Posted by : Muhammad Iqbhal Jumat, 09 September 2016

     



   Banyak orang bilang, sahabat adalah orang yang mau mengerti semua tentang kita, yang mau menerima kita apa adanya, dan selalu ada saat kita membutuhkannya.

     Gue sih belum percaya sama omongan itu, setelah gue nonton FTV tentang orang yang merebut pacar sahabatnya sendiri, dicomblangin sahabatnya tapi yang jadian malah sahabatnya itu, dan saat sengaja kulit ayam dipisahin buat dimakan terakhir… , eh malah diambil sahabatnya sendiri. Sedih. Kadang gue menilai bahwa suatu kebaikan dan kesempurnaan seorang teman pasti ada hal yang menyebalkan juga.

    Namanya Didit. Gue kenal dia saat masih duduk di bangku SMP. Sekolah malam pertama. Bukan, maksudnya sekolah menengah pertama.

    Pada awalnya gue sekolah dasar di salah satu sekolah  negeri di Kota Bogor.  Letaknya di tengah-tengah Kota Bogor, deket banget sama Kebun Raya Bogor, Istana Bogor, dan juga Tugu Kujang yang sebagai simbol dari Kota Bogor. Setelah lulus dari sekolah dasar, gue melanjutkan di SMP negeri yang letaknya dekat perbatasan kota dengan kabupaten. Cukup jauh jaraknya, sekitar 7 hari kalau jalan kaki dari rumah.
   
    Karena jauh itu, bokap gue membelikan sebuah sepeda motor. Iya, sejak SMP gue dikasih motor buat pergi ke sekolah. Gue nggak ngebayangin gimana gue kalo udah kuliah nanti dan jauh lagi jaraknya, di Zimbabwe, mungkin gue dibeliin pesawat jet.

    Saat itu adalah waktu pembagian kelas setelah acara MOS selesai, atau orang lebih kenal dengan nama OSPEK. Gue mencari nama gue di selembar kertas yang ditempelkan di setiap jendela masing-masing kelas. Sekolah gue saat itu cukup luas dan berbentuk seperti sekolah biasa pada umumnya, ditengah-tengah terdapat lapangan tempat upacara sekaligus lapangan basket  dan juga multifungsi sebagai lapangan futsal, voli, dan sumo, yang dikelilingi ruangan-ruangan kelas setinggi dua lantai.

    Awalnya gue mencari nama gue di sebuah ruangan dekat gerbang sekolah, tapi nggak ada nama gue disitu, yang ada malah seorang cowok keluar dengan muka abis jalan sama gebetannya sambil benerin sleting celana, dan ternyata itu bukan kelas, tapi toilet. Sampai gue melanjutkan mencari sampai ke lantai dua, nggak ada juga. Gue pun baru inget nama asli gue, ternyata daritadi gue malah mencari-cari nama Jerremy Thomas. Maklum, saat itu gue belum punya KTP, jadi gue suka ganti-ganti nama semaunya, pernah gue kenalan sama cewek, dan gue ngomong ke dia kalo nama gue adalah Tom Cruise, endingnya dia pun memutuskan untuk periksa ke dokter mata.

    Viola! Akhirnya menemukan nama gue di kelas F, gue lihat semua kursi sudah banyak diduduki teman kelas gue lainnya yang udah pada duluan dateng. Gue pun mencari bangku yang kosong sambil jalan ke arah barisan belakang dan nggak nemu satu pun bangku yang kosong.

     “Hei, nyari tempat duduk ya?” kata seorang cowok yang duduk paling pojok belakang sambil menyender ke tembok. Badannya cukup kurus dan kelihatannya lebih pendek dari gue.

     “Iya. Kayaknya kelas ini kurang bangku deh.” Jawab gue sambil tersenyum paksa sambil mati gaya.

     “Yauda, duduk disini aja.” Ucapnya sambil berdiri lalu mengambil tasnya di meja.

     “Loh, lo terus duduk dimana?” tanya gue keheranan.

     “Udah santai, gue mau ke ruang guru dulu lapor kalau bangkunya kurang.” Jawab cowok itu sambil melongos pergi meninggalkan gue tanpa basa-basi lagi. Gue pun akhirnya duduk dan berkenalan dengan seseorang yang udah daritadi duduk disebelah cowok yang memberikan gue bangku. Namanya Raka, tapi gue menyebutkan nama gue ke dia adalah Brad Pitt. Lalu Raka memutuskan untuk pindah sekolah.

    Tak lama seorang guru pun masuk ke kelas lalu menanyakan apakah sudah semua yang hadir sambil mengabsen satu per-satu nama-nama diselembar kertas absensi yang dia pegang. Tapi, ada satu orang yang sepertinya belum hadir, namanya Didit.

     “Assalamualaikum!” ada seseorang dari luar kelas mengucap salam tapi tak bisa kulihat karena gue berada di pojok belakang yang di sebelah kanannya tembok dan pintu kelas berada di ujung barisan depan meja gue.

     “Wa’alaikum salam.” Ucap guru dan teman-teman gue sambil memalingkan wajah ke arah pintu keluar. Gue? Cuma bisa nyium-nyium tutup pulpen doang karena nggak tau siapa yang ngucap salam barusan.

     “Saya Didit, pak! Maaf telat, barusan abis nyari bangku ini dulu.” Suaranya bisa gue denger kayak suara cowok yang barusan ngasih gue bangku

    DEG!

    Ternyata dia tadi pergi keluar mencari bangku sendiri, yang merelakan bangkunya buat dikasih ke gue.

    Selain Didit itu orangnya super baik. Dia juga rajin ibadah. Saat itu gue pernah telat istirahat karena abis ngerjain tugas yang diberikan guru sampai waktu istirahat gue termakan 25 menit dari 30 menit. Tapi, saat itu Didit mau menemani gue buat ngumpulin tugas itu bareng. Setelah itu, gue pun membalasnya dengan ajakan dia untuk salat Duha. Belum selesai salat, bel tanda masuk kelas pun berbunyi. Gue lihat Didit terlihat nggak panik dan nggak buru-buru.

    Gue yang daritadi was-was pun akhirnya terjadilah sesuatu. Gue dan Didit nggak bisa masuk kelas. Yap, karena saat itu masuk jam pelajaran guru yang cukup tegas soal waktu dan peraturan, Bu Hega namanya, guru mata pelajaran Bahasa Indonesia. Kita pun cuma disuruh duduk di luar kelas, nggak boleh kemana-mana karena kalo bu Hega itu ngeliat kita nggak ada diluar kelas atau pergi ke kantin, kita bakal kena hukuman yang lebih berat. Handstand di depan tiang bendera.

     “Bu, kita tuh abis salat! Sumpah, bu. Liat muka kita udah ganteng maksimal kan?” Ucap gue di depan pintu kelas memberikan alasan kenapa kita telat masuk kelas setelah jam istirahat. Sambil mencoba sedikit bercanda. Gue tau saat itu bahwa cara meluluhkan guru Killer adalah dengan keramahan dan berani untuk sedikit bercanda.

     “Coba ibu tanya, salat berapa menit?” Tanya bu Hega saat itu sambil merentangkan tangannya seolah melarang orang lain masuk ke dalam kelas sambil memegang gagang pintu.

     “5 menit, bu.” Jawab gue.

     “Nah kenapa diwaktu istirahat yang 30 menit gak kalian pake dengan bijak?”

     “Tapi, bu, waktu istirahat kita tadi ngerjain soal dan harus selesai saat itu juga.”

     “Nggak ada alasan! Udah kalian diluar!” bentak bu Hega yang saat itu sedikit membuat gue kaget.

     “Jadi, karena ibu non-muslim se-enaknya aja ngehukum kita karena alasan ibadah? Dan ibu nggak selalu percaya kalau kita memang bener salat barusan? Hah!” ucap gue dengan nada cukup keras karena sangat dikuasai oleh emosi saat itu.

     “Ngomong apa kamu barusan?”

     “Udah, Bal. Udah. Kita diluar kelas aja. Sabar jangan emosi gitu, nggak enak diliatin yang lain.” Potong Didit tiba-tiba melerai perdebatan gue dengan bu Hega.

     “Iya, tapi kan udah keterlaluan banget nggak boleh masuk padahal kita kan nggak bohong.” Balas gue yang bermaksud membela sebuah kebenaran. Saat itu gue merasa cocok untuk jadi superhero. Tepatnya kayak pahlawan betopeng di komik Sinchan.

     “Duh, Bu, maafin temen saya. Kita bakal diluar kok, bu. Sekali lagi, maaf ya bu.” Lagi-lagi Didit mencoba mencairkan suasana dengan kalimatnya yang so’ lembut.

     “Iya! Kalian juga nggak boleh ikut ulangan. Karena hari ini ada ulangan.” Jawab Bu Hega.

    Saat itu Didit pun mengangguk-ngangguk kepada bu Hega untuk menuruti perintahnya. Gue heran, Didit nggak protes sama sekali soal kita yang dihukum buat nggak boleh masuk kelas karena telat sebentar, saat itu pun katanya sedang berlangsung ulangan bahasa Indonesia, padahal belum sama sekali dimulai.

     “Lo kenapa sih, nurut aja. Udah tau bu Hega yang salah?”

     “Bal, setiap orang yang ngelakuin kesalahan ke kita, pasti ada sesuatu juga yang salah dari kita.”

    Itulah jawaban Didit ke gue yang membuat gue sadar sampai sekarang, setiap ada orang yang emosi atau marah ke gue, gue yakini juga bukan sepenuhnya salah dia, gue mungkin kurang mengintrospeksi diri, bahwa sesungguhnya ada sesuatu yang dilakukan diri gue juga yang salah.

    Karena gue dan Didit saat itu duduk dibangku satu meja yang sama, gue bukan lagi sering ngobrol sama dia, tapi lebih mengingat cara bagaimana dia menulis, Didit selalu menulis menggunakan tangan kiri.

    Huh..., padahal itu udah lama banget, tapi sampai sekarang entah kenapa gue masih bisa inget itu. Didit juga nggak pernah ngajak gue ngobrol ketika guru menerangkan, mungkin ini adalah kebiasaan teman semeja yang langka saat itu, karena banyak siswa yang kena marah bahkan sampai diusir keluar kelas karena mengobrol di saat guru lagi menerangkan.

    Pernah suatu ketika Didit dimarahi dan dihukum seorang guru. Ya, bu Hega lagi. Entah kenapa bu Hega ini paling sering ngasih ngehukum siswa, kadang gue berpikir kalo bu Hega itu diutus Tuhan dari neraka untuk nyiksa orang berdosa dan jomblo.

    Didit saat itu dihukum karena nggak mengerjakan tugas. Alasannya? Nggak punya buku cetak. Saat itu, awal tahun ajaran baru, selain baju, alat tulis, dan buku tulis baru, ada satu yang kadang menjadikan biaya pendidikan itu mahal. Yaitu, buku paket setiap mata pelajaran, belum lagi buku LKS(lembar kerja siswa) yang selalu guru mengambil soal, tugas, dan juga PR ke muridnya.

    Saat itu kita diberikan PR Bahasa Indonesia yang udah menjadi haknya bu Hega. Dan waktunya PR dikumpulkan di meja barisan paling depan, bu Hega menyuruh yang tidak membuat PR untuk maju ke depan kelas. Didit pun maju. Gue yang tadinya udah terlanjur mengumpulkan PR pun akhirnya gue ambil lagi, dan gue pergi menemani Didit dan teman-teman lainnya yang nggak membuat PR.

    Dor!” Teriak gue sambil menepuk pundak sebelah kiri Didit, dia kayaknya bukan kaget, tapi heran. Karena gue saat itu yang ingin dihukum malah nyengir nggak jelas ke dia.

     “Bal, lo padahal kalo sakit mah mending nggak usah sekolah.”

     “ha ha. Kampret.”

    Saat itu sebenernya Didit nggak tau kalau gue mau dihukum karena pengen nemenin dia aja. Walaupun hukumannya harus hormat ke tiang bendera di bawah teriknya sinar matahari pada jam 12 siang, gue menemukan sesuatu bahwa setiap kita berada di dalam situasi atau keadaan yang sama dengan teman, hukuman seberat apapun malah terasa ringan untuk dirangkul bersama. Itu pendapat gue dulu.

     “Eh, Dit. Baliknya temenin gue yuk. Lo ada urusan ga?” tanya gue ke Didit yang saat itu berdiri disamping gue yang masih sikap hormat ke arah tiang bendera.

     “Kemana emang? Nggak ada, kok.” Jawab Didit dengan tidak menoleh ke arah gue.

     “Udah ikut aja, nggak nyampe nyebrangin laut ini kok.”

     “Oh kalo nggak nyebrang laut, hayu deh.” Jawab Didit cepat.

    Akhirnya setelah bel pulang sekolah gue ajak Didit ke sebuah toko buku di daerah jalan Padjajaran, Bogor. 20 menit kalau naik motor dari sekolah kita. Karena gue masih SMP dan belum punya SIM, gue selalu menggunakan jalan alternatif demi menghindari polisi. Pernah waktu itu gue di-stop polisi cuma karena motor gue nggak ada tutup pentil, untungnya gue cuma disuruh push-up setelah berdebat dengan pak polisi yang menurut gue hanya mencari kesalahan sepele. Setelah kejadian itu, gue pun lebih memilih lewat jalan tikus, jalan kecoa, dan jalan meong selamanya. Jangan tanya meong itu apa, please.

    Sesuai tebakan, gue pun selamat sentosa sampai di sebuah toko buku tersebut sekitar memakan waktu 20 menit 33 detik. Gue lihat Didit sepertinya baru pertama kali kesini, dilihat dari dia melihat-lihat daerah sekitar yang menurutnya asing. Setelah gue parkirin motor, gue ajak Didit masuk ke toko buku, gue berjalan menuju ke arah rak buku yang isinya tentang buku sekolah.

    Gue kesitu tadinya bertujuan buat beliin Didit buku paket pelajaran Bahasa Indonesia, tapi setelah gue lihat harganya, muka gue langsung pucet.

     “Buset. Mahal banget.” Ucap gue spontan.

     “Hah apa, Bal?” tanya Didit yang sepertinya mendengar ucapan gue barusan.

     “Ah nggak ini bukunya kok bentuknya persegi panjang, ya? Setau gue kemarin bukunya jajar genjang deh.”

     “Oh… , haha masa ada buku bentuknya jajar genjang sih, Bal.” jawab Didit sambil mengoreksi ucapan gue barusan,”Ini toko buku lengkap banget yah, Bal.”

     “Iya, cuy. Gue juga dulu pertama kali kesini diajak bokap dan bilang kayak gitu.”

     “Ha ha. Yauda baca-baca dulu aja, gue mau ke bagian rak buku sana ya.” Ucap gue ke Didit yang memintanya terus melihat-lihat buku padahal gue pergi keluar untuk mencari sebuah tempat fotocopy.

    Karena di dompet gue cuma ada 5 milyar. Gue akhirnya memutuskan untuk fotocopy buku paket Bahasa Indonesia gue aja. Yang tadinya harga buku paket itu Rp. 89.000, tapi di-fotocopy cuma dengan harga Rp. 20.000. Setelah akhirnya dapat tempat fotocopy dan selesai fotocopy semua halaman buku paket Bahasa Indonesia, gue pun menghampiri Didit lagi yang sepertinya cukup lama meninggalkan dia sendiri di toko buku.

     “Dit.” Saut gue saat itu yang melihat Didit fokus membaca buku otomotif yang terlihat gambar motor dan mobil di bagian covernya.

     “Eh, dari mana aja lu gue cariiin.”

     “Dari toilet di luar. Oh iya, buku yang gue cari juga nggak ada, tadi udah gue tanyain juga.”

     “Oh gitu. Yauda, mau balik?”

     “Yuk, balik aja.”

    Gue dan Didit pun akhirnya langsung pergi dari toko buku dan menuju ke arah rumah Didit yang nggak jauh dari sekolah kita. Dan saat Didit turun, gue menyodorkan fotocopy-an buku pake Bahasa Indonesia barusan. Didit sepertinya bingung, karena takut menolak pemberian gue, gue langsung pamit meninggalkan dia dan cuma ngomong setelah dia menanyakan buat apa fotocopy-an buku paket Bahasa Indonesia itu,

     “Itu buat lo, Dit. Sengaja gue fotocopy dari buku paket Bahasa Indonesia gue, maaf cuma sekedar fotocopy-an doang. Tapi, besok gue gak mau kita dihukum lagi cuma karena nggak punya buku paket. Kan ada PR halaman 28, lo kerjain tuh. Jangan sampai dihukum lagi besok, tambah item kulit lo entar, ha ha. Yauda gue balik dulu,” ucap gue menjelaskan cukup panjang lebar dan langsung menyalakan motor meninggalkan Didit, gue dengar dari jauh dia mengucapkan terima kasih. Gue tersenyum.

    Mungkin gue gak mampu buat beliin dia buku paket Bahasa Indonesia yang sebenarnya, tapi setidaknya mudah-mudahan sedikit usaha gue buat dia nggak akan dihukum lagi.

    Dan besoknya pun gue seneng. Didit mengumpulkan PR Bahasa Indonesianya. Tapi, setelah itu akhirnya dia menyadari sesuatu,

     “Eh Bal, lo kan punya buku paket. Ko kemarin nggak ngerjain PR?” Tanya Didit dengan wajah yang sangat heran.

     “Soalnya waktu itu gue tiba-tiba kangen sama tiang bendera, Dit. Masa kalo malem dia tidur diluar mulu, nggak pernah disuruh masuk. Kan kasian.”

     “Bal?” tanya Didit.

      “Ya?” tanya balik gue dengan mata melotot dan bibir senyum selebar 2 meter.

      “Lo hari ini kenapa gak ijin ke dokter aja buat periksa? Kayaknya lu gejala tipes deh.”

     Ya, itulah contoh kenangan gue dulu saat-saat masih bareng sama Didit. Sejak lulus, gue memutuskan lanjut sekolah di SMA negeri di kota -dan Didit lebih milih masuk sekolah kejuruan, gue nggak pernah lagi untuk saling ketemu. Mungkin juga karena gue terlalu sibuk dengan tugas dan teman baru, ya ditambah jarak juga. Reuni pun jarang. Sampai pada saatnya gue ketemu lagi Didit ketika saat itu para alumni datang inisiatif untuk halal-bihalal.

     Didit saat itu masih terlihat sama. Nggak ada yang berubah, mungkin cuma karena pakaian bebasnya aja saat itu yang jadi beda.

      “Hei, Dit.” Sapa gue saat itu menghampiri Didit yang sudah duluan datang dan duduk di meja kantin.

      “Eh, Iqbal! Duh gimana lu sekarang, sehat kan?” tanya Didit dengan wajah cukup gembira, kayak ketemu Chris Martin, vokalis Coldplay.

      “Alhamdulillah sehat, Dit. Lo sendiri gimana?”

      “Alhamdulillah sehat juga. Kesini bareng siapa?”

      “Sendiri aja. Biasa, gue kangen sama tiang bendera.”

      “Ha ha ha.”

     Itulah percakapan langsung dan terakhir gue dengan DIdit. Kita nggak pernah saling ketemu lagi, bahkan udah nggak bisa lagi ketemu.

     Malam sehabis Magrib bulan kemarin, temen gue memeberikan kabar bahwa Didit udah tiada. Di sebuah posting di Facebooknya. Gue nggak percaya gitu aja. Gue inget Didit adalah orang yang baik. Jauh lebih baik saat dulu gue deket sama dia.

     Didit memang bukan teman atau sahabat yang selalu ada, dia adalah orang dengan kebaikannya yang selalu ada. Didit juga bukan tipe orang yang selalu mau dimengerti, ketika gue lihat dia kesusahan dan butuh bantuan pun nggak pengen merepotkan orang lain.

     Sekarang gue baru percaya dan akhirnya mengikhlaskan Didit sudah pergi dengan damai di suatu tempat. Gue nggak pernah sedikit pun melupakan pertama kalinya kebaikan yang dia berikan buat gue. Walaupun cuma sekedar memberikan gue bangku.

      “Dit, nanti disana, sediain gue bangku juga yah.” Pesan gue terakhir di depan makamnya Didit.

     Patah hati terhebat dari seorang sahabat lo dulu ini bakal menjadi sebuah kenangan yang manis, Dit.



     Selamat jalan, Didit. Semoga kita bisa berjumpa lagi di kebaikan abadi.

{ 2 Komentar... read them below or Comment }

  1. Tipe-tipe temen kayak Didit ini yang udah nggak gue temui, bang. Percayalah. Susah banget orang yang mau relain nggak duduk demi temennya. :'D

    Semoga Didit mendapatkan tempat terbaik di sana. Aamiin.

    BalasHapus

Mohon beri komentar yang baik dan sopan. Semua komentar kalian pasti gue baca dan balas. Terima kasih sudah menyisihkan waktu, tenaga, dan biaya kalian untuk membaca postingan ini. Semoga tulisan gue ini berguna.

- Copyright © Muhammad Iqbhal - masisibal - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -