Posted by : Muhammad Iqbhal Jumat, 14 April 2017


Setiap orang bisa saja menyukai senja, udara yang menghangatkan sebuah perasaan, merefleksikan pikiran, memanjakan mata, menghidupkan kenangan, atau mengabadikannya dengan warna langit yang cantik dan mepublikasikannya di sosial media agar semua bisa ikut melihat berikut menikmatinya. Banyak cara menyukai senja.

Waktu itu, pukul 4 sore yang sedang di jalan menyetir motor buat pulang ke rumah setelah membeli sebuah buku dan beberapa roti yang berlebel Bread Talk, gue melewati jalan Pajajaran, Bogor. Gue mengurangi kecepatan motor ketika gue liat ada sebuah mobil Jazz merah keluar dari sebuah rumah sakit. Gue pun berhenti buat mengalah dan mempersilahkan mobil itu untuk mengambil jalur gue. Tapi, bukannya cepat jalan, mobil itu malah berhenti saat belok dan membuka kaca jendelanya. Dan gue liat disana yang nyetir adalah seorang cewek.

"Iqbal?" katanya.

"Ya?"

"Hei. Inget aku gak?" tanyanya lagi. Kali ini gue menyipitkan mata buat fokus melihatnya sambil mengingat-ngingat. Dia yang punya rambut hitam pendek seleher, dipadu make up yang tipis, warna lipstik merah muda yang dia pakai, dan jam tangan coklat yang memegang stir mobil itu pun masih samar buat gue kenal siapa dia.

"Dea," katanya.

"Dea?" tanya gue sambil berusaha mengingat.

"Iya. Dea Nadya," katanya.

"Oh Dea!" gue baru inget.

"Eh, yuk kepinggir dulu, ngobrol."

Mobilnya pun akhirnya jalan dan gue mengangguk untuk menurutinya. Dia memberhentikan di pinggir jalan Pajajaran depan ruko bank BRI. Gue memarkirkan motor di belakang mobilnya. Setelah gue membuka helm, gue liat dia keluar dari mobilnya, nyamperin dengan senyum ke arah gue sambil merapikan rambutnya.

"Apa kabar?"

"Baik. Kamu gimana, Dea?"

"Baik dong. Eh, gapapa kan.. hmm.. maksudnya nggak lagi buru-buru karena ada urusan kan?" tanyanya Dea memastikan gue memang nggak keberatan buat ngobrol sama dia waktu itu.

"Nggak kok. Kamu mau kemana?"

"Mau pulang."

"Siapa yang sakit?"

"Oh, itu tante aku abis operasi. Ini aku baru jenguk. Ibal dari mana?" tanya dia ke gue yang masih menggunakan panggilan 'ibal'. Panggilan yang 3 tahun dulu menjadi sebuah hal yang biasa. Dan sekarang, ada sebuah pintu hati yang sedang diketuk.

***

3 tahun yang lalu.

Waktu itu gue masih jadi karyawan di perusahaan bakery milik pengusaha. Dan gue masuk kerja shift siang dari jam 2 sampai jam 10 malam. Dari rumah gue biasa berangkat habis zuhur. Dan kantor gue nggak jauh dari Jalan Pajajaran, tepatnya setelah belok ke Jalan Kumbang dan langsung menuju ke Jalan Bogor Baru.

Saat gue lewat jalan Pajajaran dengan mengendarai motor dengan kecepatan pelan, gue liat ada cewek sendirian bersama mobilnya yang kap depannya kebuka dengan wajah yang kebingungan sambil menggigit kuku jarinya. Tepatnya saat itu di pinggir jalan dekat SMK Pembangunan.

"Kenapa mobilnya, mba?" tanya gue. Dan cewek berambut pendek seleher pakai t-shirt putih celana jeans panjang dan tinggi badannya yang pendek itu menengok ke gue. Saat itu penilaian gue pertama kali ketemu dia adalah dia cantik, manis, dan kayaknya lezat.

"Nggak bisa nyala, mas."

"Boleh gue cek?"

"Emang masnya bisa?"

"Bisa. Bisa ngedorongnya ha ha," kata gue bercanda. Wajah dia yang cemas langsung berubah menjadi terlihat bete sambil membuang napas yang panjang.

Gue pun langsung melirik mesin mobilnya dan mulai mengecek semua komponen. Cewek itu sekarang keliatan kebingungan lagi sambil menyila tangan di dadanya sambil mengigit kuku dan melihat ke arah gue yang berharap gue bisa buat mobilnya nyala lagi. Padahal dia saat itu seharusnya nggak perlu cemas sama gue, soalnya terakhir kali sih, gue gue berhasil betulin tamiya yang nggak bisa nyala karena dinamonya harus diganti.

"Ng.."

"Gimana mas? Apanya yang rusak?"

"Coba lu starter dulu deh," pinta gue

"Oke."

Dia langsung bergegas menuruti permintaan gue dan menstrarter mobilnya. Beberapa kali dicoba mesinnya belum juga menyala. Gue mencoba mengecek kembali komponen mana yang bermasalah.

"Aki-nya masih bagus sih, terminal aki-nya juga nggak kendor sama berkarat. Coba gue cek nini-nya dulu."

"Hah?" katanya bingung dengan penjelasan gue. Dia ini kayaknya sedikit lemot, gue bercanda tapi dia tanggepin serius mulu. Kasian.

"Nah, ini penyebabnya!"

"Hah apa tuh mas?"

"Sebentar, tunggu disini ya?!"

"Eh mas, mau kemana?"

"Udah tunggu aja."

Gue langsung pergi ninggalin cewek itu. Bukan kabur karena gue sebenernya nggak bisa benerin mobilnya, gue pergi ke bengkel di depan yang cuma beberapa meter yang letaknya sebelah sekolah YPHB buat beli sesuatu.

Setelah dapat yang gue butuhin, gue kembali ke mobil cewek tadi. Tentunya gue ngendarain motor buat balik lagi nyamperin cewek itu tidak dengan lawan arus. Karena itu perbuatan yang tercela. Gue rela muter jauh, demi mematuhi peraturan lalu lintas dan keselematan diri agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Subhanallah.

"Eh, lu punya kunci 8?" tanya gue yang udah balik ke tempat mobil mogoknya cewek tadi.

"Kunci 8?"

"Hadeh, yauda gue ada kok."

Gue langsung membuka jok motor dan mengambil kunci 8 yang setiap hari selalu gue bawa buat jaga-jaga kalo memang terjadi hal yang tidak diinginkan kayak motor gue mogok atau sebagai senjata buat ngelempar anjing liar yang selalu menganggap tampang gue ini kayak maling pakaian dalam.

"Nah, coba lu nyalain mobilnya."

"Sekarang?"

"NANTI! PAS LEBARAN DUGONG! YA SEKARANG LAH," kata gue kesal. Dia langsung berlari buat menyalakan mobilnya.

"Yes! Bisa, mas!"

"Syukur deh."

"Emang apa yang rusak, mas?"

"Oh, ini injektor lu kotor. Barusan gue bersihin pake injektor cleaner spray yang gue beli di bengkel depan," jawab gue sambil membersihkan tangan yang kotor dengan lap.

"Oh gitu," katanya sambil membuka dompetnya dan memberikan gue beberapa lembar uang.

"Eh, emang gue montir? Gue cuma bantu lu aja kali. Gak usah ah."

"Ya, ini ucapan terima kasih gue, mas."

"Udah, gak usah. Gue ikhlas nolongnya."

"Nggak mau, ini pokoknya ambil," katanya dengan langsung memasukkan uang tadi ke saku jaket gue, "Makasih ya mas... Ng, mas siapa namanya?"

"Iqbal."

"Oh, iya. Makasih ya mas Ibal."

"Your welcome. Ng... siapa namanya juga?" tanya gue balik.

"Dea," katanya sambil memberikan tangannya tanda ingin berjabat tangan. Tapi gue menolaknya dengan memberikan kode kalo tangan gue kotor. Penghinaan banget rasanya kalo tangan cewek cantik yang halus itu kena tangan gue yang kotor, bisa kapalan nanti.

"Sama-sama ya, Dea," jawab gue. "Oh iya. Lain kali nanti busi mobilnya diganti tuh. Udah haus. Di gasnya kesendat gitu kan?"

"I-iya," jawabnya terkejud yang mungkin memang omongan gue tadi bener, "Makasih sekali lagi loh. Mas Ibal mau kemana?"

"Mau kerja. Gue cabut duluan ya. Lu hati-hati di jalan."

"Oke. Eh, mas Ibal!" panggil gue ketika gue siap-siap nyalain motor.

"Ya?"

"Boleh minta kontaknya?"

"Buat?"

"Buat kalo nanti aku di jalan mogok lagi, siapa tau bisa bantu."

"Baiklah."

Kita pun tukeran kontak. Dan berpamitan. Pertemuan yang nggak disengaja itu ternyata berlanjut lagi di chatting. Dea lebih sering menghubungi gue. Bukan karena mobilnya sering mogok, tapi saling bertanya tentang pribadi masing-masing, hobi, bahkan mimpi-mimpi kita kedepannya. Sebenarnya gue nggak mudah buat bisa chatting terus-terusan sama cewek, apalagi cewek yang baru dikenal. Tapi, beda buat Dea. Entah gue juga nggak tau kenapa, mungkin gue juga karena habis patah hati ditolak cewek yang gue suka, jadi gue bisa menerima dia ke dunia gue. Yang udah baca buku gue yang bab terakhir, pasti tau kenapa gue bisa ditolak cewek.

"Eh itu boneka pinguin lucu juga ya?" tunjuk gue ke boneka pinguin saat gue dan Dea pergi jalan bareng ke mall dan melihat ke toko yang isinya barang-barang cewek.

"Lucuan mana sama aku?"

"Idih. Pinguin lah, liat deh pinguin kalo jalan tuh lucunya overload."

"Lucuan aku ah."

"Ih sakit lu."

Dea malah nyengir nggak jelas saat itu. Gue nggak ngerti jalan pikiran ini cewek, entah terlalu pede apa salah minum obat. Setelah gue mengenal dia lebih dalam, gue pun tau jawabannya, dia kayaknya ada kelainan jiwa.

Dea sering menghibur gue. Dea juga selalu keliatan ceria setiap ngobrol sama gue. Anehnya gue saat itu masih cuek dan menilai Dea itu menyebalkan. Hal yang menyebalkan itu buat gue adalah ketika dia pengen tau tentang apapun, selalu ingin tau hal yang sebenernya buat dia itu nggak penting, dan selalu mencampuri urusan orang lain. Dan gue nggak suka itu, gue juga nggak mungkin jatuh cinta sama tipe cewek kayak gitu.

Kedepannya gue dan Dea selain jalan bareng, kita juga selalu ketawa bareng. Kita pergi kemana pun hati ini mau. Kita sering pergi ke tempat makan yang aneh-aneh, kita juga suka pergi ke tempat arena bermain di mall sampai lemes dan keringetan saling duel siapa yang paling hebat mainnya. Gue juga suka sering nemenin dia belanja sampai muter-muter tiap toko dari lantai dasar sampai lantai paling atas mall, tapi yang dibeli malah toko yang pertama kita datengin. Disitu kadang gue ngerasa jadi kacung.

Orang tua Dea juga udah kenal gue karena gue sering ke rumahnya, ketemu adiknya yang cowok buat main PS bareng. Kadang kita nggak tau kenapa bisa sejauh masuk ke dunia orang, tau-tau kita sama dia sama-sama udah jadi terbiasa bareng, udah jadi kebutuhan. Dan itu mengasyikan.

Setiap gue jalan bareng seseorang walaupun dengan Dea, setiap waktu salat, gue selalu menyempatkan ke mesjid buat salat. Dea nungguin gue salat. Dan setiap Minggu gue selalu nunggu Dea beres gereja dan abis itu kita pergi jalan.

Kita memang punya perbedaan bagaimana cara kita berdoa sebelum makan, bagaimana tangan gue mengadah ketika berdoa sedangkan dia mengepalkan salah satu tangannya dan diselimuti tangan satunya lagi, bagaimana gue bersujud menyerahkan sepenuh hati dan diri kepada Tuhan sedangkan dia mencium tangannya lalu menempelkan pada keningnya lalu menempelkannya ke atas dada kanan dan kirinya, itulah perbedaan kita.

Hingga pada suatu hari perbedaan lain datang. Dia mulai menyukai gue. Dia mengatakannya langsung. Buat gue menyatakan perasaan langsung duluan nggak harus memandang jenis kelamin. Menyatakan perasaan itu hak siapa aja, bukan masalah harga diri. Kalau nggak mau duluan menyatakan perasaan, berarti jangan duluan buat jatuh cinta.

Sedangkan gue, gue masih melihat dari perbedaan keyakinan kita dan tentunya nyaman dengan status pertemanan ini. Jujur saat itu juga gue belum punya perasaan lebih dari sekedar teman ke Dea. Gue menolak Dea dengan halus, gue jujur mengatakan ke dia tentang itu apa adanya. Dan yang gue dapatkan malah Dea yang masih tegar dan nggak berubah sama sekali, dia nggak berubah benci sama gue ataupun berubah jadi ular piton buat nelen gue.

Bedanya sekarang, dia selalu bercanda masih sambil terus berharap ke gue.

"Besok temenin ke kondangan saudara aku, yok," kata gue ke Dea.

"Ih Ibal ngajak ke kondangan saudaranya. Mau ngenalin aku ke keluarga besarnya ya. Uh Asik!"

"Tampol siah."

"Mau. Ayuk!"

"Mau ditampol?"

"Ya mau diajak ke kondangannya ih."

"Yauda nanti Minggu pagi aku jemput. Pake baju yang bagus, jangan pake baju renang."

"Ih masa pake baju renang."

"Otak kamu kan sengklek."

"Ih kesel. Enak aja!" katanya sambil mukul gue pelan.

Entah apa yang Dea rasain waktu itu. Masih sering terus bersama dengan perasaannya yang lebih sama gue tapi di satu sisi gue masih menganggap dia yang nggak lebih dari teman dekat. Gue tau hati manusia pasti nggak ada yang paling kuat dari batu akik. Pasti ada masanya juga perasaan di hati itu lelah dan menyerah.

"Bang, bubur dua ya," kata Dea memesan bubur setelah kita olahraga bareng di mengelilingi lapangan Sempur 1 kali. Kita memang lemah.

"Oh iya, bang. Yang satu jangan pake kacang ya. Kecapnya banyakin," lanjut Dea ke abang-abang tukang bubur.

"Oke, siap neng."

Dea memang tau kebiasaan gue. Dia cewek yang beda dari yang lainnya, bentuk perhatiannya ke gue bukan cara dia ngasih gue makanan dari hasil masakannya, bukan perhatian dengan sering nanya,"udah makan apa belum?", atau bukan bentuk perhatiannya dengan cara mandiin gue. Dea perhatian ke gue dengan hapal kebiasaan gue.

"Udah?" tanya Dea ketika gue memarkirkan motor di parkiran mall.

"Udah, yuk."

"Bentar. Dompet udah?"

"Udah." kata gue sambil mengecek saku celana.

"Handphone?" tanya lagi Dea ke gue.

"Udah."

"Kunci motor?"

"Eh?"

"Tuhkan, kebiasaan deh kunci motor selalu ketinggalan."

"He he."

"Malah ketawa dia mah," kata Dea.

"Masa harus meluk?" tanya gue.

"Mau dong dipeluk~"

"Ih ngaco."

"He he," Dea yang malah nyengir kuda saat itu.

Sekeras-kerasnya hati untuk nggak jatuh, tapi dibarengi terus dengan kebiasaan, dia bakal luluh juga. Tuhan memang benar-benar Maha Memutar-Balikkan Perasaan.

Saat itu gue dan Dea lagi di jalan pulang sehabis dari nemenin dia belanja. Di jalan dia bilang ke gue besok minta anterin ke suatu tempat, katanya dia mau ketemu seseorang. Gue reflek nanya namanya, dan ternyata saat itu Dea mau ketemua sama cowok.

"Nggak tau sih, mau ngapain. Katanya mau ngomong."

"Dia temen kamu?" tanya gue.

"Iya."

"Temen apa temen?" tanya lagi gue mencoba bercanda.

"Mantan sih."

"Oh."

"Oh kenapa? Ih Ibal cemburu ya?"

"Hah? Cemburu? Ogah banget."

"Hayo, cemburu kan? Ngaku. Ciye bisa buat Ibal cemburu juga haha," katanya terus mengintimidasi gue. Kenapa gue harus cemburu?

Karena gue udah janji, akhirnya gue nemenin dia ketemu temennya itu. Eh, maksudnya.. mantannya itu. Gue nganterin dia sampai benar-benar Dea ketemu langsung sama orangnya dan gue langsung pergi ketika Dea sudah menghampiri orang itu yang sudah duluan datang.

Setelah itu gue ngerasa waktu berjalan lama, Dea nggak ngehubungi gue. Kalo gue ngehubungi juga ngapain, itu bukan urusan gue juga. Tapi kok ada yang aneh ya. Gue ngerasa kerja jadi nggak semangat, pikiran gue ke Dea mulu padahal gue lagi sama temen. Gue jadi ngerasa uring-uringan sendiri.

***

"Kamu sekarang sibuk apa?" tanya Dea yang sedang duduk di motor gue menyamping di jalan Pajajaran.

"Sibuk santai."

"ih ha ha."

"Kapan balik dari Aussie?" tanya gue ke Dea.

"Seminggu yang lalu. Aku pulang pas dapet kabar tante aku jatuh sakit."

"Oh gitu. Betah disana?"

"Ya, betah gak betah sih. Kangen nasi padang."

"Ih nasi padang nggak enak ah," kata gue.

"Kamu masih belum suka nasi padang juga?"

"Iya he he."

"Ih dasar. Aku malah kangen Indonesia karena nasi padangnya doang."

"Jah ha ha ha."

***

Setelah berhari-hari Dea ketemu mantannya dan abis itu nggak ada kabar, akhirnya dia ngehubungi gue. Katanya dia mau ngajak gue makan. Entah makan dimana, kita makan dipinggir jalan pun sering.

"Makan disitu aja, yuk."

"Y-yauda."

"Kenapa?"

"Nggak. Nggak apa-apa."

"Nah kita kan belum pernah makan nasi padang nih."

"Kamu aja yang makan."

"Loh, kok?"

"Nggak suka."

"What?"

"Iya he he."

"Ih, aneh, manusia macam apa nggak suka nasi padang?"

"Manusia ganteng."

"Yee. Apaan."

"Ha ha."

"Yauda ih cobain aja."

"Nggak mau."

Dengan segala bujuk rayu Dea, akhirnya gue makan nasi padang juga. Walaupun dipaksa Dea, gue tetep nggak suka sama nasi padang. Soalnya nggak ada kecapnya.

"Kemarin gimana sama si anu?" tanya gue memulai obrolan.

"Oh, itu dia nawarin aku beasiswa lanjut S2."

"S2?"

"Iya, di Aussie."

"Dimananya?"

"University of Quensland."

"Oh, bagus dong."

"Iya, kesempatan kapan lagi, ya kan?"

Dea akhirnya memantapkan diri buat bener-bener mewujudkan keinginannya. Kita saat itu mulai sedikit menjauh, gue juga berusaha agar buat terbiasa tanpa dia nanti. Ajakan Dea salalu gue tolak dengan alasan pekerjaan. Padahal gue memang lagi sedih tentang nanti soal kepergian dia.

In the end, gue nggak dapet apa pun dengan keputusan menjauh dari Dea. Gue malah ngerasa kehilangan. Gue kehilangan pendengar yang baik, gue kehilangan teman berbagi, gue kehilangan sosok yang paling tau tentang gue. Dan entah apa yang dirasain Dea saat itu, dia juga mungkin harus mengikhlaskan gue. Mengikhlaskan perasaannya juga yang terus berharap ke gue dan mungkin dia akan sadar sendiri bahwa perasaannya itu nggak akan terbalaskan.

Beberapa tahun kemudian, di jalan Pajajaran lagi kita ketemu. Di waktu yang berasa terulang kembali tentang kita. Walaupun cuma sebentar kita ngobrol receh, tapi saat itu juga kita berbicara bukan lagi dari hati ke hati. Tapi, berbicara hanya sebagai kenalan semata. Gue bukan nggak bisa menerima Dea lagi ke dalam hidup gue, gue ngeliat ada cincin tunangan di lingkar jemarinya Dea saat itu. Entah dengan siapa, gue harap itu yang terbaik buat Dea. Dan kita sekarang masih bisa bahagia berdua walaupun dengan latar yang berbeda.

"Aku balik besok pagi."

"Oh gitu, jangan lupa kabar-kabarin aku aja tuh," kata gue yang tadi sudah memberi kontak Whatsapp ke Dea.

"Oke, deh. Eh udah mau gelap. Aku duluan ya."

"Yauda, oke. Hati-hati ya."

"Kamu juga." jawabnya sambil tersenyum ke gue yang dibaliknya ada langit sore yang indah akhir dari perjumpaan singkat itu.

Senja yang jatuh di senyuman itu. Senja yang meyakini bahwa hati ini dulu pernah jatuh kepada senyum itu. Yaitu, senja yang jatuh di Pajajaran.

Leave a Reply

Mohon beri komentar yang baik dan sopan. Semua komentar kalian pasti gue baca dan balas. Terima kasih sudah menyisihkan waktu, tenaga, dan biaya kalian untuk membaca postingan ini. Semoga tulisan gue ini berguna.

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Muhammad Iqbhal - masisibal - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -