoknya semua barang harus ditempatnya. Kalau nggak, saya bisa marah. Dulu itu kejadian waktu kita masih belum punya anak, marah-marah terus dan berantem. Kata orang sih wajar karena pasangan baru.” Ucap Bu Tara panjang lebar lalu berhenti sebentar melayani pelanggan lain yang datang.

“Dan Pak Tara juga orangnya paling nggak bisa ngeliat handuk basah di tempat tidur. Saya sering begitu, padahal kan perempuan itu kalau habis mandi dan dandan pasti ribet dan nggak sempet mikirin handuk basah. Jadinya, Pak Tara juga ikut marah saat itu.” Lanjut Bu Tara.

“Terus sekarang masih kayak gitu, bu?”

“Oh nggak. Sekarang kita lebih ngerti. Kalau ada barang nggak rapi, ya langsung dirapihin. Kita lebih ngerti dengan ngasih tau, kalau udah dikasih tau tapi tetep gitu juga ya dicoba pelan-pelan rubah kebiasaan jelek yang merugikan itu. Dan kalau handuk basah lagi di tempat tidur pun Pak Tara sekarang suka ambil dan ditaro ditempatnya tanpa marah-marah lagi.”

Sugoi!” celetuk gue.

“Dengan jarak yang jauh, jarang ketemu juga, dan harus memikul beban berat ngurus anak, tipsnya apa sih bu?”

“Jarak bakalan bener-bener jauh, kalau nggak berusaha. Sekarang ada hape untuk komunikasi. Biarin  dia sibuk, tapi kita jadi prioritasnya. Pak Tara setiap jam istirahat kantornya selalu sms bilang gimana kabar anak-anak, lagi apa anak-anak, dan apa anak-anak udah makan belum. Dan itu rutin. Sekalinya Pak Tara saking sibuknya dan gak sempet pun Ibu selalu ngingetin duluan untuk supaya Pak Tara jaga kesehetan disana.”

Gue terdiam dengan jawaban Bu Tara.

“Jarang ketemu itu adalah kesepakatan kita dari awal. Dan saya percaya Pak Tara itu laki-laki yang bisa pegang janjinya. Jika tidak, ya salah pilih pasangan. Tapi yang lebih salah lagi, kita nggak berani dan yakin akan orang yang mau mencoba serius dan tulus sama kita. Banyak diluar sana punya anak banyak tapi nggak punya suami, saya bersyukur walaupun suami hanya bisa ketemu dua hari saja dalam seminggu. Nggak ada beban yang berat dalam ngurus anak. Kalau kamu punya anak nanti kamu akan ngerasain, nggak ada yang namanya susah ngurus anak dibalas dengan senyum bahagia dari mereka. Semua capek bisa hilang.”

Gue mangap.

Gokil. Gue baru kali ini ngeliat hubungan yang dewasa. Hubungan yang gue kira nggak ada, tapi diluar sana masih banyak hubungan dengan perjuangan buat ngejalaninnya butuh usaha luar biasa.

Dari Bu Tara gue bisa belajar bahwa arti dari kompromi satu sama lain dengan pasangan itu adalah kunci hubungan harmonis. Ketika kita tidak suka dengan kebiasaan pasangan, janganlah marah, itu bakal malah memperparah. Yang harus dilakuin adalah saling mengingatkan dengan baik bahwa kebiasaannya itu jelek yang bisa merugikan. Daripada memendam yang akhirnya jadi beban sehingga hubungan jadi nggak terbuka, dan ngejalaninnya pun udah pasrah akan terjadi kedepannya. Tinggal nunggu waktu untuk pisah aja. Amit-amit.

"Siapa pun pasangan kita, dia adalah orang asing yang tidak cocok dengan kita tapi berusaha dicocok-cocokkan satu sama lain agar hubungan bisa terus jalan."

Cinta sederhana Bu Tara bisa membuka mata gue bahwa nggak semua hubungan itu nggak bisa lagi ngelakuin hal yang kita mau. Justru malah ada jalan dan penyemangat yang akan mengantarkan kita melaju lebih cepat ke suatu hal yang kita ingin.

Contohnya produk fenomenal Bu Tara yang terkenal sekomplek rumah gue. Bu Tara bisa melakukan hal yang menjadi keahliannya dalam memasak dan mengolah makanan yang bisa menghasilkan sesuatu yang baik buat dia dan yang lain. Bisa dapat pujian juga dari orang lain. Dan tentunya dukungan sang suami yang luar biasa walaupun jauh disana.

“Oh iya, sekarang giliran kamu. Pacarnya siapa sekarang?” tanya Bu Tara dengan wajah yang penasaran.

“Ng…. Anu. Aduh…”

Mending sekalian tulisannya juga udahan aja deh.

Thanks for Reading, guys! Have a nice day!

{ 2 Komentar... read them below or Comment }

  1. Coba kau tanya tuch bu tara, pake penglaris ngak ??? Apaan penglaris nya ??? Pengen deh jualan 15 menit habis

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pake cinta, ketulusan, kesetiaan, dan kepercayaan, mas cumi he he.

      Hapus

Mohon beri komentar yang baik dan sopan. Semua komentar kalian pasti gue baca dan balas. Terima kasih sudah menyisihkan waktu, tenaga, dan biaya kalian untuk membaca postingan ini. Semoga tulisan gue ini berguna.

- Copyright © Muhammad Iqbhal - masisibal - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -