Posted by : Muhammad Iqbhal Selasa, 20 Juni 2017


"Hei.. Kok bengong sih?" ucap seorang cewek yang saat itu gue berada di ruang tamu rumahnya setelah menunggunya dandan buat pergi ke acara ulang salah satu temannya.

"Berangkat sekarang, nggak?" lanjut katanya membuat gue harus menyadarkan diri dulu yang saat itu hampir lupa sedang apa, dimana, dan semalam berbuat apa sehingga gue nggak paham kenapa Andika ex-Kangen Band itu mengklaim dirinya kalo semua cewek suka sama dia.


"Eh.. Iya, udah siap?" tanya gue.

"Udah. Yuk!"

Ada yang bilang, jatuh cinta itu nggak mengenal usia. Ada juga yang bilang, jatuh cinta itu nggak mengenal latar belakang, bahkan keyakinannya. Gue setuju. Tapi dari semua itu yang sebenarnya buat kita jatuh cinta adalah cara kita berkomunikasi. Orang bisa jatuh cinta dengan orang yang belum pernah berjumpa, ada juga orang bisa jatuh cinta walaupun jarak ribuan kilometer memisahkan dua raga. Tapi ketika saat berkomunikasi dengannya dapat membunuh waktu-waktu kita di dunia, mungkin hubungan dengan suatu perasaan yang khusus dan spesial bisa tercipta.

Gue juga nggak ngerti, kenapa kadang-kadang kita jatuh cinta di luar kriteria. Apa mungkin karena cinta dapat membutakan kriteria? Entahlah. Gue juga nggak tau kenapa gue bisa jatuh cinta denganya saat itu. Yang selalu ceria setiap gue jumpa sama dia, dia yang sering memegang handphone-nya kemana-mana padahal dia selalu bawa purse yang lumayan besar. Gue pun berpikiran positif, mungkin tangan dan handphone-nya udah nempel pake lem Korea.

Pertama kali kita ketemu saat gue meeting bareng panitia OSIS di sebuah SMA swasta yang terletak di jalan Veteran, Bogor. Gue datang jam 4 sore yang saat itu para siswa kebanyakan udah pulang ke rumah masing-masing, pergi ke mall, makan di cafe, atau ngumpul di suatu tempat tongkrongan yang nggak jauh dari sekolah sambil ngerokok dan bahas tentang panjang rok guru bahasa Inggris terhadap bencana kelaparan di Somalia.

Setelah gue dipersilahkan masuk oleh satpam dan mengijinkan gue langsung menemui panitia OSIS di dalam sekolah, yang terjadi malah gue tiba-tiba kesasar di dalam sekolah itu. Padahal satpam tadi udah ngasih petunjuk arah dimana ruangan tempat gue meeting nanti. Entah ini gue yang amnesia dan nggak nyimak betul penjelasan satpam tadi, atau memang satpam tadi adalah si Pandji yang menyamar lalu setelah berhasil ngerjain gue, dia langsung bilang "Kena, deh!"

Kampret.

"Hei. Permisi, kalau ruangan OSIS, dimana ya?" tanya gue ke seorang cewek yang baru keluar dari kelasnya sambil sibuk membawa buku-buku tulis yang sepertinya ingin dia kumpulkan. Kulitnya putih, memakai seragam batik khas sekolah tersebut berwarna hijau stabilo dengan rok spam coklat, rambut berponi lurus hitam dan pendek sebahu, tingginya sekitar 9 jengkal, dan alhamdulillah kakinya napak ke tanah.

"Ya? Eh, ruang OSIS ya? Oh tinggal lurus aja terus belok kanan, nanti ada tulisannya kok disitu," jawab dia menjelaskan sambil salah satu tangannya memberi petunjuk. Suaranya juga halus kayak cewek-cewek Korea.

"Oh gitu. Makasi ya?" setelah itu gue langsung cabut dan memberi senyum ke dia.

Dia cuma balas senyum juga ke gue.

Setelah jalan beberapa langkah, gue balik badan dan menengok dia lagi. Dan ternyata dia juga ngelakuin hal yang sama. Senyum kita beradu lagi saat itu. Seandainya gue tau dimana mushola, mungkin gue buru-buru ambil wudhu.

***

Sejak lulus sekolah, entah kapan kita dipertemukan lagi sama teman-teman lama. Dan momen kayak gini biasanya terjadi saat bulan puasa. Yap, bukber. Buka beramai-ramai. Setelah disepakati dua minggu sebelum hari penetapan tanggal bukber di salah satu aplikasi chatting, gue pun ikut bukber sama temen-temen SMP yang kebetulan lagi nggak bentrok karena jadwal kerjaan atau acara bukber yang lain, kayak bukber bareng temen-temen PAUD atau bukber bareng temen-temen satu ruangan penyimpanan bayi di rumah sakit waktu pertama kali gue lahir ke dunia ini.

Gue nggak tau siapa aja yang dateng karena saat itu adalah bukber satu angkatan, pastinya yang  dateng banyak. Saat itu kita bukber bertempat di salah satu restoran di Taman Kencana, gue datang lebih awal karena nggak jauh dari rumah gue. Cuma 5 menit kalo naik naga.

Saat itu yang dateng baru panitia-panitianya; Adrian, Rahma, Salsa, Dwi, dan lain-lain. Walaupun dulu gue beda kelas sama mereka, tapi kita cukup akrab karena dulu kita sering ngobrol, main bareng, satu ekskul, dan di bawah langit yang sama.

"Eh tuh, si Seno datang!" ucap Adrian melihat ke arah luar restoran. Saat itu kita memilih meja di bagian paling depan restoran yang nggak tertutup oleh apapun ke arah jalan dan parkiran, jadi kita bisa liat setiap ada yang datang dan masuk ke restoran itu.

Seno ini pernah jadi teman sekelas gue. Dulu, kita sering berangkat bareng ke sekolah, ditemani Raka juga -temen gue yang lain dan rumahnya cuma beberapa langkah dari rumahnya Seno. Kita bertiga berangkat ke sekolah waktu itu lebih memilih jalan kaki dan disambung naik angkutan umum. Karena saat itu memang tahun dimana transportasi online belum ada dan kendaraan pribadi pun masih sedikit.

Setelah itu, datang Fitri, mantan pacar gue waktu SMP. Iya, gue dari SMP udah pacaran dan itu masih duduk di kelas 1, masih 13 tahun! Tapi sayangnya itu bukan yang pertama gue pacaran. Gue pertama kali pacaran, yaitu waktu SD. Ya, mungkin gue mengalami puber dini.

Saat itu untungnya gue dan Fitri bisa profesional. Kita biasa aja dan saling nyapa, walaupun dia yang keliatan sedikit canggung dan malu. Mungkin karena melihat gue yang sekarang agak lebih tampan.

Datang lagi Kiki, temen basket gue waktu SMP. Kiki itu orang yang buat gue jadi anak basket. Padahal saat itu gue adalah anak futsal. Jadi, sebelum futsal sekolah juara tingkat Provinsi, gue udah pindah ke basket. Padahal kalau gue masih di futsal, gue bisa masuk SMA yang gue mau lewat jalur prestasi. Namanya juga menyesal, datang belakangan. Kalo di depan namanya Yamaha, karena Yamaha selalu di depan.

Pertama kali ngobrol panjang saat itu bareng Kiki. Kiki ini orangnya sedikit jail apalagi ke cewek, entah memang bercanda atau caper. Kita ngobrol pun, dia selalu sambil ngerjain temen-temen yang lain. Kadang memang benar, fisik akan berubah dibarengi usia. Tapi kebiasaan buruk seseorang akan selalu tetap ada.

***

"Kak, makasih ya. Ditunggu hari-H!" kata Femi, salah satu panitia OSIS yang mengantarkan gue sampai tempat parkiran sekolah.

"Iya, sama-sama. Makasi juga ya," jawab gue. Dia menjawab dengan mengangguk dengan kedua tangannya saling berpegangan yang gue nilai dia sedikit malu-malu dan sopan.

"Hati-hati, kak!" kata cewek berkerudung lagi itu.

"Siap."

Malam harinya, Femi yang punya kontak nomor gue, dia menelfon menjelaskan runtutan acara nanti, baru kali ini ada panitia acara yang sebegitu detail, padahal lewat chat juga bisa. Ya namanya juga setiap manusia, pasti beda-beda.

Hari-hari besoknya lagi, Femi rutin ngehubungin gue, kali ini kita chatting bahas soal tulisan-tulisan gue. Kayaknya dia baru baca posting-posting di blog gue. Di samping itu, Femi juga suka curhat tentang kisah asmaranya. Entah kenapa gue bisa meresponnya.

Sampai di hari gue ngisi acara di sekolah Femi, semua runtutan acaranya sesuai arahan, panitianya gue akui memang keren dan kompak. Pesertanya juga menyimak dengan serius ketika gue ngomong. Inti bahasan yang gue kasih adalah semoga mereka bisa menjadi kreator yang baik dan jujur.

Setelah gue mau ijin pulang, gue berpapasan lagi sama cewek yang kemarin ngasih tau dimana ruang OSIS. Kali ini dia bersama temannya, cewek juga.

"Ternyata kakak itu penulis?"

"Tau darimana?" tanya balik gue, "Oh tadi ngikut ngeliat ceramah gue juga?"

"Kalo tau kakak itu penulis, kemarin aku mau minta foto."

"Jangan," kata gue mencegahnya, "Nanti handphone-nya nge-hang."

"Ha ha."

"Kakak nulis buku apa?"

"10 Jurus Melahirkan dengan Lancar."

"........."

"Ha ha. Bercanda kali," kata gue melihat ekspresinya yang kayaknya nggak yakin.

"Yeee..., Dikira beneran."

"Kamu ketua kelas, ya?" tanya gue.

"Loh kok tau?"

"Ngeliat waktu itu kamu bawa-bawa buku tulis yang banyak, kayaknya kamu memang ketua kelas," jawab gue. Padahal gue taunya ketika ketua panitia sebelum acara menyuruh panitia lain supaya manggil ketua kelas 12 IPA 1, yang dari namanya aja dia adalah cewek. Dan gue yakin itu adalah dia.

"Ha ha iya, kak."

"Jarang ada ketua kelas cewek. Pasti berat jadi ketua kelas, ya?"

"Ya gitu deh."

"Mau dibantu?"

"Hah?"

"Bantu do'ain."

"Ih dia mah dasar."

"Ha ha. Oh iya, gue cabut dulu ya, Milka."

"Hah? Kok tau namaku?"

"Tau dong. Rumah kamu juga tau ada dimana."

"He?"

"Di Bumi. Bukan di kahyangan kan?"

Setelah obrolan kita itu gue jadi seneng bisa mengenal Milka. Anak SMA yang masih bisa diajak bercanda, tanpa terlalu mikirin beban hidup, dan ceria. Untung teman yang lagi sama Milka saat itu mengerti kalo dia cuma jadi obat nyamuk diantara obrolan kita. Sabar ya, sis.

Setelah selesainya acara di sekolah itu, gue pikir chatting dari Femi juga bakal ikut selesai. Nyatanya dia masih suka membahas hal-hal yang tidak penting. Kode ajakan Femi buat ketemuan pun sering gue abaikan. Biasanya kalo dia nggak ditanya, dia selalu suka bilang kalo lagi sendirian di kedai kopi lah, mengeluh nggak ada yang nemenin lah, dan mungkin berharap gue bisa nyamperin dia karena kasian. Sayangnya, gue udah pengalaman sama modus kayak gini. Dan gue memutuskan lebih baik untuk menjauh.

Malam hari kemudian, setelah baru sampai rumah dan langsung rebahan di kasur tanpa ganti baju terlebih dulu, ada sebuah notifikasi handphone berbunyi. Tangan gue merogoh saku celana di sebelah kanan dan membuka lock-screen dan melihat ada DM dari seseorang di salah satu sosial media gue.

"Oh ini yang ngisi ceramah di sekolah aku waktu itu(?)"

Saat itu gue cuma melihat username sambil mencoba mengingat-ngingat lagi, gue langsung klik profil-nya. Tapi sayang, ternyata akun-nya digembok.

"Amaca cih?"

"Ini Milka, kak!"

"Oke, Milka, apa password-nya?"

"Ih emangnya kuis."

"Lumayan hadiahnya 3 buah permen Milkita."

"Nga."

"Ha ha."

"Ada apa Milka?"

"Cuma nyapa aja."

"Nggak sekalian ngepel?"

"Nyapa ih, bukan nyapu."

"Oh udah ganti."

"Tau ah."

"Ye, ngambek."

"Kapan ngisi acara lagi di sekolah aku?"

"Waduh. Kapan ya."

"Mending jangan lagi ya. Ha ha."

"Wah tengil juga ya, Milka."

"Bercanda, kak. He he."

Setelah itu, akun sosial media gue dan Milka saling follow. Zaman internet kayak gini kebanyakan orang jadi lebih mudah berkomunikasi. Gampang pendekatan, gampang modus, gampang mengetahui attitude seseorang diliat dari postingannya, bahkan hobi dan kesukaannya tanpa harus susah-susah mencari tau dan berjuang di dunia nyata.

Tapi apalah arti komunikasi yang lancar tanpa saling ketemu. 2 minggu kemudian akhirnya gue berhasil ngajak pertama kali Milka ketemuan lanngsung dan jalan bareng.

"Loh, kak, kok masuk ke rumah pake helm? Mau nonton konser?" tanya Milka saat itu gue jemput dia di rumahnya.

"Buat jaga-jaga."

"Yaelah segitunya, takut ilang?"

"Jaga-jaga katanya kalo deket kamu itu bisa pada langsung jatuh hati. Takut nanti jatuhnya kenceng dan sakit, jadi pake helm deh."

"IH KAK IQBAL!" teriak Milka yang kayaknya dia nggak percaya gue bisa gombal receh.

Saat itu juga gue pertama kalinya melihat Milka nggak pakai seragam sekolah. Rambutnya diikat, hanya memakai kaos, celana panjang coklat dan flat shoes warna hitam. Manis kayak brownies.

Ngedate pertama pun sukses. Lancar jaya kayak tol dalam kota di Jakarta kalo musim mudik lebaran.

Hari-hari berikutnya gue sering ketemu Milka, entah candu atau memang rindu. Komunikasi kita lancar dan rutin. Buat gue, Milka adalah cewek yang bukan sekedar mau menemani, tapi siap mendengarkan apapun yang gue ucapkan. Entah itu tentang harga sembako atau juga tentang film Naruto. Absurd banget memang, tapi ya begitulah adanya.

***

Acara bukber udah selesai, Adrian dan Kiki adalah orang terakhir pamit ke gue dan Seno yang memutuskan ingin tetap stay di restoran tempat bukber kita saat itu sambil mengobrol satu sama lain. Gue juga yang sangat penasaran dengan kegiatan Seno yang sekarang jadi atlet sepak bola di luar kota, gue kepo gimana perjuangan dan langkah-langkahnya sampai sejauh itu.

"Ya, gitu deh, seleksinya lumayan ketat," kata Seno.

"Seketat leging bencong, nggak?"

"Ha ha ha."

"Terus cewek yang sering ada di posting Instagram lo itu?" tanya gue.

"Iya itu cewek gue. Dia dari Bogor juga, satu kampung halaman, kebetulan banget."

"Wah kebetulan dan beruntung banget lu di Surabaya nemu bidadari made in Bogor gitu. Cantik. Dari bayi dia nggak pernah jatoh bukan tuh?"

"Njir... Ha ha. Iya, dari orok kali ya, nggak pernah lecet juga," kata Seno ikut bercanda, "Eh, ngomong-ngomong siapa cewek lo sekarang, Bal?"

***

Dalam keadaan tubuh yang tumbang. Kadang kita bisa melihat siapa yang tulus perhatian ke kita. Pagi hari gue dibangunin dengan seseorang yang menggoyangkan bahu gue di balik selimut. Karena nyawa gue masih belum terkumpul, gue nggak meresponnya sama sekali. Dan malah menutup seluruh bagian kepala gue dengan selimut.

Tapi, kedua kalinya gue dengar suaranya mirip seseorang. Sampai akhirnya gue mencoba membuka mata. Dan yang pertama gue lihat adalah wajah Milka.

"Duh, kamu ngapain disini?" tanya gue ke Milka saat itu yang masih mencoba memfokuskan mata yang masih baru bangun.

"Ayo bangun!"

"Aku udah mati ya?"

"Heh! gak bole gitu."

"Ini buktinya aku bisa liat bidadari."

"Ha ha ha."

"Aku di surga, bukan? Terakhir yang aku inget sih waktu itu aku demam."

"Ih belum mati tau. Bangun dong, jangan tidur mulu. Kalo mau cepet sembuh jangan dimanjain badannya."

"Jadi, belum mati nih? Apa aku di-edo tensei?"

"Ha ha! Yakali dijurus yang mati jadi hidup lagi kayak di Naruto."

Padahal saat itu gue sangat malu karena Milka ngeliat muka gue yang baru bangun tidur. Dan asal lo tau, ternyata hal yang paling bahagia itu ketika bangun tidur dan pertama kali diliat itu adalah orang yang disayang. Yang udah nikah enak kali ya. Mudah-mudahan abis ini nggak ada tuna-asmara pada nyilet-nyilet tangan sendiri dan rebahan di rel. Aamiin.

***

"Jadi, lu pacaran sama anak SMA?" tanya Seno sambil menyeruput es teh manis.

"Ha ha. Ya gitu deh," jawab gue juga sambil ngemilin acar dicampur kecap.

"Cinta beda umur gitu, lebih enak pasti ya?"

"Kata siapa, No?" tanya balik gue yang menyangkal pendapat Seno barusan, 

"Lu tau kan anak remaja pasti labil; cemburuan, keras kepala, susah dimengerti, banyak mau, bahkan nggak bales chat karena lagi dikejar deadline aja ngambeknya 2 minggu."

"Ha ha ha," tawa Seno, entah mengejek atau prihatin ke gue.

"Lu sendiri kayak gitu nggak? Sama mbak pacar," tanya gue ke Seno.

"Untungnya pacar gue nggak kayak gitu sih, Bal; dia pengertian, perhatian, pendengar yang baik, dan cantik ha ha," jawab Seno yang langsung ketawa yang harus menceritakan kelebihan-kelebihan pacarnya sendiri.

"Pacar lu udah kerja?"

"Masih kuliah, Bal."

"Oh masih legit, ya."

"Ha ha lu kira emang apaan?"

"Gue kira udah manopause. Umuran segitu, tapi sifatnya dewasa."

"Ha ha yakali, Bal. Masa gue pacaran sama nenek-nenek?"

"Ya kan cinta mah nggak bisa diatur datengnya," kata gue, "Eleh ku soang. Nyebrang jalan weh bisa diatur." (kalah sama bebek, nyebrang jalan aja bisa diatur)

"Ha ha sigeblek!"

***

Kedekatan gue dan Milka udah sampai tahap saling mengenal ke orang tua dan keluarga masing-masing. Buat gue itu penting, buat menjalin hubungan yang serius --kayak pacaran, gue berpedoman buat kenal dulu sama orang tuanya, setiap gue ajak jalan Milka, gue harus ijin ke orang tuanya dan jemput dia ke rumahnya juga. Semakin dewasa, gue semakin nggak ingin hubungan yang backstreet. Untuk serius itu seharusnya bukan cara mengumpat-ngumpat, mending nggak usah serius daripada menunjukkan perasaan sembunyi-sembunyi, perasaan itu harus dipertanggung jawabkan, diperjuangkan, dan harus berani berkorban.

Awalnya emang Milka nggak pengen orang tuanya tau kalau dia punya temen deket laki-lakinya. Walaupun dia nggak nyampein secara langsung alasannya ke gue, tapi gue ngerti. Cewek seumuran Milka cuma nggak pengen dimarahin orang tuanya kalo apa yang dia lakuin itu salah.

Ya namanya juga uang jajan masih dari orang tuanya. Tapi, gue inisiatif, gue dateng ke rumah Milka sendiri dan memperkenalkan diri ke orang tuanya. Untungnya ibunya Milka baik banget, itu bisa terjadi asalkan kita harus sopan, jaga attitude, dan penampilan juga. Bukan dateng-dateng ngenalin diri terus nawarin buat motonging rumput, nyuci piring, sedotin WC-nya, apalagi ngepel genteng rumahnya.

"Kenapa kamu mau deketin aku? Padahal masih banyak cewek yang seumuran nggak jauh dari kamu," tanya Milka.

"Soalnya kebanyakan cewek yang umurnya udah tua itu masih banyak dari mereka yang sulit buat buka hati, masih sulit buat mereka ngelupain masa lalunya, dan belum bener-bener move on dari orang yang pernah punya cerita indah di hatinya," jawab gue.

"Tapi kan aku nyebelin, moody-an, suka ngerepotin, gak cantik....."

"Cerewet, suka ngidam makanan aneh-aneh, kalo lagi PMS suka kayang di zebra-cross," potong gue.

"IIIIIIIIH!"
 
"Kabur ah~"

Lalu setelah itu Milka mukul manja gue. Entah kenapa momen kayak gitu, saat ini bisa jadi cubit-cubitan kecil ketika gue mengenang dia.

***

"Oh gitu. Terus kenapa dia bisa berubah kayak gitu?" tanya Seno yang saat itu penasaran sambil menyeruput es teh manis yang telah dia pesan untuk ketiga kalinya.

"Nggak tau. Namanya juga manusia, bisa berubah kapan pun," jawab gue yang lanjut ngemil sambel karena acarnya udah abis.

"Padahal lo kan udah buat dia sadar, ngajarin dia hubungan yang baik itu kayak gimana, terus sampai dia kayak gitu lagi,"

"Hubungan yang baik kan emang harus buat diri kita jadi baik juga, bukan malah pola hidup kita berubah jadi buruk," jawab gue yang kali ini mungkin kalo Merry Riana tau kalo gue bijak, karir dia bakal terancam.

"Iya sih. Gue juga ngerasain itu sekarang, Bal."

"Yoi! Banyakin bersyukur yes!

***

Gue dan Milka saat udah jadian nggak mengurangi intensitas komunikasi kita. Namanya juga 3 bulan pertama jadian, masih anget. Tapi, memasuki bulan selanjutnya baru keliatan kita mulai sering berdebat. Itu karena dia suporter Barcelona sedangkan gue suporter Persipura.

Cewek kadang nggak mau ngasih tau masalah apa yang mereka pikul, jadi malah cowok yang bakal menyalahkan dirinya sendiri. Tapi seiring gue nggak pernah ngeluh buat ngasih nasihat ke Milka. Berkali-kali juga Milka keras kepala. Gue juga akhirnya terpaksa buat ngasih ruang buat Milka sendiri dulu. Walaupun dari situ, gue nggak pernah berhenti buat siap kapan pun mendengar masalahnya dan siap bantuin dia.

Seiringnya waktu, gue akhirnya tau masalahnya Milka adalah karena orang tuanya yang sibuk, nggak ada waktu buat Milka, dan yang namanya masih remaja, kadang mereka memang haus dengan perhatian.

Gue coba ngomong sama Milka dulu, apa yang harus dilakuin sama dia, dan coba terbuka sama orang tuanya tentang uneg-uneg yang dia simpan selama ini, walaupun Milka nyuekin nasihat gue itu, yang penting gue hanyalah sebagai pemberi saran semata, sebagai pacarnya.

Selanjutnya gue juga ngomong sama nyokapnya, nyokapnya pun ngerti, Milka selama ini juga berubah, jarang mau ngomong sama orang tuanya.


Setelah yang terjadi kemudian, Milka tau kalo gue ngobrol sama nyokapnya itu dan bahas tentang masalah itu. Milka langsung marah besar ke gue, gue dikira ikut campur sama masalahnya. Kita putus.

Beberapa bulan kemudian, ayahnya Milka meninggal karena serangan jantung. Milka merasa bersalah, menyesal, dan baru sadar apa arti kehilangan. Padahal disamping itu dia juga lagi kesal dengan ayahnya yang super sibuk. Gue ikut berduka saat itu juga.

"Bener yang kamu katain dulu. Ternyata lebih pedih dari kita nggak bisa ngobrol sama orang tua yang sibuk untuk kebaikan kita sendiri adalah ketika kita bisa ngobrol sama orang tua tapi lewat batu nisan," ucap Milka saat itu lagi sama gue di kursi taman.

"Aku nyesel nggak dengerin kamu," lanjut Milka.

"Udah, kamu harus kuat sekarang."

"Aku bodoh malah ninggalin kamu yang dulu ngajarin aku banyak hal."

"Aku nggak ngajarin kamu. Udah jangan nangis lagi."

"Aku kangen ketika kamu beres nganterin aku pulang ke rumah, aku ngucap salam ke kamu."

"Aku juga."

"Maafin aku."

"Iya."

"Kamu kenapa dulu waktu nge-gap aku jalan sama cowok lain bukannya nyamperin dan marahin aku? Kamu kenapa nggak marah waktu kamu tau banyak chat aku sama cowok lain? Kamu kenapa nggak marah ketika aku berubah?" tanya Milka.

***

Jam udah menunjukkan pukul 8 malam, gue dan Seno masih belum beranjak pulang. Dan masih bertukar cerita.

"Terus, lo jawab apa, Bal?"

"Gue nggak mau ngerusak masa SMA dia. Masa SMA bukannya masa yang paling indah, bukan? Gue mau, bukan cuma dia punya masa yang paling indah, tapi punya pelajaran hidup buat jadi lebih baik."

"SEDAP!"

"He he. Jijik ya? Mau muntah gak?"

"Keren emang temen satu gue ini."

"Lebay lu. Kerenan juga elu, kuat banget nenggak es teh manis 3 gelas tapi nggak beser."

***

Gue masih ingat kenangan bersama Milka. Gue masih ingat bagaimana gue takjub pertama kali melihat dia memakai pakaian terbaiknya dan make up tipis saat kita pergi ke acara ulang tahun temannya. Gue sampai terpatung di ruang tamu rumahnya karena terhipnotis cantiknya.

Dan saat itu juga gue masih ingat, gimana kita sering ketawa bareng di jalan. Ketika dia menggandeng tangan ketika di keramaian. Itulah dia. Kebiasaan seseorang punya tempatnya sendiri di ingatan dan hati. Mungkin nggak ada seseorang yang bisa mengganti dan mengobati, yang ada hanyalah berusaha belajar menerima kenyataan. Biasanya ketika kita kehilangan yang baik, kita udah selangkah maju bakal mendapatkan yang terbaik.

***

"Hai!" ucap seorang cewek berdiri di pinggir meja menghadap ke Seno. Datang dari belakang bangku gue yang bertolak belakang dari pintu restoran.

"Eh, udah beres?" tanya Seno.

"Udah," jawabnya singkat.

"Oh iya, kenalin, yang. Ini temenku, Iqbal," kata Seno menunjuk ke arah gue.

"Hei, apa kabar?" tanya gue ke cewek itu.

Saat itu dia senyum lalu menjawab, "Baik. Kamu?"

"Loh kalian udah saling kenal sih?" tanya Seno penasaran.

Gue dan cewek itu tersenyum. Kita bukan sekedar kenal. Kita jauh daripada itu, kita punya kenangan yang sama.

Pacarnya Seno sekarang adalah Milka. Ternyata yang gue ceritain ke Seno tentang seseorang yang pernah jadi pacar gue itu ternyata pacarnya Seno sendiri yang adalah mantan pacar gue. 

Jadi setelah gak lama Milka kehilangan ayahnya, Milka pindah ke Surabaya dan tinggal disana buat ngelanjutin ke perguruan tinggi. Dan Milka saat itu ketemu Seno. Mereka pacaran. Dan Seno juga cerita, kalo Milka sekarang jadi cewek yang jauh lebih dewasa.

"Yauda, Bal. Gue cabut duluan ya?" ucap Seno pamit ke gue.

"Yauda. Kalian hati-hati."

"Yauda, yuk yang!" ajak Seno ke Milka.

"Assalamualaikum," kata Milka ke gue.

"Wa'alaikum salam, Milka."

Leave a Reply

Mohon beri komentar yang baik dan sopan. Semua komentar kalian pasti gue baca dan balas. Terima kasih sudah menyisihkan waktu, tenaga, dan biaya kalian untuk membaca postingan ini. Semoga tulisan gue ini berguna.

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Muhammad Iqbhal - masisibal - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -