Posted by : Muhammad Iqbhal Kamis, 09 Maret 2017


Semakin dewasa, kadang semakin sulit menyempatkan waktu buat jatuh cinta bagi seseorang yang pernah begitu dalam hatinya kecewa dan kepercayaannya terluka. Sejak berulang kali gagal menjalin hubungan spesial dengan beda orang, yang beda sifat, beda latar belakang, dan beda kelamin membuat gue punya banyak hal buat mikir, apa harus gue buka hati lagi?

Gue juga sempat gak percaya soal bisa jatuh cinta yang LEBIH dari rasanya dengan seseorang di masa lalu. Mustahil juga punya rasa yang bakal sama-sama indah atau mungkin bakal lebih indah, padahal rasa itu udah pernah.

Sampai pada 1 tahun yang lalu gue ketemu sama seorang cewek, sebut aja namanya Khalisa. Kita ketemu pertama kali di sebuah ATM di jalan Sudirman Bogor, yang letaknya di dalam area KCU dari bank ATM itu. Waktu itu langit udah gelap dan jam nunjukin pukul 10 malam hari Sabtu, gue abis dari nonton film The Avangers: Age of Ultron di bioskop dan mampir ke ATM dulu ngambil uang buat beli bensin.

Setelah selesai narik uang, gue liat di sebelah gue seorang cewek yang keliatan masih kuliah atau seumuran sekitar 21-25 tahun lagi ngedumel mulu sambil merapikan rambut hitam sebahu ke belakang telinganya yang kayaknya itu adalah kebiasaan dia supaya nyaman dan fokus yang lagi ngelakuin sesuatu, ditambah dia saat itu pakai baju warna merah dan celana jeans hitam dipadu flatshoes warna coklat.

"Kenapa, mba?" tanya gue.

"Ng.. ini kesel banget, ATM-nya error," jawabnya sambil mencet-mencet sembarang tombol di ATM.

"Kalau error pasti ada tulisannya," cetus gue.

"Ya tapi ini ATM gue ketelen. Hhhhh." jawabnya kesal.

Setelah itu gue pergi keluar buat nyari satpam. Dan gue liat disana ada 2 orang satpam yang ngejaga, yang satu lagi duduk di pintu gerbang masuk dan satunya lagi di pos yang saat itu gue samperin. Gue bilang singkat ke satpam itu buat minta bantuan dan nggak lama dia ngikutin gue ke ATM dan nemuin cewek tadi.

"Nanti mba hari Senin kesini lagi aja, bawa buku rekening, fotokopi KTP buat bikin baru," ucap satpam tadi setelah menjelaskan solusinya setelah memberitahu kalau kejadian ATM ketelen udah sering kejadian.

"Ok deh kalo gitu, makasih ya pak," jawab cewek itu dan satpam tadi langsung pergi, "Ah sial banget gue."

"Emang mau ngapain?" tanya gue.

"Mau transfer ke klien, biasalah urusan kerjaan," jawab dia.

Gak lama setelah itu dia nerima telfon masuk.

"Hallo bu, aduh.. Maaf bu, ATM saya ketelen, aduh gimana ya.. Kalau hari Senin aja, bisa gak?"

Ada jeda panjang disana.

"Tolong lah, bu.... Duh jangan bu, jangan bilang ke Pak Nurdin, please," kata dia
"Bu tolong ngerti, kasih saya kesemp....... Bu, Hallo? Bu?" entah berapa kali dia ngulang kalimat itu sambil melihat layar handphone-nya yang akhirnya dia sadar kalau sambungannya terputus.

"Aduh, mampus deh gue," ucapnya ngeluh.

"Berapa yang harus ditransfer?" tanya gue ke dia.

"2 juta," jawab dia sambil melihat layar handphone-nya.

"Yauda transfer pake ATM gue aja," kata gue.

"Hah?"

"Serius."

"Nggak. Nggak usah, mas. Itu gede loh."

"Nggak apa-apa, lagian nanti bisa balikin hari Senin ini kan?"

"Tapi, mas..."

"Nih," kata gue langsung menarik tangan dia dan naro ATM gue di telapak tangannya.

Dia langsung ke arah mesin ATM sambil gue ikutin buat kasih tau PIN-nya.

Setelah selesai, dia langsung balikin ATM gue. Dia bilang terima kasih beberapa kali juga ke gue. Kita juga langsung pergi ke luar ATM dan dia menelfon klien-nya ngabarin kalau dia udah transfer, katanya juga dia nggak jadi dilaporin ke atasannya. Gue ikut lega saat itu juga.

"Minjem hape lo dong?" pinta dia.

"Ngapain?"

"Boleh nggak?" tanya lagi dia. Tanpa menjawab 'iya', akhirnya gue nurutin dan dia langsung mengetik sesuatu.

"Itu nomer gue," ucapnya sambil mengembalikan handphone gue.

"Kha-li-sa," ucap gue mengeja nama kontak yang udah ada di layar handphone.

"Nama lo siapa?" tanya balik dia.

"Iqbal."

"It's a good name," jawabnya sambil senyum.

"Oh yauda, gue balik dulu ya? Makasih sekali lagi, Iqbal. Hati-hati di jalan. Dadah!"

"Ya, lo juga. Nyetirnya jangan sambil merem," jawab gue bercanda.

Setelah itu dia masuk ke mobilnya dan pergi duluan meninggalkan gue.

Khalisa adalah orang yang baik, gue tau gimana cara dia mengekspresikan saat dia ngerasa lagi sungkan, mengucapkan makasih berkali-kali, humble, dan friendly ketika kita ngobrol sebentar saat itu.

Besoknya gue diajak ketemuan di sebuah restoran pizza di daerah jalan Padjajaran, disana dia dateng duluan, gue liat juga dia kayaknya sendiri.

"Lama ya? Sorry," ucap gue setelah duduk di hadapannya.

"Nggak kok, eh lo mau mesen? Biar sekalian."

"Nggak, gue udah makan kok tadi."

"Bener?"

"Yap."

"Yauda. Eh, lo beneran udah pernah buat buku?" tanya dia penasaran yang keliatan mencondongkan badannya ke arah gue.

"Udah lama itu. Udah jadi artefak haha."

"Tahun berapa?"

"2015."

"Ih itu mah baru tau,"

"Mau baca?" tanya gue.

"Mau!"

"Mau banget apa mau bingit?"

"Mau bingit."

"Ha ha," gue ketawa setelah dia bilang gitu, "Nanti deh gue cek ke museum dulu. Mudah-mudahan masih ada."

"Bukunya tentang apa?"

"Tentang siksa kubur."

"........."

"Becanda kali ha ha," ucap gue ketika dia kayaknya kaget sampai diem dengan ekspresi yang lucu.

"Yeeeee," jawabnya, "oh iya, ini gue mau gantiin yang kemarin," katanya sambil memberikan amplop panjang berwarna putih.

"Eh?" jawab gue kaget, "kenapa nggak hari Senin aja?"

"Nggak enak nyimpen utang lama-lama. Takutnya lo juga butuh."

"Tenang aja kali. Gue percaya sama lo."

"Udah ah, ambil," dia langsung menarik tangan gue dan naro di telapak tangan gue kayak waktu kemarin gue naro kartu ATM di tangannya.

"Yauda, gue ambil ya?" tanya gue lagi sambil menunjukkan amplop itu ke dia.

"Iyah."

Setelah Khalisa selesai makan pesanannya, gue nganterin dia balik yang kebetulan waktu itu dia nggak lagi bawa kendaraan. Selama ngobrol di jalan, Khalisa ini masih kuliah di universitas swasta jurusan akuntansi yang masih di daerah Bogor. Sambil kuliah, Khalisa juga sibuk kerja di perusahaan bidang jasa. Dari situ gue menilai kalo Khalisa ini cewek yang mandiri, pekerja keras, dan tekun.

Hari ke hari gue jadi semakin sering chattingan sama dia, setiap weekend juga selalu ketemuan entah buat jalan, makan bareng ataupun nonton.

Gue kadang-kadang selalu dikasih perhatian sama dia. Gue selalu diberi kesempatan buat mencurahkan cerita apa pun ke dia. Dan sampai dimana gue nggak pernah absen diucapin selamat pagi yang malemnya dia selalu ketiduran.

Gue sampai tau kalau jadwal tidur dia jam 12 malem, gue juga sampai diberi tau semua tentangnya tanpa harus nanya dulu.

"Eh, ini apa?" tanya gue waktu diajak ketemu dia di kampusnya sebelum masuk kuliah.

"Harus dibiasain sarapan, dan kamu juga suka ngopi kan? Itu aku beliin juga," katanya, saat itu kita udah saling manggil sebutan 'aku-kamu' yang nunjukin kita udah sangat dekat.

"Kirain apaan. Tenang aja kali."

"Ih harus sarapan! Sarapan itu penting," kata Khalisa dengan muka bete.

"Ok, deh. Makasih ya."

"Nggak mau. Dimakan sekarang juga."

"He?"

"Makan ih."

"Iya nanti dimakan."

"Sekarang dong."

"Sekarang banget?"

"Iya!"

"Hmmm"

"Buru ih dimakan," katanya lagi yang langsung buka bungkus roti rasa coklat tadi.

"Nah gitu dong."

"Eh tapi aku beliinnya kopi yang itu, suka gak?"

"Aku suka kopi apa aja. Kopi rasa rendang juga suka kok."

"......"

"Canda kali, dibawa serius amat, kayak lagi sidang skripsi~" jawab gue sambil berbisik di telinganya.

"Iiiiiih Bal!" jawabnya sambil mukul bahu gue.

Itu adalah hal pertama yang buat gue adalah suatu momen yang beda. Perhatian sederhana Khalisa yang nggak setiap cewek punya bisa buat gue jadi terus mikirin dia.

Selain itu Khalisa selalu ngasih motivasi ke gue. Macam Merry Riana made in Bogor. Khalisa juga sering menenangkan gue setiap emosi memuncak, cuma mengusap punggung gue, entah kenapa rasanya masalah bisa diminimalisir sekejap. Lebay sih, tapi belum jatuh cinta namanya kalau belum lebay.

Eh bentar? Gue jatuh cinta?

Mungkin iya. Sejak saat itu gue merasakan kehilangan. Ada yang hilang ketika Khalisa sekarang jauh dari gue. Gue sekarang nggak tau kabar dia. Apalagi untuk ketemu lagi. Kita pisah entah kenapa tanpa ada alasan yang jelas.

Gue yakin ini juga bukan salah dia, saat itu gue sempat pengen nembak tapi kenapa dia mungkin tau arah pembicaraan gue mau kemana dan tiba-tiba ngomongin soal masa lalunya, tentang perasaannya yang masih membekas ke seseorang yang dulu pernah sama dia.

Gimana coba bisa melanjutkan hidup ketika seseorang masih ada di antara keseharian mata kita? Khalisa mungkin karena mantannya satu kampus dan satu kelas yang sering ketemu buat dia susah 
buat mengikhlaskannya.

Dan gue memutuskan menjauh. Padahal saat itu gue lagi ngerasin perasaan yang tulus ke Khalisa. Nggak ada yang lebih sakit ketika kita harus membunuh perasaan sendiri ketimbang diselingkuhi.

Sejak pertemuan dengan Khalisa, bagaimana kita dekat, bagaimana rasanya bisa rutin chattingan sama seseorang sampai larut malam, dan bagaimana rasanya bisa jalan berdua berdampingan ke tempat-tempat yang akhirnya sekarang cuma jadi sebuah 'pernah', gue jadi merasa jatuh cinta lagi yang lebih indah itu ternyata bisa.

In the end, jatuh cinta itu memang bisa datang karena kebiasaan. Gue bisa pahami diri sendiri tentang bagaimana hati seseorang bisa luluh menurut yang mereka mau. Lo bisa jatuh cinta sama orang yang perhatian, lo bisa jatuh cinta sama cara perlakuan dia sama lo, ataupun lo bisa jatuh cinta menurut yang lo inginkan. Itu bisa.

Khalisa ngajarin gue buat tau gimana caranya hati ini bisa luluh. Walaupun sekarang gue tau dia dekat dengan orang lain, gue harap dia bisa bahagia.

***

"Aku tuh dulu mutusin dia depan rumah dan langsung nutup pintu ninggalin dia," kata Khalisa curhat ke gue.

"Dikunci gak pintunya?" tanya gue.

"Iyalah. Aku kunci."

"Kuncinya kamu buang apa tetep di pintu?"

"Aku biarin di pintu, biar kalau aku mastiin dia udah pergi, aku bisa buka pintu itu lagi," kata Khalisa yang saat itu ngerti maksud gue.

Mungkin saat itu gue hadir di kehidupannya saat pintu itu masih di kunci. Atau bisa juga saat gue ada di balik pintu itu dia mengira gue adalah orang yang sama. Dan pada saat dia benar-benar membuka hatinya, gue udah pergi, dan entah siapa yang dia temui di balik pintu itu sekarang.

Leave a Reply

Mohon beri komentar yang baik dan sopan. Semua komentar kalian pasti gue baca dan balas. Terima kasih sudah menyisihkan waktu, tenaga, dan biaya kalian untuk membaca postingan ini. Semoga tulisan gue ini berguna.

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Muhammad Iqbhal - masisibal - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -